Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Ribut


__ADS_3

Dion merebahkan tubuhnya di kasur, pegal sekali rasanya, lengkap dengan kepalanya yang terasa sakit juga.


Dion memejamkan matanya, malas sekali bahkan untuk sekedar berganti baju, apa lagi harus mandi dan melakukan hal lainnya.


Perjalanan jauh itu telah membuat Dion merasa sangat lelah, memang sejak kemarin kesehatannya sedang menurun, sehingga saat harus menempuh perjalanan jauh pulang pergi sekaligus, Dion semakin drop lagi.


"Dion, Dion buka pintunya, Dion."


Dion melirik pintu saat mendengar suara di luar sana, Dion tidak mungkin salah dengar jika itu adalah suara Bian, tapi untuk apa Bian datang bukankah ini malam pertamanya dengan Zahra.


"Dion, buka."


Dion menghembuskan nafasnya sekaligus, belum juga tidur harus sudah bangun lagi, Dion lantas bangkit dan berjalan kelua.


"Dion."


Dion berdecak dan membuka pintu, berisik sekali bertamu malam-malam seperti saat ini.


"Ada apa, kenapa malah kesini?" tanya Dion.


"Apa yang kamu lakukan pada Zahra tadi?"


Dion mengernyit mendengar nada marah dari Bian.


"Apa maksudnya?"


"Banyak omong kamu."


Bian mengayunkan tangannya hendak memukul Dion, tapi Dion berhasil menahannya, sehingga tidak sampai mengenai wajahnya.


"Tunggu dulu, ada masalah apa?"


"Apa yang kamu lakukan pada Zahra, waktu kamu jemput dia tadi, kamu lama sekali waktu jemput dia?"


"Apa yang aku lakukan, kamu gak salah bertanya seperti itu sama aku?"


"Lalu aku harus bertanya sama siapa, memang ada siapa lagi yang tadi jemput Zahra."


Dion membanting tangan Bian dan memukulnya begitu saja, Bian nyaris terjatuh jika saja telat meraih tiang di sampingnya.


"Kalau aku lupa siapa aku diantara kalian, aku sudah ingin pertanyakan itu sejak tadi!" bentak Dion.


Bian balik mengernyit, kenapa jadi Dion yang memukulnya, padahal kedatangan Bian adalah untuk mempertanyakan semuanya pada Dion.


"Kenapa diam, kamu yang bilang kan kalau aku harus sadar diri disini, aku diam sejak tadi, padahal pertanyaan itu sudah begitu menekan aku sejak tadi."


"Pertanyaan apa?"


"Pertanyaan apa, kamu mau tahu pertanyaan apa?"


"Apa, katakan, gak perlu banyak basa basi seperti ini."


Dion mengangguk dengan sedikit tersenyum, apa benar Bian berfikir jika Dion tidak tahu apa-apa, dan segitu bodohnya Dion di mata Bian.


"Apa, kenapa diam?"


"Apa yang kamu lakukan pada Zahra malam itu, kenapa Zahra sampai tidak mau makan tidak mau apa-apa, dan yang utama, kenapa Zahra tidak berpakaian!" bentak Dion dengan memukul Bian lagi.


Kali ini Bian benar-benar tersungkur, pukulan itu terasa lebih keras dari sebelumnya.


"Kenapa, ayo jawab!" bentak Dion.


Bian menggeleng cepat, kepalanya sedikit pusing saat ini.


"Jawab!" bentak Dion.


"Apa yang kamu katakan, jangan mengarang kalimat kamu."


Dion tersenyum seraya berpaling, jadi benar jika Dion teramat bodoh di mata Bian.


"Kamu tahu apa yang aku lihat saat aku datang ke rumah yang kamu maksud?"


"Apa?"


~flashback~

__ADS_1


Dion mengulurkan tangannya, tapi uluran itu justru membuat Zahra berteriak, Zahra hendak pergi dari tempatnya tapi Dion menahannya.


Bukan diam, Zahra justru semakin menjerit dan berontak.


"Zahra tenanglah, ini ada apa, tenang dulu."


"Lepas," jerit Zahra.


"Zahra, dengarkan dulu."


"Lepas."


"Ada apa ini?" tanya Nur yang kembali datang.


Dion menoleh, sudah terlanjur, Dion tidak bisa melepaskan dan meninggalkan Zahra begitu saja.


"Lepas," jerit Zahra.


"Diamlah dulu."


Dion menarik Zahra dan memeluknya, Zahra yang terus saja berontak membuat Dion harus mengeratkan pelukannya.


"Den, jangan seperti itu."


"Diamlah Bi, aku tidak akan menyakiti Ayra biarkan aku disini agar kita tahu masalahnya."


Tak ada jawaban, Nur khawatir melihat Zahra yang terus saja berontak seperti itu, tapi memang benar jika tidak dipaksa maka tidak akan tahu juga.


