
"Lagi-lagi aku membuat mu menunggu lama, tapi aku tidak akan minta maaf."
Damar menoleh, ia tersenyum seraya menggeleng, tentu saja itu bukan masalah besar.
"Ayo duduk," ucap Damar.
"Kenapa harus buru-buru, seharusnya kamu pergi saat aku pergi."
Damar menggeleng, Zahra lantas duduk di samping Damar dan menyimpan tasnya, perjalanannya telah usai dan sekarang ia tinggal bersantai.
"Bagaimana kabar mu?"
"Tentu saja baik."
"Bonekanya?"
"Diamlah."
Damar tersenyum, mereka bertemu tetap di tempat makan, hanya saja suasananya yang lebih santai.
Zahra baru pertama kali kesana, tempat makan yang terbuka dan ada ditengah pepohonan rindang.
"Bagaimana keadaan orang rumah?"
"Baik, mereka baik-baik saja."
"Syukurlah, kamu bilang mau ketemu aku?"
"Tidak, mereka sedang pergi dengan acaranya."
"Acara apa?"
"Oma bilang, hari ini ulang tahun Bian."
"Benarkah, kenapa kamu tidak ikut?"
"Apa itu harus?"
Damar diam, sesaat kemudian ia mengangguk, sepertinya Zahra masih belum bisa berdamai dengan Bian.
Baiklah, tidak perlu diperpanjang, Damar tidak bermaksud untuk membahas Bian kali ini.
"Mau pesan sekarang?"
"Silahkan saja, aku ikut."
Damar kembali mengangguk, ia melambaikan tangan agar pelayan itu datang, mereka lantas memesan apa yang mereka inginkan.
Zahra tampak memesan lebih banyak dari pada Damar, tidak masalah, Zahra sedang ingin banyak makan sekarang.
"Sudah, sedikit lebih cepat," ucap Damar.
"Baik, mohon menunggu."
Damar mengangguk, ia kembali pada Zahra, wanita itu tampak diam saja, bukan tidak mungkin jika dia sedang memikirkan suaminya.
Seharusnya Zahra bisa lebih mengalah pada keras hatinya, ia tidak akan bisa bertahan terus dalam keadaan seperti itu.
"Apa kamu kesini untuk melamun?"
"Tidak, bukankah kamu sedang bicara dengan dia."
"Dia sudah pergi, ada apa ini, kenapa seperti ini?"
Zahra mengangkat kedua bahunya sekilas, ada apa, mungkin Damar tahu sendiri jawabannya.
Damar berpaling sesaat, sebenarnya itu bukan masalah, tapi bisakah sebentar saja Zahra fokus.
__ADS_1
"Kalau kamu sudah tidak sanggup, sebaiknya kamu menyerah."
"Menyerah untuk hal apa?"
"Semua hal yang hanya membebani mu."
"Aku sudah katakan kalau aku ingin pergi dari semuanya."
"Dan itu pun masih kebohongan."
Zahra mengernyit, bagaimana bisa kebohongan, bukankah itu memang benar, dua keinginan yang bertentangan itu datang bersamaan.
Damar tersenyum seraya mengusap kepala Zahra, kasihan sekali wanita itu, kenapa harus terjebak disituasinya sekarang.
"Sepertinya jadi anak angkat seperti mu lebih menyenangkan, dari pada jadi istri dan menantu paksaan seperti ku."
"Bisa jadi, tergantung bagaimana orang itu menyikapinya, jika menurut mu aku lebih beruntung, tapi menurut ku tidak sama sekali, itu salah."
"Kamu mau ceritakan beban mu?"
"Tidak, aku tidak selemah itu."
Keduanya tersenyum, Zahra mengangguk, ya ia sadar memang hanya dirinya yang lemah saat ini.
Kriingg ....
Keduanya saling lirik, Zahra lantas meraih ponselnya dari dalam tas, itu panggilan video dari Kania.
Zahra diam, ini pasti soal Bian, apa mereka masih bersama, atau mungkin saja ini Bian yang meminjam ponsel Kania.
