
"Benar-benar tidak tahu diri kamu ini, aku sudah berbaik hati akan mengembalikan rumah ini padamu, tapi justru seperti ini kelakuan mu, seharusnya kamu membantu ku untuk mendapatkan apa yang menjadi mau ku."
"Lepas, apa kamu tidak mengerti jika ini menyakiti aku."
"Kamu fikir aku perduli, biar aku lepaskan."
Bian mendorong Zahra dengan kuatnya, tapi nasib baik karena Zahra terjatuh ke kasur sana.
Zahra menoleh, tidak ada rasa sakit lainnya, baguslah Tuhan masih melindunginya.
"Kamu serius ingin bermain dengan ku?"
"Ini bukan keinginan ku, aku sudah katakan padamu untuk berusaha mengembalikan kepercayaan orang yang sudah kamu kecewakan, tapi kamu sendiri yang mengabaikannya."
"Tutup mulut mu, mau apa pun itu, harusnya kamu sadar diri kalau kamu tidak mampu menggantikan aku."
Zahra diam, kalimat Bian memang sengaja merendahkannya, apa Zahra sebodoh itu hanya karena tak memiliki pengalaman dan ijazah tinggi.
"Apa, berani kamu menatap ku seperti itu?"
Zahra berpaling, ia bangkit dan berjalan cepat untuk bisa keluar dari kamar, tapi langkah kaki Bian yang besar cukup memudahkannya untuk menghentikan Zahra.
Dengan kuat Zahra berusaha melepaskan diri dari tahanan Bian, Zahra tidak mau disakiti oleh perlakuannya, mulut Bian sudah cukup menyakitinya.
"Diam, kamu merasa lebih kuat dari ku?"
"Lepas, atau aku akan teriak."
"Hanya itu kemampuan mu, kamu memang hanya mampu bersembunyi di belakang Oma, diluar itu kamu hanya wanita lemah, lebih tepatnya wanita lemah yang tak tahu diri."
Zahra diam, ia menelan ludahnya sulit, rasa takutnya berkurang perlahan, Zahra merasa tidak ada gunanya ia menghindar dari suaminya itu.
Bian memang besar kepala, bahkan meski jelas dia yang salah, tetap saja menyalahkan orang lain.
"Lepaskan semuanya, kamu harus tahu siapa kamu disini."
"Lepaskan aku."
"Jangan berani memerintah ku seperti itu."
Zahra sedikit berdecak, Zahra tidak bodoh, Zahra juga tidak lemah, Zahra tahu diri, dan memiliki kemampuan yang tidak orang lain ketahui, iya Zahra harus yakin itu.
"Ada apa, apa yang mau kamu lakukan?"
"Lepas."
"Dan kamu mau mengadu pada Oma mu itu?"
"Lepas Bian."
Bian menarik Zahra dan kembali mendorongnya, kali ini Zahra terjatuh diantara kantong belanjaannya yang sempat ditata rapi.
"Aku sudah berusaha membantu mu, kamu sendiri yang tak pernah perduli dengan bantuan ku, dan sekarang untuk apa menyalahkan aku seperti ini?"
__ADS_1
"Benarkah, bantuan apa yang kamu maksud?"
"Apa, seharusnya kamu bisa lebih pintar dari pada aku, bukankah kamu mampu melakukan segalanya?"
Bian berpaling sesaat, ia menghampiri Zahra dan jongkok di hadapannya, dengan sengaja Bian menjambak rambutnya kuat.
Tentu saja itu membuat Zahra meringis sakit, nyaris saja kepalanya membentur lemari karena tarikan Bian.
"Lepas."
"Lepaskan semuanya, katakan pada Oma kalau kamu tidak mau melakukannya."
"Aku sudah mengatakannya."
"Masih berani berbohong."
"Aaa sakit."
Zahra memejamkan matanya, Bian semakin kuat menarik rambutnya, apa mungkin jika leher Zahra akan patah karena tarikan itu.
"Kamu mau merasakan yang lebih dari pada ini?"
"Tidak, tolong lepaskan."
"Kamu mau memohon, aku tidak akan perduli sama sekali."
"Sakit Bian, aku mohon lepas."
Bian menarik Zahra bangkit, dan menyeretnya ke kamar mandi, ia mendorongnya begitu saja.
