Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tidak Ingin


__ADS_3

Bian terusik dari tidurnya saat mendengar guyuran air di kamar mandi sana, Bian melirik sofa dan memang tak ada lagi Zahra di sana.


"Jam berapa ini, Zahra sudah mandi saja."


Bian mematikan lampu dan meraih ponselnya, jam 6, Bian mengusap wajahnya dan kembali melirik pintu kamar mandi.


"Sejak kapan dia disana."


Bian kembali berbaring, saat bersamaan pintu kamar mandi terbuka, menunjukan Zahra yang memang selesai mandi.


"Aku hanya ambil baju saja," ucap Zahra yang sadar Bian telah bangun.


Bian tersenyum, ia melihat Zahra yang hanya memakai kimono pendek dan handuk di kepalanya.


"Kamu mau ke kamar mandi?"


"Tidak, selesaikan saja dulu."


Zahra mengambil pakaiannya dan kembali memasuki kamar mandi, Bian menggeleng seraya mengusap wajahnya, tidak boleh ada fikiran apa pun, mereka bukan suami istri seutuhnya.


"Masih ngantuk, tapi kalau tidur lagi pasti pusing."


Bian kembali duduk, ia memainkan ponselnya seraya bersandar pada bantal.


Tok .... Tok .... Tok


Bian menoleh, itu pasti Inggrid, Bian segera turun dan membuka pintu.


"Sudah bangun, Ayra mana?"


"Dia lagi mandi."


"Baguslah, jangan tidur lagi, kamu harus kerja."


"Iya, aku ingat."


Inggrid mengangguk dan berlalu, Bian kembali menutup pintu dan melirik Zahra yang telah keluar.


"Kamu mau temui Oma?"


Zahra hanya menoleh sekilasan saja, memang apa lagi yang bisa dilakukannya.


"Zahra, kamu masih marah?"


"Mandi sana, jangan banyak bicara, bukannya kamu harus mulai kerja hari ini."


Bian mengangguk, ia menyimpan ponselnya dan berlalu ke kamar mandi, Zahra sempat meliriknya sekilasan.


"Zahra, tolong siapkan baju kerja ku."


Zahra mengernyit, apa maksudnya, bisa sekali memerintah Zahra seperti itu.


"Siapkan saja sendiri," ucap Zahra pelan.


Zahra melakukan kesibukannya sendiri, merapikan dirinya, makeup, dan mengeringkan rambutnya.


"Mana baju ku?"


Zahra melirikya melalui kaca, memangnya dimana bajunya, cari saja sendiri.


"Zahra."


"Aku gak tahu, ambil saja sendiri."

__ADS_1


Bian menoleh dan terdiam, sepertinya kali ini Bian lupa jika mereka hanya pura-pura.


"Baiklah, tidak masalah."


Bian membuka lemari dan mengambil bajunya, ia memakainya di sana tanpa perduli dengan keberadaan Zahra.


"Aku duluan."


Bian menoleh dan segera menariknya, tarikannya terlalu kuat hingga membuat Zahra tak bisa menahannya, dan harus membentur tubuh Bian.


"Jangan keluar sendiri, kita akan keluar sama-sama nanti, tunggu aku selesai dulu."


Zahra mendorong Bian, lelaki itu mengangkat tangannya dan berpaling.


"Tidak ada maksud apa pun, aku hanya tidak mau kamu mendapatkan pertanyaan sulit dari Oma."


Zahra tak perduli, ia duduk di sofa seraya memainkan ponselnya.


"Jadinya kamu mau keluar hari ini?"


"Kamu pergi saja, urus kesibukan mu sendiri, tidak perlu mengurusi aku."


Bian mengangguk, tidak masalah kalau memang seperti itu keinginannya, Bian jadi tidak perlu repot tentangnya.


"Bian, Ayra, ayo keluar, kalian belum selesai?"


Keduanya saling lirik, Zahra bangkit dan berjalan meninggalkan Bian.


"Aku bilang tunggu."


Zahra menoleh sekilas, berisik sekali lelaki itu, apa tidak bisa jalan sendiri saja.


"Keras kepala."


Bian berdiri di sampingnya, Zahra membuka pintu dan tersenyum pada Inggrid di sana.


Zahra mengangguk, Inggrid melirik Bian di sana, mereka memang sudah rapi, baguslah kalau memang seperti itu.


"Ayo kita sarapan."


"Iya," ucap Zahra.


