
Zahra terlihat duduk di teras rumahnya, ia tengah menikmati hari dengan tenangnya.
Fokusnya teralih saat seekor kelinci putih berlari kecil memasuki halaman rumah, Zahra seketika bangkit dengan senyuman manisnya.
Ia berjalan mendekati kelinci itu, tapi kelinci itu justru menghindarinya, Zahra semakin tersenyum karena gemas.
"Kelinci siapa itu, kenapa bisa sampai kesini, kasihan sekali pemiliknya pasti kehilangan."
Zahra kembali melangkah, ia terus mengikuti kelinci itu berlari, rasanya membuat hati Zahra bahagia.
"Tidak bisakah kamu diam, biarkan aku menggendong mu."
Kelinci itu terlihat begitu menggemaskan, begitu lincah sampai Zahra tidak bisa meraihnya.
Prangg ....
Zahra seketika menoleh, suara apa itu, satu detik kemudian Zahra kembali pada kelinci itu, tapi sudah tak terlihat lagi.
"Kemana dia, kenapa tidak ada."
"Kamu begitu kedinginan."
Zahra mengernyit, matanya perlahan terbuka, ia sedikit bergerak memastikan apa yang mengunci tubuhnya.
"Kamu lupa menutup jendela, dan aku tidak sempat memeriksanya, hujan di luar cukup deras sehingga anginnya terasa buruk."
Zahra menoleh, ia melihat Bian yang tersenyum padanya.
Apa maksudnya, kenapa jadi Bian yang dilihatnya sekarang, kemana kelinci putih itu.
"Aku minta maaf, kamu jadi kedinginan seperti ini, tidur mu pasti tidak nyaman."
"Kenapa aku disini, kemana kelinci itu."
"Kelinci?"
Zahra sedikit mengangguk, tapi Bian justru menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.
"Kamu tidur sejak tadi, kelinci apa yang kamu maksud, ini baru jam 2 dini hari, mana ada kelinci."
Zahra diam, ia kembali bergerak dan melihat tangan Bian yang memeluknya.
"Aku melihat kamu kedinginan, sepertinya selimut ini tidak cukup untuk menghangatkan kamu, apa kamu marah, silahkan saja aku tahu aku sudah kurang ajar."
Zahra sedikit tersenyum, ia justru bergerak mencari kenyamanannya dari pelukan Bian.
Baiklah, Zahra mengerti jika kelinci itu adalah mimpi ditidurnya, sayang sekali padahal Zahra menyukai kelinci itu.
"Tidur lagi, aku sudah menutup jendelanya dengan rapat, tidak akan ada angin lagi yang mengganggu."
"Bian."
Bian hanya berguman untuk menjawabnya, Zahra tersenyum, ia bergerak, berbalik menghadap Bian.
"Kenapa, kamu lapar?"
"Tidak."
"Kamu haus?"
__ADS_1
Zahra menggeleng, Bian tersenyum, ia lantas memejamkan matanya setelah sempat bergerak membenarkan pelukannya.
Zahra diam, minatnya untuk kembali memejamkan matanya tak lagi ada, Zahra lebih ingin menatap Bian saat ini.
Apa Bian tahu, jika perasaan Zahra kembali kacau saat ini, Bian terlalu dekat dalam pandangannya, dan begitu nyata dalam sentuhannya.
"Baiklah, akan aku lepaskan, aku minta maaf."
Bian melepaskan pelukannya, ia berganti posisi jadi terlentang, tentu saja ia merasa jika Zahra sedang menatapnya saat ini.
"Tidurlah, langit masih gelap, dan bukankah hujan seperti ini akan membuat tidur jadi semakin nyaman."
Bian tersenyum dan kembali menutup matanya, tidak boleh ada keributan, jadi Bian harus bisa menjaga sikapnya.
"Kamu tidak lagi membenci ku sekarang?"
Bian menoleh, ia kira Zahra sudah kembali menjemput mimpinya.
"Tidak perlu memaksakan, jadilah diri kamu sendiri."
Bian diam sesaat, semua memang diluar kendalinya, Bian memang tidak bisa memastikan kebenaran dari perasaannya.
"Jangan pertanyakan itu, aku sudah katakan kalau aku akan berusaha jadi lebih baik."
"Dan itu bukan diri kamu yang sebenarnya."
Bian tersenyum, ia kembali menghadap Zahra dan kembali memeluknya, biarkan saja itu jadi urusan Bian sendiri.
