Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Ini Manis


__ADS_3

Malam sudah larut, Zahra tampak terlelap di kasurnya, tapi tidak ada Sintia di sana padahal mereka sudah janji akan tidur bersama.


Mungkin saja saat ini Zahra sedang bermimpi indah, atau bahkan bermimpi buruk, entahlah yang jelas Zahra tampak begitu lelap.


"Zahra, Zahra," teriakan itu seketika menembus telinga Zahra.


"Zahra bangun, Zahra."


Zahra seketika duduk, ia tampak lingling saat lampu tiba-tiba menyala terang.


"Zahra, ayo bangun cepat," ucap Sintia panik.


"Ada apa, kamu kenapa, tunggu kepala aku pusing."


Sintia berdecak, ia menarik tangan Zahra tanpa perasaan.


"Ada apa Sintia?"


"Cepatlah turun, Bian jatuh dari balkon tadi."


Zahra menarik balik tangannya, keduanya terdiam, Sintia mengangkat kedua alisnya melihat ekspresi Zahra yang entah harus diartikan apa.


"Jangan bercanda kamu," ucap Zahra kesal.


"Untuk apa aku bercanda, mereka sedang di luar, mereka mengurus Bian."


Zahra menggeleng, ia beranjak lari menuju balkon kamarnya, tapi Sintia dengan cepat menahannya.


"Lepas."


"Jangan bodoh, kamu tidak akan bisa membantu Bian kalau ke balkon, kamu harus turun karena mereka semua di bawah sana, berfikirlah dengan benar."


Sintia lantas lantas menarik Zahra keluar kamar, dengan lari yang tak terkontrol mereka menuruni tangga.


Zahra yang mengaku pusing seolah tak ingat dengan perkataannya sendiri, tak lagi merasakan pusingnya lagi, karena larinya benar-benar cepat.


"Di luar dimana," jerit Zahra tak karuan.


"Di luar, cepatlah keluar."


Zahra menepis tangan Sintia, ia berlari lebih dulu, membuka pintu dengan rusuhnya dan keluar.


"Bian," teriak Zahra.


"Surprise," teriak mereka dengan kompaknya.


Zahra menunduk, ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya saat snow spray disemprotkan padanya.


Bersamaan dengan itu terdengar suara tawa Sintia yang begitu renyah, Zahra memutar tubuhnya melihat Sintia di sana.


Nyanyian ulang tahun terdengar dari Kania di belakang Sintia, ada Inggrid dan Kemal juga di sana, tentu saja itu membuat tawa Sintia berhenti seketika.


"Kalian," ucap Zahra tanpa suara.


Zahra terkejut saat mereka yang diluar juga bernyanyi yang sama, nada yang tak karuan karena mereka menjerit asal.


Zahra menoleh, ia tersenyum seraya menutup kedua telinganya, apa ini sama seperti demo buruh atau kerusuhan tawuran anak brandalan, sakit sekali telinganya.

__ADS_1


"happy twenty year anniversary," teriak Sintia.


Zahra kembali menoleh, ia harus kembali terkejut saat ternyata kue ulang tahun sudah ada di hadapannya.


Dengan lilin-lilin kecil yang menyala yang tampak membuat kuenya semakin cantik, Zahra melihat Kania yang membawanya.


"Mama."


"20 tahun," ucap Kania pelan.


Zahra merapatkan bibirnya, ia justru teringat dengan kedua orang tuanya, saat 19 tahun Zahra masih bersama mereka.


Tapi satu tahun kemudian, Zahra sudah kehilangan keduanya, kenapa Zahra masih merasa kalau Tuhan begitu jahat padanya.


"Tidak boleh menangis, kamu hanya boleh tersenyum," ucap Bian seraya memeluknya dari belakang.


Zahra sedikit menoleh, bagaimana bisa seperti itu, Zahra menunduk, mereka telah membuat Zahra menangis malam ini.


"Tidak boleh seperti ini, lilinnya harus kamu tiup bukan kamu tangisi," tambah Bian.


"Lilinnya akan leleh dan mengotori kuenya," sahut Kania.


Zahra memejamkan matanya sesaat, dan kembali melihat kue tersebut, tanpa menunda Zahra langsung meniup lilinnya tapi sayang apinya kembali menyala dan menyusahkan Zahra.


Mereka yang melihatnya justru tertawa, dengan gemas Zahra terus berusaha meniupnya.


"Ah ini susah," ucap Zahra kesal.


Zahra meraih satu demi satu lilin kecil itu, dan memasangkan pada kuenya lagi tapi dengan posisi terbalik.