"Jawab, bukankah kamu pemberani sekarang ini?"
Zahra menoleh sekilas, setelah sempat menghela nafas, ia lantas menjawab panggilannya.
Bukankah benar, jika itu adalah Bian yang meminjam ponsel Kania, Zahra segera mengalihkan kameranya agar tak menunjukan wajahnya.
"Kamu tidak ikut datang?"
"Kamu tidak melihat ku disana, jadi sudah jelas jawabannya."
"Dan kamu tetap tidak akan datang?"
"Tentu saja."
Damar mengangguk perlahan, ia hanya berharap jika Bian tidak tahu keberadaannya saat ini.
Karena jika itu terjadi, Zahra akan kembali dapat masalah, itu akan semakin menyusahkannya.
"Zahra, semoga kamu baik-baik saja sampai nanti aku bisa melihat mu lagi."
Zahra merapatkan bibirnya, ia tak sedetik pun berpaling dari layar ponselnya, seperti itu Bian sekarang, dia tampak buruk.
Zahra sudah membuatnya menjadi buruk, itu adalah hasil keegoisan Zahra, apa benar Bian menderita di sana.
"Apa aku tidak boleh melihat mu, aku tidak berminat melihat meja-meja itu."
"Aku tidak mau."
"Hanya sebentar saja, maaf karena sekarang aku telah merindukan mu, silahkan saja kamu anggap ini sandiwara, tapi biarkan aku melihat mu."
Zahra menunduk, perasaan seketika kacau, air matanya sudah siap membanjiri pipinya.
Damar tampak mengusap punggung Zahra, itu sudah jelas jika Zahra masih saja memaksakan diri.
"Sebentar lagi aku akan kembali ke sel, mereka akan pulang, setelah itu aku tidak akan dapat kesempatan untuk menghubungi mu, tidak perlu banyak bicara karena aku hanya ingin melihat mu saja, setelahnya aku akan menutup panggilannya."
Zahra menjauhkan tangan Damar hati-hati, ia menoleh dan melihat Damar yang mengangguk.
__ADS_1
Zahra lantas mengembalikan kamera ke dirinya sendiri, Bian tampak tersenyum, tapi itu membuat Zahra semakin lemah.
"Apa kabar kamu, Oma bilang, kamu sudah sangat baik-baik saja sekarang, aku harap selamanya akan seperti itu."
Zahra menggigit bibir bawahnya, ia butuh kekuatan sekarang, dari mana Zahra bisa mendapatkannya.
"Kamu terlihat berbeda, aku percaya sekarang kalau Oma berkata benar, kamu sangat baik-baik saja, kamu harus pertahankan itu, tetap jaga keadaan baik mu."
Zahra menyimpan ponselnya begitu saja, ia menutup wajah dengan kedua tangannya, berusaha tak bersuara saat tangis luka tak bisa lagi ditahannya.
Damar memejamkan matanya sesaat, itu buruk, tidak ada yang baik-baik saja dari Zahra.
"Silahkan, pesanannya."
Damar menoleh, ia tersenyum seraya membantu merapikan pesanannya, Damar berterimakasih tanpa suara.
Meski begitu pelayannya tetap mengerti, dan kembali pergi setelah tugasnya selesai, Damar kembali melirik Zahra.
"Zahra, kamu tahu, aku selalu menunggu kedatangan mu, aku selalu berfikir kalau kamu tidak akan mampu melakukan ini padaku, tapi aku salah aku terlalu meremehkan mu selama ini."
Zahra tetap berusaha mempertahankan kontrol dirinya, tidak ada yang berubah, Zahra tetap saja lemah jika dihadapkan dengan Bian.
"Aku tidak tahu berapa lama lagi aku disini, tapi berapa lama pun itu, aku harap kamu bisa tetap bertahan, kamu mau menunggu sampai hukuman ku selesai agar aku bisa mengganti semua perlakuan buruk ku dengan hal yang lebih baik suatu hari nanti."
Zahra memutus sambungannya begitu saja, ia menangis tanpa perduli sekitar, biarkan saja mereka yang ada di sana bukan siapa-siapa, Zahra tidak perlu memikirkannya.
