
Bian diam saat Zahra memasuki kamar, ia duduk di samping suaminya yang sama sekali tak merespon kedatangannya.
"Kamu selalu ingatkan aku, aku harus selalu hati-hati jika melakukan sesuatu, tapi justru kamu sendiri yang ceroboh."
Bian tetap diam, ia kesal dengan semuanya saat ini, padahal Bian berfikir ia akan tetap bebas meski sudah menikah, karena dia menikah dengan Zahra.
"Kamu menyukai wanita itu?"
"Diam, dan sebaiknya tidur."
"Tidak, aku harus tahu semuanya, Oma akan kembali kesini, dan aku harus bisa membela kamu kalau kamu sedang salah."
Bian kembali diam, apa benar seperti itu, bukankah Zahra harusnya senang jika Bian dimarahi seperti itu.
"Kalau memang kamu menyukainya, katakan saja, jadi aku bisa mencari alasan saat kamu jalan sama dia, kecuali kalau memang kamu siap dengan omelan Oma seperti tadi."
"Apa bisa aku menyukainya?"
"Bukankah itu hak semua orang, kita berhak menyukai dan disukai."
"Kamu tidak cemburu?"
"Aku sudah bilang, semua tentang diriku biar jadi urusan ku, kamu jalani saja hidup kamu sendiri, tapi meski begitu kita harus tetap saling terbuka agar bisa saling membela kalau nanti ada masalah."
Bian diam, ia sibuk bergelut dengan fikirannya sendiri, apa benar Zahra akan rela jika Bian bersama dengan wanita lain.
Wanita itu pasti akan kecewa, dan akhirnya Bian juga yang akan kena imbasnya, Zahra bisa mengeluh kapan saja pada Inggrid.
"Bagaimana, kamu menyukainya atau tidak?"
"Kamu sendiri, menyukai Dion?"
Zahra mengernyit, kenapa jadi pertanyakan itu, harusnya Bian selesaikan dulu satu persatu pembahasannya.
"Jawab, kamu menyukainya?"
"Tidak, tapi dia memang menyukai ku, dia sudah katakan semuanya, tapi dia tahu kalau aku sudah menyukai mu sekarang."
"Lalu apa?"
"Lalu dia akan tetap dengan keinginannya, dia akan ada saat aku butuh tempat untuk bersandar, saat aku kecewa sama kamu, saat aku tidak bisa cerita apa pun sama Oma, mungkin dia yang akan jadi orang pertama yang aku cari."
Bian mengangguk, begitu mudah untuk Zahra bicara kebenarannya, tapi sayangnya Bian tidak keberatan dengan itu.
__ADS_1
Mungkin memang benar apa yang dikatakan Sintia, kalau Zahra dan Dion memang sudah bersama sejak dulu.
"Lalu kebenaran apa yang ingin kamu ungkap sekarang?"
"Mama, mau kamu cepat hamil."
Zahra seketika berpaling, tentu ia masih ingat dengan pertemuannya dan Kania pagi itu, dan Kania juga membahas cucu padanya.
"Aku harus menyentuh mu untuk bisa membuat mu hamil, dan kamu bisa berikan cucu untuk Mama."
Zahra kembali menoleh, apa Bian tidak sedikit saja menggunakan otaknya sebelum berbicara, Zahra tidak sedikit pun berfikir untuk mewujudkan permintaan Kania untuk saat ini.
Akan seperti apa jika Zahra hamil dan punya anak, tanpa keperdulian dari suaminya sendiri, Zahra tidak mau semakin susah sendiri karena keadaan mereka.
"Bukankah itu hal yang wajar, kita memang sudah menikah, tidak ada salahnya jika kita melakukannya."
"Kamu fikir aku mau?"
"Tentu saja, karena itu sudah jadi kewajiban kamu sebagai Istri."
Zahra tersenyum seraya berpaling, kenapa rasanya lucu sekali kalimat Bian itu, dia selalu saja menganggap enteng segala hal yang masuk dalam fikirannya.
Bian memang tidak ingin melakukannya, tapi jika itu satu-satunya cara untuk tetap menahan Zahra, maka Bian harus melakukannya, Bian akan buat Zahra tidak lagi berani bertingkah, bahkan meski tentang Dion sekali pun.
