
Bian menoleh saat pintu kamar terbuka, ia seketika bangkit dari duduknya saat melihat Vanessa berjalan di belakang Zahra.
Vanessa tersenyum, akhirnya ia bisa melihat Bian lagi setelah sekian lama, lelaki itu terlihat baik-baik saja tidak seperti orang sakit.
"Vanessa."
"Dia kesini untuk menjenguk kamu, makanya aku antarkan kesini, kamu pasti langsung sehat kembali setelah bertemu dengannya."
Bian menoleh, ia menatap istrinya dalam, tidak ada kemarahan sama sekali, nada bicaranya dan sorot matanya, ekspresi wajahnya pun tampak biasa saja.
"Aku permisi, Vanessa aku harap kamu ingat perkataan aku tentang Oma."
"Tentu saja."
Zahra mengangguk, ia melirik Bian seraya tersenyum, sekilas ia mengusap lengan Bian dan berlalu pergi meninggalkan keduanya.
Vanessa menatap kepergian Zahra, hingga pintu kamar itu tertutup, Vanessa tidak mau memikirkan itu sekarang, karena Venessa hanya ingin bertemu dengan Bian saja.
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Bian kesal.
"Kenapa aku kesini, karena aku perduli sama kamu, kamu bilang kamu sakit selama aku tidak melihat mu, makanya aku kesini karena aku fikir sakit kamu parah."
"Dari mana kamu tahu tempat ini?"
"Sintia, bukankah kalian saling mengenal, jelas saja Sintia akan memberi aku alamat rumah kamu."
"Kamu bertemu Oma?"
"Ya, tadi Oma kamu yang membukakan pintu."
Bian mengusap wajahnya seraya berpaling, itu sangatlah salah dan buruk untuknya, akan seperti apa lagi kemarahan Inggrid padanya nanti.
"Jadi kamu sudah menikah, kenapa kamu berbohong padaku?"
Bian menoleh, ia diam, jadi Sintia tidak bicara apa pun tentang dirinya dan Zahra, sehingga Vanessa baru tahu itu sekarang.
"Wanita tadi Istri kamu kan?"
"Vanessa aku ...."
"Tapi aku tidak mau terima itu, kamu sendiri bagi ku, sesuai dengan apa yang kamu katakan padaku."
"Vanessa, ini bukan waktunya untuk kita bicara, pulang saja sekarang jangan buat keadaan aku semakin sulit."
"Sulit?"
Bian menggeleng ia memutar tubuh Vanessa dan membawanya keluar, sebaiknya memang wanita itu pergi.
"Kamu kenapa sih, Zahra saja bolehkan aku ketemu kamu."
"Kamu tidak tahu permasalahannya, jadi lebih baik kamu diam dan pulang sekarang."
"Aku gak mau, ih apaan sih lepas ah."
Vanessa balik mendorong Bian, ketidak tahuan Vanessa adalah kesalahan Bian yang tidak jujur sejak awal, jadi biarkan saja Vanessa dengan keinginannya sendiri saat ini.
__ADS_1
"Pulang, jangan temui aku, biar nanti aku yang temui kamu."
"Kapan?"
"Ya nanti kalau sudah waktunya."
"Apaan sih, ini sudah hampir dua bulan kamu tidak keluar rumah kan, lalu berapa lama lagi?"
"Diam, sekarang pulang jangan banyak bicara, atau kamu juga gak perlu lagi chat aku."
"Kenapa jadi seperti itu?"
"Banyak tanya, pulang dulu nanti aku jelaskan semuanya."
Bian kembali mendorong Vanessa menuruni tangga, akan semakin susah saja Bian mendapatkan kesempatan terbaiknya atas perusahaan.
Entah sampai kapan Bian akan terus dikurung di dalam rumah, Bian malas kalau harus membantu membesarkan perusahaan orang lain.
"Kalian mau kemana?" tanya Zahra.
Keduanya menoleh, Bian menjauhkan tangannya dari pundak Vanessa.
"Dia malah mengusir ku, padahal kamu sudah mengizinkan aku," ucap Vanessa.
"Kan kamu tahu kalau Bian sedang sakit, jadi mana mau diganggu."
Vanessa mengernyit, ada apa sebenarnya, apa mereka sedang bekerjasama untuk berbohong, Bian baik-baik saja dia tidak sakit apa pun saat ini.
