Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sok Asyik


__ADS_3

Semalaman Sintia berada di rumah sakit, ia bertahan menemani Zahra di ruangannya.


Sintia memaksa Inggrid untuk pulang saja, wanita tua itu akan tersiksa jika turut menjaga Zahra di rumah sakit.


Sesuai dengan apa yang dikatakan dokter semalam, Zahra tampak mulai sadar, wanita itu bergerak perlahan.


"Ayra," panggil Sintia pelan.


Sintia tersenyum saat mata Zahra berhasil menemukannya, Sintia menahan Zahra yang hendak bangun.


"Jangan lakukan apa pun, kamu harus diam saja kata Dokter."


Zahra diam, ia menatap langit-langit di atasnya, Zahra ingat jika ia sempat melihat Bian beberapa waktu lalu.


Zahra juga masih ingat dengan suara tinggi Kania, dimana mereka sekarang, kenapa justru Sintia yang ada bersamanya.


"Ayra, kamu mau minuma, atau mau makan, aku sudah belikan kamu sarapan tadi."


"Bian mana?"


Sintia sedikit mengernyit, kemudian menggeleng, Zahra baru sadar jadi tidak perlu memikirkan apa pun.


"Ayra, sebelum kamu memikirkan orang lain, sebaiknya kamu fikirkan diri kamu sendiri dulu."


"Bian mana, kemana mereka semua, apa tidak mengerti pertanyaan ku?"


Sintia diam, kenapa jadi marah, bukankah Sintia bicara dengan baik-baik.


Zahra lantas duduk, ia melihat tangannya yang diinfus, apa gunanya seperti itu, Zahra tidak membutuhkannya.


"Jangan lakukan."


Sintia menahan tangan Zahra yang hendak mencabut infusnya, Zahra menoleh dan menepisnya.


"Bersikap dan berfikirlah dengan tenang, Ayra, kamu tidak bisa seperti ini, kamu tidak akan bisa melindungi diri kamu kalau kamu seperti ini, berhenti bersikap bodoh."


Zahra diam, ia kembali pada lamunannya, lalu apa yang harus dilakukannya, Zahra masih saja salah setelah semua yang dilakukannya selama ini.


Sintia membuka makanannya, ia memberikan minumannya terlebih dahulu, suster sudah mengantarkan obatnya, jadi Zahra harus segera selesaikan semuanya.


"Ayo minum, dan segera makan ini, apa perlu aku suapi?"


"Diamlah, untuk apa kamu disini, sebaiknya kamu pulang saja."


"Berhenti keras kepala Ayra, kamu butuh orang lain, sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini?"


Zahra menerima minumnya dan meneguknya juga, itu cukup membuat Sintia tersenyum.


Ia lantas memberikan makanannya, tanpa lama Zahra menerimanya, ia menikmatinya perlahan.


"Kemana Oma?"


"Dia pulang, aku suruh dia pulang, bukankah kamu tidak akan terima jika Oma mu itu sakit, jadi aku paksa dia pulang semalam, dan aku berjanji akan menjaga mu disini."


"Untuk apa, aku tidak butuh bantuan mu."


"Ya baiklah, aku tahu kamu wanita hebat sekarang, kamu bisa melakukan semuanya serba sendiri."


"Bagus kalau kamu tahu."

__ADS_1


Sintia tersenyum seraya mengangguk, tentu saja tahu, bukankah itu jelas terlihat, tapi sayang apa yang terlihat tak seindah nampaknya.


Zahra tidak sanggup hidup seperti itu, tapi dia hanya memaksakan diri untuk itu, bagaimana caranya Sintia bicara pada Zahra tanpa harus menyingging perasaannya.


"Kamu sudah melihat Bian, seharusnya kamu temui dia."


"Aku tidak ....."


Belum sempat kalimat Sintia selesai, pintu sudah lebih dulu terbuka, Zahra tersenyum melihat kedatangan Damar.


Tapi Sintia justru bingung, siapa lelaki yang tiba-tiba saja masuk ruangan Zahra, bahkan tanpa permisi.


"Apa-apaan kamu ini?" tanya Damar.


"Makan, kamu mau?" tanya balik Zahra.


Sintia mengernyit memperhatikan keduanya, siapa lelaki itu, kenapa bisa seakrab itu mereka berdua.


"Ayo makan, kenapa kamu diam saja?"


"Makanan siapa itu, aku tidak mau makan sembarangan," ucap Damar.


Zahra melirik Sintia, tentu saja wanita itu merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan Damar.


"Dia yang belikan untuk ku, jadi bicara dengan sopan."


Sintia dan Damar saling lirik, Sintia mengangkat kedua alisnya saat Damar tersenyum padanya.


Sok manis sekali, sudah mengatai makanannya, sekarang dia tersenyum begitu saja, bagus sekali.


"Kenapa kalian diam saja, ayo kenalan."


"Baiklah, ayo kita kenalan, aku Damar, dan siapa nama nu?" tanya Damar mengulurkan tangan.


"Apa itu penting?" tanya balik Sintia.


Damar berdecak dan menarik paksa tangan Sintia agar berjabatan dengannya, itu cukup membuat Zahra tersenyum, meski Sintia tampak sedikit kesal.


