Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sampai Batas Waktu Terakhir


__ADS_3

Zahra menunduk, suara mereka begitu sakit terdengar ditelinga Zahra.


Mereka mensoraki Vanessa dengan kesalnya, biarkan saja Zahra memang jahat sekarang, ia tidak bisa lagi mengontrol dirinya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bian menyentuh pundaknya.


Zahra mengangkat kepalanya dan menepis tangan Bian, ia berbalik dan diam menatap suaminya itu.


"Zahra, aku sama sekali tidak tahu kalau dia akan datang kesini."


"Memangnya kalau kamu tahu, kamu mau apa?"


"Aku bisa saja mengusirnya."


"Benarkah, saat dia datang pun, kamu melihatnya tapi tidak mengusirnya, kamu bahkan mengunci pintu ruangan mu dengan rapatnya."


Bian diam, apa Zahra akan terima jika Bian menjelaskan kemana maksud fikirannya.


Zahra menggeleng, ia sedikit tersenyum seraya melihat sekitar.


"Zahra, aku minta maaf."


"Harus berapa kali aku memaafkan kamu, kamu fikir aku tidak muak dengan semua ini?"


"Zahra, aku sudah katakan sama kamu kalau aku tidak ada lagi berhubungan sama dia."


"Omong kosong!"


Bian diam, mungkin saja orang-orang itu akan kembali menontonnya jika mereka bertengkar lagi.


"Dengar baik-baik, aku masih akan bertahan sama kamu, aku tidak akan meminta mu berubah, aku tidak akan meminta mu menghentikan semua ulah, tapi ingat saat waktu kita berakhir nanti jangan berani menghalangi langkah ku lagi."


"Zahra, aku tidak bisa."


"Berhenti bersikap egois, kamu sudah mendapatkan perusahaan ini, kamu sudah mendapatkan jabatan impian kamu disini, tugas ku sudah selesai, aku hanya harus bersabar menunggu hingga waktu ini berakhir sempurna."


"Zahra, aku sudah katakan tidak ada lagi perjanjian itu."


"Kalau begitu ceraikan aku sekarang, aku tidak mau lagi ada dikeluarga mu, aku tidak mau lagi berurusan dengan mu dengan mereka semua, aku tidak mau lagi melihat ulah bodoh mu itu."


Zahra tiba-tiba saja menangis, tangis yang dalam dan penuh luka, ini bukan tangisan biasa dan seharusnya Bian mengerti.


"Ceraikan aku, kalau memang kamu tidak mau melakukan itu, biar aku yang selesaikan semuanya, jangan terus menerus memperlakukan aku seperti ini, apa kamu ini bukan manusia?"


"Zahra, aku sudah katakan kalau aku akan berubah."


"Tidak perlu, kamu tidak akan bisa melakukan itu, sebaiknya kamu jadi diri kamu sendiri agar tidak mengecewakan orang lain terus menerus."


"Tapi aku tidak mau kita berpisah."


Zahra diam, ia menunduk sesaat, kepalanya mulai sakit sekarang, Zahra tidak boleh sampai pingsan lagi.


Bian akan memanfaatkannya lagi kalau Zahra sampai pingsan, sudah cukup Zahra dianggap lemah mereka semua.


"Zahra."


"Diam, urus saja pekerjaan mu, jangan bertingkah atau kesempatan yang kamu dapatkan sekarang akan lepas, dan sampai kapan pun kamu tidak akan pernah mendapatkannya lagi."


Zahra berlalu begitu saja, dengan langkah yang sedikit sempoyongan Zahra keluar dari ruangan Bian.

__ADS_1


"Bu Zahra."


Zahra menghentikan langkahnya, ia menekan keningnya seraya bersandar pada tembok di sampingnya.


"Kenapa Bu, Ibu sakit?"


"Tidak, apa yang kamu lakukan disini, cepat bekerja kembali."


"Saya diminta Bu Inggrid untuk menjaga Bu Zahra."


"Tidak perlu, saya baik-baik saja, kembali saja pada pekerjaan kamu sendiri."


"Tapi Bu."


"Jangan membantah, saya masih punya kuasa di Perusahaan ini, saya bisa pecat kamu sekarang."


"Baik Bu, saya minta maaf, permisi."


Zahra memejamkan matanya, ia jongkok saat wanita itu telah pergi, tidak ada gunanya seperti itu, Zahra memang sudah bisa hidup dengan baik sekarang.