Damar mengangguk, ia mendekatkan minuman pada Zahra, apa yang harus dilakukannya sekarang, mungkin seharusnya Zahra diam saja di rumah tadi.
"Minumlah," ucap Damar pelan.
Zahra tak perduli, ia begitu fokus dengan tangisnya saat ini.
Damar sedikit tersenyum, dengan ragu ia menarik Zahra agar bersandar di pundaknya, itu sama sekali bukan niat buruk dari Damar.
"Tidak selamanya orang jahat akan menjadi jahat, dan tidak selamanya juga orang baik akan tetap baik, tapi kesempatan kedua akan selalu ada bagi siapa pun yang memang berniat untuk berubah, tergantung dari kepercayaan diri sendiri."
Zahra menggeleng, selama ini ia selalu percaya dengan Bian bahkan meski itu hanya sandiwara.
Dan rasanya Zahra sudah lelah dengan sandiwara Bian, tapi sampai saat ini, Zahra masih saja tak berdaya terhadap lelaki itu.
"Kebohongan tak jarang menyelamatkan kita, tapi kebohongan itu sendiri yang akan mencelakakan kita, aku sudah katakan kalau kamu merasa tidak sanggup maka kamu harus akhiri semua, ini bukan tentang perpisahan, tapi lebih pada kesempatan kedua atau apalah kalimat yang lebih bisa memuasakan kamu terhadap Bian."
Bukan diam, tangis Zahra justru semakin menjadi, saat keinginan berpisah dan bertahan menekannya bersamaan, orang didekatnya justru mendukung untuk bertahan.
"Kamu tidak sekuat yang kamu banggakan Ayra, kamu harus sadar itu, berhenti membodohi dirimu sendiri, kamu masih mengharapkannya dan itu kebenarannya, kamu melupakan jika ada yang lebih berkuasa atas hati mu, kamu tidak akan mampu mengontrolnya Ayra."
Mendengar tangis Zahra yang begitu pilu, cukup membuat Damar ikut bersedih, itu cukup menjelaskan jika Zahra adalah wanita lembut.
Dia manja tapi dia keras kepala, tapi dia akan mengalah saat ia merasa ada sesuatu yang berharga, dan Bian tidak bisa mengerti itu, sehingga semua terasa tidak sesuai dengan harapan mereka masing-masing terhadap satu sama lain.
"Pertahankan kalau kamu menginginkannya, dan lepaskan kalau kamu tak lagi menginginkannya, pilihan datang dan pergi itu berdampingan, tapi kamu tidak akan bisa bertahan ditengahnya, kamu harus memilih salah satunya tanpa harus memaksakan."
Zahra menggeleng, Zahra tidak bisa membedakan kapan Bian berkata benar dan kapan Bian berbohong.
Itu terlihat sama bagi Zahra, dan mungkin selamanya Zahra akan tetap tertipu oleh semua itu.
"Sudahlah, jangan seperti ini, terkadang memang orang terlihat bodoh demi membahagiakan dirinya sendiri, tapi itu tak akan berlangsung lama, berhenti, sebaiknya kamu berhenti berpura-pura dan perbaiki semuanya sama-sama, itu akan lebih baik."
Damar menggeleng, perlahan ia memeluk Zahra, entah bagaimana cara agar membuatnya berhenti menangis.
Lambat laun mereka di sana akan curiga pada Damar, dan itu akan membuatnya malu.
"Diamlah Ayra, kamu sudah membuat ku berdosa, aku takut kena kutukan dari suami dan keluarga mu karena telah berani memeluk mu seperti ini, akan seperti apa nasib ku jika mereka benar-benar mengutuk ku nanti, sss ahh itu buruk sekali bahkan aku takut untuk sekedar membayangkannya saja."
Zahra seketika mencubit kuat perut Damar, membuat lelaki itu meringis sakit dengan suara keras.
Tentu saja itu semakin menarik perhatian mereka di sana, Damar seketika diam mematung saat sadar tatapan mereka.
__ADS_1