Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jalani Saja


__ADS_3

Kemal dan Kania benar-benar senang melihat kedatangan Inggrid, dengan sangat baik mereka menyambutnya.


Tapi sebaik apa pun perlakuan mereka, tetap jelas jika Inggrid tidak akan menyukainya, anak dan menantunya itu sudah cukup menjengkelkan baginya.


"Mami, kapan datang?" tanya Kania.


"Baru hari ini."


"Mami hanya sendiri, mana Bian dan Ayra?"


"Untuk apa mempertanyakan mereka?"


"Kami sudah lama tidak bertemu mereka."


Inggrid mengangguk, lalu kemana saja mereka, bukankah Bian selalu ada di rumah, seharusnya mereka bisa bertemu Bian meski tidak bisa bertemu Zahra.


"Kenapa kamu di rumah, bukankah ini hari kerja?"


"Mami bertanya seperti itu?" tanya Kemal.


"Lalu harus seperti apa lagi."


"Bukankah Mami yang sudah mengambil semuanya?"


"Semuanya?"


Kemal mengangkat kedua alisnya, kenapa seperti itu, apa ibunya itu sedang bersandiwara saat ini.


Kania melirik suaminya itu, mungkin saja mereka memiliki pemikiran yang sama saat ini terhadap Inggrid.


"Semuanya apa maksud kamu?" tanya Inggrid.


"Mami sudah mengambil aset besar perusahaan ku, dan semua telah merugikan perusahaan," ucap Kania.


"Mami merugikan perusahaan?" tanya Inggrid.


"Apa ini, kenapa ekspresi Mami seperti itu, tidak mungkin Mami tidak tahu apa-apa, ini adalah masalah besar bagi ku."


Inggrid diam, ia menatap anak dan menantunya itu bergantian, mereka memang terlihat panik, dan tidak baik-baik saja.


"Baiklah, berapa kerugian perusahaan mu karena ulah Mami?"


"Jadi benar Mami yang melakukannya?"


"Menurut mu, bukankah itu yang kamu katakan tadi?"


"Mami, ayolah serius jangan seperti ini."


"Jadi kalian baru percaya kalau Mami bisa membuktikan semuanya, apa yang sudah kalian lakukan untuk merubah Bian?"


"Mami masalah Bian seharusnya tidak sampai merusak bisnis."


Inggrid tersenyum seraya mengangguk, jadi seperti itu pemikiran mereka, sepertinya mereka telah lupa dengan kerugian perusahaan akibat ulah Bian.


Dan sekarang, mereka protes dengan kerugian yang dialami perusahaannya, itu sangtlah lucu.


"Mami, aku tidak akan bisa fokus sekali pun aku di Kantor."


"Kenapa seperti itu, harusnya lebih fokus jika keadaan sedang tidak baik."


"Sudahlah, tidak perlu banyak bicara, sebaiknya Mami jelaskan kenapa harus melakukan semua ini?" sela Kania.


"Melakukan apa, Mami tidak melakukan apa pun, semua terjadi karena kesalahan kalian sendiri, sekarang kalian terima saja semuanya."

__ADS_1


"Mami rela menyusahkan anak sendiri hanya demi wanita itu?" tanya Kemal.


"Karena dia berhak dihargai, kalian yang membawa dia ke hadapan Mami, dan kalian juga yang sia-siakan dia, apa kalian lupa jika hanya kita yang dia miliki sekarang, hanya Bian yang jadi harapannya sekarang."


Kemal tersenyum acuh, jika saja sejak awal Kemal tahu jika Bian memulai semuanya dengan kebohongan, ia tidak akan pernah merestui mereka.


Dan sekarang, semua terbuka disaat yang tidak tepat, Kemal semakin muak saja dengan menantunya itu.


"Zahra akan tetap bersama Mami, semakin kalian berusaha menyingkirkan dan menyakitinya, maka luka itu akan datang pada kalian sendiri."


"Mami tidak adil."


"Peringatan sudah sering Mami lontarkan, kamu yang mengabaikannya."


"Dia hanya orang asing."


"Itu hanya bagi kalian, cukup, Mami kesini tidak untuk berdebat, dengar baik-baik semakin kalian menyalahkannya maka akan semakin sulit jalan kalian."


Kania melirik Kemal, jika saja lelaki itu emosi pada ibunya pasti akan membuat semua semakin buruk.


Tapi memang Inggrid sendiri yang menjengkelkan, ia begitu membela orang asing itu dan mengabaikan keluarganya sendiri.


