Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Tidak Tahu


__ADS_3

"Terimakasih ya," ucap Inggrid.


"Sama-sama, Bu."


Inggrid tersenyum dan berlalu dengan membawa belanjaannya, siang ini Inggrid membeli beberapa jenis buah dan makanan ringan lainnya.


Inggrid sengaja membelinya untuk mereka yang menjaga Bian, dan memang benar, Zahra adalah tujuan utamanya.


Bukk ....


Belanjaan Inggrid nyaris saja terjatuh jika orang yang menabraknya tak cepat menahan, Inggrid menoleh, niatnya untuk marah harus urung saat melihat Dion di depannya.


"Oma, maafkan aku, sangat tidak sengaja."


"Sedang mengejar apa kamu ini?"


Inggrid merapikan kembali bawaannya, Dion sedikit tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang memang gak gatal.


"Oma, hanya sendiri disini?"


"Tentu saja, memangnya kamu lihat siapa lagi?"


"Tidak, mungkin saja yang lain masih di dalam?"


"Tidak ada."


Dion mengangguk, itu artinya Zahra tidak ada bersama Inggrid, lalu kemana wanita itu perginya.


Atau mungkin saja Zahra sudah kembali bersama dengan Bian, Dion tersenyum sekilas, biarlah bukankah itu memang sudah seharusnya.


"Ada apa dengan mu?" tanya Inggrid.


"Hah, ada apa apanya?"


"Sudahlah, kamu mau belanja, silahkan karena Oma juga harus pergi."


"Oma mau kemana?"


"Ke Rumah Sakit."


"Rumah Sakit?"


Inggrid mengangguk, sepertinya Dion memang tidak tahu apa pun tentang Bian.


Kalimat Inggrid kembali mengingatkan Dion pada Zahra, mungkin saja wanita itu sedang sakit sekarang ini.


"Zahra, dia sakit?"


"Tidak, Bian yang sakit."


"Sakit apa?"


"Dia kecelakaan kemarin, dan sampai sekarang dia masih belum sadarkan diri."


"Lalu Zahra?"


"Dia baik-baik saja, dia ada disana sekarang sedang menjaga Bian."

__ADS_1


Dion diam, bagaimana bisa Dion tidak tahu soal itu, bahkan sepertinya tidak ada satu pun teman Bian yang tahu, karena tidak ada satu pun juga yang memberi kabar tentang itu padanya.


"Oma harus pergi."


"Ah tunggu dulu, di Rumah Sakit mana mereka?"


"Kamu mau kesana."


"Tentu saja."


"Kita pergi sama-sama."


Dion mengangguk setuju, itu tawaran yang bagus, Dion akan tahu kabar Bian sekaligus Zahra sendiri.


Keduanya lantas berjalan dan memasuki mobil masing-masing, mereka akan bersama ke rumah sakit untuk menemui Bian.


Meski mungkin tujuan Dion adalah Zahra, tetap saja Bian bisa jadi alasannya agar tidak perlu mengatakan yang sebenarnya.


 


----


"Zahra," panggil Kania.


Zahra tak merespon, lama ada di dalam sana, Kania merasa khawatir hingga akhirnya ia menyusul masuk.


Rupanya Zahra tertidur, memang sejak ada di rumah sakit, Zahra tidak tidur meski hanya satu menit saja.


Dan saat ini wanita itu tengah terlelap, Kania tersenyum, kemarin ia sangat membenci menantunya itu, tapi sekarang hanya kehangatan yang dirasakannya.


"Kasihan sekali kamu ini," ucap Kania pelan seraya mengusap punggung Zahra.


Kania berpindah menatap Bian di sana, kapan kedua mata itu akan terbuka dan kembali menatapnya.


"Bangunlah, apa kamu tidak merasa pegal terus seperti ini."


Sama halnya dengan Zahra, Kania berusaha tersenyum meski desakan air mata begitu kuat ingin mengalir.


"Lihatlah dia, kamu tidak kasihan padanya, kamu begitu menyiksanya saat ini."


Kania tak menghentikan usapannya di punggung Zahra, mungkin saja memang benar jika wanita itu begitu menyayangi putranya.


Inggrid selalu protes tentang sikap kasar Bian pada wanita itu, tapi sampai saat ini Zahra masih saja bertahan.


"Bangun, cepat bangun, kamu sudah sering membantah Mama akhir-akhir ini, dan kamu belum sempat minta maaf."


