
"Non, Non, jangan seperti ini, tolong."
Mbak rumah tampak mengejar langkah Sintia dan berusaha menghentikannya, tapi Sintia tak peduli dan terus saja berjalan.
"Ada apa ini?" tanya Kania.
Keduanya sama-sama menghentikan langkah, Kania mengernyit melihat sosok Sintia.
"Ada apa kamu kesini?"
"Menurut Tante, ada apa?"
Kania diam, kalau Kania tahu apa tujuannya, pasti Kania tidak akan bertanya padanya.
"Mana, Bian?"
"Untuk apa mempertanyakannya?"
"Maksud Tante apa sih, bukannya kalian tidak setuju Bian dengan wanita itu, tapi kenapa kalian malah menikahkan mereka?"
Kania kembali diam, kalau bukan karena Bian yang telah bertingkah dengan wanita itu, mereka tidak akan setuju dengan pernikahan yang diinginkan Bian.
"Kenapa, Tante?"
"Sudahlah, kamu kan sudah tahu kalau wanita itu pilihan Bian."
"Tapi aku gak rela, aku gak bisa terima semua ini."
"Lalu kamu mau apa?"
"Aku mau hancurkan rumah tangga mereka, aku mau Bian pisah dengan Istrinya itu."
Kania mengangkat kedua alisnya, mbak rumah tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Sintia, berani sekali wanita itu berkata demikian.
"Tante, aku gak akan tinggal diam meski Bian sudah menikahi wanita itu."
"Apa yang mau kamu lakukan?"
"Apa pun, aku akan melakukan apa pun untuk bisa memisahkan mereka berdua, aku tidak akan pernah terima dengan semua ini."
"Terserah kamu saja, Tante tidak mau ikut campur lagi."
Sintia mengernyit, sesantai itu Kania menanggapi niatan Sintia, apa Kania rela jika kebahagiaan putranya sengaja diusik oleh Sintia.
"Bi, saya mau istirahat."
Mbak rumah mengangguk, Kania lantas berlalu menaiki tangga rumahnya, biarkan saja Sintia mau melakukan apa, Kania tidak mau peduli lagi.
Bian sudah sangat mengecewakan Kania, Bian telah menyakiti perasaannya, tingkah Bian terhadap wanita itu sangatlah buruk dan Kania tidak mau lagi memperdulikan mereka.
"Silahkan, Non Sintia."
__ADS_1
"Bibi, diam."
"Tapi ini sudah larut malam, waktunya istirahat, Non."
"Bian mana?"
"Den Bian, belum pulang, Non."
"Kapan dia pulang, kenapa bisa dia belum pulang, dia sudah pulang sejak tadi."
"Tapi belum sampai kesini, mungkin saja mereka pulang ke rumah barunya."
Sintia diam, benar juga, bukankah Kania sudah katakan jika rumah itu adalah rumah untuk Bian tinggali bersama istrinya.
Iya benar, Bian dan wanita itu pasti ada di sana, di rumah baru yang telah disiapkan Kemal dan Kania.
Sintia lantas berlalu tanpa berkata apa pun lagi, Sintia akan datang ke rumah itu dan akan mengganggu malam pertama Bian dan wanita itu.
Bian dengan terpaksa meninggalkan Zahra sendiri di rumah sakit, Zahra tetap diam tak merespon Bian sama sekali.
Bian jadi kesal sendiri, dan lebih baik jika Bian meninggalkannya saja sekarang, besok pagi Bian akan kembali dan semoga saja Zahra sudah mau berbicara dengannya.
Bian mengusap wajahnya, bisa sekali Bian melakukan itu semua, sentuhan terhadap Zahra, dan pernikahan dadakan.
Bisa saja Zahra tidak terima dengan semuanya, Zahra sudah sepakat dengan pernikahan itu, tapi Bian justru tak bertanya pendapatnya tentang pernikahan itu.
Bian memukul stir mobilnya, kenapa Bian jadi stres sendiri karena keputusannya, bukankah seharusnya Bian tak peduli mau bagaimana pun wanita itu.
Zahra sudah tahu seperti apa pernikahan yang akan mereka jalani, seharusnya Zahra juga tidak perlu seperti itu sekarang.