Nur lantas pergi meninggalkan keduanya, pintu itu tidak dikunci, berarti Nur bisa masuk kapan saja dan melihat semuanya.


"Lepas."


"Tenanglah Zahra, ini ada apa, diam dulu."


Zahra terus berontak tapi selimut itu terus dipertahankannya agar tidak terlepas, Dion menggeleng menepis semua yang hinggap difikirannya.


Dion menarik selimut itu, dan saat bersamaan pula Zahra menahannya, Zahra ingin terlepas dari Dion tapi enggan terlepas dari balutan selimut itu.


"Zahra, kamu jangan buat aku berfikir yang tidak-tidak."


"Pergi," jerit Zahra.


"Oke sorry, ini pakai lagi ini."


Dion mengembalikan selimut itu, Zahra langsung menariknya dan kembali menutupi tubuhnya.


"Pergi aku bilang pergi," jerit Zahra lagi.


"Kamu sudah tutup lagi selimutnya?"


Tak ada jawaban, Dion perlahan melirik Zahra kembali, selimut itu telah menutupi tubuhnya sama seperti tadi.


"Kenapa bisa?" tanya Dion bingung.


Zahra tak merespon, hanya fokus dengan tangisnya saja saat ini, Zahra tidak mau mendengar pertanyaan apa pun juga dan dari siapa pun juga.


"Zahra, katakan kalau semua ini tidak benar."


"Pergi, aku bilang pergi."


Dion mengusap wajahnya perlahan, kurang ajar sekali lelaki itu, berani menyentuh Zahra sampai seperti itu.


"Pergi."


"Diamlah, aku tidak tahu apa-apa, kamu tidak bisa marah seperti ini padaku."


Zahra menunduk, ia menenggelamkan wajahnya pada selimut itu, Dion menggeleng, Bian memang sudah keterlaluan.


"Ini buruk, tapi tidak ada gunanya kamu seperti ini Zahra."


Dion mendekat, dan menarik Zahra perlahan hingga sampai dalam dekapannya.


"Maaf, aku tidak tahu kalau keadaannya seburuk ini."


Zahra tka bergeming, ia terus saja menangis, tangis yang begitu pilu dan penuh tekanan.

__ADS_1




"Apa, apa yang kamu lakukan pada Zahra?"



Dion hendak kembali mengulang pukulannya, tapi Bian berhasil menghindar, Dion nyaris jatuh karena pukulannya tak mendapatkan tumpuan.



"Aku tidak melakukan apa pun juga."



Dion berbalik dan menatap Bian penuh ketidak percayaan.



"Kalau kamu tidak melakukan apa pun, Zahra tidak mungkin sampai tidak mau makan, tidak mau minum, bahkan untuk bangun pun Zahra tidak mau!"



Dion tak henti membentak Bian, rasanya sudah tidak ada yang perlu ditahan lagi, baik Bian atau pun Dion, mereka sudah saling mengenal satu sama lain.


Tidak masalah jika mereka meluapkan amarahnya satu sama lain, Bian terlihat seperti orang bodoh saat ini, tapi sayangnya Dion tidak bisa dibodohi begitu saja.


Dion sudah melihat semuanya, Dion tahu semuanya jadi biarkan Dion meluapkan semuanya pada Bian.



"Seperti itu cara kamu memperlakukan wanita, apa karena Zahra menolak menikah dengan mu, sehingga kamu nekad merusaknya lebih dulu?"



"Jaga bicara mu," ucap Bian seraya menunjuk Dion.



"Tidak perlu seperti ini."



Dion menepis telunjuk itu tanpa kelembutan.



"Kamu menolak Sintia, karena kamu tidak mau menikah, kamu tidak mau menjadi suami yang seutuhnya, tapi sekarang apa, kamu merusak Zahra dengan tidak hormat hanya demi bisa menikahinya, menjijikan."



Bukk .... Dion kecolongan hingga akhirnya Bian berhasil memukulnya kali ini, Dion sedikit limbung tanpa terjatuh.



"Jangan menuduh ku seperti itu, karena kamu tidak tahu apa-apa."



"Iya, aku memang tidak tahu apa-apa, makanya sekarang aku bertanya sama kamu, dan kamu fikir aku percaya dengan jawaban kamu?"



"Aku tidak melakukan apa pun pada Zahra!" bentak Bian.



Dion menggeleng, malas mendengar omong kosong seperti itu, Dion sudah meluapkan semuanya sekarang, dan tidak ada lagi pertanyaan yang menekan fikirannya.



"Urus hidup mu sendiri, dengar baik-baik, kalau besok lusa aku melihat kesusahan hidup Zahra, jangan pernah berniat untuk menghalangi aku membawanya dari mu, ingat itu."


__ADS_1


Dion masuk dan menutup pintunya begitu saja, sikap dan kalimat Dion membuat Bian semakin menggila, dengan sengaja ia menendang pintu di depannya.


__ADS_2