
Kringgg .....
Frans segera menjawab panggilannya, ia tak mengenal nomor yang tertera, tapi itu tak lantas membuatnya mengabaikan panggilan tersebut.
"Hallo, selamat pagi," ucap Frans.
Frans diam, ia sedikit mengernyit mendengar suara dari seberang sana.
"Baiklah, sebentar."
Frans memberikan ponselnya pada Bian, tentu saja itu cukup membuat Bian bingung.
"Itu Papa mu," ucap Frans.
Bian mengangkat kedua alisnya, bagaimana bisa Kemal menghubungi Frans, bukankah mereka tidak saling mengenal.
"Jangan buang waktu, aku butuh ponselnya."
Bian lantas menerimanya dan berbincang beberapa saat dengan Kemal, lelaki itu rupanya ada di rumah pagi ini.
Ia bertanya tentang kabar Zahra, dan berkata akan menyusul juga kalau memang perlu.
"Kami bahkan belum menemukan Zahra, kami sedang mencarinya sekarang."
Bahkan ketika langkit sudah berubah terang pun, Bian dan Frans masih berusaha mencari dua wanita itu.
Mereka baru saja sampai di kota tujuan, dan belum bisa menemukan titik lokasi Isma saat ini.
"Aku akan kabari nanti, tunggu saja jangan ada yang menyusul kesini, karena kami akan segera menghubungi polisi."
Bian diam, sesaat kemudian ia mengangguk dan menutup sambungannya, lantas mengembalikan ponselnya pada Frans.
"Lalu kemana kita sekarang?"
"Aku tidak tahu, sepertinya ini tidak jauh lagi."
"Apa sebaiknya minta bantuan sekarang."
"Mungkin itu akan lebih memudahkan kita."
Bian mengangguk, ia membiarkan Frans berkutat dengan ponselnya, seraya melihat sekitarnya Bian berharap bisa melihat Vanessa di sana.
"Titik keberadaan Mama berubah," ucap Frans.
Bian menoleh, apa maksudnya kalimat seperti itu, bagimana bisa seperti itu.
"Apa kamu tidak bisa melihat keberadaan Zahra?"
"Aku tidak bawa ponsel, lagi pula tidak tersambung dengan Zahra."
Frans menggeleng, bukankah mereka itu suami istri, tidak akan kekompakan sama sekali.
"Apa mungkin mereka dipisahkan, atau dipindahkan?" tanya Frans.
"Aku harus jawab apa, sejak tadi aku disini dengan mu."
Frans mengangguk, tidak ada yang bisa diajak bicara sekarang, lalu kemana mereka harus pergi untuk menemukan dua wanita itu.
"Kita jalan saja dulu, kamu sebaiknya telepon polisi."
"Kenapa hanya menyuruh ku, setirlah mobilnya biar aku bisa fokus dengan ponsel ku."
Bian diam, sesaat kemudian ia mengangguk setuju, tidak masalah untuk sekedar menyetir saja.
Keduanya bertukar tempat, kembali melaju dengan fokus masing-masing, semakin jauh Frans tampak semakin frustasi.
"Aahh," eluh Frans.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Lokasi Mama hilang, tidak lagi terbaca."
Bian mengernyit, bagaimana bisa seperti itu, setelah tadi berpindah dan sekarang hilang.
Frans berdecak, ponselnya tidak lagi berguna, kemana sekarang Isma dibawa.
"Bagaimana ini?" tanya Bian.
"Jangan bertanya, kamu fikir aku tahu harus bagaimana?"
Bian diam, kurang ajar sekali Vanessa, apa wanita itu tahu kalau sekarang mereka sedang mencarinya.
Gerak cepat sekali, tapi dari mana wanita itu tahu, bukankah Bian tidak berhasil bertemu dengannya.
"Dimana Mama sekarang."
Frans mengusap wajahnya, ia melihat sekitarnya, tidak adakah petunjuk yang bisa membantunya sekarang.
Kasihan sekali Isma, wanita itu pasti tidak diperlakukan dengan baik, bagaimana dengan makannya, dan Isma tidak mungkin bisa istirahat.
"Ini buntu."
Frans menoleh, mobil berhenti melaju, keduanya terdiam sibuk dengan fikiran masing-masing.
"Kamu coba lagi ajak ketemu Vanessa, mungkin sekarang dia mau."
"Aku tidak membawa ponsel, apa pun aku tidak bawa."
Frans menghembuskan nafasnya sekaligus, ceroboh sekali lelaki itu, bagaimana bisa meninggalkan barang sepenting itu.
"Mungkin kamu ingat, titik terakhirnya?"
"Dua pertigaan lagi, tapi setelah itu hilang."
"Ya cobalah, cepat."
Bian kembali melajukan mobilnya, Zahra dan Isma pasti tidak akan diam saja, mereka pasti berontak saat Vanessa akan memindahkan mereka.
