
"Hey, apa-apaan ini, belanja apa kamu sampai sebanyak ini?" tanya Bian heran.
Zahra yang kembali saat malam hari, tampak kerepotan membawa belanjaannya sendiri, setelah lelah berkeliling seharian, sekarang Zahra harus dihadapkan dengan Bian.
"Apa itu?" tanya Bian.
"Entahlah, aku tidak mengerti dengan semua ini."
Zahra melepaskan semuanya dan berjalan duduk di sofa, Bian yang merasa penasaran dengan bawaan Zahra, lantas membukanya satu demi satu.
Bian menggeleng, untuk apa Zahra membeli itu semua, stelan kantor, tas, sepatu, dan banyak lagi yang memang diperlukan untuk bekerja kantoran.
"Apa maksud mu dengan semua ini?"
"Aku bilang, aku tidak bisa mengerti ini, apa kamu tidak dengar?"
"Ada apa ini, kenapa jadi kamu yang kesal sama aku?"
Zahra diam, Zahra lelah, apa bisa mereka bicara nanti saja.
Apa yang akan mereka bicarakan pasti hanyalah perdebatan, dan Zahra malas untuk itu saat ini.
"Zahra, kamu harus jelaskan ini."
"Apa yang mau kamu tahu?"
Keduanya menoleh, Inggrid memasuki kamar dan menghampiri Bian, lelaki itu berdiri perlahan.
"Apa, mau bertanya apa?" tanya Inggrid.
"Zahra belanja semua ini, untuk apa?"
"Kamu tahu fungsinya apa?"
"Oma izinkan dia bekerja?"
"Kenapa tidak, Zahra butuh makan dan banyak kebutuhan lainnya, sedangkan kamu, Suami pengangguran bisa berikan apa untuk Istri kamu?"
Zahra memejamkan matanya dan menunduk, baiklah, sampai detik ini Zahra masih akan mendengar perdebatan.
Bian merapatkan bibirnya, ia berpaling sesaat, padahal siang harinya terasa menyenangkan bersama Vanessa, tapi sekarang semua berubah lagi.
"Kenapa, kamu keberatan?"
"Dimana kamu bekerja, Zahra?"
"Di tempat kamu bekerja kemarin," sahut Inggrid.
Bian menyipitkan matanya, apa Inggrid sedang mengajaknya bercanda, kenapa Bian sangat tidak suka dengan candaannya itu.
"Oma akan percayakan perusahaan sama Zahra."
Bian sedikit tertawa mendengarnya, itu memang lelucon, Inggrid memang sedang bercanda saat ini.
"Apa yang lucu menurut mu?"
"Oma tidak mungkin melakukan itu, dia tidak mengerti apa-apa tentang bisnis."
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Oma, dia hanya lulusan SMA, dan dia belum pernah bekerja, apa lagi harus mengurus penuh satu perusahaan, apa Oma fikir ini permainan?"
"Tentu saja, bukankah kamu yang memulai permainan ini, kenapa jadi kamu yang putus asa?"
Bian mengusap wajahnya, ia masih berusaha untuk sabar saat ini, meski emosi sudah mulai muncul dan semakin menekannya.
Inggrid melirik Zahra, wanita terlihat panik dan gelisah di tempatnya, tapi Inggrid akan pastikan jika keributan mereka yang akan terjadi malam ini, adalah akhir dari penderitaan Zahra.
"Oma, Oma tidak percaya sama aku, tapi Oma lebih percaya sama dia, omong kosong apa ini?"
"Omong kosong, apa dirimu itu sudah paling berarti, apa kabar kamu ketika Oma berikan kepercayaan atas perusahaan itu sama kamu?"
"Oma, ini keterlaluan."
"Lebih keterlaluan kelakuan kamu, Oma sudah ingatkan untuk berubah berubah dan berubah, tapi sampai sekarang apa?"
"Oma ...."
"Diam."
Bian melirik Zahra, kenapa wanita itu hanya diam saja, apa dia merasa menang dan senang atas keadaan saat ini.
Jadi selama ini Zahra memiliki niat lain, pantas saja ia begitu sabar menghadapi tingkah Bian, lucu sekali.
"Tidak perlu menatapnya seperti itu."
"Oma akan menghancurkan perusahaan Oma sendiri."
