Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tak Tersisa


__ADS_3

"Antarkan ini ke kamar Ayra," ucap Inggrid.


Nur mengangguk, ia lantas berlalu menuju kamar Zahra.


Pagi hari, Bian tampak pergi lebih awal untuk ke kantor, lelaki itu tak bicara apa pun pada penghuni rumah.


"Bahkan, mengurus Istrinya sendiri pun tidak dilakukan, memang tidak bisa dipercaya sama sekali."


Inggrid menggeleng, ia memang sudah kembali memberi kesempatan untuk Bian mengurus perusahaan.


Dengan harapan besar bisa dipercaya, tapi keadaan saat ini sangat tidak bisa diterima, Inggrid bisa saja menghentikannya lagi.


"Permisi Bu, Non Ayra masih tidur, makanannya disimpan di meja."


"Dia bukan tidur, mana mungkin jam segini Zahra masih tidur."


Nur diam, memang itu yang terlihat oleh matanya, bahkan Zahra tidak menjawab saat diajak bicara olehnya.


"Biar nanti saya yang kesana."


"Baik Bu, permisi."


Nur lantas pergi, Inggrid hanya menggeleng saja karena itu, kenapa sulit sekali mengembalikan keadaan baik Zahra.


"Mami."


Inggrid menoleh, ia terkejut dengan Kemal yang tiba-tiba datang bersimpuh di kakinya, ia terisak di sana seraya menyentuh kaki Inggrid.


"Ada apa ini?"


Inggrid kembali menoleh saat melihat Kania masuk, Inggrid tidak meminta mereka datang, apa lagi dengan keadaan seperti itu.


"Ada apa?" ulang Inggrid.


Kania menggeleng, ia mendadak terisak juga seraya membangunkan Kemal, tapi Kemal menepisnya.


"Kalian ini kenapa, jangan buat Mami pusing."


"Semua sudah hilang."


"Hilang apa?"


"Aku tidak bisa selamatkan perusahaan," ucap Kemal.


Inggrid diam, tentu saja ia paham dengan itu, dan Inggrid sadar semua itu memang ulahnya sendiri.


Kania turut duduk di samping Kemal, Inggrid menghembuskan nafasnya berat, bukan ini yang ia inginkan atas keputusannya sejak kemarin.


"Tolong maafkan kami, jangan biarkan kami terus seperti ini," ucap Kania.


"Tidak selamanya kekayaan menjamin kebahagiaan kalian, bukankah kalian juga butuh orang lain dalam hidup kalian."


"Tolong kembalikan, bantu kami mendapatkannya lagi," ucap Kemal.


"Bukankah kamu begitu hebat mengurus semuanya, kenapa sekarang seperti ini?"


Kemal menggeleng, apa yang harus dikatakannya, Inggrid mengambil semuanya bersamaan.

__ADS_1


Bahkan untuk bernafas sesaat saja, Inggrid tidak memberikan kesempatan itu untuk Kemal.


"Bangun, tidak akan ada gunanya kalian seperti ini, cepat bangun."


"Tolong kembalikan semuanya."


"Bangun Mami bilang."


Keduanya bangkit perlahan, mereka sibuk mengusap air matanya, hal itu cukup membuat Inggrid merasa kasihan.


Tapi tidak, mereka harus bisa sadar diri, tidak seharusnya mereka besar kepala hanya karena kekayaan yang dimilikinya selama ini.


"Mami ...."


"Tidak ada yang bisa Mami lakukan, kamu yang bisa perbaiki semuanya, sejak awal kamu yang berjuang membesarkan perusahaan itu, seharusnya kamu mengerti cara mengatasi permasalahannya."


"Tapi Mami yang mengambil semuanya bersamaan."


"Mengambil apa, Mami tidak mengambil apa-apa, semua terjadi karena ulah kalian sendiri."


Mereka diam, bahkan setelah seperti itu, Inggrid masih saja menyalahkan mereka.


Jika saja Inggrid tidak merebut investor besarnya, Kemal tidak akan begitu kesulitan mengatasi permasalahannya sendiri.


"Mami tidak ada waktu untuk hal ini, kalian selesaikan saja sendiri, Mami juga memiliki urusan sendiri."


"Wanita itu lagi?" tanya Kania.


"Tentu saja, kalian sudah membuatnya menderita, dan sekarang kalian rasakan akibatnya bukan?"