"Jangan banyak bicara, sekarang aku sudah menghilangkan jarak antara kita, mungkin kali ini kamu akan menangis lagi."
"Kenapa aku harus menangis?"
"Karena aku."
Bian mendorong tubuh itu perlahan, jelas saja itu merubah posisi keduanya, Bian merasa leluasa atas tubuh istrinya itu.
"Jangan buat penghuni lain bangun dan panik, aku akan melakukannya dengan hati-hati," bisik Bian tepat di telinga Zahra.
"Apa aku bisa menolak?"
Bian menggeleng dan kembali menciumnya, ia ingat saat dulu menyentuh Zahra, wanita itu sangat berontak.
Tapi kini tidak lagi, Zahra diam saja saat Bian bersikap kurang ajar padanya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menahan ini."
Tak ada jawaban, Zahra mengangkat tangannya menyentuh dada Bian, ia merasakan detakan hebat di jantung Bian.
Ini sama seperti dirinya, apa yang harus Zahra fikirkan dari keadaan saat ini, apa Bian merasakan apa yang ia rasakan.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi satu menit di depan setelah satu menit di belakang, dan bukankah kamu tahu itu?" tanya Bian.
"Dan aku lebih tahu kalau aku hanya harus menjalani semuanya."
Bian tersenyum, tangannya terangkat ia memantikan lampu tidur di meja sampingnya.
Bian kembali memberikan sentuhan selembut mungkin terhadap Zahra, Bian sudah katakan jika semua telah ia hilang sekarang.
Tidak ada lagi batasan yang menghalanginya, kesempatan yang diberikan Zahra meski dengan keterpaksaan, akan Bian maanfaatkan dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
"Aku mendengar suara benda terjatuh tadi."
"Itu adalah ulah kelincinya."
Zahra sedikit tertawa, semakin lama nafas keduanya semakin tak beraturan.
Suara yang terkesan aneh mulai terdengar diantara keduanya, Zahra merasakan perbedaannya, kali ini memang sangat berbeda.
"Apa kamu tidak bisa diam?" tanya Bian.
"Sejak tadi kamu yang tidak bisa diam."
Ditengah gelapnya ruangan, ditemani suara hujan di luar sana, Bian dan Zahra tenggelam dalam gairahnya satu sama lain.
Jika dulu Zahra merasa keberatan dengan hal tersebut, sepertinya sekarang tidak lagi, Zahra merespon semua dengan baik dan mungkin karena Bian juga baik melakukannya.
"Kapan ini selesai?" tanya Zahra.
Bian justru tertawa mendengarnya, itu sangatlah konyol, mereka baru saja memulai semuanya.
"Bian, bisakah berhenti sebentar?"
"Diamlah, ini jadi lucu kalau kamu tidak bisa diam, aku tidak bisa fokus."
"Aku tidak perduli."
Bian berdecak, ia semakin liar saja dalam memperlakukan tubuh Zahra.
Bian benar-benar membuat Zahra tidak bisa berbicara banyak, hanya nafas yang tak beraturan yang terdengar dari keduanya.
Kegelapan itu telah menyembunyikan mereka bahkan dari seekor cicak sekali pun, mereka ada dalam dunia gairahnya bersama.
"Bian," panggil Zahra berat.
"Suttt, suara mu akan membangunkan yang lain."
"Emmm ...."
Bian sedikit tertawa, Zahra mencengkram pundaknya dengan kuat, bukankah itu manis dan Bian akan membuatnya mengulang hal yang sama.
"Bangunlah," ucap Bian.
"Apa?"
(Apa yang bisa difikirkan di chapter ini?)
Tawa kecil yang kerap terdengar, sudah seharusnya bisa menjelaskan jika mereka menikmati waktunya malam ini.
Entah perlakuan apa saja yang Bian lakukan, atau bahkan sebaliknya, tapi yang jelas rintihan kecil, ******* penuh gairah, semakin melengkapi manisnya malam ditengah guyuran hujan.
Hingga lama waktu terlewati, dua manusia itu mengerang bersamaan, nafas kacaunya perlahan tapi pasti seharusnya mulai bisa diatur.
"Zahra."
Tak ada jawaban, Bian menyalakan lampu tidurnya kembali, ia melirik Zahra yang terbaring di sampingnya.
"Kamu baik-baik saja?"
Bukan menjawab, Zahra justru memukul dada Bian, tapi bukan kemarahan, melainkan senyuman yang Bian lihat di wajah Zahra.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap keduanya bersamaan.
Bian tersenyum, ia bergerak memeluk Zahra dengan eratnya.