"Sudah sana pulang, aku sudah katakan kalau aku akan jelaskan nanti."
"Vanessa."
"Aku maunya sekarang, ayo jelaskan."
Zahra diam memperhatikan keduanya, bisa sekali Bian melakukan semua itu, padahal Zahra berfikir jika mereka memang sudah tak lagi berhubungan.
Zahra sedikit tersenyum, seharusnya memang tidak perlu ada pemikiran baik tentang Bian, lelaki itu pasti akan tetap sama saja terhadapnya.
"Zahra," panggil Inggrid.
Ketiganya menoleh bersamaan, Bian segera melirik Vanessa dan menariknya pergi, Zahra menatap kepergian keduanya.
"Zahra."
"Iya, Oma."
Zahra segera pergi dari tempatnya dan menemui Inggrid di sana, biarkan saja Bian dengan urusannya sendiri.
"Kenapa Oma?"
"Mana Suami kamu?"
"Sebentar lagi Bian kesini."
Inggrid diam, semoga saja apa yang dikatakan Zahra bisa terbukti, Bian harus datang menemui Inggrid.
__ADS_1
"Aku akan kembali kalau kamu tidak juga menemui ku."
Bian berdecak, berisik sekali, Sintia memang cari masalah, dia sengaja mengirimkan Vanessa kesini untuk memberinya masalah.
"Bian."
"Iya, sudah sana kamu pulang saja dulu, sekarang."
Vanessa dengan kesal pergi meninggalkan tempat tersebut, tapi ia akan benar-benar kembali jika Bian tak juga menemuinya.
"Bisa sekali Sintia melakukan ini, lihat saja kalau nanti bertemu dia harus minta maaf."
Bian kembali memasuki rumah, ia mencari Zahra, dan pasti sedang bersama Inggrid sekarang, tapi dimana mereka.
"Zahra," panggil Bian.
"Ada apa?"
Bian menoleh, baguslah wanita itu datang sendiri saja tanpa ditemani Inggrid.
"Dia sudah pulang?"
"Tentu saja, untuk apa kamu bawa dia menemui ku, harusnya kamu usir dia."
"Apa aku berhak melakukan itu, bukankah dia tamu penting bagi mu?"
"Ya harusnya kamu halangi siapa pun wanita untuk menemui Suami kamu."
"Benarkah, mungkin saja kamu akan balik marah jika aku menghalangi kebahagiaan kamu, kamu ingin bebas dengan keinginan kamu sendiri kan?"
Bian tersenyum singkat, apa benar itu yang difikirkannya, tapi Bian justru berfikir lain tentang maksud istrinya itu.
"Kenapa, aku masih salah sampai sekarang?"
"Kamu sengaja melakukan ini, kamu sengaja mau buat Oma semakin marah sama aku?"
"Bisa kamu berfikir seperti itu, kalau memang semua yang kamu fikirkan tentang aku hanya kesalahan saja, hanya keburukan saja, untuk apa kamu pertahankan aku?"
"Zahra, aku tidak mau berdebat."
"Tapi bicara mu yang memulai perdebatan ini, aku fikir aku bisa buat kamu berubah Bian, bisa buat kamu menerima hubungan pernikahan kita, bisa membuat kamu benar menerima aku sebagai Istri kamu, tapi ternyata aku salah, kamu masih berhubungan sama dia bahkan dia sampai datang kesini dan menemui mu."
"Kamu yang membawa dia ke hadapan aku."
"Karena aku mau kamu tahu, kalau aku masih bisa berusaha menerima semuanya, aku masih bisa mengalah untuk semuanya, bahkan meski itu menyakiti perasaan aku sendiri, tapi jika terus seperti ini, aku bisa saja lelah membantu mu."
"Apa maksud kamu?"
"Fikirkan sendiri, aku bisa melakukan hal yang sama kalau memang aku mau, jangan fikir aku lemah dan akan selamanya lemah."
"Zahra."
Zahra tak perduli, ia berlalu meninggalkan Bian tanpa menoleh sedikit saja, sikap manis Bian selama ini ternyata tak berarti apa-apa.
Zahra memang selalu salah, termasuk salah dalam mengintrol harapan dan perasaannya sendiri, Zahra sudah menutup diri untuk siapa pun dan fokus pada Bian, tapi balasannya tetaplah keburukan.
__ADS_1