Kania tidak bisa mengerti itu, padahal Inggrid tahu jika Bian tidak lagi menginginkan wanita itu sekarang.


"Keadaan akan membaik, dan kalian sendiri yang bisa memperbaikinya, lupakan kebencian dan kemarahan kalian terhadap Zahra."


"Mami, sebaiknya kita bahas hal lain saja, kita baru saja bertemu hari ini," ucap Kania.


"Oh silahkan, kamu mau bahas apa?"


"Emmm, mungkin saja Mami mau makan?"


"Boleh saja."


Dari pada harus ribut, sebaiknya mereka berfikir dalam diam, Kania juga tidak tahu bagaimana harus bersikap.


 


"Ah, ayolah," eluh Zahra.


Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, sulit sekali otaknya berjalan saat ini, semua terasa sangat gelap.


"Ayo Zahra, bukankah kamu sempat mendapat ranking bagus di Sekolah."


Zahra telah mempelajari banyak hal, tapi hanya sedikit yang ia bisa mengerti, ya .... Bian benar jika Zahra memanglah bodoh.


"Permisi."


Zahra melirik pintu, itu pasti Marvel, karena Zahra sudah memanggilnya sejak tadi.


"Permisi."


"Ya masuklah."


Pintu terbuka, tapi sayang bukan Marvel yang terlihat di sana.


"Siapa kamu?"


"Permisi Bu, saya Reza, saya mau berikan laporan keuangan bulan ini."


"Laporan keuangan, apa harus diberikan pada ku?"


Reza justru mengernyit mendengarnya, lalu harus ia berikan kemana laporannya, lagi pula selama ini memang selalu seperti itu.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti apa pun, kamu memberi ku beban baru?"


"Ibu hanya harus membandingkan hasil ini dengan hasil sebelumnya, menyamakan dengan laporan lainnya terkait pengeluaran dan pemasukan."


"Sudahlah, simpan saja aku sangat tidak bisa berfikir."


Reza mengangguk, ia lantas menyimpan berkasnya di meja, setelahnya ia kembali pamit dengan senyuman heran melihat wajah prustasi Zahra.


Bukan tak sadar, tapi Zahra tidak mau perduli itu, ia sudah sadar sejak awal jika ia hanya akan jadi ejekan para karyawannya.


"Apa aku harus telepon Oma saja, Marvel tidak mau membantu ku."


Zahra membuka map yang baru ada di depannya, ia melihat angka-angka yang semakin membuatnya pusing.


Matanya terasa juling melihat nominal angka yang banyak, bahkan Zahra tidak bisa membacanya.


"Sudah cukup, perut ku sudah mual dengan semua ini."


Map itu kembali ditutup tanpa sempat dipelajari, Zahra menggeleng dan menunduk di meja.


Berapa lama ia harus belajar sampai mengerti semuanya itu, Zahra akan sangat stres dengan semuanya.


"Permisi, Bu Zahra."


Zahra berdecak seraya mengangkat kepalanya, ia melihat wanita yang berjalan menghampirinya.


"Apa yang kamu bawa, apa beban lagi untuk ku?"


"Ini surat resign saya."


"Apa?"


"Ini pengajuan ketiga saya, tolong kali ini setujui."


"Ada apa ini, apa kamu tidak suka dengan kedatangan ku?"


Wanita itu menggeleng, Zahra benar-benar tak habis fikir dengan semuanya, saat Zahra sedang berusaha mengerti materinya, justru ada hal seperti itu yang datang.


"Siapa nama kamu?"


"Via."


"Pengajuan ketiga, apa maksudnya, kenapa ingin sekali kamu keluar dari sini?"


"Saya hanya minta pengajuan saya disetujui."


"Dan kamu tidak bisa menjelaskan alasannya?"


Via menggeleng, Zahra memejamkan matanya sesaat, jika Zahra begitu saja menyetujuinya, akan seperti apa tanggapan yang lain.


Pengajuan ketiga, itu artinya pengajuan sebelumnya ditolak, dan mungkin saja karena Via berarti bagi perusahaan.


"Keluarlah, aku akan panggil lagi kamu nanti."


"Tolong Bu."


"Tolong keluar, kamu tidak lihat seberapa pusing aku saat ini?"


"Saya minta maaf."


"Pergilah, tolong kamu mengerti."


Via mengangguk, ia lantas pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Zahra menghembuskan nafasnya berat, aneh sekali, apa jadi pemimpin harus sesulit itu, rasanya lebih baik Zahra menjadi orang biasa saja.


__ADS_2