
Damar memasuki ruangan Marvel sesuai dengan panggilan pemilik ruangan, Marvel mengangguk dan memintanya untuk duduk.
"Ada apa, Pak?" tanya Damar.
"Kamu tahu Perusahaan pusat?"
"Dimana, Pak?"
"Ini alamatnya, kamu datang kesana dan temui Bu Inggrid."
Damar mengernyit, Inggrid, bukankah itu wanita tua yang dikenalnya.
"Ada apa, kamu keberatan?"
"Tidak, tapi sepertinya aku tahu nama itu."
"Jelas saja pasti tahu, dia wanita sukses dan sudah pasti diketahui banyak orang."
Damar mengangguk, baiklah itu alasan yang bagus dan mudah diterima.
"Bisa kamu kesana sekarang?"
"Bisa sekali, Pak."
"Baiklah, segera pergi karena sudah ditunggu juga."
Damar mengangguk dan langsung pamit pergi, sebenarnya ia juga sedang banyak pekerjaan tapi perintah tetaplah yang utama.
Melvin turut keluar, ia memperhatikan mereka semua, senang sekali karena ia berhasil membuat perusahaan kecilnya itu berkembang.
"Selamat pagi, Pak."
"Bagaimana pekerjaan mu?"
"Lancar saja, Pak."
"Bagus, tetap semangat jangan pernah menyerah."
Marvel tersenyum dan melanjutkan langkahnya, ia harus memastikan setiap waktu kalau semua baik-baik saja.
Pekerjaan itu harus lancar agar hasilnya juga baik, Marvel benar-benar tidak ingin mengecewakan Inggrid.
"Pak Marvel," panggil Claudia.
"Ya, ada apa?"
"Apa kita akan jadi datang dipertemuan siang ini?"
"Sesuai jadwal saja."
Claudia mengangguk, itulah yang sesuai jadwal dan mereka memang harus pergi juga.
Marvel tidak akan melewatkan apa pun dalam pekerjaannya, termasuk pertemuan penting itu, bahkan meski hasilnya tak sama tak lantas akan membuat Marvel menyerah.
"Jam berapa?"
"Jam dua siang."
"Kita datang, jangan sampai terlambat, kamu harus siapkan keperluannya dengan sempurna, kita harus sampai lebih dulu kesana."
"Baik Pak, saya pastikan kita bisa sampai lebih dulu, semua sudah saya siapkan."
__ADS_1
Marvel mengangguk, senang mendengar penuturan Claudia itu, semoga pembuktiannya sama dengan ucapannya.
"Mami, aku akan kembali sebentar lagi," ucap Kania.
"Silahkan saja, mau pulang juga tidak masalah, Mami bisa pulang sendiri nanti."
Kania menggeleng, itu tidak akan dilakukannya sama sekali, mereka pergi bersama jadi pulang juga harus bersama.
Kania berlalu meninggalkan Inggrid, ia ingin membeli sesuatu karena mulutnya terasa tidak enak.
"Apa Bian akan pulang hari ini," ucap Kania seraya mengeluarkan ponselnya.
Kania menghubungi Bian berulang kali tapi tidak akan mendapatkan jawaban sama sekali, Kania menyimpan ponselnya kembali dan melanjutkan langkahnya.
"Mungkin Bian sedang sibuk saat ini."
Kania mengangguk, biarlah semoga mereka tetap baik-baik saja sekarang meski tidak ada yang menemaninya.
"Mau pergi kemana kamu?" tanya Rian.
Vanessa menoleh, ia lantas duduk tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
"Kamu sudah rapi saja, mau pergi kemana, mau buat ulah lagi?"
"Berhenti menuduh ku, aku tidak selamanya salah," ucap Vanessa kesal.
"Bahkan kau belum benar-benar meminta maaf, tapi sekarang kau sudah balik marah lagi."
Padahal Vanessa sudah menghilangkan harga dirinya untuk mau mengurusnya, untuk meminta maaf padanya tapi balasannya sangatlah buruk.
"Apa yang kamu fikirkan, kamu sedang berencan untuk menyakiti wanita itu lagi?"
"Papa, sudahlah jangan seperti itu," ucap Risa yang datang.
"Dia memang harus selalu diingatkan tentang kesalahannya, agar tidak pernah mengulanginya lagi esok lusa."
"Ya terserah kalian saja mau bicara seperti apa, kalian memang sama saja menyebalkan, tidak mengerti bahkan dengan perasaan anak sendiri."