Bian menghela nafasnya seraya memejamkan matanya, cukup untuk sekarang, Bian tidak mau memikirkannya dulu.
Bian memarkir mobilnya dan keluar, kepalanya terasa pusing sekali, Bian ingin tidur saja agar keadaannya kembali membaik besok pagi.
"Bian."
Kaki Bian yang hendak melangkah pun kembali turun, Bian melihat Sintia yang berjalan menghampirinya.
"Untuk apa kamu kesini?"
Sintia tak menjawab, Sintia memeluk Bian begitu saja.
"Apa-apaan kamu ini, lepas."
"Aku gak mau, aku gak bisa terima pernikahan kamu dan wanita itu, aku gak rela."
"Aku gak perduli, lepas."
"Enggak."
__ADS_1
Bian memijat pelipisnya, semakin sakit saja kepalanya sekarang, kenapa Sintia masih saja mengganggunya.
"Bian, aku gak bisa begitu saja melepaskan kamu, aku sayang sama kamu."
"Jangan bodoh."
Bian melepaskan pelukan Sintia dengan paksa.
"Aku sudah menikah, kamu juga tahu itu, jadi berhenti mengganggu ku."
"Aku gak mau, kamu dengar, aku gak mau."
"Terserah."
Bian berlalu begitu saja meninggalkan Sintia, kepalanya bisa meledak jika terus menerus mendengarkan ucapan Sintia.
"Bian, kamu harus dengarkan aku dulu."
Bian tak peduli dengan itu, biarkan saja Sintia akan pergi dengan sendirinya, tidak mungkin Sintia terus bertahan di sana jika Bian dengan jelas mengabaikannya.
"Lihat saja nanti, aku akan buat kamu berpaling dari istri kamu, dan mengejar aku."
Sintia melihat sekitar, baru ingat jika wanita itu tidak ada bersama Bian.
"Kemana wanita itu, kenapa Bian hanya sendirian saja, dan Bian juga terlihat lesu sekali, apa mereka sedang bermasalah."
Sintia ingat pertemuan mereka sewaktu di rumah Inggrid, ada Dion juga di sana.
"Apa mungkin mereka bertiga ribut, mungkin saja benar jika Dion dan Ayra memang ada hubungan sebelum sama Bian, dan Bian tidak tahu tentang itu."
Sintia tersenyum dan mengangguk, baguslah kalau memang seperti itu, berarti Sintia bisa lebih mudah untuk mendekati Bian lagi.
"Sebaiknya aku lebih banyak bujuk Dion, lelaki itu harus mau kembali pada Ayra, dengan begitu aku bisa mendapatkan Bian lagi."
Sintia mengangguk pasti, itu adalah pemikiran yang paling benar, mulai besok Sintia akan sering menemui Dion.
Sintia harus membujuk Dion agar mau membuat Bian dan Ayra berpisah, kalau Dion masih mencintai wanita itu, pasti Dion akan setuju juga.
"Aku gak peduli meski disebut egois, aku gak bisa kehilangan Bian, dan apa pun akan aku lakukan untuk bisa mengembalikan kebebasan Bian lagi."
Sintia tahu pernikahannya dengan Bian memang hanya pernikahan kontrak, tapi Sintia tidak keberatan dan mau menjalaninya, tapi kenapa sekarang Bian justru memilih Ayra.
"Bian hanya akan menikahi aku secara kontrak, tapi giliran wanita itu, Bian justru menikahinya dengan serius."
Sintia benar-benar merasa tidak terima dengan semuanya, karena Bian hanya mempermainkannya saja selama ini.
Sintia sudah tulus menyayanginya, tapi kenapa balasannya justru buruk sekali.
Sintia berlalu meninggalkan tempat itu, tapi bukan untuk menyerah, Sintia akan kembali dengan berbagai usaha untuk mendapatkan Bian.
Bagaimana pun caranya, meski Sintia akan dianggap buruk oleh orang banyak, Sintia tak peduli asalkan bisa kembali dekat dengan Bian.
__ADS_1
Bukankah kesempatan akan tetap ada bagi mereka yang tetap mau berusaha, Sintia harus yakin jika kesempatannya ada.