Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Dia Hebat


__ADS_3

sudah banyak hari yang Bian habiskan di tempat barunya, sekilas hidupnya terlihat begitu bebas, ia hanya makan dan tidur saja.


Tapi kenyataannya, Bian tidak sedikit pun merasa nyaman di sana, ia ingin kembali ke rumah bersama dengan yang lainnya.


"Saudara Bian, ada kunjungan untuk mu."


Bian menoleh, apa itu Zahra, Bian sudah sangat menunggunya, bisakah Bian melihat wanita itu sekarang.


"Silahkan."


Bian bangkit dan keluar, ia mengikuti polisi itu untuk menemui tamunya.


"Silahkan, gunakan waktunya sebaik mungkin, jangan buat keributan."


Bian mengangguk, ia melihat sosok yang datang itu, Bian masih harus kecewa karena itu memang bukan Zahra.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Dion.


Bian mengangguk, seperti yang terlihat, Bian baik-baik saja sampai saat ini.


"Berapa lama kamu disini?" tanya Sintia.


Ya, yang datang memang Dion dan Sintia, mereka baru kali ini menemui Bian, mungkin memang mereka baru tahu sekarang tentang keberadaan Bian.


"Apa kalian bertemu Zahra, bagaimana keadaannya?"


Keduanya diam, Bian menanyakan kabar Zahra, bukankah itu terdengar aneh ditelinga Dion.


Mereka memang belum bertemu Zahra, Dion tahu keberadaan Bian dari Sintia, dan Sintia yang tahu dari Vanessa.


"Kalian tidak bertemu dengannya?"


"Aku baru kembali dari luar kota, aku belum bertemu siapa pun selain dirimu sekarang ini, karena aku langsung kesini," ucap Sintia.


"Aku kesini karena diajak Sintia, aku tidak tahu tentang keberadaan mu disini, maafkan aku, akhir-akhir ini pekerjaan ku sangat banyak, aku hanya memiliki sedikit waktu luang untuk melakukan hal lainnya," tambah Dion.


Bian mengangguk, ia lantas duduk, tidak ada yang membuatnya senang saat ini, kemana Zahra sampai kapan wanita itu akan mengabaikannya.


Tidak masalah jika Zahra tidak mau membebaskannya, tapi apa tidak ada lagi keperdulian untuknya meski sedikit saja.


"Ini tidak pernah terfikirkan, aku tidak sangka kalau kamu akan ada disini," ucap Sintia.


"Memang ada kala seseorang berhenti bersabar saat semua terlalu mengancam dirinya, mengancam jiwanya, seseorang yang selalu diam dalam setiap keadaan, akan merubah semua hal bahkan meski hanya satu kali ia bertindak."


Bian mengangguk, ia sama sekali tidak ingin berdebat, apa yang dikatakan Dion memang benar, Bian sudah sangat keterlaluan.


"Apa tidak ada jalan untuk mengeluarkan mu dari sini?" tanya Sintia.


"Hanya Zahra yang bisa," ucap Bian.


"Dia tidak lagi memperdulikan mu?"


Bian tak menjawab, mungkin saja itu benar, tapi Bian berharap itu tidaklah benar, mungkin sebentar lagi wanita itu akan datang.


Dion menunduk, ia memainkan jemarinya, fikirannya terarah pada Zahra, wanita itu pasti sedang kacau saat ini.


"Sampai kapan kamu disini?" tanya Dion.


"Aku tidak tahu, aku tidak mau tahu itu."


Dion mengangguk, sepertinya Dion harus temui Zahra setelah ini, ia merasa Zahra memang sedang tidak baik-baik saja.


Mengingat betapa Zahra memiliki perasaan kuat untuk Bian, memasukan Bian ke dalam tahanan pasti juga menyakitinya.


"Kamu sudah makan, makanlah ini, kami membelinya di rumah makan depan sana, mungkin kamu suka."

__ADS_1


Sintia menggeser kotak makan di depannya, Bian juga tak menolaknya, karena mungkin hanya itu yang bisa ia dapatkan sekarang.


"Vanessa masih suka datang?" tanya Sintia


"Iya."


"Kalian masih dekat sampai sekarang?"


"Dia selalu datang kesini, mungkin dia yang masih sangat perduli padaku."


Sintia mengangguk, entahlah itu bagus atau tidak, tapi rasanya Sintia keberatan dengan semua itu.


Keadaan Bian saat ini, sedikit banyak pasti ada hubungannya dengan Vanessa, kenapa Sintia jadi terfikirkan dengan wanita itu.


"Apa kalian hari ini sibuk, bisakah temui Zahra dan kabarkan keadaannya padaku."


"Untuk apa?" tanya Dion.


"Paling tidak, aku tahu keadaannya baik, meski pun ia tidak punya waktu untuk datang kesini."


"Dia tidak pernah kesini?"


"Dia sedang membuktikan semua perkataannya, dia tidak akan lagi memperdulikan aku."


