Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Kita Periksa Saja


__ADS_3

Makan malam kali ini, Kania dan Kemal terlihat bergabung dengan Inggrid dan yang lainnya.


Hubungan mereka semakin baik, kembalinya fungsi perusahaan Kemal tak lantas membuat Kemal kembali besar kepala.


Inggrid senang, meski belum sepenuhnya kembali, tapi paling tidak Kemal sudah bisa mempekerjakan beberapa karyawannya lagi.


"Mami, apa Mami tidak berniat pulang, apa tidak ada yang harus diurus di rumah?" tanya Kemal.


"Tentu saja ada, kenapa bertanya tentang itu?"


"Tidak, aku rasa Bian dan Zahra sudah bisa untuk ditinggalkan, dan Mami bisa mengurus kembali hal penting lainnya."


Inggrid melirik Bian dan Zahra bergantian, itu mungkin benar, selama ini Inggrid tidak lagi melihat Bian semena-mena terhadap Zahra.


Zahra turut melirik Inggrid, mungkin saja Zahra mengerti apa yang ada difikiran wanita tua itu sekarang.


"Aku akan baik-baik saja, Bian akan selalu menjaga ku sekarang."


Mereka menoleh bersamaan, begitu juga dengan Bian.


Zahra tersenyum, bukankah sekarang keadaan sudah sesuai dengan keinginannya.


"Aku akan menjaganya, tenang saja," ucap Bian.


"Jangan bangga, Oma tidak percaya itu."


Bian mengangguk, terserah saja, itu hak Inggrid mau percaya atau tidak.


"Tidak apa Oma, kalau mau pulang silahkan saja, tapi jangan lama-lama karena aku pasti akan merindukan Oma."


"Tentu saja, mana bisa Oma meninggalkan mu terlalu lama."


Zahra tersenyum, ia meneguk minumannya, sudah terbiasa selalu dengan Inggrid, Zahra memang tidak bisa berpisah lama dengannya.


"Zahra, apa kamu sudah bisa berikan Mama cucu?"


Kalimat Kania berhasil menghentikan kegiatan mereka semua, Kania kembali membahas itu dan apa yang harus Zahra katakan.


"Mama jangan tanya itu sama Zahra, minta saja sama Tuhan," ucap Bian.


"Kenapa, kalian tidak mau memiliki anak?"


"Tapi kita tidak bisa menentukan itu sendiri."


"Ya kalian berusaha dong, hubungan kalian sudah baik-baik saja, apa salahnya kalian mulai memikirkan itu?"


Zahra dan Bian saling lirik, jujur Zahra tidak nyaman jika harus membahas soal anak, saat ini Zahra memang belum siap untuk itu.


Bian tersenyum, ia meraih dan menggenggam tangan Bian, itu bukan masalah untuknya, permintaan Kania tidak pernah difikirkannya.


"Tidak masalah, kita jalani saja yang ada sekarang, tidak perlu memaksakan," ucap Bian.


"Apanya yang memaksakan, apa Zahra tidak bisa hamil?"


"Kania, jaga bicara mu," sela Inggrid.

__ADS_1


"Mereka menikah sudah lama, kenapa sampai sekarang tidak bisa hamil?"


Zahra menelan ludahnya, perasaannya jadi sangat tidak nyaman, padahal sejak tadi keadaan begitu tenang dan hangat.


Kenapa harus membahas itu sekarang, apa mereka tidak bisa menunggu saja sampai waktu itu tiba.


"Jangan membuat Zahra tertekan karena hal itu, dia akan mengandung kalau Tuhan sudah mengizinkan itu," ucap Bian.


"Kalian menutupi sesuatu?" tanya Kania penuh curiga.


"Mama sudahlah, tidak perlu melanjutkan ini, bukankah kita sedang makan, fokus saja jangan banyak bicara."


Kania menatap keduanya bergantian, tidak mungkin Kania memiliki menantu mandul, Zahra harus bisa memberinya cucu.


Itu harapan semua mertua, dan seharusnya Zahra mengerti itu, wanita itu harus berusaha untuk bisa menyenangkannya.


"Kamu sudah selesai makan?" tanya Bian.


Zahra menoleh, ia mengangguk saja, meski makanannya memang masih ada tapi Zahra sudah tidak nyaman lagi.