Bian diam, rahangnya sedikit mengeras, ini tidak bisa diterimanya sama sekali, keputusan Inggrid telah sangat menguji kesabarannya.
Dan wanita itu pun hanya diam saja, berani sekali Zahra bermain licik seperti itu, Bian tidak bisa memaafkannya.
"Zahra, istirahat, masih banyak kamar yang bisa kamu tempati di rumah ini."
Zahra menoleh, ia sempat melirik Bian juga, keadaan sudah tidak baik-baik saja, Bian pasti akan membunuhnya ketika Inggrid lengah.
Zahra bangkit, ia berniat pergi, tapi belanjaannya berantakan di sana, jika tidak dirapikan, pasti akan menambah kejengkelan Bian.
"Tunggu apa lagi?" tanya Inggrid.
"Aku harus bereskan belanjaan itu dulu, Bian akan kesulitan berbaring nantinya."
Inggrid juga melihatnya, tapi seharusnya Zahra tidak perlu perdulikan itu, Inggrid sudah memintanya untuk pergi agar Zahra terhindar dari amarah Bian.
Tapi mungkin, sebaiknya Inggrid biarkan saja mereka berdua, Inggrid akan tahu apa yang harus dilakukannya nanti setelah tahu apa yang akan terjadi pada Zahra.
"Oma."
"Baiklah, rapikan, Oma akan tunggu kamu di kamar, segera temui Oma kalau kamu sudah merapikan semuanya."
"Iya, aku akan kesana nanti."
"Jangan buang waktu."
Inggrid berlalu meninggalkan kamar setelah sempat menatap Bian, ia menutup pintunya rapat.
__ADS_1
Zahra menghembuskan nafasnya perlahan, ia kembali melirik Bian, tatapan lelaki itu sangatlah menakutkan baginya saat ini.
"Biar aku rapikan semuanya, kamu bisa istirahat setelah itu."
Zahra berjalan dan mulai merapikan semuanya, perasaannya semakin tak karuan, rasa takutnya sudah mencapai puncak, Zahra telah kehilangan semua ketenangannya saat ini.
Setelah memasukan belanjaan ke kantong asalnya, Zahra merapikan kantong tersebut di lantai samping lemari, besok saja Zahra urus sisanya.
"Aku sudah merapikannya, silahkan kalau kamu mau istirahat, aku akan temui Oma sebentar saja."
Zahra nyaris tak berani menatap Bian, ia berjalan melewati lelaki itu dengan sisa keberaniannya.
"Jadi ini tujuan kamu yang sebenarnya?"
Langkah Zahra terhenti, tangan yang sudah menggenggam gagang pintu itu tertahan saat hendak menariknya.
"Ini tujuannya, dengan beralaskan kesabaran, kamu mencoba menguasai semuanya?"
"Ini bukan keinginan ku."
"Tapi kamu menerimanya."
Zahra memejamkan matanya, nada bicara Bian mulai tinggi, apa Inggrid akan kembali jika Bian menyakitinya.
"Kembali kamu."
"Aku akan temui Oma terlebih dahulu."
"Aku bilang kembali, cukup kalian menguji kesabaran ku, kembali Zahra."
Tubuh Zahra mendadak panas dingin, nafasnya pun mulai kacau, detak jantungnya yang semakin tak terkontrol membuat kedua kaki Zahra seolah kehilangan fungsinya.
"Apa harus aku yang mendekati mu?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu diam saja, kalau kamu bisa menjawab, itu artinya kamu bisa mendengar."
Zahra berbalik perlahan, ia melirik Bian sesaat dan berjalan menghampirinya.
Dengan cepat Bian mencengkram lengan atas Zahra, itu sangat kuat dirasakan Zahra.
"Kamu sengaja melakukan ini, seperti ini cara kamu membalas sakit hati kamu?"
"Tidak, itu bukan niat ku."
"Masih berani kamu menjawab, apa kamu fikir aku ini bodoh."
Zahra menggeleng, ia menggerakan tangannya berharap Bian akan melepaskannya.
"Untuk apa kamu menerimanya, kamu ingin benar-benar menantang ku?"
"Bian, aku tidak tahu kenapa Oma melakukan ini, aku sudah menolaknya, tapi Oma tidak perduli dengan itu."
"Bohong!" bentak Bian.
Zahra menunduk, matanya terpejam saat Bian semakin menguatkan genggamannya di lengan Zahra.
__ADS_1