Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Kita Sendiri Yang Akan Susah


__ADS_3

Dion melihat jam di pergelangan tangannya, sudah cukup lama ia di sana, tidak akan lama Bian pasti akan dipanggil untuk kembali ke sel.


"Aku harus pulang, aku akan kembali mengunjungi mu lagi nanti."


"Tidak perlu, aku tidak akan mengharapkan siapa pun datang, kecuali Zahra."


Dion mengangguk, seharusnya wanita itu memang mau menemui Bian, semarah apa pun Zahra, Bian masih tetap suaminya.


Lagi pula Dion yakin jika Zahra masih tidak bisa menerima keputusannya sendiri, wanita itu masih saja berusaha menahan rasa sakitnya sendiri.


"Aku akan temui dia, semoga saja aku bisa bujuk dia buat datang kesini."


"Aku akan sangat berterimakasih kalau itu berhasil."


"Baiklah, akan ku coba nanti, tapi aku tidak bisa menemuinya sekarang, aku ada urusan lain."


Bian mengangguk, itu bukan masalah, asal pada akhirnya Zahra mau untuk menemuinya.


Mungkin saja Zahra mau untuk bicara sebentar saja dengan Bian, meski entah apa yang akan mereka bicarakan.


"Aku pamit, sehat-sehat disini, semua akan cepat berakhir."


Bian sedikit tersenyum, keduanya berjabat tangan tanda perpisahan mereka.


Dion lantas pergi meninggalkan Bian yang masih ada di sana, biarkan saja lelaki itu memang harus merenungi semua hal yang telah terjadi padanya.


 -----


Kania terlihat tidak bisa tenang, ia terus saja mondar mandir menantikan pemeriksaan Inggrid selesai.


Sedang Kemal di sana, terlihat duduk bersandar, ia juga sama gelisahnya, sesekali Kemal merubah posisi duduknya untuk mendapatkan kenyamanan yang lebih sempurna.


"Kenapa lama sekali," ucap Kania pelan.


Kemal sepertinya tak mendengar, atau memang lelaki itu malas untuk menjawab.


Inggrid benar-benar tak sadarkan diri tadi, entah apa yang akan terjadi padanya, Kania berharap Inggrid akan baik-baik saja.


"Ini semua gara-gara wanita itu."


Kania menoleh, tentu saja ia mengerti jika yang dimaksud Kemal adalah Zahra, tapi mau bagaimana pun, Kania tidak mau meresponnya.


Segala hal yang menyangkut Zahra, haruslah dalam keadaan tenang, karena wanita itu sedang kehilangan ketenangannya saat ini, dan entah sampai kapan.


"Papa harus kembali ke rumah, wanita itu harus pergi sebelum Mami pulang."


"Jangan lakukan itu."


Kemal yang telah bangkit tampak bangkit menatap Kania, kalimat macam apa itu, kenapa Kemal tidak menyukainya.


Kania balik menatap Kemal, seharusnya Kemal mengerti jika emosi tidak akan menyelesaikan apa pun.

__ADS_1


Itu Kania rasakan saat ini, Kania selalu saja mengutamakan kemarahannya terhadap Zahra, tapi tidak ada hasil apa pun selain dari pada sakit hatinya sendiri.


"Apa maksud mu?"


"Papa harusnya berfikir ulang untuk bersikap terhadap Zahra."


"Berfikir?"


"Tentu saja."


Kemal tersenyum acuh, berfikir apa, bukankah wanita itu sendiri pun tidak berfikir untuk semuanya.


Kania mengusap lengan suaminya, apa lagi yang harus dikatakannya, Kania tahu Kemal akan marah jika Kania membela Zahra.


"Papa harus ingat kalau Zahra adalah kunci kebebasan Bian."


"Dia tidak mau membebaskan Bian."


"Belum mau, bukan tidak mau, sekarang Zahra sedang melawan amarahnya sendiri."


"Dia tidak perduli."


Kania menggeleng, tidak mungkin seperti itu, mengingat luapan emosinya tadi, Zahra pasti sedang memikirkan semuanya.


Mungkin saja mereka hanya harus bersabar menunggu perubahan hatinya, Zahra pasti akan mau mengembalikan keadaan baik mereka.


"Sabar dulu."


"Sabar sampai kapan, lebih baik kamu diam saja, gak guna ucapan mu itu."


