Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tidak Akan Pernah


__ADS_3

Lama waktu terlewati, Zahra masih bertahan dengan keramaian di sana, meski Bian sudah mengajaknya untuk duduk tapi itu tidak berhasil.


"Ayo kita makan saja, biarkan Ayra disana, dia akan baik-baik saja," ucap Sintia.


"Yakin sekali," sahut Damar.


"Orang yang datang disini bukan asal orang, mereka punya fikiran semuanya."


"Hidangannya saja buruk."


Sintia diam, terserah Damar saja, lagi pula masih ada pilihan lain yang lebih baik.


Sintia pergi lebih dulu, perutnya begitu lapar, jadi sebaiknya ia menikmati hidangan yang ada.


"Kamu mau tetap disini, Sintia bisa asal comot kalau sendirian," ucap Damar.


Bian mengangkat kedua bahunya sekilas, ia lantas menyusul Sintia setelah sempat melirik Zahra di sana.


Damar menggeleng dan turut menyusul, mereka melakukan kegiatannya sendiri, mencari kebahagiannya sendiri.


"Kau sendirian saja?"


"Tidak, aku bersama yang lain, hanya saja mereka sedang lapar disana."


"Oh baiklah, siapa nama mu?"


"Ayra,"


"Devan."


Zahra mengangguk seraya tersenyum, ia melirik kearah Bian tadi berada, tidak ada lagi, untuk sesaat Zahra melihat sekitar mencarinya.


Tapi sudahlah biarkan saja, Bian tidak mungkin meninggalkannya begitu saja kalau memang akan pulang.


"Kau disini rupanya."


Zahra menoleh, ia diam melihat Riana yang menyapa Devan, semakin jelas dipandangan Zahra dan sepertinya ia tidak salah mengenali orang.


"Riana," panggil Zahra ragu.


Riana menoleh, ia diam menatap Zahra, mungkin wanita itu juga sedang berfikir satu hal.


"Riana," ulang Zahra.


"Ya, tapi kamu ...."


"Bali?"


Riana menyipitkan matanya, sesaat kemudian ia membunyikan jemarinya.


"Zahra?"


Zahra mengangguk, keduanya tersenyum dan saling memeluk.


"Apa kabar kamu?" tanya Riana.


"Aku baik-baik saja."


"Kalian saling mengenal?" tanya Devan.


Pelukan itu dilepas, keduanya menoleh bersamaan, Riana tampak merangkul Zahra seraya tersenyum pada Devan.


"Jadi, siapa?" tanya Devan.


"Ini Zahra, dia gadis menyebalkan yang menumpahkan jus ke rambut ku sewaktu di Bali, dia yang salah tapi aku yang kena amarahnya."


Zahra sedikit tertawa mendengarnya, itu memang benar, kejadian itu yang akhirnya mengingatkan Zahra pada Riana.


Devan mengangguk paham, intinya mereka bukan saudara, mereka hanya kenalan saja.


"Zahra, kenalkan ini Devan."


"Kita sudah kenalan tadi," sela Devan.


"Oh ya, kamu tahu siapa dia?"


"Devan?" tanya Zahra bingung.


Riana mengangguk, baiklah, berarti Devan belum mengenalkan siapa dia di pesta itu.


Riana membawa Zahra keluar dari kerumunan, Devan tampak membuntut saja di belakang, sudah sejak tadi ia mencari Riana.


"Ambilkan minuman," ucap Riana.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Devan malas


Riana tersenyum melihat kepergian Devan, biar saja itu sudah biasa dilakukannya.


"Riana, apa dia sopir mu?"


"Sembarangan, kamu harus tahu kalau dia calon Suami ku, kamu harus tahu kalau dia adalah anak pengusaha sukses di Bali."


"Dia yang kamu incar dulu?"


"Ya, dan sekarang aku berhasil mendapatkannya."


Zahra menatap Riana dengan bangga, itu pasti tidak akan sulit karena Riana memang cantik, perawakannya yang sempurna pasti banyak disukai pria.


"Nah, bagaimana dengan mu, mana pasangan mu atau kamu sudah menikah?"


"Ya, kamu benar."


"Kamu sudah menikah?"


"Iya, sudah."


Riana seketika menganga, ekspresinya begitu antusias untuk mendengar banyak cerita dari Zahra.


Devan tampak kembali dengan 2 minuman yang dibawanya, Zahra menghembuskan nafasnya pasrah.


"Kenapa hanya minuman ku yang berbeda?"


"Kau suka yang seperti ini?" tanya Devan.


"Tidak, dia masih bocah," sahut Riana.


"Jangan meremehkan ku," ucap Zahra kesal.


Riana sedikit tertawa karena itu, tanpa ragu Devan mengambil minuman Zahra dan menukarkan dengan minuman miliknya.


Zahra mengernyit, Devan benar-benar memberinya minuman beraroma itu.


"Kamu yakin?" tanya Riana.


"Sebenarnya tidak."


Ketiganya tertawa, menyebalkan sekali Zahra, ia hanya bergaya saja untuk memegang gelasnya.


