
Kania memeluk putranya untuk beberapa saat, Bian sudah dipanggil untuk kembali ke dalam sel.
"Mama akan bawa Zahra kesini secepatnya, jangan khawatir, Mama akan berusaha untuk itu."
Bian diam saja, ia tidak ingin berharap untuk apa pun, sekali pun terhadap Zahra harapannya begitu besar.
"Jaga kesehatan, jangan terlalu banyak fikiran, Mama tidak akan diam saja, pasti akan bantu kamu."
"Sampai kapan kalian akan seperti itu, jangan terlalu memberinya harapan, atau dia akan kecewa nantinya," ucap Inggrid.
Kania menoleh sesaat, sikap dan bicara Inggrid cukup membuat Kania sedih dan kecewa.
Kenapa wanita tua itu lebih memihak orang asing dari pada cucunya sendiri, bukankah Bian sudah meminta maaf untuk semuanya.
"Ayo pulang, apa Mami harus minta antar polisi sekarang?"
"Pulanglah," ucap Bian pelan.
Kania mengangguk, meski sebenarnya ia masih enggan untuk meninggalkan Bian saat ini.
Kanias tersenyum seraya mengusap pipi Bian, Kania akan berusaha membuktikan ucapannya tentang Zahra esok lusa.
"Pergilah," ucap Bian.
Lelaki itu bebalik dan meninggalkan mereka lebih dulu, Kania sempat menunduk, jika saja hari ini Kania bisa membawa Bian pulang bersamanya, pasti Kemal akan senang.
"Kania," panggil Inggrid.
"Iya."
Kania berbalik dan segera mendorong kursi rodanya, mereka akan kembali ke rumah sakit, dan itu artinya Kania bisa kembali bertemu dengan Zahra.
Semoga saja Inggrid langsung istirahat, jadi Kania bisa bebas dan tenang bicara dengan Zahra nantinya.
"Sudahlah, kenapa kalian ini?" tanya Dion.
Lelaki itu berusaha menghentikan perdebatan Sintia dan Zahra, sangat tidak bisa dimengerti jalan fikir dua orang itu.
"Apa kalian tidak bisa lebih tenang lagi?"
"Aku seperti ini karena aku perduli padanya?"
"Kamu bukan perduli padaku, melainkan pada Bian, kamu sama saja dengan mereka yang menginginkan Bian untuk bebas.'
"Itu benar, bukankah dengan Bian bebas, kamu jadi bisa lebih tenang, kamu tidak akan tertekan lagi oleh rasa bersalah mu itu."
"Diam."
Dua pasang mata itu saling tatap, Zahra sudah muak sejak tadi membahas Bian dan Bian lagi.
__ADS_1
Apa harus Zahra mengusir mereka saja, lagi pula siapa yang memberi tahu mereka tentang keberadaannya.
"Ayra, aku memang tidak tahu sepenuhnya tentang masalah kalian, tapi paling tidak, aku tahu kalau keadaan ini bukan pilihan yang terbaik."
"Sintia, sudahlah," ucap Dion.
"Gak, aku akan terus bicara selagi Zahra tidak bisa mengakui kalau perkataan ku adalah benar."
"Sebaiknya kalian pergi saja."
"Seperti itu jawaban mu?" tanya Sintia.
"Aku tidak berniat untuk menjawab pertanyaan apa pun tentang Bian, jadi sebaiknya kamu diam saja."
Sintia tersenyum singkat, apa benar seperti itu, kenapa Sintia merasa lucu dengan wanita di hadapannya.
Bukankah jelas jika ia tidak bisa berpura-pura untuk hal apa pun, apa susahnya menerima keperdulian Sintia saat ini.
"Pergi," ucap Zahra.
"Aku tidak akan memaska untuk kamu membebaskan Bian, tapi aku akan memaksa untuk kamu mau menemui Bian."
"Aku bilang, aku gak perduli, apa kau ini tuli?"
Sintia mengernyit, Zahra jadi nyolot seperti itu, apa benar di sini adalah Sintia yang tidak mengerti apa-apa.
Semua yang dikatakannya memang tentang Bian, tapi tujuan keperduliannya adalah untuk Zahra, apa itu terlalu sulit untuk dimengerti.