Zahra menggeleng cepat, sakit sekali kepalanya, kenapa selalu seperti itu keadaannya.


"Bu, Ibu baik-baik saja?"


Zahra menoleh, ia bangkit saat melihat security itu di depannya.


"Bapak baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa Bu, sepertinya Ibu yang tidak baik-baik saja."


"Tidak masalah."


"Untuk apa ini, Bu?"


"Ambil saja, periksa ke Dokter, siapa tahu ada luka yang tidak bisa terlihat dari luar, terimakasih sudah membantu saya, panggilkan juga orang untuk memperbaiki pintu ruangan Pak Bian."


"Baik Bu, terimakasih banyak, biar saya antarkan ke luar."


"Tidak perlu, saya bisa sendiri, ingat pesan saya pastikan wanita tadi tidak pernah datang lagi kesini."


Zahra lantas pergi, langkahnya terlihat begitu sulit, tangannya tidak bisa lepas dari tembok itu.


Security pun tampak khawatir, ia berjalan perlahan mengikuti Zahra, keadaannya tidak baik-baik saja tapi dia tidak mau dibantu sama sekali.


"Pak, tolong saya," ucap Zahra melambaikan tangan.


Sopir pribadinya terlihat berlari menghampiri Zahra, ia membantu Zahra berjalan dan memasuki mobil.


"Kita ke Dokter, Bu."


"Tidak, antarkan saya ke tempat Bu Isma."


"Bu Isma?"


"Masuk dan jalan."


Sopir itu mengangguk, ia lantas masuk dan melajukan mobilnya, Zahra menunjukan jalan kemana ia ingin pergi sekarang.


Tidak ada penolakan, karena ia memang ditugaskan untuk mengantarkan Zahra kemana pun ia ingin pergi.

__ADS_1


"Bapak nanti pulang saja, sampaikan sama Oma kalau saya ada di rumah Frans."


"Apa Ibu tahu?"


"Tahu, dia lelaki yang sempat datang ke rumah mengantarkan saya."


"Baik Bu."


Tak ada lagi berbincangan, keduanya diam fokus pada perjalanannya saja.


Zahra tampak memejamkan matanya, terus berusaha menenangkan dirinya sendiri saat ini.


 


Mbak rumah tampak panik saat melihat Vanessa yang datang dan ambruk begitu saja.


Ia membantunya bangkit, meski dengan susah payah.


"Non, kenapa?"


"Mana Mama?"


"Mereka baru saja keluar, kenapa bisa seperti ini, biar Bibi telepon dulu Ibu."


"Tidak perlu, biarkan saja, antar aku ke kamar."


Ia menurut dan mengantarkan Vanessa ke kamar, ia terlihat panik karena melihat tuan rumahnya seperti itu.


Padahal saat pergi Vanessa terlihat baik-baik saja, tapi sekarang keadaannya sudah berubah sangat buruk.


"Ada apa ini?" tanya Sintia.


Vanessa mengernyit, kenapa wanita itu ada di kamarnya, sejak kapan dia ada di sana.


"Kamu kenapa?" tanya Sintia membantunya duduk.


"Ada apa ini, Bi?" ulang Sintia.


"Tidak tahu Non, tiba-tiba saja seperti ini."


"Abilkan minum cepat."


Ia mengangguk dan berlalu pergi, Sintia turut duduk dan diam memperhatikan Vanessa, tidak salah ia menunggu kedatangan Vanessa sejak tadi.


Sintia melihat tangan Vanessa yang memar, selain penampilannya yang acak-acakan, tangannya juga terluka, apa yang terjadi pada sepupunya itu.


"Vanessa kamu kenapa, siapa yang jahat sama kamu?"


"Wanita gila itu, dia sudah sangat kurang ajar, lihat saja aku akan membunuhnya dipertemuan berikutnya."


"Apa maksud kamu, siapa dia?"


Vanessa diam, tatapannya mendadak tajam, sorot kebencian begitu jelas terlihat.


Apa yang harus difikirkan Sintia sekarang, dari mana Vanessa sebenarnya, dan siapa wanita gila yang dimaksudnya itu.


"Vanessa, tolong bicara dengan benar."


"Aku akan membunuhnya, itu adalah yang paling benar, sangat benar."

__ADS_1


__ADS_2