
Pintu kamar itu terbuka, dan tampak mbak rumah yang membukanya, Zahra sempat menoleh sekilasan saja.
"Non, makan dulu ya."
Zahra tak menjawab, suara Zahra tak terdengar lagi sejak jeritan semalam, mbak rumah yang kerap disebut Nur itu juga tidak tahu kenapa Zahra jadi super diam.
Jika dipaksa bicara, Zahra pasti akan menangis, dan itu sangat tidak diperbolehkan oleh Bian.
Sudah dua hari sejak kejadian pertengkaran malan itu, Bian tidak terlihat datang ke rumah tersebut, dan Zahra juga tidak pernah lagi keluar dari kamar.
Semua makan dan minuman juga cemilan yang dibawakan Nur, diabaikan begitu saja oleh Zahra bahkan sampai basi dan akhirnya harus dibuang.
"Non, makan dulu ya, jangan seperti ini, nanti sakit."
Zahra tak menjawab, Zahra hanya diam saja dalam balutan selimut tebal itu dengan mata yang tetap tertutup.
Nur sudah berulang kali menghubungi Bian, tapi tak juga mendapatkan jawaban, entah kemana lelaki itu menghilang dan entah sampai kapan juga Zahra akan diam seperti itu.
"Non, makan dulu ya, mau Bibi suapi?"
Zahra hanya sedikit bergerak tanpa mengatakan apa pun juga, Nur menggeleng seraya menghembuskan nafasnya perlahan.
Pertengkaran mereka malam itu telah membuat Zahra seperti sekarang, apa yang membuat Zahra seperti itu, apa mungkin jika Bian menyakiti Zahra atau mungkin sampai merusak suaranya.
Kriing .... Nur menoleh saat mendengar dering bel, siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini, atau mungkin saja itu Bian yang telah kembali datang.
"Bibi, buka pintu dulu ya Non, tolong dimakan makanannya."
Nur lantas berlalu pergi meski tak mendapatkan jawaban dari Zahra, Nur menuruni tangga dengan sedikit berlari dan membukakan pintu.
"Selamat pagi."
Nur diam meneliti sosok di hadapannya, siapa dia karena memang bukan Bian.
"Cari siapa?"
"Maaf Bi, aku temannya Bian, aku diminta Bian datang kesini untuk membawa Zahra."
"Zahra?"
"Oh .... maksud aku, Ayra."
"Non Ayra?"
"Iya, Ayra di rumah ini kan, soalnya ini alamat yang dikirim Bian semalam."
"Iya, Non Ayra memang di rumah ini, dia di kamarnya."
"Boleh aku masuk?"
"Boleh silahkan, tapi maaf dengan siapa?"
"Oh iya, aku Dion."
"Dion, baiklah, silahkan masuk."
__ADS_1
"Terimakasih."
Nur mengangguk dan membawa Dion menemui Zahra di sana, sampai Dion datang pun Zahra masih tak bergeming.
"Sejak pertengkaran malam itu, Non Ayra jadi diam seperti ini Den, saya tidak tahu apa yang terjadi antara Den Bian dan Non Ayra."
"Pertengakaran?"
"Iya, malam itu Den Bian bertengkar dengan Non Ayra, Den Bian berulang kali membentaknya dan menguncinya juga di kamar, saya tidak tahu apa yang dilakukannya pada Non Ayra malam itu."
Dion diam, apa benar seperti itu, apa yang sudah dilakukan Bian pada Zahra.
"Emmm, boleh aku bicara dulu sama Ayra?"
"Tapi ...."
"Bibi bisa telepon Bian, tanyakan saja apa benar aku kesini atas permintaan Bian atau bukan, dan kalau memang bukan silahkan Bibi lapor polisi, aku tidak masalah."
Nur diam untuk beberapa saat, sepertinya Dion memang jujur dan tidak ada salahnya jika Nur percaya.
Nur lantas pergi meninggalkan keduanya, semoga saja dengan Dion, Ayra mau bicara dan mau makan juga.
"Zahra, ini aku Dion."
Zahra tak merespon, tubuh itu tetap saja diam tanpa pergerakan apa pun.
"Zahra, kamu dengar aku?"
