
Suasana kantor yang semula ramai oleh perbincangan penghuninya itu seketika hening, mereka terdiam melihat kedatangan Zahra dan Inggrid.
Mereka sempat melihat Zahra satu bulan lalu, dan tak pernah ada lagi, lalu hari ini ia kembali dengan penampilan yang sempurna.
Wanita 19 tahun itu terlihat cantik, ia begitu elegan dan dewasa, satu bulan lalu mereka masih melihat Zahra layaknya remaja 19 tahun, tapi kini semua berubah.
"Selamat lagi, Bu," sapa seseorang.
Inggrid mengangguk, begitu pun dengan Zahra, langkah keduanya begitu tenang memasuki ruangan.
"Bu Inggrid," ucap Marvel seraya bangkit dari duduknya.
"Selamat pagi," sapa Inggrid.
"Pagi Bu."
Marvel melirik Zahra, ia terdiam melihat wanita itu, tentu saja ia masih mengingat Zahra dan ia yakin jika wanita di hadapannya adalah orang yang sama.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Zahra.
Marvel seketika berpaling, ia mengangguk dan kembali melirik keduanya.
"Maafkan saya Bu, saya tidak bermaksud kurang ajar."
"Mungkin aku memang terlihat aneh."
"Memang benar."
Zahra dan Inggrid mengernyit bersamaan, keduanya saling lirik untuk sesaat.
"Aneh, kenapa bisa berubah jadi secantik itu sekarang," ucap Marvel.
Zahra berdecak seraya menggeleng, Inggrid hanya tersenyum menanggapi kalimat Marvel itu.
"Jadi, hari ini aku keluar dari ruangan ini?"
"Tentu saja, menurut mu saya akan biarkan kamu ada di ruangan yang sama dengan Cucu saya?" tanya Inggrid.
"Mungkin saja bisa," ucap Marvel seraya tersenyum.
"Kali ini kamu benar-benar kurang ajar," sahut Zahra.
Ketiganya tersenyum bersamaan, Marvel kembali meneliti penampilan Zahra, dan memang menarik, tidak ada lagi Zahra yang seperti bocah sekarang.
"Marvel, saya sudah kasih tahu dimana ruangan mu?" tanya Inggrid.
"Sudah, Bu."
"Baiklah, silahkan."
Marvel mengangguk, ia lantas pamit dan berlalu meninggalkan ruangan.
Sebelum menutup pintu, Marvel kembali melirik Zahra, meski hanya bisa melihat punggungnya, tapi senyum Marvel cukup terlihat jelas.
"Duduklah," ucap Inggrid.
"Oma, aku tidak yakin."
"Kamu berubah fikiran setelah ada disini?"
__ADS_1
Zahra menggeleng, ia lantas duduk di tempat seharusnya, banyak sekali berkas yang tertumpuk di sana.
Zahra merapatkan bibirnya, bahkan meski sedikit saja, Zahra tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya.
"Kamu harus mengingat kontak Marvel, dengan begitu kamu tidak akan kesulitan untuk bertanya."
"Apa Oma tidak akan disini saja?"
"Mana bisa, pekerjaan Oma masih banyak, kalau masih harus Oma yang mengurus, lalu untuk apa kamu disini."
Zahra tersenyum dan mengangguk, perasaan Zahra sangatlah tak karuan, mungkin saja Zahra akan jadi bahan ejekan karyawan lain dan staf lainnya di sana.
"Kamu sudah memilih, dan pilihan kamu sudah kamu jadikan janji buat Oma, jadi sudah seharusnya kamu paham dengan semuanya."
"Semoga saja."
"Ingat, kamu tidak perlu memikirkan apa pun selain dari langkah kamu sendiri, kamu harus percaya jika ini hanya sementara."
"Siap."
Inggrid tersenyum, ia mengusap kepala Zahra sesaat, semoga saja Inggrid memang tidak akan salah memilih orang.
Zahra pasti bisa dipercaya olehnya, semoga saja apa yang menjadi bayangannya bisa jadi kenyataan, Zahra bisa merubah semua hal buruk yang ada.
