
"Bibi, Zahra belum kembali?"
"Belum, Den."
Bian mengangguk, beberapa hari tidak ada Zahra, Bian merasa sangat tenang, ia bisa melakukan segala hal tanpa harus mengingat keberadaan Zahra.
"Den Bian, mau menyusul kesana?"
"Tidak, aku ada urusan Kantor, jadi tidak bisa pergi."
Nur hanya mengangguk saja, ia tidak mengerti kenapa Bian bisa seacuh itu terhadap istrinya sendiri.
"Nanti kalau Zahra datang, katakan saja aku ada urusan di luar."
"Baik, Den."
Bian mengangguk dan berlalu, Nur hanya bisa menggeleng, padahal ia selalu melihat Zahra sedih karena sikap abai Bian, tapi Bian tetap saja seperti itu.
"Kasihan Non Ayra."
Nur kembali ke dapur, ia tidak bisa ikut campur soal itu, keberadaannya hanya untuk bekerja saja.
Bian mengendarai mobilnya dengan semangat, hari ini Bian akan bertemu dengan Vanessa.
"Bisa sekali aku seperti ini."
Bian tersenyum, untuk pertama kalinya Bian merasa menyukai seorang wanita, tertarik dengan wanita bahkan terus mengingatnya hanya karena pertemuan singkat itu.
"Mungkin ini maksud dari yang dikatakan Zahra, akan ada masanya dimana aku tidak bisa mengontrol hati ku sendiri."
Bian mengangguk, sepertinya Bian mengakui jika ia sudah menyukai seorang wanita sekarang, bukan Sintia atau pun istrinya, melainkan Vanessa.
"Dia memang terlihat sempurna, anggun, elegan, ya itu benar."
Bian memarkir mobilnya, ia telah sampai di tempat janjinya dengan Vanessa, Bian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Vanessa.
"Hallo, kamu dimana?" tanya Bian.
Satu detik kemudian, Bian melihat Vanessa yang turun dari taxi.
"Oke, saya melihat kamu."
Sambungan terputus, Bian lantas keluar dan menghampiri Vanessa di sana.
"Selamat siang," sapa Bian.
Vanessa menoleh dan mengangguk hormat, keduanya tersenyum bersamaan.
"Apa kabar?"
Vanessa melihat uluran tangan Bian, dan segera menjabatnya.
"Baik, Pak."
"Baguslah, kita masuk sekarang?"
Vanessa mengangguk, jabatan tangan itu dilepas, keduanya berjalan memasuki tempat makan, itu adalah tempat santai Bian dan kawannya, dan benar, itu adalah tempat yang sempat didatangi Zahra bersama Dion.
"Silahkan duduk," ucap Bian.
"Terimakasih, Pak."
Keduanya duduk, Bian tersenyum saat pandangan mereka bertemu.
"Kamu mau pesan apa?"
"Terserah, saya ikut saja, saya tidak tahu menu disini."
"Oh, oke, sebentar."
Bian memanggil pelayan di sana, dan segera memesan beberapa menu, Vanessa hanya diam saja, ia tersenyum setelah Bian selesai memesan.
"Tunggu ya."
__ADS_1
"Baik, Pak."
"Emm, siapa nama kamu?"
"Vanessa, Pak."
"Vanessa, kita sedang tidak di Kantor, jadi sebaiknya bicara kamu biasa saja, jangan terlalu formal."
Vanessa diam, perlahan ia mengangguk seraya tersenyum.
"Aku Bian, kamu sudah tahu kan?"
"Iya."
"Baguslah, aku tidak masalah meski kamu tidak memanggil ku Pak Bian, ini bukan jam Kantor, jadi biasa saja."
Vanessa mengangguk, ia berpaling sesaat, Bian terus saja menatapnya, dan sepertinya Vanessa paham apa maksudnya.
"Baiklah, Pak Bian, emmm maksud saya Bian."
"Yaa tidak masalah."
"Jadi, apa yang akan kita bahas sekarang?"
"Kamu sudah menikah?"
Vanessa mengernyit, jelas sudah jika apa yang difikirkannya itu benar, Bian pasti ada niat tersendiri mengajaknya bertemu di hari libur.
"Baiklah, Vanessa kamu bisa berfikir apa pun tentang ku, tapi aku yakin kamu sudah mengerti dengan semuanya."
Vanessa tersenyum seraya mengangguk, Bian menjentikan jemarinya hingga bersuara.
"Baguslah."
"Tapi, apa tidak ada yang akan marah jika kita disini?"
