Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bantu Dia


__ADS_3

Semakin hari Zahra merasa semakin betah dengan kehidupannya yang tanpa tujuan, setiap waktu dihabiskan dengan kegiatan yang benar-benar membebaskan hati dan fikirannya.


Seperti hari ini, Rina yang memutuskan untuk memberi libur Zahra berjualan telah membuat Zahra bebas keluyuran.


Masih dengan menggandeng Dara si bocah kecil yang menyenangkan bagi Zahra, keduanya berkeliling santai di pusat perbelanjaan.


"Aku mau sepatu itu," ucap Dara.


"Ah kau pintar sekali memilih."


Zahra membawa Dara menjutu sepatu yang diinginkannya, beruntung sekali anak itu karena ukurannya yang langsung pas di kakinya.


"Wah cantik sekali buat kamu."


Dara tertawa, Zahra melihat harga yang terpampang di sana, sesaat kemudian Zahra membayarnya.


"Biar dikasih kotak, Bu."


"Ah tidak usah, biar dia langsung pakai saja."


"Baik, Terimakasih."


"Oke, ayo Dara."


Dara tampak berlari lebih dulu, Zahra tersenyum seraya meraih sendal jepit milik Dara.


Ia berjalan menyusul Dara, kembali melihat sekitar kalau-kalau ada yang diinginkannya juga.


"Dara, kamu beli apa untuk Ibu?"


"Ibu mau sate."


Zahra mengernyit, kenapa jadi sate, bukankah yang terlihat di sana hanya pashion saja.


"Oke, nanti kita cari sate."


"Aku mau ikan bakar."


"Siap, nanti kita beli."


Dara bersorak senang, anak itu kembali berlari asal, meski begitu Zahra tak menghentikannya.


Dengan cekatan Zahra mengikuti Dara untuk tetap menjaganya, itu terasa sangat menyenangkan dan benar-benar menghilangkan beban Zahra.


"Jangaaaaan," jerit seseorang.


Zahra seketika menoleh, semua orang tampak berkerumun di sana.


"Dara, Dara kesini, Dara," teriak Zahra.


Dara berlari kembali menghampiri, dengan cepat Zahra menggendongnya dan turut masuk dikerumunan itu.


Zahra berusaha sampai ke barisan paling depan, matanya seketika membulat dengan mulut yang menganga.


"Kakaknya jatuh," ucap Dara yang ikut membungkuk demi melihat ke bawah sana.


Zahra mengangguk, ada apa dengan mereka, kenapa hanya membiarkannya saja seperti itu.


"Cepat tolong dia, panggilkan bantuan," teriak Zahra hingga volume tertinggi.


Ada seorang wanita yang dengan sengaja melompat dari lantai tersebut sampai lantai paling bawah, sependek itu pemikirannya sampai melakukan hal bodoh seperti itu.

__ADS_1


Zahra berbalik dan kembali keluar dari kerumunan tersebut, ia berlari menuju eskalator, karena tidak sabar Zahra tetap berlari menuruninya.


"Bagaimana, ada bantuan?" tanya Zahra yang sedikit ngos-ngosan.


"Ayo, bawa ke mobil ku saja."


Zahra menoleh, tawaran paling tepat sekali itu, mereka segera mengangkatnya dan membawanya pergi.


"Dia kerabat mu?" tanya seseorang.


Zahra diam, siapa dia bahkan wajahnya saja tidak bisa Zahra lihat karena posisi jatuhnya yang tengkurap, dan rambutnya yang menutupi wajahnya.


"Mbak."


"Hah, oh iya, iya, dibawa kemana dia?"


"Cepatlah kenapa malah diam, dia sudah pergi sejak tadi."


Zahra mengangguk, ia kembali berlari mencari mereka yang membawa wanita itu.


Seseorang melambaikan tangannya, Zahra segera menghampiri dan memasuki mobilnya juga, entahlah siapa mereka dan siapa wanita itu.


"Rumah Sakit terdekat saja," ucap Zahra.


Mobil melaju, Dara tampak bingung dengan keadaan itu, sesekali Dara melirik wanita yang berlumuran darah itu.


"Kakak, dia sakit?" tanya Dara.


"Iya, sakit, makanya kamu kalau main harus hati-hati, jangan sampai jatuh kayak gitu."


"Kakak selalu main sama aku, Ibu bilang itu aman buat aku."


Zahra tersenyum seraya mengangguk, tentu saja Zahra akan menjaganya dengan sangat baik.