"Kenapa bertanya pada Mami, tanyakan pada diri kalian sendiri, apa kalian memiliki keperdulian pada orang lain diluar perusahaan?"


Mereka kembali diam, semua masih tetap saja, bisa sekali Inggrid melakukan semua itu, bahkan terhadap anaknya sendiri.


Demi membela orang asing seperti Zahra, Inggrid sampai menyusahkan anak dan cucunya sendiri.


"Mami, tolong bantu agar semua bisa kembali, kami janji akan lebih baik lagi."


"Kenapa selalu seperti itu, kenapa harus celaka dulu baru kalian mengerti kesalahan kalian?"


"Tolong."


Kania meraih tangan Inggrid, wajahnya begitu memohon belas kasihan Inggrid saat ini.


"Apa yang harus Mami lakukan sekarang, lagi pula kekacauan itu ulah kalian sendiri, kenapa giliran susah justru Mami yang harus berjuang?"


"Katakan saja kami harus bagaimana agar Mami mau bantu kami."


Inggrid melepaskan genggaman Kania, itu sudah tidak berguna lagi sekarang, semua sudah serba terlambat.


Sekarang mereka hanya harus menjalani semuanya saja, tidak perlu banyak bicara jika tidak ada gunanya.


"Mami."


"Tidak tahu, Mami tidak mau bahas ini sekarang, silahkan saja kalian cari jalan keluarnya sendiri, Suami kamu tidak hanya satu bulan atau satu tahun mengurus perusahaan, dia sudah seharusnya mengerti bagaimana menangani keadaan seperti saat ini."


Inggrid berlalu begitu saja, ia harus hanya ingin fokus lada Zahra saat ini, tidak perduli dengan yang lain, bahkan meski itu anaknya sendiri.

__ADS_1


Kania menunduk sesaat, ia memang tidak bisa hidup susah, keadaan saat ini hanya akan menyusahkannya saja.


"Biar aku susul Mami."


Kemal tak menjawab, ia membiarkan saja Kania pergi menyusul Inggrid, ia harus berfikir bagaimana caranya agar bisa mendapatkan simpatik dari wanita tua itu.


Kania memasuki kamar, ia melihat Inggrid yang sedang menyuapi Zahra, dan memang ini masih soal wanita itu.


"Kamu kenapa, Zahra?"


Zahra tak menjawab, ia diam saja seraya mengunyah makanannya.


"Untuk apa kamu kesini, Mami sudah katakan tidak mau bicara apa pun soal perusahaan."


"Aku mau tahu keadaan Zahra, aku belum bertemu dengannya beberapa waktu ini."


"Dia tidak baik-baik saja sekarang, kamu sudah tahu jadi silahkan pergi."


Kania menggeleng, ia berjalan mendekat, duduk di hadapan Zahra dan meraih kedua tangannya.


Kali ini Zahra menoleh, ia melihat mata Kania yang memerah, wanita itu pasti habis menangia, tapi kenapa.


"Kamu marah sama Mama?"


Zahra tetap diam, ia bertahan dengan tatapannya terhadap Kania, apa maksudnya, apa Kania akan membuat kepalanya pusing lagi sekarang.


"Mama minta maaf, tolong maafkan Mama dan Papa, jangan pernah membenci kami."


Inggrid tampak berpaling, itu sangat tidak disukainya sama sekali, bisa-bisanya memohon pada Zahra seperti itu.


"Lepaskan," ucap Inggrid menarik tangan Kania.


Tapi Zahra justru menahannya, ia melirik Inggrid yang menatap heran padanya.


"Ada masalah apa?" tanya Zahra pelan.


Kania dan Inggrid saling lirik, sekarang Inggrid bisa mendengar suara Zahra lagi.


Baguslah, semoga saja wanita itu tidak lagi membisu, sikap diamnya hanya akan membuat keadaan semakin buruk.


"Ada apa, kenapa diam?"


"Tolong bujuk Oma agar mau berbaik hati pada kami."


"Bicara apa kamu ini," sela Inggrid.


"Tolong Zahra."


Zahra kembali melirik Inggrid, memangnya apa yang dilakukan Inggrid pada mereka.


"Tolong, tolong bicara sama Oma."


"Bicara apa, aku tidak mengerti."


"Kamu hanya akan membuat kepalanya sakit saja."


Inggrid menjauhkan Kania dari Zahra, kenapa hidup mereka itu selalu serba drama, sombong saat diatas dan memohon saat di bawah.

__ADS_1


__ADS_2