Dua orang itu saling lirik, apa benar seperti itu, bisakah Zahra melakukan itu, sedikit banyak mereka tahu jika perasaan Zahra terhadap Bian adalah yang sebenarnya.


Sintia sedikit tersenyum, wanita itu pasti sedang memaksakan semuanya, ia melawan perasaannya demi bisa membuat Bian mengerti.


"Aku sedikit memujinya untuk kali ini."


"Untuk apa?" tanya Dion.


"Bukankah dia hebat, selama ini dia begitu bertahan dengan semuanya, dan aku yakin semuanya itu adalah duka, tapi dia tetap menerimanya, bahkan untuk keadaan saat ini pun dia masih tetap melukai perasaannya sendiri."


Zahra selalu kembali meski sudah tersakiti berulang kali, keputusannya kali ini sangat diluar dugaan, entah seberat apa bebannya sekarang.


"Aku akan menemuinya, apa kamu tidak keberatan?" tanya Dion.


"Silahkan saja, pastikan kalau dia baik-baik saja," ucap Bian.


"Aku akan kembali setelah aku berhasil menemuinya."


Bian mengangguk, Sintia juga ingin menemui wanita itu, tapi untuk saat ini memang tidak bisa.


Biarkan saja Dion yang akan menemuinya, lagi pula belum tentu Zahra mau ditemui mereka berdua.


Perbincangan mereka harus berakhir, saat Bian dipanggil untuk kembali ke sel, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain membiarkannya.


"Tetaplah baik-baik disini," ucap Dion.


Bian tersenyum, ia lantas berlalu bersama dengan polisi itu.


"Ini buruk," ucap Sintia.


"Tapi ini nyata."


"Kamu akan menemuinya sekarang?"


"Aku masih ada waktu untuk itu."


Sintia mengangguk, keduanya lantas pergi untuk melanjutkan kegiatannya.


Sintia yang tidak bisa ikut Dion, lebih dulu pergi untuk kembali pada pekerjaannya.


Sedangkan Dion mengendarai mobilnya untuk bisa sampai ke tempat Zahra, mau atau tidak Zahra menemuinya, itu urusan nanti.

__ADS_1


 ----


"Jangan biarkan Ayra keluar, apa pun alasannya dia harus tetap di rumah."


"Baik, Bu."


Inggrid mengangguk dan menaiki mobilnya dan pergi, Marvel menghubunginya dan meminta agar segera ke kantor.


Niat Inggrid untuk pulang harus urung, ia tidak bisa meninggalkan Zahra untuk saat ini, jadi Inggrid tetap bertahan meski harus mengabaikan urusan penting lainnya.


"Oma sudah pergi?"


Nur menoleh, ia mengernyit melihat Zahra yang sudah siap untuk pergi saat ini.


"Mau kemana?"


"Aku hanya keluar sebentar, tenanglah aku akan kembali sebelum Oma kembali."


"Jangan Non, Bibi bisa kena marah nanti."


"Aku tidak lama."


"Tapi mau kemana?"


Zahra diam, sebenarnya ia ingin bertemu dengan Bian, Zahra sudah sangat merindukan lelaki itu sekarang.


Tapi Zahra tidak boleh melakukannya, itu hanya akan melemahkan dirinya saja, jadi biarkan Zahra melakukan hal lain yang mungkin bisa sedikit melupakan Bian.


"Non."


"Aku mau ...."


Tiiddd ....


Keduanya menoleh bersamaan, Dion telah sampai di sana dan langsung keluar menghampiri mereka.


Zahra tersenyum, sepertinya ia bisa pergi sekarang, bahkan meski Inggrid tahu, dia tidak akan marah karena ada Dion.


"Apa kabar?"


Zahra mengangguk karena fikirannya sendiri, Dion datang diwaktu yang tepat, Zahra memang sedang membutuhkannya.


"Kenapa, mau kemana?"


"Ada apa kamu kesini?"


"Emmm, sepertinya Tuhan mengarahkan ku untuk kesini, Bibi apa ada yang sedang membutuhkan ku disini?"


Nur mengangkat kedua alisnya, ia melirik Zahra yang hanya diam saja, wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Baiklah, aku akan pergi kalau tidak ada yang membutuhkan ku, Tuhan telah memberi ku arah yang salah karena datang kesini."


"Mau kemana lagi?" tanya Zahra.


Dion yang sempat memutar tubuhnya bersiap untuk pergi, kini kembali menghadap dua wanita itu, Dion diam menatap Zahra.


Wanita itu memang berusaha tenang, ia sedang menunjukan keadaan baiknya, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong jika ia sedang tertekan.


"Kamu mau kemana, mungkin saja aku bisa jadi taxi online yang kamu butuhkan?"


"Itu benar."


Dion tersenyum, ia melirik Nur seraya menaik turunkan alisnya, Nur menggeleng dan berlalu meninggalkan keduanya.


Tidak ada alasan untuk Nur menghalangi mereka, bukankah Inggrid juga menyukai Dion, ia pasti tidak akan keberatan jika Zahra pergi bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2