
Dengan cepat Zahra berjalan memasuki halaman kantor, ia benar-benar datang kesana setelah Inggrid mendapatkan telepon dari salah satu karyawan kantor.
"Selamat pagi, Bu," sapa security.
"Bapak hanya diam disini?"
"Benar, Bu."
"Kaya begitu ikut saya ke dalam."
"Baik, Bu."
Zahra mengangguk, ia lantas berjalan, berulang kali Zahra mengangguk hormat membalas sapaan orang di sana.
Tidak senyuman yang ditunjukannya, Zahra yakin mereka sudah melihat apa yang terjadi, dan mereka tahu tujuan kedatangan Zahra.
"Bapak diam disini, jangan masuk sebelum saya panggil, jangan pergi sebelum saya pulang juga."
"Baik, Bu."
Zahra menarik gagang pintunya, tapi gagal, Zahra diam menatap pintunya, bisa sekali Bian mengunci pintunya seperti itu.
"Bapak bisa dobrak pintunya."
"Tapi, Bu ...."
"Satu kali harus langsung terbuka, lakukan."
Tidak bisa menolak, security itu mengangguk saja, ia meminta Zahra menjauh agar tidak sampai terluka.
Security itu mengambil jarak dari pintunya, Zahra adalah juga atasannya, jadi ia harus menurut padanya.
"Cepat Pak, ini bukan main-main."
"Baik, Bu."
Dengan tenaga penuh, lelaki itu menabrak pintunya, tubuh kekarnya tidak sia-sia, seimbang dengan tenaganya.
Pintu itu terbuka dengan kerusakan tentunya, security itu tersungkur di lantai sana, Zahra tak mau perduli itu sekarang.
"Sss, ah," eluhnya pelan.
"Apa-apaan ini?" tanya Bian.
Zahra tampak berjalan masuk dengan wajah dinginnya, keduanya bangkit, mereka rupanya tengah duduk berdua di sofa sana.
"Zahra, kamu ....."
"berheti bicara," sela Zahra.
Bian melirik Vanessa, seharusnya wanita itu pergi sejak tadi.
Vanessa sedikit tersenyum melihatnya, itu adalah salah satu kebahagiannya, Zahra tidak akan bisa sabar lagi dengan Bian.
"Kamu datang juga," ucap Vanessa santai.
Zahra berjalan mendekat, masih dengan wajah dan tatapan dinginnya, Zahra menatap keduanya bergantian.
"Zahra, tolong dengarkan dulu."
__ADS_1
"Kalimat yang akan aku dengan hanya pembodohan, jadi sebaiknya kamu diam."
"Waw, pintar sekali," sahut Vanessa.
Zahra menoleh, ia menyipitkan matanya, rasa herannya terhadap sosok Vanessa sudah tidak bisa mendapatkan penjelasan apa pun lagi.
Zahra tidak mengerti kenapa ada wanita seperti Vanessa, dimana otak dan harga dirinya, sampai seperti itu dia mengejar lelaki yang sudah beristri.
Security itu bangun, dia diam memperhatikan ketiganya, jujur saja ia tidak melihat saat Vanessa datang tadi, dan begitu juga dengan Bian.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Vanessa.
Zahra tersenyum kecut, ia mengepalkan kedua tangannya, seluruh tubuhnya terasa dingin tapi hati dan fikirannya sangatlah panas.
Zahra tidak bisa mengontrol dirinya, bahkan meski ia ingat dimana keberadaannya saat ini, bersama mereka semua.
"Apa, kamu ...."
Belum selesai kalimat Vanessa, Zahra lebih dulu menjambak kuat rambutnya, menyeretnya cepat, dan mendorongnya hingga tersungkur di lantai sana.
Sontak saja itu membuat Bian dan securitynya panik, dengan segera security itu mendekati Vanessa.
"Jangan berani membantunya," ucap Zahra cepat.
"Maaf, Bu."
Security itu kembali mundur, Bian tampak menyentuh pundaknya, tapi Zahra menepisnya.
"Zahra, kamu harus tenang."
"Aku bilang, kamu diam saja."
Zahra kembali berjalan mendekati Vanessa, wanita itu juga menatap balik Zahra dengan kesalnya.
"Apa, kamu fikir tingkah mu sudah paling benar, selemah itu aku dalam fikiran mu?"
Vanessa melirik kaki Zahra sekilas, ia mengayunkan tangannya berniat untuk mmebuat Zahra juga terjatuh.