"Siapa kamu, berani sekali asal masuk kesini."


"Biar aku jelaskan, kamu perlu tahu jika aku adalah sumber senyuman Ayra, aku adalah penghibur terbaik untuknya, dan satu lagi aku dan Ayra memiliki jalir telepati yang sangat baik, sehingga aku tahu kapan Ayra membutuhkan aku, apa itu jelas?"


Sintia hanya diam dengan wajah bingungnya, kenapa penjelasan sepanjang itu tak mampu membuatnya mengerti.


Zahra sedikit tertawa, Damar memang selalu asal bicara, tapi bukankah itu menyenangkan, Zahra memang selalu bisa tersenyum jika di dekat Damar.


"Dari mana kamu mengenal orang ini?" tanya Sintia.


"Aku ...."


"Ah, aku lupa mengatakan," sela Damar.


"Aku adalah malaikat penolong Ayra, kita dipertemukan oleh takdir, karena Tuhan tahu kalau aku bisa jadi pelindung terbaik untuknya, dan tolong kamu jangan cemburu dengan itu."


Sintia semakin merasa konyol mendengar setiap kalimat Damar, kenapa kepercayaan dirinya itu tinggi sekali.


Zahra meneguk minumannya dan menyimpannya bersama dengan tempat makannya, Zahra sedikit memukul Damar, apa dia tidak kasihan dengan Sintia yang sudah keheranan seperti itu.


"Bisa-bisanya kamu berteman dengan orang seperti ini," ucap Sintia.

__ADS_1


"Hey hey hey, apa maksud mu, apa emmm apa?"


Damar mengusap wajah Sintia meski tanpa menyentuhnya, Sintia berdecak seraya menepisnya.


Zahra tersenyum, apa kedatangan Damar untuk membuat Sintia kesal, ah sepertinya mereka akan cocok jika bersama.


"Zahra, sebaiknya aku pergi saja."


"Tidak bisa, sekali kamu melangkah keluar, kamu tidak akan bisa masuk lagi," ucap Damar.


"Kenapa seperti itu?"


"Ya, tentu saja seperti itu, karena kalau Zahra sudah bersama ku, dia tidak akan membutuhkan yang lain, bahkan dirimu sekali pun."


Zahra tertawa, meski singkat tapi itu membuat keduanya menoleh bersamaan.


Sintia benar-benar tidak mengerti, siapa Damar, kenapa bisa bersikap seperti itu.


"Aku harus melihat keadaan Bian," ucap Sintia.


"Sss ah, apa lagi, jangan menyebut namanya disini, ruangan seketika pengap dan panas, kamu tahu itu?" tanya Damar.


"Kenapa kamu berisik sekali, apa tidak mau baru datang sudah nyerocos seperti itu?"


"Ah itu benar, aku seharusnya malu dengan diriku sendiri."


Damar menutup wajahnya sekilas dan kembali membukanya, Damar dengan sengaja menunjukan ekspresi konyolnya pada Sintia.


Zahra yang melihat itu kembali tertawa, Sintia pun spontan tertawa karena mendengar tawa Zahra.


Satu detik kemudian, Sintia dengan sengaja memukul tangan Damar, lelaki itu menghembuskan nafasnya sekaligus, dan diam mematung menatap Sintia.


"Apa, apa menurut mu itu lucu, kenapa sekarang menatap ku seperti itu?"


"Apa kamu tahu Ayra, kalau aku baru pertama kali ini melihat wanita cantik seperti dia, kamu lihat alisnya yang mengkerut begitu membuatnya lucu."


Zahra turut memperhatikan Sintia, sepertinya itu benar, Sintia memang cantik dan sedikit lucu.


"Kamu lihat, mimik wajahnya berubah setiap detik, kadang heran, kadang kesal, tapi sayang tidak pernah terlihat tenang sama sekali, bukankah itu buruk dan sepertinya aku menyesal menyebut dia wanita cantik."


Mata Sintia seketika membulat, apa Sintia mengenal lelaki itu, lancar sekali dia mengatai Sintia seperti itu.


Zahra menutup mulutnya cepat, ia ingin tertawa tapi takut menyinggung Sintia nantinya.


"Damar, apa kamu tidak bisa diam?" tanya Zahra.


"Dia mana bisa diam, dia harusnya keluar baru suaranya tidak akan terdengar."


Damar menelan ludahnya, ia tak berpaling dari Sintia meski sedikit saja, dan cukup membuat Sintia kesal.


"Kalian ini baru saja bertemu, apa harus langsung ribut."


"Dia yang tidak menyambut ku dengan baik, jelas saja aku tidak terima itu, jadi biarkan saja aku menggodanya sedikit."


Zahra menggeleng, ia melihat Sintia yang semakin kesal saja terhadap Damar, kenapa juga lelaki itu harus banyak bicara.


"Kamu tahu, Ayra menyukai ku karena aku banyak bicara, seharusnya kamu juga seperti itu."


Sintia seketika menatap Zahra, apa maksud menyukai, apa itu artinya mereka ada hubungan lain yang disembunyikan.

__ADS_1


__ADS_2