Kemal hendak beranjak pergi, tapi pintu ruangan Inggrid lebih dulu terbuka, dan itu membuat Kemal mengurungkan niatnya.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Kania.


"Kondisi jantungnya semakin lemah, kenapa bisa seperti itu, kalau penyakit jantung seharusnya lebih hati-hati lagi."


"Iya, tadi sempat ada masalah, sepertinya Mami syok."


"Tapi beliau sudah sadar?" tanya Kemal.


"Kesadarannya sudah kembali, tapi jangan terlalu diajak bicara, biarkan saja istirahat agar ketenangannya juga kembali."


Keduanya mengangguk, Kania sempat melirik Kemal seaat, semoga saja Kemal bisa lebih hati-hati setelah ini.


Bukankah ucapan dokter itu sudah cukup menjelaskan harus seperti apa mereka, jadi sebaiknya memang kejadian buruk itu tidak perlu terulang.


"Kalau begitu saya permisi, untuk kali ini saya tidak bisa biarkan pasien pulang sebelum benar-benar sembuh, atau resikonya akan semakin buruk."


"Baik Dokter, terimakasih," ucap Kania.


Dokter mengangguk dan berlalu meninggalkan keduanya, Kania kembali melirik Kemal saat lelaki itu mengusap wajahnya.

__ADS_1


Mungkin saja Kemal menyesal, atau bisa saja Kemal justru semakin marah pada Zahra, tapi bukankah itu tidak akan menghasilkan apa pun selain keburukan.


"Papa mau masuk, biar nanti kita gantian saja temani Mami."


"Lalu kamu mau kemana?"


"Bisa pulang, sekalian bawa baju Mami juga."


"Sekalian suruh pergi wanita itu."


Kania diam, tak ada respon apa pun, entah kenapa Kemal masih saja tidak melupakan Zahra.


Kemal lantas masuk tanpa bicara apa pun lagi, itu membuat Kania menghembuskan nafasnya berat.


"Sampai kapan akan kacau seperti ini."


Kania kembali diam, ia teringat dengan Zahra di sana, bagaimana keadaannya, apa mungkin Zahra meninggalkan rumah.


Kalau benar, bagaimana nasib Bian, Zahra harus tetap ada sampai Bian bebas dari tahanan itu.


 


Nur membantu Zahra berbaring, sejak tadi Zahra diam saja, bahkan saat Nur mengobati lukanya, Zahra tidak melakukan apa pun.


Pengobatan yang mungkin menyakiti Zahra, rupanya tak mampu membuat Zahra bergeming, wanita itu sudah seperti mati rasa.


"Istirahat Non, biar Bibi bereskan dulu kamarnya."


Zahra memejamkan matanya tanpa sempat menjawab, Nur hanya bisa menggeleng, ia menarik selimut untuk menyelimuti Zahra.


Sesaat Nur menatapnya pilu, jika Zahra mau, Nur bisa membawanya pulang ke kampung halaman, mungkin Zahra bisa menenangkan diri di sana.


Nur lantas membereskan semua yang berantakan di sana, tidak ada yang tersisa karena semua sudah hancur, termasuk juga cermin besar itu.


Kriingg ....


Nur menoleh, ia melihat ponsel Zahra yang menyala, pemiliknya tampak abai, Nur lantas meraihnya.


"Damar," ucapnya pelan.


Nur lancang, tapi biarkan saja, mungkin akan ada kebaikan untuk Zahra nantinya.


"Hallo," ucap Nur ragu.


Ia terdiam mendengarkan kalimat panjang dari seberang sana, Nur sedikit tersenyum, Damar mengatakan kalau ia mendapatkan firasat buruk tentang Zahra.


Kalimat itu terdengar diikuti tawanya, Nur tahu itu bercanda, tapi kenyataannya memang seperti itu, Zahra sedang dalam keadaan buruk saat ini.


"Non Ayra sudah tidur, dia sedang sakit."


Kalimat santai Damar berubah seketika, Nur kembali tersenyum, kini begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan Damar untuk tahu keadaan Zahra.

__ADS_1


"Tidak masalah, kalau mau datang, silahkan saja, tapi nanti kalau Non Ayra sudah bangun."


Damar meminta dikabari saat Zahra bangun nanti, dan Nur setuju, sesaat kemudian sambungan terputus, Nur melanjutkan kegiatannya di sana.


__ADS_2