"Emmm, tadi dia disini, sekarang mana dia."


Zahra melihat sekitar mencari sosok Bian, banyaknya orang di sana cukup menyulitkan Zahra untuk menemukan suaminya itu.


Riana menggeleng, kenapa mereka harus berpisah, seharusnya tetap berpegang tangan, Riana yakin suami Zahra juga sedang mencarinya sekarang.


"Sudahlah, dia sedang bersenang-senang sekarang, biarkan saja," ucap Devan.


"Itu benar," sahut Riana.


Zahra mengangguk, sepertinya begitu, bukankah ada Sintia dan Damar juga bersama Bian.


"Kamu kenal Sintia juga?" tanya Zahra.


"Iya, Mama ku ternyata rekan bisnis Papanya Sintia, kamu mengenal dia?"


"Ya dia teman ku, aku disini karena diajak dia."


Riana berdecak, pantas saja Sintia begitu memaksa untuk membawa wanita bernama Ayra, ternyata wanita yang dimaksud adalah Zahra.


"Tapi aku tidak melihat Vanessa, apa kamu mengenalnya juga?"


Zahra seketika mematung, nama Vanessa begitu saja mengusik ketenangannya yang sejak tadi ada.


"Hallo, ada apa?" tanya Riana.


"Siapa Vanessa?" tanya Zahra.


"Dia sepupunya Sintia, baiklah tidak masalah kalau kamu tidak tahu, lupakan saja."


Bersamaan dengan itu, Zahra melihat Vanessa yang berjalan santai menuju tempat makanan dihidangkan.


Perasaannya seketika panik, apa Bian masih di sana, itu artinya mereka akan bertemu di sana.


"Zahra, kamu kenapa?" tanya Devan.


"Aku harus cari Bian."


"Siapa dia?"

__ADS_1


"Dia Suami ku, aku pergi."


Zahra berlalu begitu saja, padahal Riana begitu menunggu cerita Zahra sampai bisa memiliki Suami.


"Dia seketika panik," ucap Devan.


"Entahlah, mungkin dia takut Suaminya diganggu wanita lain."


Keduanya tertawa, Riana tampak meneguk minumannya, sedangkan Devan terlihat malas untuk meminum jusnya itu.


Zahra mencari Bian dengan langkah gelisah, kenapa tubuh manusia-manusia itu begitu menghalangi pandangan Zahra.


Dimana Bian sebenarnya, kemana Zahra harus melangkah agar bisa menemukan Bian dan yang lainnya.


"Kamu mau kemana?"


Zahra terkejut saat tanganya ditarik tiba-tiba, ia menoleh dan melihat Damar di sana.


"Bian mana?"


"Dia sedang ke toilet."


"Sendirian?"


"Iyalah, masa harus aku temani."


"Dimana toilet?"


Damar menunjuk arah pergi Bian, tanpa berkata apa pun lagi Zahra berlalu begitu saja.


Damar hendak mengejar, tapi Sintia keburu sampai di sisinya, Damar hanya bisa melihat Zahra menghilang.


"Bian," panggil Zahra.


"Hey, apa kamu bodoh, ini toilet laki-laki."


Zahra tak perduli, ia terus saja berjalan demi bisa menemukan Bian.


Mereka yang melihat kedatangan Zahra, merasa kesal, kenapa wanita itu kurang ajar sekali.


"Bian," panggil Zahra.


"Dimana otak mu, keluar sana."


Zahra tak perduli, ia kembali memanggil Bian, apa lelaki itu tuli, kenapa tidak menjawabnya sama sekali.


"Bian."


"Keluar, tidak ada Bian disini."


Zahra limbung karena dorongan seseorang di sana, nyaris saja terjatuh jika Bian tak segera menahannya.


Zahra menoleh, dan mencari sosok Vanessa di sana, wanita itu mungkin sedang bersembunyi.


"Jaga sikap sama perempuan," ucap Bian kesal.


"Dia yang harus jaga sikap, apa tujuannya masuk kesini?"


Bian melirik Zahra, ekspresi wajahnya tampak kacau, kenapa dengan istrinya itu.


Bian menarik Zahra keluar, kenapa bisa Zahra masuk toilet laki-laki seperti itu.


"Kamu kenapa, ada apa?"


"Mana wanita itu?"


"Wanita, siapa?"


"Jangan bohong."


Bian mengernyit, apa Zahra tidak melihat jika semua yang ada di sana adalah laki-laki, dan hanya Zahra wanita di sana.


"Mana dia?" tanya Zahra kesal.


"Siapa, aku tidak tahu siapa yang kamu maksud."


"Jangan bohong kamu, kamu sembunyikan dia dimana?"


"Zahra ada apa ini, kenapa kamu seperti ini?"


Zahra mendorong Bian, ia hendak kembali masuk tapi Bian menahannya.


Bian menariknya pergi, bukankah itu aneh, kenapa Zahra tiba-tiba sepanik itu.

__ADS_1


__ADS_2