Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Itu Mudah


__ADS_3

"Nanti aku pulang dijemput Bian."


"Baik, Non."


Zahra mengangguk, ia lantas berlalu dan membiarkan mobilnya melaju pergi.


"Mama," teriak Zahra.


"Mama, aku datang jangan membuat ku menunggu lama."


"Sabar," ucap Isma seraya membuka pintu.


Seperti biasa, Zahra memluk wanita itu dengan eratnya, kini tidak lagi heran bagi Isma tentang hal tersebut.


Biarkan saja asalkan Zahra bisa merasa senang hatinya, tidak ada salah menyayangi Zahra meski bukan anak kandungnya sendiri.


"Kamu sendiri?"


"Sopirnya aku suruh pulang."


"Eh, kenapa?"


"Nanti aku pulang dijemput Bian."


Isma mengangguk, keduanya lantas memasuki rumah, sesuai dengan perkataan Zahra pada Bian jika Frans memang tidak ada di rumah.


Zahra benar-benar hanya berdua saja dengan Isma, dan memang itu yang diinginkannya atas kedatangannya kali ini.


"Mau minum apa?"


"Apa saja, tapi nanti saja, aku sama Mama disini."


Isma menggeleng, mereka duduk bersamaan, Zahra tidak merasa sedang bersama orang lain.


Respon baik Isma membuat Zahra begitu nyaman berada disisinya, Zahra begitu merasa ada bersama mamanya sendiri.


"Kamu baru sembuh kan, kenapa langsung pergi seperti ini?"


"Biarkan saja, aku sudah izin pada orang rumah."


"Baiklah, terserah kamu saja."


"Kita jadi belanja hari ini?"


Isma mengangguk pasti, bukankah mereka sudah sepakat untuk itu, dan tidak akan ada yang berubah.


Zahra melihat sekitar, mungkin Zahra bisa belajar memasak bersama Isma, bukankah waktu masih panjang untuk sampai disore hari.


"Kamu cari apa?"


"Gak ada, apa Mama mau mengajari aku masak."


"Masak?"


"Aku tidak bisa masak, dan aku mau belajar masak agar bisa siapkan makan untuk Bian."


Isma mengangguk paham, bagaimana bisa seorang wanita tidak bisa masak, itu buruk sekali.


Zahra tersenyum, sepertinya ia paham dengan apa yang difikirkan Isma tentang dirinya yang tidak bisa masak.


"Emmm, mumpung belum terlalu siang, gimana kalau kita berangkat sekarang saja belanjanya?" tanya Isma.


"Boleh, aku tidak keberatan sama sekali, agar aku juga bisa segera memasak."


"Benar sekali, manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin."


Keduanya tersenyum, Isma lantas meninggalkan Zahra untu mengambil tasnya.


Setelah itu mereka pergi dengan mobil Isma, dan tentunya sopir pribadi juga, mereka menikmati perjalanannya dengan berbincang hangat.


"Di depan saja, Pak," ucap Isma.

__ADS_1


Mobil berhenti sesuai permintaan Isma, mereka keluar dan berjalan memasuki area perbelanjaan.


Zahra baru kali ini datang ke tempat tersebut, dan sepertinya di sana lengkap sekali, banyak pilihannya.


"Kamu mau beli apa?" tanya Isma.


"Aku akan beli semua jenisnya."


"Yakin bisa langsung dimasak dan habis, lama-lama bisa basi loh."


Zahra mengangguk, tentu saja tidak, dan Zahra juga tidak mungkin melakukan itu.


Keduanya memilih kebutuhan masing-masing tanpa banyak pertimbangan, Zahra juga terlihat cepat melengkapi belanjannya.


"Apa Frans menyukai semua itu?"


"Tentu saja, seafood adalah kesukaan Frans."


"Oh, pantas saja."


Keduanya tersenyum, Isma melihat belanjaan Zahra, terlihat lebih banyak bahan sayurnya.


"Dan apa itu kesukaan Bian?"


"Tidak, ini kesukaan ku."


Isma mengernyit, bukankah Zahra mau memasak untuk Bian.


Zahra tersenyum, ia menggeleng dan kembali memilih yang lainnya.


"Zahra, kamu butuh bumbu?"


"Aku tidak tahu di rumah lengkap atau tidak, tapi sebaiknya aku beli saja."


"Ya sudah, kita kesebelah sana."


Zahra mengangguk setuju, itu pasti tempat yang biasa Isma datangi, karena wanita itu begitu tahu dimana letak-letak bahannya.


