
"Bian, Bian kamu dimana?" teriak Vanessa.
Sintia hanya menggeleng saja, sejak sampai rumah sakit wanita itu tak kunjung diam, entah untuk apa padahal jelas-jelas Bian tidak akan menjawabnya.
"Bian, aku ...."
Kalimat Vanessa terhenti saat melihat sosok Inggrid, bukankah mereka pernah bertemu kala itu, dan Vanessa masih sangat mengingatnya.
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Inggrid.
Kemal dan Kania menoleh bersamaan, mereka sedikit terkejut melihat kedatangan Sintia.
"Sintia, kamu kesini," ucap Kania.
Sintia hanya mengangguk seraya tersenyum, rupanya mereka sedang berkumpul, jadi benar jika Bian sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Untuk apa kesini?" ulang Inggrid.
"Aku mau bertemu Bian, dimana dia, aku harus melihat keadaannya," ucap Vanessa.
Inggrid mengangguk, berani sekali wanita itu datang dan berkata seperti itu di depannya, apa dia benar-benar sudah tidak waras.
"Kamu siapa?" tanya Kemal.
"Aku Vanessa, aku harus bertemu dengan Bian, tolong katakan dimana Bian."
Kania mengernyit, bukankah itu adalah nama yang sempat dikatakan Dion, iya, Kania tidak mungkin salah.
Jadi ini sosoknya, cantik sekali, pantas saja Bian menyukainya dengan sangat mudah, Kania tersenyum, tapi satu detik kemudian ia menggeleng seraya berpaling.
"Mana dia, tolong katakan."
"Tidak ada urusannya dengan mu, Bian tidak membutuhkan mu sekarang," ucap Inggrid.
"Tapi aku membutuhkan dia."
Mereka saling lirik, benar-benar tidak waras wanita itu, sangat tidak tahu malu sama sekali.
"Vanessa," panggil Sintia.
"Aku gak perduli, aku kesini untuk Bian, jadi aku harus bertemu dengan dia, aku harus tahu bagaimana keadaan dia."
"Bian ada di dalam, masuk saja," ucap Kemal.
Inggrid mengangkat kedua alisnya, apa maksud lelaki itu, ia justru mempersilahkan Vanessa untuk masuk.
Tidak mungkin Vanessa dan Zahra bertemu di dalam sana, Inggrid tidak akan suka dengan itu, Zahra tidak boleh ada yang mengganggu.
"Terimakasih, Om."
"Kamu tidak boleh masuk," ucap Inggrid cepat.
"Tapi aku harus masuk."
"Siapa yang mengharusakan, itu hanya kemauan mu sendiri saja."
"Mami," panggil Kemal.
"Diam kamu."
Kania melirik Kemal dan memintanya untuk diam saja, tidak ada gunanya terus menerus mendebat Inggrid, Kemal tidak akan bisa menang.
"Pulang kamu sekarang," ucap Inggrid.
"Aku gak mau, biarkan aku masuk sebentar saja."
"Saya bilang tidak bisa, saya lebih berhak atas keputusan ini."
__ADS_1
Ditengah perdebatan mereka, pintu ruangan justru terbuka, dan memperlihatkan Zahra yang keluar dengan murung.
Vanessa dan Sintia menoleh bersamaan, mereka tidak tahu jika Zahra ada di dalam sana, pantas saja Inggrid menghalangi Vanessa untuk masuk.
"Kamu disini, apa yang kamu lakukan disini, kamu sudah celakai Bian?" tanya Vanessa.
Zahra menoleh, ia diam saja menatap Vanessa, harusnya pertanyaan apa yang kamu lakukan adalah lontaran dari mulut Zahra.
Siapa yang memanggil Vanessa untuk datang, kenapa dua wanita itu ada di depannya sekarang.
"Kamu memang bawa sial, aku sudah katakan untuk kamu tinggalkan Bian, kenapa kamu tidak mendengarkan aku?"
Zahra tak bergeming, kapan Vanessa berkata seperti itu padanya, Zahra tidak pernah mendengar kalimat itu sekali pun.
"Bodoh."
Vanessa menerobos masuk, ia menyingkirkan siapa pun yang menghalanginya, bahkan terhadap Inggrid sendiri.
Dengan cepat Kania menahan Zahra, wanita itu memang tak lagi berdaya sekarang, ia begitu lemah hingga nyaris jatuh saat Vanessa mendorongnya.
"Jangan fikirkan tentang ini, fokus saja," ucap Kania.
Zahra menunduk, ia menutup sebelah wajahnya dengan satu tangan, tangisnya masih saja tidak bisa dihentikan.
Apa Vanessa tidak bisa mengerti Zahra, bahkan jelas mereka adalah sama-sama perempuan.
"Sudah, ayo duduk," ucap Kania.
"Bawa dia pulang, jangan terus membuatnya susah, dia pasti butuh istirahat juga," ucap Kemal.
Tak ada yang menjawab, mereka begitu fokus pada Zahra, bahkan Sintia pun sama.
Tangis Zahra begitu pilu, gambaran kehancuran itu sangat jelas terlihat, benarkah Zahra begitu mencintai Bian.
Dan seburuk apa kondisi Bian hingga membuat Zahra seperti itu, kenapa Sintia jadi ingin ikut masuk untuk melihat Bian di sana.
