Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Pernikahan Dadakan


__ADS_3

Dion memapah Zahra berjalan memasuki rumah mewah Inggrid, Dion telah dengan susah payah membujuk Zahra untuk mau datang kesana.


Apa yang telah dilihat Dion tidak dapat menghalangi Zahra untuk bersama dengan Bian, meski kenyataan itu dirasa cukup membingungkan bagi Dion.


Dion merasa tidak rela dengan apa yang diketahuinya itu, dan Dion tidak rela jika Zahra menikah dengan Bian, hidup selamanya dengan Bian.


"Permisi," ucap Dion.


Inggrid terlihat berjalan menghampiri, di sana sudah terlihat banyak orang, Zahra tak mengerti dengan semua itu, ada apa dan untuk apa Zahra dibawa kesana.


"Ayra, kamu baik-baik saja?" tanya Inggrid.


Zahra memang sudah merubah penampilannya, ditengah tubuhnya yang begitu lemah, Zahra terlihat cantik dan anggun.


Inggrid memeluk Zahra begitu saja, mengusap kepalanya sayang, Zahra merasa haru dengan hal itu tapi Zahra tidak boleh menangis.


"Jangan takut, Bian tidak akan meninggalkan kamu begitu saja, semua ini atas permintaan Bian karena dia memang tidak sejahat itu."


Zahra melepaskan pelukan Inggrid dan menatapnya, apa maksudnya, kenapa Zahra tidak bisa mengerti kalimat itu.


"Ayo masuk, semua sudah menunggu kamu, ayo Dion."


Dion mengangguk, Inggrid berjalan lebih dulu meninggalkan keduanya.


"Ini ada apa?" tanya Zahra.


Dion mengusap pundak Zahra tanpa mengatakan apa pun juga.


"Bian mana?"


"Ayo jalan."


Dion kembali memapah Zahra, itu bukan jawaban yang Zahra inginkan, kemana lelaki itu dan kenapa malah meminta Dion menjemputnya seperti itu.


Zahra melihat orang yang berkumpul di sana, juga ada Bian dan kedua orang tuanya, ada meja dan beberapa kertas juga di sana.


Zahra menghentikan langkahnya, tak peduli meski Dion memintanya untuk terus berjalan.


"Ini ada apa?" tanya Zahra pelan.


"Kamu ikuti saja, ayo duduk di sebelah Bian."


Zahra menggeleng, perasaannya mendadak takut dengan apa yang sekarang dilihatnya.


"Zahra."


"Aku gak mau."


Dion mengusap punggung Zahra, rasa keberatan Dion semakin kuat saat ini, apa mungkin jika Dion membawa pergi Zahra saja dari tempat itu.


"Ayo duduk, Ayra," ucap Kania.

__ADS_1


Mereka menoleh kompak melihat Zahra di sana, Bian langsung bangkit dan menghampirinya.


"Kamu sudah sampai, ayo duduk."


Zahra mundur dengan menggenggam tangan Dion, tapi mau bagaimana pun Bian tidak akan biarkan Zahra pergi.


"Ayo duduk, mereka sudah menunggu sejak tadi."


"Aku mau pulang, Dion aku mau pulang."


Bian melirik Dion, kenapa jadi seperti itu, apa yang dikatakan Dion sampai membuat Zahra seperti itu.


"Zahra, ayo kita duduk,"ucap Bian.


"Aku gak mau."


"Mohon maaf Pak, tapi saya masih ada acara di tempat lain, jadi tolong kerjasamanya, saya sudah menghabiskan banyak waktu disini."


"Ayo Zahra, jangan buat aku malu."


Zahra menggeleng, apa yang membuatnya malu sekarang, Bian yang mempermalukan dirinya sendiri karena sudah melakukan semua itu.


"Zahra."


"Sudah, kamu ikuti saja," ucap Dion.


Zahra melirik keduanya bergantian, bukankah benar jika Bian dan Dion itu sama saja, sudah seharusnya tadi Zahra pergi saja sendiri.


Zahra berpaling, apanya yang buang waktu, Zahra sudah bilang ingin pergi dari sana.


"Ayo duduk."


Bian menarik tangan Dion agar terlepas dari Zahra, Bian lantas membawa Zahra duduk bersamanya.


Dion telah melakukan sesuai dengan permintaan Bian, menjemput Zahra dan merubah penampilannya juga, Zahra sudah jadi yang Bian inginkan sekarang.