"Cepat tolong dia," ucap Zahra.


Mereka membawanya masuk, Zahra melirik pemilik mobil itu.


"Pak, saya harus bayar berapa?"


"Tidak perlu, semoga keluarga mu bisa baik-baik saja."


"Terimakasih banyak, Pak."


"Iya, silahkan masuk saja."


Zahra mengangguk, ia berlalu menyusul masuk mereka semua, sedangkan pemilik mobil itu pergi meninggalkan rumah sakit.


Entah apa yang difikirkan Zahra, ia tidak mengenalnya sekali tapi keinginan membantunya begitu besar.


"Dimana dia, dibawa kemana?" tanya Zahra.


"Di IGD, Bu."


Zahra memejamkan matanya sesaat, baiklah Zahra harus menunggu sampai penanganan itu selesai.


"Dara, kita diam disini dulu ya, kalau sudah selesai disini baru kita pulang."


"Ibu mau sate."


"Iya nanti kita beli kalau selesai disini, oke pintar?"

__ADS_1


Dara menunjukan jari jempolnya tanda setuju, Zahra menciumnya berulang kali, kalau saja Zahra memiliki anak, Zahra ingin yang sebaik dan sepintar Dara.


Keduanya berbincang banyak hal, meski terkadang tidak nyambung tapi itu jadi selingan hiburan untuk Zahra.


Ketika Zahra tertawa maka Dara ikut tertawa, dan anak itu tidak sadar jika Zahra tengah mentertawakannya.


"Kakak, sepatu ku bagus sekali."


"Oh iya dong, sepatu kamu bagus dan kamunya juga cantik, jadi sempurna."


Dara kegirangan sendiri, anak itu memang sudah mengerti dengan pujian seperti itu, sehingga ia akan kegirangan ketika mendengarnya.


"Permisi."


Zahra menoleh, ia segera bangkit dan membiarkan Dara di kursi sana.


"Ibu, keluarga pasien tadi?"


"Sebenarnya bukan, saya tidak mengenalnya sama sekali, saya ada di tempat kejadian dan saya tidak melihat dia bersama keluarganya, saya rasa dia seorang diri tadi."


"Lalu bagaimana sekarang, saya tidak menemukan identitas apa pun dari pasien."


Zahra diam, apa yang harus dikatakannya, Zahra juga tidak mengerti harus bagaimana saat tadi dan bahkan sampai sekarang.


"Tapi apa dia selamat?"


"Dia selamat, kondisinya kritis karena benturan di kepalanya, tangannya juga mengalami patah tulang."


"Tangan?"


"Iya, saya rasa ini kecelakaaan serius, dan saya berharap bisa bertemu keluarganya."


Zahra kembali diam, kemana dia harus mencari keluarganya, siapa juga keluarganya.


Zahra melirik Dara, anak itu tampak mengantuk karena mulai sayup.


"Dokter, saya antarkan anak saya dulu ke rumah, nanti saya kembali lagi, kita bisa bicarakan ini baiknya harus bagaimana karena saya tidak tahu keluarganya siapa dan dimana?"


"Apa Ibu bisa dipercaya?"


"Bisa Pak, apa saya harus meninggalkan identitas saya, saya bisa berikan."


"Ah tidak perlu, Bu."


Zahra mengangguk, baiklah itu artinya memang dokternya percaya dengan sosok Zahra.


Dan lagi kapan Zahra berbohong, ia selalu berusaha membuktikan ucapannya.


"Baiklah, saya tunggu Ibu kembali."


"Baik Dokter, saya akan kembali secepatnya, pastikan dia selamat dan bisa kembali pulih, karena mungkin hanya dia yang bisa memberi kejelasan yang dibutuhkan."


Dokter itu mengangguk, tentu saja usahanya tidak akan main-main, dan memang selalu seperti itu pada setiap pasiennya.


Zahra lantas pamit, dengan menggendong Dara ia berlalu meninggalkan rumah sakit.


"Kakak, aku mau ikan bakar."


"Iya Sayang, kita cari ya, dimana penjualnya juga sabar dulu."


Dara menunduk ke pundak Zahra, anak itu tertidur karena rasa ngantuk yang tak lahi bisa ditahan.

__ADS_1


Zahra tersenyum karena hal itu, seperti inikah rasanya memiliki anak, atau mungkin akan lebih menyenangkan jika anak sendiri, atau bahkan juga sebaliknya.


__ADS_2