Bian diam, tentu saja ia ingat dengan Zahra, dan Bian tahu jika Zahra menyukainya, tapi Zahra juga tahu jika Bian tidak bisa membalas perasaannya.
"Iya, tentu saja, kamu tidak perlu khawatir, karena tidak akan ada yang marah juga."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar, memangnya siapa yang akan marah, atau mungkin kekasih mu sendiri?"
Vanessa menggeleng, ia menghembuskan nafasnya sekaligus.
"Ada apa?" tanya Bian.
"Tidak, aku memang sedang sendiri, jadi tidak akan ada yang mempermasalahkan ini."
Bian memejamkan matanya, tentu saja itu kabar yang sangat baik, Bian bisa bebas mendekati Vanessa jika wanita itu sedang kosong.
"Kamu naik taxi, tidak ada mobil pribadi?"
"Tidak, aku baru mulai bekerja."
"Oh benarkah, berapa usia mu?"
"23 tahun, baru selesai kuliah."
Bian mengangguk, jawaban bagus, pantas saja Vanessa naik taxi untuk menemuinya.
"Pulangnya, apa boleh aku yang antar?"
"Jika memang tidak merepotkan."
Bian tersenyum, bagaimana mungkin merepotkan, Bian akan sangat senang, dengan begitu ia akan mengetahui dimana rumah Vanessa.
"Silahkan, pesanannya."
"Terimakasih."
Mereka menikmati hidangannya, niat Bian bertemu adalah untuk membahas bisnis, tapi ternyata keduanya telah melupakan hal tersebut.
__ADS_1
Mereka justru asyik berbincang dan bercandaan, bertukar cerita satu sama lain, Bian merasa begitu mudah untuk mengenal Vanessa.
"Emmm."
Bian menoleh, minuman Vanessa mengotori dagunya, Bian segera meraih tissue dan mengusapnya perlahan.
"Kenapa seperti ini, ceroboh sekali."
Vanessa sedikit tersenyum, keduanya terdiam saat pandangan mereka bertemu, Bian merasa tak karuan saat begitu dekat menatap Vanessa.
"Setelah ini, hati-hati," ucap Bian pelan.
Vanessa mengangguk, Bian berpaling seraya menyimpan tissuenya, baiklah ini benar-benar kacau, Bian tidak biasa seperti ini.
"Bian."
"Emmm, apa?"
"Kamu kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa, aku hanya terpesona saja saat melihat mu dengan begitu dekat."
Vanessa sedikit tertawa, Bian turut tersenyum seraya menggeleng, jadi benarkah Bian menyukai wanita itu, akan seperti apa Zahra jika mengetahuinya.
Bian mengusap bibir sampai ke dagunya, tidak, Bian tidak perlu perdulikan itu, Bian hanya akan melakukan apa yang diinginkannya saja.
"Bian, melamun lagi?"
Bian menoleh, ia mengusap pipi Vanessa tanpa permisi, memang kecantikannya tak bisa dipungkiri.
"Apa ini?"
Vanessa menjauhkan tangan Bian, Bian berpaling sesaat, ya buruk sekali tingkah Bian saat ini.
"Sorry, aku tidak bisa berpura-pura."
Vanessa mengangguk, mereka kembali menikmati hidangannya.
Inggrid bersama dengan Zahra dan Dion, memasuki rumah Bian, mereka telah sampai sore ini.
"Bian, Bian," panggil Inggrid.
"Ibu, sudah kembali, bagaimana keadaannya?"
"Baik, saya sudah sehat."
"Syukurlah, mari duduk, biar Bibi bawakan minum."
"Terimakasih, mana Bian?"
"Den Bian, katanya ada urusan kantor, sudah pergi sejak tadi pagi."
"Tadi pagi?" tanya Zahra.
"Iya, sekitar jam 9 atau jam 10, Bibi lupa."
Zahra diam, Dion berpaling seraya tersenyum, sepertinya Dion merasakan akan ada masalah antara mereka bertiga.
"Hari libur, urusan kantor, apa maksudnya anak itu?" tanya Inggrid.
"Biarkan saja Oma, mungkin memang tidak bisa di tunda."
Inggrid menoleh, tanpa menjawab, Inggrid mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kiki.
"Oma, telepon siapa?" tanya Zahra.
Inggrid hanya mengangkat tangannya, meminta Zahra diam saja.
"Dimana kamu, apa kamu ikut dengan Bian?"
Mereka diam, mendengarkan pembicaraan Inggrid dengan orang ditelepon sana, Zahra melirik Dion, lelak itu tersenyum seraya menggeleng.
__ADS_1