"Yeeee happy birthday to me," sorak Zahra seraya mencolek butter cream dan memakannya.


Itu semakin membuat mereka heran, tapi satu detik kemudian mereka tertawa seraya bertepuk tangan.


Zahra tersenyum, ia melepaskan pelukan Bian dan melihat mereka semua, jadi ini tujuan kedatangan mereka.


"Ayra," panggil Kania.


Zahra menoleh, Kania mengusap pundaknya seraya mengucapkan selamat, kemudian memeluknya sesaat.


Hal yang sama dilakukan Sintia dan juga Inggrid, hingga terakhir Kemal, lelaki itu berjalan mendekat dan cukup membuat Zahra mematung.


"Aku tidak sedang menyukai mu, tapi aku hanya sedang menghargai mu karena kamu sudah membuat anak ku bahagia, selamat ulang tahun menantu ku."


Zahra melirik uluran tangan Kemal, dengan ragu Zahra menjabatnya, tidak ada yang menyangka jika Kemal menariknya dan memeluknya.


Ini pelukan pertama Kemal untuk Zahra setelah sekian lama mereka menjadi keluarga, Zahra tersenyum, ia membalas pelukan Kemal tanpa ragu.


"Aku akan berusaha lebih baik lagi, aku akan buat Papa menyukai ku besok lusa."


"Diamlah, kau tidak akan bisa lakukan itu."


Zahra tersenyum, begitu juga dengan mereka, tentu saja itu tontonan yang indah, semua terlihat baik-baik saja dan penuh kedamaian.


Mereka membawa Zahra menuju halaman rumah, semua yang telah disiapkan Bian dan teman-temannya adalah untuk Zahra.


Pesta kecil yang dibuat akan sangat menyenangkan mereka malam ini, makanan minuman dan berbagai cemilan ada di sana.

__ADS_1


"Saatnya makan-makan," ucap Dion semangat.


Mereka meraih apa yang diinginkannya, bubar dengan posisi masing-masing, berbincang hangat.


Ada juga yang bermain gitar untuk memberi irama pada berbincangan mereka, musik memang pelengkap paling sempurna dan setiap pesta.


"Kamu sengaja melakukan ini?"


Bian menoleh, ia menyimpan minumannya dan berbalik menghadap Zahra.


"Kenapa harus membohongi ku, Sintia bilang kamu terjatuh dari atas sana."


"Aku tidak menyuruhnya mengatakan itu, aku hanya minta dia membangunkan kamu."


"Tapi dia mengatakan itu."


"Tapi aku baik-baik saja, sudah tidak perlu ngomel, selamat ulang tahun Istri ku, wanita hebat dan kuat yang penuh kesabaran, aku memang beruntung memiliki kamu."


Zahra tersenyum, ia lantas memeluk Bian dengan eratnya.


Mereka yang melihat itu langsung bersorak, tapi itu tak lantas membuat pelukannya terlepas.


"Makan ini, ini ayam panggang buatan Papa."


"Papa?"


Bian mengangguk dan menyuapinya, Zahra menerimanya, mengunyahnya perlahan untuk bisa merasakan cita rasanya.


"Bagaimana?"


"Enak, rasanya enak."


"Jelas saja, kamu sedang meremehkan ku?" tanya Kemal yang menghampiri.


Pelukan itu seketika terlepas, Zahra meraih dagingnya dan menyuapi Kemal.


"Ini enak, aku menyukainya, Papa hebat."


Kemal mengangguk seraya mengunyah suapan Zahra, ya memang enak dan itu artinya Kemal tidak gagal.


Mungkin yang menarik perhatian malan ini hanyalah Kemal, lelaki itu benar-benar bersikap baik pada Zahra, setelah mau memeluknya dan sekarang Kemal mau disuapi olehnya.


"Terimakasih, Papa."


Kemal mengangguk, ia mengusap kepala Zahra dan kembali pada mereka semua.


"Kita gabung kesana," ucap Bian.


Zahra mengangguk setuju, ia meraih tempat ayam pangganya, membawanya ke hadapan mereka.


"Ini menu paling enak malam ini, ayo makan sama-sama," ucap Zahra menyimpannya.


Mereka mengangguk setuju dan segera menikmatinya, Zahra dan Bian ikut berbincang hangat dengan mereka.


Sesekali mereka ribut bercanda dengan snow spraynya, tawa dan jeritan terdengar begitu nyaring.


Malam yang benar-benar indah bagi Zahra, ini tidak akan dilupakannya sampai kapan pun juga.

__ADS_1


__ADS_2