
"Gak, enak saja."
"Memang benar, aku yakin itu."
Zahra mengerucutkan bibirnya seraya menatap Dion dengan kesal, tapi ekspresi itu justru membuat Dion tertawa.
"Bagus ya, menyebalkan memang."
Zahra memukul Dion dan bangkit dari duduknya, tapi seketika itu Dion menarik Zahra hingga terjatuh di pangkuannya.
Zahra sedikit tertawa saat Dion mengeluh sakit, salahnya sendiri kenapa melakukan itu.
"Seberat ini kamu sekarang?"
Zahra tersenyum seraya menggeleng, ia menjauhkan tangan Dion dan mencoba bangkit, tapi lagi dan lagi Dion menahannya.
Lelaki itu justru menggelitiknya hingga membuatnya tidak bisa diam, mereka tertawa bersama dengan tingkah lakunya sendiri.
Bukankah sudah Dion pastikan jika Zahra akan melupakan bebannya, meski hanya sebentar saja.
"Kamu mau aku susah makan?"
"Hey, kamu fikir kamu ini bayi kecil."
Zahra semakin tertawa, sejak tadi Dion sudah sangat berusaha menghiburnya, bahkan meski Zahra mengabaikannya sekali pun.
Ya, Zahra akui memang lebih menyenangkan saat bersama Dion, dibandingkan saat bersama Bian dimana Zahra merasaka ketakutan dan kekhawatiran saja.
"Manis sekali."
Keduanya menoleh, dan seketika bangkit dari duduknya, menghentikan candaannya yang sudah terjadi sejak tadi.
Zahra dan Dion saling lirik, sampai akhirnya mereka sibuk merapikan diri sendiri.
"Apa yang kalian lakukan?"
Kania yang sejak tadi memperhatikannya dari jauh, akhirnya memutuskan untuk mendekat, apa yang dilihatnya sejak tadi cukup membuatnya senang.
"Mama, mau kemana?" tanya Zahra bingung.
"Mau melihat kebersamaan kalian dong, mau apa lagi memangnya."
Zahra kembali melirik Dion, lelaki itu hanya diam saja menatap Kania.
"Jadi kalian bahagia dengan kebersamaan kalian?"
"Emm, ini hanya ...."
"Ketidak sengajaan?" sela Kania.
Zahra merapatkan bibirnya, apa yang telah dilakukannya, seharusnya Zahra pergi sejak tadi tanpa perduli dengan tahanan Dion.
Kania tersenyum seraya berpaling, setelah melihat Bian yang mendadak mendatangi Sintia, kali ini ia juga melihat menantunya itu bersama dengan lelaki lain.
"Baiklah Ayra, kamu memang hebat."
Zahra mengernyit, ia tidak bisa berfikir positif saat ini, semua terasa menakutkan dan seakan mengancamnya.
"Kalian cocok kalau saya perhatikan, dan saya rasa Ayra lebih bahagia kalau sama kamu Dion."
Dion melirik Zahra, tentu saja karena itu juga yang diharapkannya, Dion ingin Zahra sadar jika dirinya lebih mampu untuk membahagiakannya.
__ADS_1
"Apa Bian tahu tentang pertemuan kalian ini?"
"Tentu saja tidak," ucap Dion cepat.
Zahra mengernyit seraya melirik Dion, bisa sekali Dion berkata seperti itu pada Kania, dia tidak berfikir tentang nasib Zahra nantinya.
"Kalian bertemu diam-diam?"
"Ya, karena Bian juga melakukan hal yang sama dengan wanita lain."
"Dion," panggil Zahra.
"Diamlah, biarkan aku yang bicara kali ini."
Kania nenyipitkan matanya, jadi mereka tahu tentang kepergian Bian untuk menemui Sintia, bagaimana mungkin itu benar, kenapa Bian tidak hati-hati sekali.
"Kenapa Tante, apa Tante fikir anak Tante itu yang paling baik?"
"Apa maksud kamu?"
"Dia dengan sengaja mendatangkan ...."
"Dion, diam," sela Zahra.
"Ada apa kamu ini?" tanya Kania.
"Tidak ada apa-apa, Mama sebaiknya kita pulang."
"Kamu berani mengatur saya?"
"Bukan, tapi saat ini ...."
"Apa, kamu panik karena ketahuan selingkuh?"
Dion menatap keduanya bergantian, sejak awal Dion tahu jika orang tua Bian memang tidak setuju dengan pernikahan Bian dan Zahra.
Sepertinya itu bisa jadi jalan untuk Dion bisa memisahkan pasangan suami istri tersebut, Kania pasti akan senang jika Bian berpisah dengan Zahra.
