
Sepanjang kebersamaan, Zahra tampak diam saja, ia hanya sesekali tersenyum menikmati udara pagi ini.
Isma dan Frans yang lebih banyak berbincang, tapi meski begitu Zahra tetap mendengar dan menyimak perbincangan mereka.
Bahasan tentang Shafira begitu manis di telinga Zahra, sebahagia itu pernikahan Frans dan Shafira di masa lalu, yang sangat jauh berbeda dengan kisahnya bersama Bian.
"Zahra, kaki kamu sakit, kita bisa duduk dulu kalau kamu mau," ucap Isma.
Zahra mengangguk, mereka duduk di rerumputan hijau itu, meski memang ada kursi tapi rumput itu jadi pilihannya.
"Kalian mau minum?" tanya Frans.
"Kamu mau?" tanya Isma.
Zahra mengangguk, mungkin itu dibutuhkannya sekarang.
Frans lantas berlalu untuk membelikan minumannya, Isma tersenyum seraya mengusap tangan Zahra.
"Kamu harus bebaskan fikiran kamu, perasaan kamu, semua harus bebas agar kamu bisa kembali sehat," ucap Isma.
"Shafira, dia pasti bahagia memiliki Frans."
"Keduanya sama-sama bahagia karena saling memiliki adalah impian mereka, dan mereka berhasil meraihnya."
Zahra mengangguk, ia berpaling, jika saja Bian berubah sebelum Zahra menyerah sudah pasti ceritanya akan berbeda.
"Ini, minumlah."
Frans memberikan mereka minuman, dengan segera Isma membuka dan meneguknya.
"Sini aku buka," ucap Frans membuka minuman Zahra.
"Terimakasih."
Frans mengangguk, Zahra turut meneguknya dan kembali diam dengan lamunannya.
Sesaat Frans berkutat dengan ponselnya, ada pesan masuk dari Inggrid dan wanita tua itu berniat menyusul.
"Zahra, kemarin Shafira sempat sadar dan bertanya keberadaan kamu," ucap Frans.
"Lalu bagaimana sekarang, kita kesana saja."
"Tidak, Dokter sedang melarang siapa pun menemuinya, ada beberapa prosedur pemeriksaan yang sedang dilakukan."
__ADS_1
"Dia baik-baik saja?"
"Tentu saja, dia harus baik-baik saja, karena aku akan menjaganya."
Zahra tersenyum dan kembali berpaling, Frans pasti masih mengharapkan wanita itu, mungkin saja cinta untuknya masih sama sampai sekarang.
"Zahra, masalah dalam rumah tangga itu memang berat, dan yang kerap terjadi adalah ketidak seimbangan," ucap Isma.
Zahra menoleh, sepertinya Isma akan memberinya banyak pengertian tentang itu, tapi apa Zahra masih membutuhkannya sekarang.
"Ketidak adilan kerap dirasakan oleh dia yang merasa diperlakukan tidak wajar, dan Zahra sakit hati itu selalu jadi warna dalam setiap hubungan, tidak hanya pernikahan tapi seperti kita sekarang bisa saja saling menyakiti tanpa kita sadari."
"Segala sesuatu dalam hidup selalu berdampingan dengan kekecewaan dan penyesalan, sakit hati dan bahagia itu tidak akan bisa terpisahkan karena keduanya selalu berdampingan," tambah Frans.
Zahra tersenyum, ia mengangguk paham dengan itu, tapi sekarang Zahra sudah malas untuk tetap mengerti kisah hidupnya sendiri.
Mengalah dengan hal-hal yang hanya membuatnya lelah sendiri, Zahra ingin bernafas dengan tenang, terbebas dari kegelisahan yang selalu menyesakannya.
"Aku sudah terlalu lama menyerah, terlalu lama berpura-pura jika semua baik-baik saja demi menjaga perasaan mereka, demi memperahankan perasaan ku sendiri yang bahkan tak pernah mendapatkan balasan."
Isma dan Frans menatapnya bersamaan, memang berbanding terbalik dengan kisah Frans, dan mau bagaimana pun Frans tidak bisa sepenuhnya mengerti perasaan Zahra.
Isma menghela nafasnya, ia merangkul Zahra dan membawanya bersandar ke pundaknya, mengusap kepalanya sayang berharap bisa sedikit menenangkannya.
"Aku hanya ingin berpisah, apa itu salah, setelah semua perjuangan yang aku lakukan, dan sekarang apa masih aku yang harus mengalah?"