Biar saja di rumah ada Nur yang bisa membantunya, jika salah maka Nur yang akan belanja ulang semuanya.


"Apa itu tidak terlalu banyak?" tanya Isma.


"Entahlah, aku tidak tahu."


"Kamu ini bagaimana?"


Zahra hanya nyengir konyol, paling tidak Zahra berusaha, benar atau salahnya Zahra akan tahu nanti.


Isma melihat sekitar, tatapannya terhenti di pintu masuk sana, seperti ada orang tapi seketika menghilang saat Isma melihatnya.


"Mama sudah selesai?"


"Sudah, ini cukup untuk beberapa hari ke depan."


"Aku juga sudah selesai, kita bayar saja."


"Ayo."


Zahra berjalan lebih dulu, Isma kembali melirik pintu sana, terlihat lagi dan menghilang lagi, tidak salah itu persis orang yang mengintip.


Apa itu Bian, mungkin saja lelaki itu curiga Zahra jalan dengan Frans, tapi untuk apa seperti itu, bukankah lelaki itu juga ada kesibukan sendiri.


"Mama," panggil Zahra.


Isma menoleh, ia mengangguk dan menyusul Zahra.


"Ada apa, masih ada yang dicari?"


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Zahra mengangguk, ia diam menunggu hitungan belanjaannya selesai.

__ADS_1


Rasa penasaran Isma tak bisa dihindari, ia berulang kali melihat pintu sana, masih tetap sama tapi kali ini terlihat dua orang.


Isma mengeluarkan ponselnya, berkutat beberapa saat di sana, perasaannya sedikit gelisah saat ini.


"Apa Frans mengirim pesan?" tanya Zahra.


"Ah tidak, Mama yang kirim dia pesan, dia selalu lupa minum kalau sedang tugas."


"Oh, baiklah."


Zahra kembali diam, membiarkan Isma yang sibuk dengan ponselnya itu.


Sesaat menunggu, tiba belanjaan Isma yang harus dihitung, mereka masih harus menunggu sampai semuanya selesai.


"Maaf Bu, saya boleh minta kertas dan bolpoin?" tanya Isma.


"Oh boleh."


Isma menerima apa yang dibutuhkannya, Zahra sedikit heran dengan itu, untuk apa Isma meminta dua barang itu.


"Mama, tulis apa?"


"Bukan apa-apa, tolong perhatian penghitungan itu."


Zahra mengangguk saja, ia diam memperhatikan kasir yang sedang menjumlah tagihan untuk Isma.


Setelah beberapa saat, semua selesai, Isma membayarnya seraya memberikan kertas dan bolpoinnya.


"Baca baik-baik, dan bergerak perlahan," ucap Isma pelan.


Zahra mengernyit, apa mereka saling mengenal, kenapa seperti itu, Isma menulis surat untuk pedagang itu.


"Mama."


"Ayo kita pulang, terimakasih Bu."


Isma menarik Zahra pergi, kasir itu membaca tulisan yang dibuat Isma tadi.


"Tolong ikuti kami, kejadian apa pun yang akan terjadi di depan, lakukan hal terbaik."


Kasir itu mengernyit, apa maksudnya, kenapa menulis kalimat seperti itu.


"Ada apa, salah harga?"


Ia menoleh dan menggeleng, surat itu ditunjukannya, meski tidak mengerti tapi mereka mengikuti permintaan di kertas tersebut.


Keduanya lantas keluar, mereka melihat Isma dan Zahra yang berjalan memasuki mobil pribadinya.


"Ada apa memangnya?"


"Entahlah, mungkin mereka sedang bercanda saja."


"Apa ini permainan bocah SD?"


Keduanya tersenyum seraya menggeleng, dengan kompak mereka balik badan untuk kembali ke tempatnya.


"Zahra."


Jeritan itu berhasil memutar dua tubuh itu kembali, mereka benar-benar keluar dan melihat belanjaan itu telah berantakan.


"Ini perampokan?"


"Entahlah, cepar lapor polisi."


Satu orang masuk dan satu lagi berlari menghampiri, Zahra dan Isma telah ada dalam tahanan dua orang yang memakai penutup wajah.


"Diam kalian semua."


Mereka panik tak karuan karena pisau dijadikan tahanan di leher Zahra, ditambah dengan satu orang lagi yang tampak memegang pistol seraya menahan Isma.


Meski mulai banyak orang yang mendekat, mereka tetap ragu untuk bergerak, pistol itu bisa dengan cepat menghentikan langkah bahkan hidup mereka jika berani mendekat.

__ADS_1


__ADS_2