Tapi sayang, Zahra sudah menyadari itu, gerakannya lebih cepat menendang tangan Vanessa dan menginjaknya tanpa perasaan.
"Aaaa," jerit Vanessa.
Ia menunduk, seolah bersujud pada Zahra di hadapannya.
"Apa ini sakit, atau mungkin ini tidak ada rasanya sama sekali."
Zahra semakin menekankan injakannya, tentu saja itu membuat Vanessa semakin menjerit.
Bian melirik ambang pintu di sana, bukankah benar mereka mulai berkerumun di sana.
"Zahra, sudah cukup," ucap Bian mendekat.
"Diam, atau keluar dari disini, aku bisa mengusir mu sekarang juga."
Bian menelan ludahnya, bagaimana kalau Inggrid mengetahui semua ini, Bian akan kembali dapat sial.
"Kamu merasa kesakitan, apa menurut mu ini sebanding dengan apa yang aku rasa karena ulah mu, fikirkan Vanessa!" bentak Zahra.
Tubuh Zahra yang bergerak, membuat injakannya semakin terasa kuat di tangan Vanessa.
__ADS_1
Ia tidak bisa melakukan apa-apa, satu tangannya menggenggam tangannya yang diinjak, itu sangatlah sakit.
"Kalian mau masuk, ayo masuk," ucap Zahra.
Mereka hanya menggeleng saja, tapi tetap bertahan di tempatnya.
"Zahra, sudah," ucap Bian.
"Diam aku bilang!" bentak Zahra.
Bian melirik security itu, kenapa dia hanya diam saja, bukankah tugasnya adalah menjaga keamanan di kantor.
Sadar dengan tatapan Bian, security itu berpaling, ia tidak tahu harus ikut mana, Bian dan Zahra sama-sama atasannya.
"Apa kamu akan pergi, aku tidak akan meminta mu berhenti mengganggu Suami ku, tapi aku minta kamu pergi dari sini, paling tidak tutupilah sedikit kebusukan dirimu itu."
Vanessa hanya bisa meringis, nasib baik Zahra tidak memakai hak tinggi, sehingga tidak membuatnya terluka parah.
Zahra memejamkan matanya sesaat, kepalanya mulai terganggu, Zahra merapatkan bibirnya tanpa merubah apa pun juga.
"Sakit, hentikan ini," ucap Vanessa.
"Kamu meminta ku berhenti, apa kamu bisa menghentikan ulah mu, jangan pernah berfikir kalau aku akan selamanya diam."
Zahra melepaskan injakannya, ia kembali menjambak Vanessa dan menariknya bangkit.
Mereka benar-benar tak peraya dengan sikap Zahra saat ini, mereka mengenal Zahra adalah sosok baik hati dan selalu sabar dalam setiap keadaan.
"Bapak lihat wajah ini, ingat dia selalu, kalau dia datang lagi kesini, Bapak usir saja, apa pun alasannya dia tidak boleh masuk."
"Baik, Bu."
"Dan kalian lihat wajah ini."
Zahra sedikit memutar jambakannya agar membuat tubuh Vanessa juga bergerak, mereka sama-sama melihat Vanessa.
"Dia adalah wanita cantik, tapi sayang dia tidak punya harga diri, kalian ingat wajah ini, jaga kekasih dan suami kalian jangan sampai bertemu dengan wanita ini."
Vanessa berusaha melepaskan jambakan Zahra, sungguh ia malu dengan keadaan saat ini.
"Dia sangat berani menunjukan keburukannya, dia tidak malu sama sekali, dia begitu menantang keadaan dari kelakuan hinanya."
Vanessa memejamkan matanya, kenapa Bian hanya diam saja, lelaki itu tidak membantunya sama sekali.
Zahra mendorongnya kembali, dan meminta scurity itu untuk membawanya keluar, sikap baik yang hendak dilakukan security itu terhadap Vanessa dihentikan Zahra.
"Jangan seperti itu, dia tidak pantas diperlakukan baik, seret dia."
"Zahra," panggil Bian.
"Diam, dan seret dia."
"Tapi, Bu."
"Berani kamu membantah ku?" tanya Zahra jengkel.
Security itu menggeleng, ia sempat menggangguk hormat pada Vanessa dan menyeretnya sesuai perintah Zahra.
Mereka tampak menyamping memberikan jalan, Vanessa benar-benar dipermalukan di hadapan mereka semua.
__ADS_1