"Baiklah, apa sudah bisa dimulai pernikahannya?"


Bian mengangguk pasti, Zahra menoleh, pernikahan, pernikahan apa kenapa seperti itu.


Zahra melirik Kemal dan Kania di sana, mereka tampak diam tak peduli dengan semuanya, lalu apa yang akan terjadi pada Zahra setelah saat ini.


Dion berlalu meninggalkan mereka semua saat penghulu itu berjabat tangan dengan Bian, Dion tidak tahu apa yang dirasakan dan difikirkannya saat ini tentang Zahra.


"Dion," panggil Sintia.


Dion menoleh dan mengernyit, bagaimana bisa Sintia sampai ke tempat itu, bukannya tidak ada yang memberi kabar tentang pernikahan itu pada Sintia.


"Kamu disini juga?" tanya Sintia.


"Kamu ngapain kesini?"

__ADS_1


"Ya aku gak bisa dong biarkan mereka menikah, aku tahu sekarang orang tua Bian itu gak setuju Bian nikah sama wanita itu, jadi aku masih bisa kembali sama dia."


Dion sedikit tersenyum, apa benar seperti itu, atau mungkin Sintia hanya sedang berharap saja dengan apa yang dikatakannya.


"Aku mau masuk."


Dion dengan santainya menahan Sintia yang hendak memasuki rumah, tidak ada yang boleh merusak acara di dalam, karena kalau memang mau Dion bisa melakukannya sejak tadi.


"Apa-apaan ini, lepas."


"Kamu akan datang sebagai tamu, jadi jangan bertingkah."


Sintia sedikit tertawa mendengarnya, dengan santai juga Sintia melepaskan genggaman Dion.


"Kenapa kamu diam disini, kamu sedih kan karena wanita kamu itu akan menikah dengan Bian, menyesal sekarang?"


Dion tak menjawab, apa yang harus jadi kesimpulannya saat ini, Dion tidak mengerti dengan semua yang dirasakannya.


Jika memang Dion tidak rela, tapi atas dasar apa, karena Zahra juga bukan siapa-siapa untuknya.


"Buang-buang waktu, aku gak mau lemah kayak kamu, kalau cinta perjuangkan, kamu fikir perasaan itu permainan?"


Sintia menggeleng dan berlalu meninggalkan Dion di sana, tanpa berfikir panjang, Dion masuk menyusul Sintia, menahannya saat hendak menghampiri Bian di sana.


"Lepas ih."


"Diam, sutt," ucap Dion membungkam Sintia.


"Bagaimana, Sah?" tanya penghulu.


Mereka yang jadi saksi tampak kompak mengesahkan pernikahan itu, Sintia dan Dion sama-sama terdiam, apa maksudnya kenapa sudah sah saja, mereka tidak mendengar ada ijab qobul di sana.


"Sekarang kalian sudah menjadi suami istri, jaga rumah tangganya bersama-sama, saling menguatkan saat keadaan menjatuhkan kalian."


Bian tersenyum dan melirik Zahra, mereka telah resmi menikah sekarang, Bian telah memiliki seorang istri yang sesuai dengan keinginannya.


Zahra melirik Dion bersama Sintia di sana, kenapa Dion tidak katakan jika ada pernikahan saat ini.


"Ayra," panggil Bian.


Zahra menoleh dan melihat Bian memberikan bolpoin.


"Kamu tanda tangan dulu ya."


Zahra menerimanya dan menandatangani semua yang perlu ditanda tangani, Bian tersenyum, itu telah menyempurnakan pernikahan mereka sekarang.


Zahra menyimpan bolpoinnya dan melirik Bian, Zahra merasa takut untuk melanjutkan hidup setelah ini.


Bian mengangguk dan mencium kening Zahra, tidak ada apa pun yang bisa mengganggu mereka berdua, mereka telah saling memiliki satu sama lain dan akan tetap bersama selama waktu itu ada.


Zahra dan Bian melakukan semua kegiatan di hari itu, Zahra menerima sikap dingin Kemal dan Kania, Zahra tahu mereka tidak mau menerimanya sebagai menantu.

__ADS_1


Tapi semua itu terasa terganti karena Inggrid begitu baik menerimanya, Inggrid ramah dan memang mau menganggap Zahra ada bersama mereka saat ini.


__ADS_2