Zahra melirik tangan Bian yang perlahan meraih tangannya, tidak, tidak mungkin Zahra harus melakukannya malam ini, Zahra tidak mau semakin tersiksa lagi.
Zahra seketika melepaskan genggaman Bian, ia bangkit dan berlalu pergi, semua sudah tidak benar.
"Kamu berani menolak Suami mu sendiri, apa kamu tidak takut dengan dosa?"
Langkah Zahra terhenti, ketika suaminya tidak bisa menerimanya dengan baik, apa masih berdosa jika Zahra menolaknya, Zahra hanya ingin melindungi dirinya sendiri.
"Pernikahan kita diakui semuanya, kita adalah Suami Istri sesungguhnya."
Zahra diam, Bian memeluknya dari belakang, bersandar di bahunya, dan berbicara tepat di telinganya.
Bian sudah sering mengatakan jika mereka hanya suami istri di atas kertas, seharusnya Bian sadar jika hubungan mereka hanyalah kebohongan.
"Kita akan melakukannya malam ini, kamu harusnya berfikir, jika aku bisa menyentuh mu, mungkin saja itu bisa membuat perasaan ku berbalik padamu."
Bian mengecup telinga Zahra, membuatnya menunduk seraya memejamkan mata, kini tidak ada lagi ketenangan dalam diri Zahra, semua semakin menakutkan.
"Tenanglah, aku ini Suami mu."
__ADS_1
Zahra menepis cepat tangan Bian yang hendak menyentuh dadanya, Zahra menggeleng, tidak bisa Zahra biarkan itu terjadi.
Bian memutar tubuhnya, menahan dengan memeluknya, Zahra menduduk, ia tidak boleh biarkan Bian menyentuhnya.
"Zahra, kita sudah menikah, apa aku masih harus memaksa mu seperti dulu, apa aku harus kasar lagi terhadap mu?"
"Tapi aku tidak bisa, kita setiap malam akan bersama, dan kita bisa melakukannya lain waktu, Bian aku selalu berusaha menghargai kamu, jadi tolong hargai aku juga meski hanya untuk saat ini."
"Benarkah, sayangnya aku tidak bisa melakukan itu, aku sudah bilang jika hanya aku yang bisa merubah aturan perjanjian kita, dan aku tidak masalah jika pada akhirnya harus menyentuh mu."
"Tapi aku tidak mau, apa kamu tidak mengerti itu?"
"Hanya kamu yang harus mengerti aku, ingat Zahra kamu tidak berhak menuntut ku untuk bisa mengerti kamu, dalam hal sekecil apa pun."
Bian mengangkat Zahra, membawanya ke tempat tidur di sana, ia segera membaringkan istrinya itu, dan menahannya dengan tubuhnya.
"Bian, apa aku harus memohon?"
"Silahkan saja, tapi itu tak akan berpengaruh apa pun juga."
Zahra berpaling ketika Bian hendak menciumnya, ia juga berusaha mendorong Bian agar menjauh dari tubuhnya.
Mendapatkan perlawanan seperti itu, Bian justru sedikit tertawa, apa Zahra lupa jika Bian nyaris saja merusaknya dulu, seharusnya Zahra sadar jika tenaganya tidak akan mampu melawan Bian.
"Jadi kamu ingin bermain dengan ku?"
Bian menahan kedua tangan Zahra di samping telinganya, dengan segera Bian mencium pipi hingga ke lehernya.
"Bian, lepas, apa kamu gila?"
Bian mengangkat kepalanya, ia menatap Zahra yang mulai membentaknya.
"Lepas, aku mohon."
"Menangis saja, karena aku tidak akan melepaskan kamu."
"Bian, aku gak mau."
"Kamu mau buat keributan, silahkan saja, Oma pasti akan datang kesini, dia akan marah padamu jika tahu kalau kamu berani menolak Suami mu sendiri, ayo teriak."
Zahra diam, ia kembali teringat dengan kalimat Inggrid, wanita tua itu juga mendukung keinginan Kania agar Zahra segera hamil.
Itu artinya, tidak akan ada yang membantu Zahra untuk lepas dari Bian malam ini, kenapa keadaan hanya menekannya saja.
__ADS_1
"Sudah cukup untuk berfikir."
Bian menciumnya begitu saja, pergerakan Zahra yang masih saja berusaha menolaknya, tak lantas membuat Bian melepaskannya.