"Tidak, berjuang untuk diri sendiri itu tidak ada salahnya, yang salah adalah membohongi diri sendiri."
Frans mengangguk, beratnya melepaskan memang pernah dirasakannya dulu, Frans nyaris gila karena keputusannya sendiri melepaskan Shafira.
Dan mungkin, Frans khawatir jika Zahra akan mengalami hal yang sama jika ia melepaskan Bian, melepaskan cintanya yang dulu begitu diperjuangkannya.
"Zahra, apa perasaan itu sudah tidak ada lagi sekarang?" tanya Frans.
Tak ada jawaban, Zahra tidak bisa menjawab itu, jika iya tapi sebenarnya tidak, dan jika tidak tapi Zahra memang ingin meniadakan perasaan itu.
"Aku tidak merasakan apa pun tentang yang kamu alami, tapi aku berfokus pada perpisahan yang sedang kamu perjuangkan saat ini."
Isma mengangguk, ia menggenggam tangan Zahra yang mulai bergetar, mungkin saja Zahra kesal dengan pembicaraan mereka saat ini.
"Zahra, aku tidak sedang menghina mu, tapi keadaan mu juga harus difikirkan, kamu pernah mengakui betapa kamu menyayangi Suami kamu, perpisahan yang kamu inginkan mungkin akan semakin menyakiti kamu dan mengganggu kesehatan mu," ucap Frans.
"Jangan jadikan ini paksaan, kami hanya perduli dengan esok hari yang akan kamu jalani, Zahra, dulu Mama sering kali merasa kecewa dan sakit hati karena Suami tapi dibalik itu sosoknya sendiri yang bisa mengobati sakit tersebut," ucap Isma.
__ADS_1
"Aku rasa kamu sedang ada difase kebohongan paling tinggi, kamu bersikap dan berkata kebencian terhadap Bian dan mereka semua, tapi sebenarnya kamu tidak merasakan itu sama sekali, kebencian yang kamu rasa hanya sesaat ketika kamu emosi saja."
Zahra memejamkan matanya, sedikit pun Zahra tak ingin membenarkan itu, perasaan terhadap Bian hanya penjara paling menyeramkan sepanjang kisahnya mereka.
Zahra tidak tahan lagi dengan semua itu, Bian tetaplah Bian yang tempramen dan tidak akan pernah berubah, Zahra tetap ingin bebas.
"Zahra," panggil Inggrid.
Mereka menoleh bersamaan, Isma mengernyit dan melirik Frans.
Lelaki itu mengangguk, Frans memang memberi tahu Inggrid dimana keberadaan mereka saat ini.
"Bu Inggrid."
Frans bangkit dan membawanya menghampiri Zahra juga Isma.
"Oma, untuk apa kesini?" tanya Zahra.
"Oma hanya sebentar mampir, Oma mau pamit sama kamu."
"Mau kemana?"
"Oma harus pulang, kamu juga sudah tidak membutuhkan Oma lagi sekarang, Oma sudah katakan akan mendukung apa pun keputusan kamu."
Zahra diam, kalimat Inggrid membuat air matanya bergejolak berlomba untuk mengaliri pipinya.
Zahra bangkit dengan susah payah, sesaat Zahra limbung karena pusing kepalanya yang tak kunjung hilang.
"Duduk saja, jangan memaksakan."
Zahra menggeleng, ia meraih kedua tangan Inggrid.
"Tidak apa-apa, Oma minta maaf karena sudah menyusahkan kamu selama ini, terimakasih sudah pernah membuat Oma bangga."
Zahra merapatkan bibirnya, Inggrid adalah satu-satunya orang yang selalu berusaha mengerti Zahra, menyayanginya dengan tulus tanpa alasan apa pun.
"Maaf, Oma tidak bisa temani kamu selesaikan semuanya, Oma tidak mau ditinggalkan jadi biarkan Oma pergi lebih dulu, Oma yakin kamu bisa menjaga diri dengan baik."
Zahra menggeleng, air matanya menetes begitu saja, kenapa Zahra tidak rela mendengar semua kalimat Inggrid.
"Bu Isma, saya percaya Zahra sudah mendapatkan kenyamana bersama Ibu, tolong jaga dia dan jangan biarkan dia bersedih terlalu lama, saya tidak bisa lagi menjaganya karena alasan yang mungkin bisa Ibu mengerti."
Isma hanya mengangguk tanpa bisa mengatakan apa pun, ia menyayangi Zahra dan tentu akan menjaganya dengan batas kemampuan dan haknya sendiri.
__ADS_1