"Aku harus kembali masuk, kalian pulang saja kalau mau pulang."
"Zahra."
"Aku tidak apa-apa."
Zahra kembali bangkit dan berjalan memasuki ruangan, Zahra tidak akan biarkan Bian hanya berdua dengan Vanessa.
Zahra harus tahu apa yang dilakukan wanita itu pada suaminya, Zahra sudah katakan tidak akan mengabaikan Bian lagi.
"Apa semua ini gara-gara aku, kamu tidak menolak panggilan ku, tapi kamu tidak bisa mengendalikan mobil mu?"
Zahra diam, langkahnya terhenti di belakang Vanessa, wanita itu tampak menangis memeluk Bian.
Ingin sekali Zahra menariknya menjauh dari Bian, tapi mungkin saja itu bisa menyakiti Bian.
"Bangunlah, biarkan aku minta maaf sama kamu, aku tidak bermaksud membuat mu seperti ini, ayo bangun aku tidak akan mengulanginya lagi."
Zahra menunduk, Vanessa sampai menangisi Bian, bukankah itu artinya keperdulian Vanessa bukan main-main.
"Bian, kamu pasti dengar aku kan, ayo bangun aku mohon, lihat aku dan bicara sama aku sekarang."
Zahra menoleh saat pintu terbuka, mereka semua turut masuk, apa boleh seperti itu, tapi biarlah Zahra tidak mau perduli itu.
"Bian, kamu harus bangun, biarkan aku minta maaf saat mata mu terbuka."
"Vanessa, kamu tidak perlu seperti itu, apa kamu tidak malu," ucap Inggrid seraya menghampiri.
Tapi langkah Inggrid terhenti karena tahanan Zahra, Zahra sudah masuk lebih awal dan ia membiarkan Vanessa di sana.
Jadi sebaiknya, mereka juga membiarkan Vanessa dengan keinginannya sendiri.
__ADS_1
"Kalau begitu untuk apa kamu masuk kesini, Ayra?" tanya Inggrid.
Zahra menggeleng, entah untuk apa, biarkan saja Zahra tidak bisa berfikir untuk saat ini.
"Bian bangun, apa kamu tidak mendengar ku, ayo bangun."
Vanessa tampak mengoyak tubuh Bian, apa yang dilakukan wanita itu, Zahra selalu berhati-hati ketika menyentuh Bian, tapi Vanessa justru seperti itu.
"Bian bangun atau aku akan marah, kamu tahu kalau aku marah maka kamu tidak akan bisa lagi menemui ku, bangun."
"Apa dia sudah gila," ucap Inggrid pelan.
Dengan sengaja Inggrid melepaskan tahanan Zahra, ia melanjutkan langkahnya menghampiri Vanessa.
"Hey, kamu ...."
Kalimat Inggrid menggantung, perhatiannya teralih pada Bian di sana.
"Bian, Bian kamu bangun," ucap Vanessa melepaskan pelukannya.
Kemal dan Kania segera menghampiri ranjang dan melihat Bian.
"Bian, lihatlah aku disini, kamu dengar aku kan?"
Zahra memejamkan matanya sesaat, apa benar semua itu, Bian sadar sekarang.
"Bian lihat aku, aku disini sekarang."
Mata yang telah terpejam lama itu perlahan terbuka, mereka begitu senang melihatnya, meski masih saja ada air mata, tapi kali ini terasa sangat berbeda.
"Dia sudah kembali," ucap Kemal.
Kania tersenyum seraya memeluk suaminya, ini sangatlah berkah, kedatangan Vanessa benar-benar mampu mengembalikan kesadaran Bian.
"Kamu lihat aku, kamu dengar aku, beri aku respon," pinta Vanessa.
Bian memejamkan matanya sesaat, wajah Vanessa begitu jelas pada padangannya, begitu juga dengan suaranya.
"Bisa sekali kamu seperti ini, aku minta maaf, aku sudah buat kamu seperti ini."
Vanessa kembali memeluk tubuh itu, ia tetap menangis di sana, Inggrid terlihat melirik Zahra, kenapa wanita itu hanya diam saja di sana.
"Aku minta maaf," ucap Vanessa.
Tangan Bian terangkat, perlahan ia mengusap kepala Vanessa, Zahra sedikit tersenyum melihatnya.
Apa itu sebab dari perasaan mereka yang sama saling mengharapkan, lalu apa guna Zahra sekarang, bahkan Zahra tidak bisa mengembalikan Bian setelah memaksanya berulang kali.
"Zahra," panggil Sintia pelan.
Zahra menelan ludahnya, ia menoleh seraya mengusap air mata yang masih melintasi pipinya.
"Kamu tidak ...."
"Terimakasih sudah bawa dia kesini."
"Apa?"
Zahra mengangguk, ia tersenyum seraya berlalu meninggalkan ruangan, tidak ada yang membutuhkannya, bahkan suaminya tak butuh dengannya.
Pintu tertutup, Zahra terduduk di lantai sana dengan tangis yang masih saja dalam, apa lagi yang harus difikirkannya, Bian memang tidak akan pernah menerimanya.
"Zahra."
Zahra menoleh, ia seketika bangkit dan memeluk Dion yang telah kembali ada di depannya.
Pelukan yang begitu erat, yang ingin Zahra berikan pada Bian, tapi sayang itu tidak bisa dilakukannya.
__ADS_1