"Kita ke kamar saja."


"Bagaimana bisa seperti itu Bian?" sela Kania.


"Kita bisa bahas ini lain waktu, tapi tidak malam ini."


Bian bangkit, ia mengajak Zahra untuk pergi saja, bukankah mereka yang selalu mengingatkan Bian agar menjaga persaan Zahra.


Zahra mengangguk hormat pada mereka, ia lantas berbalik dan pergi bersama Bian, mereka hanya diam saja melihat kepergiannya.


"Aku hanya mengatakan apa yang aku mau, apa Mami tidak mau dapat keturunan dari mereka?"


"Diam, jangan coba mengusik ketengan Zahra, apa kamu sudah lupa dengan semua yang terjadi padamu kemarin?"


Kania diam, kenapa jadi dirinya yang disalahkan, apa permintaannya sangat salah sehingga ia justru disalahkan.


Kemal hanya bisa menggeleng, sikap baiknya terhadap Zahra memang tak sepenuhnya benar, Kemal masih merasa tidak suka tapi ia menutupinya dengan baik.


 


Bian mengunci pintu kamarnya, ia melirik Zahra yang tampak berjalan ke balkon sana.


Bian sesaat menahan nafasnya, bagaimana kalau Zahra justru stres lagi karena pembahasan kali ini.


"Kenapa malah kesini, ini sudah malam."


Zahra sedikit tersenyum saat Bian memeluknya dari belakang.


"Ayo masuk, kita buktikan sama Mama kalau kamu bisa hamil."


Zahra diam, ia menatap langit di atas sana dengan bersandar di pundak Bian.


Zahra belum mau itu, ia tidak siap jika mungkin esok lusa sikap Bian berubah lagi padanya.


"Kenapa, kamu tidak mau melakukannya malam ini?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa melakukannya, aku sedang datang bulan."


Bian mengernyit, ia melepaskan pelukannya begitu saja.


"Jadi kamu masih datang bulan?"


Zahra berbalik, ia mengangguk seraya menatap Bian.


"Bagaimana bisa, aku sudah sering menyentuh mu."


"Lalu kenapa?"


"Zahra pertama kali menyentuh mu mungkin aku mengerti jika itu tidak akan langsung membuat mu hamil, tapi sekarang, aku sudah sering menyentuh mu."


"Itu artinya aku memang tidak bisa punya anak, lalu kamu mau apa kalau kenyataan ku seperti ini?"


Bian diam, apa yang harus difikirkannya, apa benar Zahra tidak bisa hamil.


Tidak mungkin, istrinya itu pasti bisa hamil, mungkin memang cara Bian menyentuhnya yang salah.


"Aku tidak masalah kalau kamu mau membenci ku lagi, tapi urusan itu bukan kehendak ku."


"Sebaiknya kita periksa besok."


Zahra menunduk sekilas, ia kembali berbalik membelakangi Bian, terserah saja Zahra tidak mau memikirkan itu.


"Apa kamu tidak mau punya anak dari ku?"


Zahra sedikit menoleh, senyumannya sekilas terlihat, Zahra hanya belum siap bukan berarti tidak mau.


"Kamu keberatan untuk periksa besok?"


"Tidak, lakukan saja apa yang kamu mau lakukan."


"Kita berangkat pagi hari."


"Aku ikut saja."


Zahra meraih pagar di depannya, bersandar di sana, Zahra tidak takut dengan apa pun, termasuk pemeriksaan itu.


Zahra akan terima apa pun hasilnya nanti, meski benar ia tidak bisa mengandung dan melahirkan.


Bahkan meski hasil pemeriksaan itu akan membuat Zahra terbuang dari mereka, Zahra tidak boleh takut untuk semua itu.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggung mu lagi."


"Tidak apa-apa, tapi aku tidak bisa mengikuti mau mu malam ini."


Bian mengangguk, ia memutar tubuh Zahra dan memeluknya.


Tak berselang lama, Zahra membalas pelukan itu, ia sudah merasakan kelembutan sikap Bian beberapa waktu ini, apa Zahra akan kembali kehilangan itu.


"Kita berusaha sama-sama, aku sudah berjanji akan berusaha untuk semua yang terbaiknya," ucap Bian.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, aku hanya mau agar kamu tidak berubah lagi."

__ADS_1


__ADS_2