
"Kamu kenapa, ada apa sama Bian?" tanya Dion.
Zahra menggeleng, ia justru semakin mengeratkan pelukannya, bisakah untuk tidak membahas itu sekarang.
Zahra sudah salah karena berhadap Bian akan mencarinya ketika sadar, dan Vanessa sudah berhasil mematahkan harapan itu.
"Jangan terus seperti ini, keadaan tidak akan membaik hanya dengan kamu menangis seperti ini."
"Aku mau pergi dari sini."
"Pergi, mau kemana?"
Zahra kembali menggeleng, kemana Zahra sendiri pun tidak tahu mau kemana, Zahra hanya ingin menjauh dari mereka semua.
"Ada apa, apa yang terjadi, bicara dengan jelas."
"Aku mau pergi, apa kamu mau membawa ku pergi."
Dion mengangkat kedua alisnya, tentu saja ia mau melakukannya, tapi untuk alasan apa Zahra ingin pergi.
Atau mungkin, Vanessa dan Sintia memang ada di dalam sana, sehingga kini Zahra yang terusir dari mereka.
"Apa mereka berdua ada di dalam sana?"
"Bawa aku pergi."
"Sintia dan Vanessa ada di dalam?"
Zahra melepaskan pelukannya begitu saja karena pintu yang mendadak terbuka, tapi sayang Kemal telah lebih dulu melihat pelukan mereka.
"Apa yang kamu lakukan, bagus sekali."
Zahra hanya diam menunduk, kenapa harus kemal yang keluar dari sana, kenapa bukan wanita itu saja.
Kemal berlalu begitu saja untuk memanggil dokter, Zahra mengayunkan kakinya menjauhi ruangan, tidak ada lagi keinginannya untuk bertahan di sana.
"Zahra/Ayra," panggil Dion dan Inggrid bersamaan.
Dion melirik Inggrid, wanita tua itu tampak menyusul langkah Zahra.
Ada apa dengan mereka, hanya sebentar saja Dion pergi tapi keadaan sudah berubah lagi.
"Kamu mau kemana?"
"Aku akan pulang, Bian sudah banyak yang menemani."
"Berapa lama kamu menunggunya untuk sadar, dan sekarang kamu justru akan meninggalkannya?"
"Bian tidak membutuhkan aku, biar saja aku pergi, aku sudah terlalu lama disini dan aku bosan."
"Benarkah, tapi Bian mencari mu."
Zahra menoleh, kalimat macam apa itu, untuk apa Bian mencarinya jika sudah ada Vanessa di sana.
Inggrid tersenyum seraya mengusap kepala Zahra, apa yang dirasakan Zahra mungkin bisa Inggrid mengerti, meski pun tidak bisa seutuhnya.
"Kamu tetap akan pergi?"
"Aku akan kembali nanti, biar saja Bian bersama dengan mereka."
"Dan kamu bisa mengabaikan semua ini?'
__ADS_1
Zahra diam, mungkin saja Bian akan melakukan hal yang tidak diinginkan Zahra.
Di sana banyak orang, dan ada Vanessa juga, Zahra tidak mau dibuat malu di sana.
"Buang fikiran buruk mu, ayo kembali."
"Biarkan aku pergi sebentar saja."
"Kembali, Zahra."
Zahra hanya menghembuskan nafasnya berat, ia mengayunkan kakinya mengikuti tarikan Inggrid.
Entah apa yang akan terjadi di dalam sana, Zahra tidak bisa berfikir.
"Kamu mau masuk?" tanya Inggrid.
"Apa boleh?" tanya balik Dion.
"Apa Dokter sudah masuk?"
Dion mengangguk, dokter memang sudah masuk ruangan Bian bersama dengan Kemal.
Inggrid lantas membawa Zahra masuk, ia juga mengajak Dion untuk masuk, biarkan saja jika memang dokter melarang, mereka bisa keluar lagi.
"Semuanya baik-baik saja, normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja luka di kakinya yang akan sedikit menggangu."
"Kenapa dengan kakinya?"
"Mungkin tidak akan berfungsi normal untuk beberapa waktu, karena ada masalah pada tulangnya, tapi tenang saja itu bisa sembuh kembali."
Inggrid menarik Vanessa untuk menjauh dari Bian, Inggrid membuat posisi Vanessa diisi oleh Zahra.
"Dari mana kamu?" tanya Bian pelan.
Zahra melirik tangan Bian yang meraih tangannya, lelaki itu sedikit menariknya agar mendekat.