"Sudah ayo pulang, kamu hanya membuang waktu saja, apa kamu lupa kita sekarang di Rumah Sakit?" ucap Dion.
"Karena tidak seharusnya kita memaksakan apa pun disini, kita memang berniat menemui Zahra tapi bukan untuk berdebat seperti ini."
"Dia sendiri yang tidak bisa membuka hati dan fikirannya, sehingga terlalu sulit untuknya menerima saran dari ku."
Zahra menggeleng, berisik sekali wanita itu, apa dia tidak malu terus menerus ikut campur urusan Zahra dan Bian.
Bahkan keluarga Bian pun tidak ada yang bisa mengaturnya, apa lagi hanya seorang Sintia, itu tidak akan mungkin terjadi.
"Ayo kita pulang," ucap Dion.
"Itu lebih benar," sahut Zahra.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang, tapi kamu harus ingat, kalau keadaan mu semakin buruk lagi, aku akan kembali menemui mu."
Zahra mengangguk asal, terserah saja yang jelas Zahra mau sekarang mereka pergi.
Sakit sekali telinga dan kepalanya harus terus mendengar ocehan Sintia, karena itu tidak akan ada gunanya sama sekali.
"Zahra, kita pergi, lekas sembuh," ucap Dion.
"Terimakasih."
__ADS_1
Dion mengangguk dan membawa Sintia keluar, sia-sia waktu Dion menemui Zahra, ia sama sekali tidak bisa berkata apa pun juga.
Semua habis oleh Sintia, lain kali lebih baik Dion datang sendirian saja tanpa ada Sintia atau siapa pun juga.
Damar menggeleng menatap dokter di hadapannya, perbincangannya dengan dokter tersebut telah membuatnya jengkel.
Sangat tidak bertanggung jawab karena membiarkan pasiennya pergi begitu saja, apa yang Damar fikirkan memang benar, ada kesalahan dari kepulangan ibu tirinya itu.
"Saya mau dia dibawa kembali kesini."
"Jika tidak ada persetujuan keluarga, kami tidak mungkin melakukannya."
"Apa maksud mu, aku ini keluarganya."
"Tapi Suaminya telah menjamin jika semua akan baik-baik saja."
Damar mengusap wajahnya seraya berpaling, apa ia sudah salah memilih rumah sakit untuk merawat ibu tirinya.
Kenapa semudah itu mereka memberi izin pasiennya pergi, bahkan saat keadaannya masih buruk.
"Saya masih harus berkerja, kalau sudah selesai, saya permisi."
Damar menoleh, ia tak mengatakan apa pun, hanya diam saja menatap dokter itu.
"Permisi, Pak."
Damar tetap diam saat ia ditinggalkan begitu saja, sangat menjengkelkan, pemikiran macam apa pun.
Bukankah mereka tahu, kalau gangguan mental ibu tirinya itu sudah mencelakai orang lain.
"Tidak bisa dimengerti."
Damar menggeleng dan melihat sekitar, lihat saja kalau sampai ada masalah lain dari keputusan saat ini, Damar akan sangat marah.
Tidak perduli meski mereka telah mengurus dirinya, tapi jika mereka salah, Damar akan tetap menentangnya.
"Lebih baik aku cari sedikit hiburan."
Damar mengangguk dan berlalu, ia akan melajutkan langkahnya untuk menemui Zahra, bukankah itu sudah niatnya sejak awal keluar rumah.
Mungkin saja Damar akan bisa mendapatkan sedikit hiburan di sana, Damar juga ingin melihat boneka itu, apa Zahra menjaganya dengan baik.
"Harus aku bawakan apa wanita itu, dia pasti akan senang kalau dibawakan sesuatu."
Damar tersenyum, benarkah seperti itu, apa Zahra akan senang dengan oleh-olehnya.
Ah sepertinya Damar mengharapkan kesenangan lainnya juga, mungkin saja Zahra akan senang dengan kedatangannya kali ini.
"Itu pemikiran yang lebih tidak baik, bukankah negara tidak akan memberi tolenransi untuk hal itu."
__ADS_1
Damar berdecak, ia melihat sekitar dan memasuki salah satu toko di sana.
Tidak ada tujuan lain, selain dari pada membelikan Zahra buah tangan, mungkin saja apa yang difikirkannya akan benar adanya.