Semoga saja itu benar, sehingga mereka bisa mengulur waktu untuk pergi, dua pertigaan semoga tidak sulit untuk menemukan mereka.
"Bagaimana kalau kita gagal?" tanya Bian.
"Berfikir dengan benar, dan sebaiknya diam jika tidak bisa berbicara dengan baik."
Frans berpaling, ia memejamkan matanya sesaat, perutnya mulai bermasalah, Frans melupakan sarapan paginya.
Hal itu adalah kesalahan besar, Frans tidak bisa menunda makan meski hanya sebentar saja, karena lambungnya yang sudah bermasalah.
"Ini pertigaan pertama," ucap Bian.
"Semoga saja kita berhasil."
Bian mengangguk, tinggal satu pertigaan lagi, mereka harus menemukan Zahra dan Isma.
Frans mulai menekan perutnya, seharusnya itu bisa dikendalikan dalam keadaan saat ini, tapi kenapa perutnya justru menambah repot.
"Ada apa, perut mu sakit?"
"Aku tidak bisa menunda makan."
"Kenapa tidak bilang dari tadi."
"Diamlah, dan fokus menyetir, jangan buang waktu."
Bian menggeleng, kalau dibiarkan seperti itu keadaannya akan memburuk, dan itu akan semakin merepotkan mereka.
__ADS_1
Bian menghentikan mobilnya disalah satu tempat makan, Frans tampak menoleh, ia memunjukan ekspresi keberatannya.
"Tidak ada pilihan, penyakit mu akan menyulitkan kita nantinya."
Frans diam, mungkin itu benar, tapi mereka akan membuang waktu jika harus makan terlebih dahulu.
"Carilah warung, aku akan beli cemilan saja."
"Mana bisa seperti itu."
"Cepatlah, ini bukan waktunya untuk kita berdebat."
Bian berdecak, ia kembali melajukan mobilnya, mencari warung sesuai dengan keinginan Frans sendiri.
"Apa masih belum ada kabar?" tanya Inggrid.
"Tidak, mungkin mereka belum menemukannya," ucap Kemal.
"Apa sesulit itu menemukan Ayra, dibawa kemana mereka sebenarnya."
Kemal menggeleng, mereka memang sedang bersama sekarang, termasuk Kania yang juga ada di sana.
Kemal sengaja tidak ke kantor, ia akan menunggu jika saja Bian membutuhkannya nanti.
"Kenapa tidak coba ditelepon lagi?" tanya Kania.
"Bian bilang akan kasih kabar kalau memang ada apa-apa, kita hanya harus menunggu, agar tidak jadi mengganggu mereka."
"Tapi ini sudah terlalu lama, mereka sudah pergi sejak tengah malam," sahut Inggrid.
Kemal menggeleng, entahlah ia harus bagaimana, jika saja ia tahu Bian akan pergi, mungkin Kemal akan turut pergi bersama mereka.
Bian juga kenapa harus pergi dengan tanpa membawa apa pun, bagaimana dengan dia nanti di sana.
"Apa ponsel Ayra tidak bisa dihubungi?" tanya Kania.
"Sejak kemarin memang tidak bisa, ponselnya langsung mati," ucap Inggrid.
Kania menghembuskan nafasnya sekaligus, kenapa wanita itu malang sekali, selalu saja ada masalah yang menimpanya.
Mereka menoleh bersamaan saat melihat Nur berlari, itu sedikit membuat mereka heran.
"Ada apa, Bi?" tanya Kania.
"Sepertinya ada tamu, Bu."
"Tamu?"
"Sepertinya bel rusak."
Nur melanjutkan langkah cepatnya untuk membuka pintu, mereka berfikir jika itu Bian yang telah kembali.
Dengan cepat mereka bangkit dan menyusul kepergian Nur, tapi sayang fikiran mereka salah, bukan Bian dan Zahra yang datang tapi ternyata polisi lagi.
"Ada apa, Cucu saya sudah ditemukan?" tanya Inggrid.
"Belum Bu, kami sudah mendatangi kediaman Vanessa, dan sejak kemarin dia tidak pulang, kemungkinan Zahra dan Isma dibawa ke luar Kota."
Mereka saling lirik, jadi Bian dan Frans ada di luar kota sekarang, kemana mereka pergi dan apa mungkin mereka salah tujuan.
"Anak saya sedang mencari mereka, tapi tidak mengatakan jika mereka di luar Kota."
"Kami sudah menginfokan kejadian ini pada yang lain, kami akan berusaha sebaik mungkin."
"Segera temukan mereka, Zahra sudah terlalu lama pergi," ucap Inggrid.
__ADS_1
Polisi itu mengangguk, bukankah mereka sedang berusaha, mereka bekerja dengan prosedur yang ada sehingga harus bersabar.