"Sudah cukup kamu bersembunyi, jangan pernah hilang lagi, aku sudah gagal mencari mu karena sekarang aku justru ada disini."
Zahra merapatkan bibirnya, lancar sekali Bian berbicara meski pun dengan suara pelan.
Itu bukan amarah, Zahra tidak mendengar kemarahan di nada bicara Bian.
"Kenapa kamu diam saja, kamu selalu merindukan ku, apa sekarang semua telah berubah?"
Zahra melirik Inggrid, apa mungkin wanita tua itu sudah memarahi Bian, atau mungkin Bian sedang bersandiwara di depan mereka semua.
Zahra juga melirik Vanessa di sana, wanita itu tampak kesal, tapi apa Zahra harus perduli dengan itu.
"Zahra," panggil Bian.
Zahra menoleh, ia menggeleng berusaha menahan tangis yang ingin kembali mengganggunya.
Tanpa ragu Zahra memeluk tubuh yang masih terbaring itu, meski sempat ada wanita lain yang memeluknya, tapi Bian tetaplah miliknya bukan milik wanita itu.
"Jangan coba kamu untuk menghilang lagi."
Cengeng sekali Zahra, karena lagi-lagi ia terisak di sana, entah kapan akan berhentinya tangisan itu.
Zahra merasa senang dengan semua perkataan Bian, sekali pun mungkin itu hanya sandiwara, tapi Zahra tetap merasa senang.
"Kalian tidak malu, utamanya untuk kamu Vanessa?" bisik Dion.
__ADS_1
Sintia dan Vanessa menoleh bersamaan, apa maksud lelaki itu, berani sekali berkata seperti itu padanya.
Dion melirik keduanya bergantian, ia tersenyum saat pandangannya terarah pada lantai di bawahnya.
"Jangan berani meledek ku, aku tidak sedang. cari muka," bisik Sintia.
"Oh, benarkah?" tanya Dion seraya menoleh.
"Apa maksud mu?"
Dion mengangguk, ia lantas menarik dua wanita itu keluar dari ruangan.
Suara Vanessa sempat mengganggu mereka, tapi itu tak lantas menghentikan Dion untuk menyeret mereka berdua.
"Lepas, apa-apaan ini," ucap Vanessa.
"Apa kamu tidak tahu kalau kaki ku masih normal?" tanya Sintia.
Dion tersenyum, ia menatap dua wanita itu bergantian, seharusnya mereka sadar diri dan bisa pergi sendiri sejak tadi.
"Kalian lihat, sepertinya Bian sudah mulai luluh terhadap Istrinya."
"Dan aku juga lihat, jika kamu tidak bisa menerimanya," ucap Sintia.
"Bukankah itu berlaku juga untuk kalian berdua?" tanya Dion.
"Diam kamu," ucap Vanessa.
Dion sedikit tertawa, kasihan sekali, memang sama kasihan dengan dirinya, tapi Dion masih bisa menahan diri untuk tidak asal melangkah.
"Jadi, kalian mau tetap bertahan dengan perjuangan sia-sia?" tanya Dion.
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri," ucap Sintia.
"Siapa sebanarnya dia, kenapa ikut campur sekali?" tanya Vanessa.
"Benarkah kamu tidak tahu aku, bagus sekali."
Vanessa mengernyit, kenapa rasanya menjengkelkan sekali bicara dengan lelaki itu.
Sintia menggeleng, mungkin saja mereka akan ribut jika terus berbincang di sana.
"Van, kita pulang."
"Pulang, mana bisa pulang."
"Tentu saja tidak bisa, karena kamu memang tidak punya malu."
Suara Inggrid menarik perhatian tiga oang itu, ada Kemal dan Kania juga yang menyusul keluar.
Bagus sekali, mereka begitu kompak meninggalkan Zahra dan Bian di dalam sana, Vanessa cukup jengkel dengan itu.
"Untuk apa melihat saya seperti itu?" tanya Inggrid.
Vanessa seketika berpaling, ia tidak akan menang jika harus berdebat dengan wanita tua itu.
"Sampai kapan kalian disini, kalian sudah tahu Bian sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Inggrid.
"Dan Ibu tidak boleh lupa jika itu berkat kedatangan ku," ucap Vanessa bangga.
Lagi, tatapan Inggrid dan Vanessa bertemu, apa harus Inggrid mengusirnya atau bahkan menyeretnya sendiri keluar rumah sakit.
__ADS_1