"Perasaan seperti apa yang harus kami mengerti, apa menginginkan Suami wanita lain itu patut diwajarkan?"
"Papa, sabar."
Rian menggeleng, bagaimana bisa Rian memiliki anak seperti Vanessa bukankah selama ini mereka sudah berjuang mendidiknya dengan baik.
Kenapa hasilnya justru seperti itu, sangat jauh dari apa yang selalu mereka ajarkan, Vanessa entah mengikuti sifat siapa.
"Vanessa, kamu mau pergi kemana?" tanya Risa.
"Sebaiknya dia tidak pergi kemana-mana, jangan biarkan dia pergi kalau pulang dengan membawa masalah."
"Papa, tidak baik juga terus berkata seperti itu, jangan seperti itu kasihan Vanessa."
"Biarkan saja, kalau Papa berfikir sesuai keinginannya sendiri, maka aku juga akan melakukan apa yang aku inginkan sendiri."
Rian seketika bangkit dari duduknya, apa Vanessa sedang menantangnya sekarang, kurang ajar sekali anak itu.
Padahal Rian sudah berusaha memaafkan dan melupakan semua aib yang telah dibuatnya, tapi bukan minta maaf padanya Vanessa justru semakin membuatnya kesal.
__ADS_1
"Vanessa, jawab dengan benar, kamu mau kemana?"
"Aku mau ke Kantor, aku harus tahu aku masih boleh bekerja atau tidak."
"Bagus kalau kamu dipecat," sela Rian.
Vanessa mengernyit, kalimat macam apa itu, kenapa bisa Rian berkata seperti itu pada anaknya sendiri.
Sudahlah, Vanessa hanya akan merasa tertekan jika terus ada di rumah, Rian sudah seperti perempuan yang cerewet minta ampun.
"Aku pamit," ucap Vanessa.
"Maspih memaksa pergi?" tanya Rian.
"Sudahlah, biarkan saja kan jelas juga tujuannya kemana," ucap Risa.
Rian menggeleng dan berlalu lebih dulu, dua wanita itu selalu saja menguji kesabarannya.
Kenapa Rian harus merasa kesal dengan keduanya, siapa sebenarnya yang salah kali ini.
"Sudah kamu pergi saja, hati-hati dan segera kembali kalau urusannya sudah selesai," ucap Risa.
"Aku pamit."
Risa mengangguk, Vanessa lantas berlalu meninggalkan Risa.
Vanessa akan mencari hiburan sendiri di luar sana, berada di rumah pun tak lantas membuatnya merasa nyaman.
Vanessa justru merasa semakin tertekan karena kalimat yang memojokan dari Rian, tidak ada gunanya Vanessa istirahat juga.
"Anak itu benar-benar pergi?" tanya Rian.
"Biarkan saja, dia juga harus menjernihkan fikirannya sendiri."
"Kamu bela saja terus, kamu fikir kelakuannya itu benar."
"Memang salah, tapi memojokannya terus menerus juga bukan langkah yang benar, Vanessa akan tertekan dan akan stres nantinya."
Rian menggeleng, terserah saja yang jelas Vanessa telah mengecewakannya begitu dalam.
"Papa mau kemana?"
"Papa juga bisa gila jika terus ada di rumah ini, silahkan saja kamu urus anak brandalan itu."
"Papa, dia juga anak Papa."
Rian hanya mengangguk saja dan berlalu meninggalkan Risa, wanita itu hanya bisa menghela nafas.
Sejak dulu dua orang itu memang kerap ribut, memang aneh jika kebanyakan beranggapan anak perempuan akan lebih dekat dengan ayahnya, itu sama sekali tidak berlaku untuk Vanessa dan Rian.
"Kenapa mereka selalu seperti itu."
Risa duduk dan meneguk minuman yang tersedia di sana, keluarga Bian sudah mengatakan akan melupakan semuanya.
Bukankah sudah seharusnya Rian juga bisa menerima semuanya, memaafkan Vanessa meski sebesar apa oun kekecewaannya.
"Tuhan, damaikanlah mereka berdua, bukankah damai itu indah."
Risa tersenyum singkat, semoga saja saat mereka kembali nanti semua akan membaik.
Tidak perlu lagi ada keributan apa pun, rukun dan damai saja rumah pasti nyaman sekali terasa.
__ADS_1