Inggrid berjalan lebih dulu, Zahra melirik Bian dan mempersilahkannya untuk jalan lebih dulu, tapi bukan menurut, Bian justru merangkul Zahra dan membawanya berjalan.


"Jangan berbuat manis pada ku, itu hanya akan menyusahkan ku."


"Itu artinya kamu menyukai ku sejak sekarang, atau bahkan sejak awal."


Zahra berpaling, ia memejamkan matanya sesaat, tidak bisa seperti itu, Zahra harus bisa mengendalikan perasaannya sendiri.


"Seperti itu, Oma suka melihatnya."


Zahra menoleh, ia tersenyum singkat, mereka lantas duduk dan mulai mengisi piring makannya.


"Makan cepat, Bian harus ke Kantor lebih awal, hari ini hari pertamanya, jadi dia harus bisa menyesuaikan diri lagi."


"Tenang saja Oma, aku masih ingat semuanya."


"Tapi kali ini, kamu harus serius, Oma tidak mau kamu kerja asal seperti sebelumnya."


"Siap."


Zahra menoleh, Bian semangat sekali dengan perbincangannya, sebentar lagi mimpinya akan menjadi nyata atas perusahaannya.

__ADS_1


"Ayo makan."


Mereka mulai menikmati sarapannya, Zahra terlihat lebih banyak diam, semakin kesini, pemikiraannya semakin tak terarah, Zahra ingin pergi dari semuanya tanpa perduli dengan rumah itu lagi.


"Ayra, kamu kenapa?" tanya Inggrid.


"Tidak apa-apa."


"Kamu diam saja, apa yang kamu fikirkan?"


"Tidak, aku hanya rindu Papa sama Mama."


Bian menoleh, ia terdiam mengingat semalam Zahra yang mengatakan hal sama, merindukan orang tuanya.


"Tidak masalah, itu wajar saja, tapi kamu harus ingat kalau semua yang hidup pasti akan meninggal, kita yang sekarang masih ada pun sedang menunggu giliran."


Zahra mengangguk paham, tentu saja Zahra paham dengan itu, hanya saja penerimaan Zahra yang belum bisa sepenuhnya.


"Zahra, kamu tidak sendirian, ada Oma dan Suami kamu, jadi kamu jangan terus larut dalam duka kehilangan orang tua kamu, kasihan juga mereka disana."


"Maaf, Oma."


Inggrid tersenyum dan melirik Bian, ia mengangguk saat Bian melihat balik kearahnya.


"Bagaimana kalau kamu ikut aku saja, kita bisa sekalian jalan-jalan nanti."


Zahra menoleh saat merasakan sentuhan Bian di tangannya, jalan-jalan, bukankah Bian akan bekerja.


"Bian benar, sebaiknya kamu ikut saja, jadi sekalian kamu belajar mengerti dengan kesibukan Suami kamu."


"Benar, siapa tahu, besok lusa kamu bisa bantu aku mengerjakan semuanya."


Zahra tak bergeming menatap Bian, kenapa Zahra merasa senang dengan nada bicara Bian padanya.


"Kamu mau?"


Zahra menggeleng dan berpaling, ia menarik tangannya menjauhi tangan Bian, Zahra kembali melupakan batasannya.


"Tidak perlu dipaksa, biar Ayra sama Oma saja."


"Oma yakin?"


"Tenang saja, Istri mu itu akan baik-baik disini, ingat, kamu hrus langsung pulang kalau sudah selesai."


"Baiklah."


Mereka melanjutkan makannya dengan tenang, sesekali Bian melirik Zahra yang tampak melamun meski tengah mengunyah.


"Maaf, aku permisi ke dapur dulu," ucap Zahra.


"Kenapa, minuman berasa sudah ada disini juga?" tanya Inggrid.


Zahra diam, jujur saja Zahra tidak nyaman ada di tempatnya saat ini, Zahra ingin sendiri tanpa ada siapa pun.


"Kalau kamu ada masalah, segera ceritakan, kalau ada yang mengganggu fikiran kamu katakan saja, tidak baik memendam masalah sendiri."


"Oma benar, kamu kenapa sebenarnya?" tanya Bian.


"Aku gak apa-apa, sedikit pusing saja kepalanya."


"Ya sudah selesaikan makan, nanti aku antar ke kamar lagi."


Zahra diam, bukankah Zahra bisa berjalan sendiri, Zahra bisa ke kamar sendiri tanpa diantar siapa pun.

__ADS_1


"Kamu mau ke kamar sekarang?"


"Tidak, makanlah, jangan banyak bicara seperti itu, pusing."


__ADS_2