"Kamu belum mandi sore kan, mandilah sekarang."
"Tidak, aku tidak mandi sekarang, aku harus siapkan air hangat."
"Jangan bodoh, kamu tinggal putarkan kerannya, air akan berubah hangat dengan sendirinya."
"Tapi aku tidak mau mandi sekarang."
Bian tersenyum, ia segera menutup pintunya tanpa berkata apa pun lagi.
Zahra yang yakin jika ia akan dikurung disana, segera berlari dan menahan pintu agar tidak tertutup.
"Bian, jangan seperti ini, aku tidak mau disini."
"Lepaskan, atau kamu akan semakin susah."
"Buka dulu, aku gak mau disini."
"Kamu fikir aku akan mau mendengarkan mu?"
Zahra menggeleng, kenapa harus seperti itu, bahkan keadaan yang terjadi itu bukan keinginan Zahra.
"Jauhkan tangan mu sekarang."
__ADS_1
"Tidak, buka dan biarkan aku keluar."
"Jauhkan tangan mu."
"Bian, buka."
Bian berdecak, ia dengan sengaja menarik pintu hingga membuat jemari Zahra terjepit karenanya.
Sedikit jeritan Zahra justru membuat Bian tersenyum, biarkan saja Bian memang tidak waras saat ini, tapi menurut Bian semua adalah kesalahan Zahra sendiri.
"Aku sudah katakan jauhkan tangan mu, tapi kamu tidak mau mendengarkan aku, inilah akibatnya karena kamu selalu saja membatah Suami mu."
Tak ada jawaban, Zahra merapatkan bibirnya serta memejamkan kuat matanya, mungkin saja Zahra masih harus menutupi semua agar tidak ada yang tahu kejadian saat ini.
Bian melihat jemari Zahra yang masih bisa bergerak, tak ada lagi perasaan, Bian menguatkan tarikannya pada pintu tersebut, jelas saja jika itu semakin menyakiti Zahra.
"Bagaimana, mau sampai kapan seperti ini, kamu sudah sangat menantang ku, sikap curang mu tidak akan pernah bisa merubah ku jadi lebih baik terhadap mu."
"Sikap buruk mu juga tidak akan menghentikan wanita itu untuk melangkah mengalahkan mu."
Bian seketika mendorong pintu dengan kerasnya, ia sengaja melakukannya hingga membuat tubuh Zahra terpental di dalam sana.
Bian berbalik, suara Inggrid cukup membuatnya terkejut.
"Dia sudah sangat kurang ajar, dengan begitu dia tidak akan bisa bekerja seperti keinginan Oma."
"Semoga kamu bahagia setelah ini Cucu ku."
Inggrid melewati Bian begitu saja, ia memasuki kamar mandi dan menutup pintunya rapat.
Melihat sikap Inggrid yang biasa saja, membuat Bian semakin kesal, seharusnya Inggrid marah agar Bian bisa lebih menyakiti istrinya itu.
Bian tersenyum singkat, hingga akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan kamar.
"Ayra," panggil Inggrid.
Tak ada jawaban, Zahra tampak duduk di lantai sana sembari menunduk, ia menangis karena jemarinya yang tak bisa digerakan saat ini.
"Zahra, ayo bangun."
Zahra tak bergeming, ia hanya menjawab perkataan Inggrid dengan isakannya.
"Mulailah berfikir untuk hidup mu sendiri, berhenti memikirkan orang lain hanya karena perasaan mu yang tak bisa terkendali."
Inggrid berlutut di samping Zahra, ia sempat melirik tangan Zahra, dan menarik tubuhnya untuk memeluknya.
"Marah saja kalau kamu mau marah sama Oma, itu sangat tidak masalah, Oma akan menerimanya dengan baik."
Tetap tak ada jawaban, Zahra justru semakin menangis karena ucapan Inggrid, entah apa yang harus difikirkan Zahra saat ini setelah apa yang dirasakannya juga.
"Ini kesalahan Oma, harusnya Oma tidak keluar tadi, tapi apa pun itu, kamu harus berhenti menjadi wanita tak berdaya."
Tidak ada apa pun yang didengar Inggrid selain dari pada tangisan Zahra, keadaan buruk saat ini memang kesalahannya, tapi Inggrid akan bertanggung jawab untuk semua itu.
__ADS_1