"Tante, sepertinya Tante sudah melewatkan banyak hal akan perubahan anak Tante sendiri."
"Anak saya, bukankah dia teman baik mu?"
"Mungkin iya, tapi dia tidak baik sebagai Suami."
"Tahu apa kamu?"
"Banyak hal, dan hal-hal tersebut tidak ada satu pun yang Tante ketahui."
"Apa maksud kamu?"
"Maksud aku adalah ...."
"Apa kamu tidak bisa diam?" sela Zahra.
Keduanya menoleh bersamaan, nada bicara wanita itu terdengar tak lagi tenang, tentu saja mereka mengerti jika Zahra mulai kesal sekarang.
"Ada apa dengan mu?" tanya Kania.
"Ayo kita pulang?" ucap Zahra.
"Kenapa jadi mengajak saya, kalian datang berdua, silahkan kembali juga berdua, apa kamu takut ketahuan sama Suami kamu?"
__ADS_1
Zahra merapatkan bibirnya lagi, apa harus Zahra katakan jika Bian mengetahui semuanya, dan apa harus juga Zahra katakan tentang Vanessa sekarang.
"Ada apa, seharusnya kamu fikirkan sejak awal sebelum kalian memutuskan untuk berselingkuh."
"Aku gak selingkuh."
"Apa benar, lalu apa yang kalian lakukan disini, saya sudah sejak tadi memperhatikan kalian, memperhatikan kamu menantu ku."
"Mama, sudahlah ayo kita pulang."
"Kenapa harus buru-buru, kamu tidak mau menjelaskan semuanya saja sekarang, bukankah bisa saja ini jadi waktu yang paling tepat."
Ucapan Dion dirasa benar-benar menguji kesabaran Zahra, kenapa lelaki itu tidak diam saja.
Dion tersenyum, tidak ada salahnya Zahra jujur demi perasaannya sendiri, Dion masih sangat yakin jika tidak ada kebahagiaan sama sekali dalam rumah tangganya itu.
"Jelaskan apa, jangan membuang waktu saya dengan percuma, kalian jangan berani mempermainkan anak saya."
"Lebih tepatnya anak Tante yang telah sangat mempermainkan Zahra."
"Dion," panggil Zahra.
"Tante, ada wanita lain yang Bian harapkan selain Zahra."
"Dion," panggil Zahra lagi.
"Apa kamu tidak bisa diam?" tanya Kania.
Zahra diam, apa yang akan terjadi saat ini tidak akan bisa dilupakannya, Dion akan menyesal atas hal buruk yang mungkin akan dikatakannya pada Kania.
"Apa, mau bicara apa kamu tadi?" tanya Kania.
"Bian ada wanita lain, disini bukan Zahra yang berselingkuh, tapi anak Tante sendiri."
"Siapa wanita itu?"
"Dion kamu diam, atau kamu akan menyesal."
Dion melirik Zahra sesaat, benarkah penyesalan itu akan datang padanya, bukankah penyesalan itu sedang berusaha menguasai Zahra saat ini.
"Katakan atau saya akan simpulkan sendiri, kalian sedang mempermainkan saya."
"Mama, ayo pulang."
Kania menepis tangan Zahra yang hendak meraih tangannya, sedikit pun Kania tak rela jika Zahra menyentuhnya.
"Diam kamu, dan kamu ayo cepat selesaikan kalimat mu itu."
"Bian ada wanita lain, dan wanita itu ada Vanessa."
"Vanessa?"
Zahra memejamkan matanya seraya menunduk, benar saja, Zahra akan buat Dion menyesal atas kejujuran yang dibukanya saat ini.
Seharusnya itu adalah urusan pribadi Zahra dan Bian, bukan urusan Dion apa lagi sampai harus membukanya di depan Kania.
"Siapa Vanessa?"
"Ya dia adalah selingkuhan anak Tante, dia bermain dengan wanita itu di belakang Zahra, dia benar-benar mempermainkan Zahra, dia egois dan dia hanya ingin merasa bahagia atas dirinya sendiri, tanpa perduli dengan orang lain bahkan meski dia Istrinya sendiri, bukankah itu artinya jika dia bukanlah lelaki baik-baik melainkan lelaki brengsek."
Plaakkk ....
__ADS_1
Mata Kania membulat, dengan mulut yang sedikit menganga, apa yang dilakukan Zahra, kenapa bisa dia menampar Dion seperti itu.
Dengan menyentuh pipinya, Dion berbalik menatap Zahra, pandangan keduanya bertemu, sangat buruk, Zahra tampak begitu marah padanya.