Dion menyentuh tubuh di balik selimut itu, Zahra terperanjat dari tidurnya dan langsung duduk dengan menjauhi Dion.
"Tenang dulu, tenang, aku tidak berniat jahat, santai ini aku Dion."
"Tenang, kamu kenal aku kan, aku bukan orang jahat."
Dion balik menatap Zahra, ada apa dengan wanita itu, kenapa terlihat sangat ketakutan.
"Zahra, kamu bisa percaya sama aku?"
Zahra tak menjawab, raut wajahnya berubah sedih, matanya seketika memerah bersamaan dengan cairan bening yang menggenang di sana.
"Zahra, kamu kenapa, ada apa?"
Zahra menunduk dan menangis begitu saja, tentu saja tangisan Zahra membuat Dion panik sendiri.
Dion melirik pintu yang tertutup itu, kenapa Zahra menangis, bagaimana kalau orang tadi berfikir buruk tentang Dion.
"Zahra, kenapa menangis, aku tidak melakukan apa pun."
"Aku mau pergi, aku mau pergi dari sini."
"Pergi?"
"Aku gak mau disini, aku takut."
Dion kembali melirik pintu itu, takut apa, memangnya apa yang sudah dilakukan Bian padanya, apa mungkin jika Bian menyiksa Zahra malam itu.
__ADS_1
"Kamu bisa ikut aku sekarang, kita pergi dari sini ya."
Zahra tak menjawab, apa bisa Zahra percaya pada Dion, bukankah tadi Dion mengatakan jika kedatangannya adalah perintah Bian.
"Ayo, kita pergi."
Zahra menggeleng, sepertinya Bian masih ingin mempermainkannya sampai detik ini, lebih baik Zahra diam saja di sana tanpa pergi kemana pun juga.
"Ayo kita pergi, aku akan bantu kamu pergi."
Zahra kembali menggeleng, Dion dan Bian adalah teman, mereka bisa saja kompak untuk membuat Zahra semakin terancam.
"Ada apa, kamu kenapa seperti ini?"
Zahra diam, tatapannya kosong tak lagi terarah pada Dion, kenapa seperti itu dan jujur saja itu telah membuat fikiran Dion kabur.
"Zahra, aku tidak mengerti dengan semua ini, jadi tolong jangan buat aku bingung, sekarang coba kamu cerita sama aku."
Dion mengulurkan tangannya, tapi uluran itu justru membuat Zahra berteriak, Zahra hendak pergi dari tempatnya tapi Dion menahannya.
Bukan diam, Zahra justru semakin menjerit dan berontak.
"Zahra tenanglah, ini ada apa, tenang dulu."
"Lepas," jerit Zahra.
"Zahra, dengarkan dulu."
"Lepas."
"Ada apa ini?" tanya Nur yang kembali datang.
Dion menoleh, sudah terlanjur, Dion tidak bisa melepaskan dan meninggalkan Zahra begitu saja.
"Lepas," jerit Zahra.
"Diamlah dulu."
Dion menarik Zahra dan memeluknya, Zahra yang terus saja berontak membuat Dion harus mengeratkan pelukannya.
"Den, jangan seperti itu."
"Diamlah Bi, aku tidak akan menyakiti Zahra, biarkan aku disini agar kita tahu masalahnya."
Tak ada jawaban, Nur khawatir melihat Zahra yang terus saja berontak seperti itu, tapi memang benar jika tidak dipaksa maka tidak akan tahu juga.
Nur lantas pergi meninggalkan keduanya, pintu itu tidak dikunci, berarti Nur bisa masuk kapan saja dan melihat semuanya.
"Lepas."
"Tenanglah Zahra, ini ada apa, diam dulu."
Zahra terus berontak tapi selimut itu terus dipertahankannya agar tidak terlepas, Dion menggeleng menepis semua yang hinggap difikirannya.
Bian menarik selimut itu, dan saat bersamaan pula Zahra menahannya, Zahra ingin terlepas dari Dion tapi enggan terlepas dari balutan selimut itu.
__ADS_1
"Zahra, kamu jangan buat aku berfikir yang tidak-tidak."
Dion kembali menarik selimut itu hingga terlepas dari Zahra, tapi setelah selimut itu terlepas, Dion justru berpaling cepat.