Kania sedikit tersenyum bersamaan dengan air mata yang mengaliri pipinya, beberapa waktu belakangan pertemuan mereka memang selalu ribut.


"Mama juga harus minta maaf sama kamu, bukankah Mama selalu saja menyalahkan kamu dalam banyak hal, cepat bangun mungkin saja kamu mau mendebat Mama sekarang."


Kania meraih tangan Bian yang sejak tadi di genggam Zahra, ia mengusapnya sayang, Bian adalah anak satu-satunya yang dimiliki Kania, bagaimana bisa ia melihat putranya seperti sekarang.


"Bian, Mama selalu mau semua yang terbaik buat kamu, bahkan meski harus memaksakan sekali pun, tapi kali dengarlah kalau Mama tidak akan memaksakan apa pun lagi, lakukan saja semua semau kamu."


Tiiit ....


Suara dari elektrokardiogram begitu jelas didengar Kania, ia terkejut karena suara itu terdengar bersamaan dengan tubuh Bian yang mendadak kejang.

__ADS_1


"Bian," ucap Kania sedikit keras.


Zahra seketika terbangun karena itu, ia bangkit dari duduknya, fokusnya seketika penuh saat melihat Bian.


"Ada apa ini, kenapa dia seperti ini?" tanya Zahra panik.


Tak ada jawaban, Kania justru sibuk dengan tangisnya, Zahra melirik mesin yang terus saja berbunyi, detak jantung Bian semakin menurun.


"Tidak boleh, Mama," jerit Zahra seraya berlari keluar.


Zahra hampir saja menabrak Dion dan Inggrid yang hendak masuk, mereka baru saja sampai setelah perjalanan panjangnya.


"Ada apa kamu kenapa?" tanya Dion.


Zahra justru mendorong Dion agar tak menghalangi jalannya, ia lantas berlari seraya berteriak memanggil dokter.


"Ada apa ini," ucap Inggrid seraya masuk.


Mereka turut kaget melihat Bian di sana, Dion yang baru melihat keadaan itu tak habis fikir.


Padahal kemarin mereka bertemu dan sempat berdebat juga, tapi kenapa sekarang Dion justru melihat lelaki itu terkapar tak berdaya.


"Ayo cepat, cepat tolong dia," pinta Zahra panik.


"Silahkan tunggu di luar, biar saya periksa dulu."


"Tidak, aku mau tetap disini," ucap Zahra.


"Tolong mengertilah," ucap dokter.


Inggrid membawa Kania keluar, dokter lebih mengerti dengan keadaan Bian, jadi sebaiknya mereka mengikuti permintaan dokter.


"Ayo Zahra," ajak Dion.


"Gak, aku gak mau."


Dion menarik Zahra, tahanan Zahra yang kuat cukup menyulitkan Dion membawanya, tapi mau bagaimana pun mereka harus keluar.


"Bian, Bian kamu harus bangun, kamu tahu aku disini, aku tidak akan mengabaikan mu lagi, Bian," teriak Zahra.


Dion menutup pintu, ia menahan Zahra yang masih saja berontak.


"Kenapa dia seperti itu, bukankah aku memintanya bangun," ucap Zahra kesal.


Perasaannya tak karuan, semua sangat kacau baginya, bagaimana Zahra harus berfikir sekarang, semua terlalu buruk.


"Berdoa saja," ucap Inggrid.


"Ada apa, kalian disini, kenapa tegang sekali."


Mereka menoleh, rupanya Kemal juga datang kesana, baguslah mereka berkumpul sekarang.


Zahra perlahan luluh ke lantai sana, kakinya tak lagi mampu untuk menopang tubuhnya sendiri.


"Tenanglah, jangan seperti ini, bagaimana Bian bisa kuat kalau kamu seperti ini."


"Dia harus bangun, apa dia tidak mendengar ku, aku memanggilnya, aku mengajaknya berbicara, aku mengajaknya berdebat sejak kemarin, tapi kenapa dia hanya diam saja, dan sekarang apa yang dilakukannya," omel Zahra.

__ADS_1


Dion mengangguk, apa yang harus dikatakannya, Dion tak mengerti dengan keadaan saat ini.


Bahkan jika ia tak bertemu Inggrid, tidak akan tahu juga tentang keadaan Bian yang seperti saat ini.


__ADS_2