"Kalau begitu, Oma harus pulang."
"Oma mau pulang kemana?"
"Pertama, Oma akan ke rumah mertua kamu, dan setelah itu baru Oma pulang ke rumah kamu."
"Oma, tapi ...."
Zahra tersenyum, semoga saja Inggrid memang bisa membantunya, Zahra tidak mau mendapat masalah dihari pertamanya.
"Oma pergi ya."
"Hati-hati."
"Kamu juga hati-hati, jadilah pemimpin yang diharapkan."
Zahra sedikit mengangguk, tentu saja ia ragu untuk setujui perkataan Inggrid.
Dengan lembut Inggrid mengusap kepala Zahra, ia tersenyum saat anaknya itu mencium tangannya.
Inggrid lantas berlalu, memang sedikit berat meninggalkan Zahra sendiri, tapi jika tidak seperti itu, Inggrid tidak akan tahu sejauh mana Zahra bisa berusaha untuk bisa.
"Baiklah, aku harus apa sekarang, kenapa Marvel malah pergi."
Zahra memperhatikan setiap yang tersimpan di meja, ia membuka beberapa yang memang ingin dibukanya.
Zahra juga membuka laci, dan beberapa buku yang ada di sana.
"Peraturan perusahaan," ucap Zahra.
Map itu ditariknya keluar, Zahra membuka dan membaca bait demi bait tulisan di kertas putih itu.
"Banyak sekali, sejak kapan aku mau diatur seperti ini, aku selalu dibebaskan melakukan apa yang aku mau."
Zahra menggeleng, tulisan itu terlalu panjang, dan Zahra tidak akan mungkin ingat semuanya secara langsung.
__ADS_1
Ia menyimpannya kembali dan membuka laci lainnya, di meja itu Zahra menemukan banyak bacaan, peraturan, kontak staf, dan banyak lainnya.
"Apa yang harus aku pelajari lebih dulu sekarang."
Zahra membuka satu berkas di depannya, itu adalah pernyataan kerja sama perusahaaan.
"Banyak sekali, pantas saja Bian begitu menginginkan ini, hasilnya pasti akan sangat bagus."
Zahra tersenyum, jika Zahra bisa menguasai pekerjaannya, mungkin akan ada keuntungan yang lebih dari pada mendapatkan rumahnya lagi.
Dengan terliti Zahra membuka satu demi satu berkas tersebut, membacanya dengan cermat, Zahra harus bisa menghafal dengan cepat semuanya.
----
"Kamu kenapa sih?" tanya Vanessa.
Ditengah usaha Zahra untuk mendapatkan kepercayaan orang banyak, Bian justru sedang bersama dengan Vanessa.
Sejak datang, Bian tak henti menunjukan kekesalannya, ia mengomel dan itu membuat Vanessa pusing sendiri.
"Tidak ada gunanya kamu seperti ini, kamu suruh aku cuti hanya untuk dengar kamu ngomel saja?"
Bian menoleh, ia diam menatap wanita itu, apa dia tidak mengerti jika Bian sedang tidak bisa mengontrol dirinya.
"Apa, kenapa melihat ku seperti itu, aku sudah katakan, tinggalkan dia."
"Dan kamu masih saja membahas itu?"
"Ya buktinya kamu seperti ini, untuk apa lagi memaksakan, tidak akan baik juga."
"Lalu, kalau aku pisah sama dia, apa kamu mau menggantikannya?"
Vanessa diam, ia memang menyukai Bian, tapi jika sekarang Bian bukan siapa-siapa lagi, untuk apa Vanessa masih mengharapkannya.
Vanessa memang hanya sekretaris, tapi ia juga ingin memiliki pasangan seorang pemimpin.
"Kenapa kamu diam?"
"Untuk apa kamu mempertanyakan itu, kamu juga tidak akan mau meninggalkan Istri mu kan?"
"Kamu benar."
"Ya, karena sekarang dia yang kaya, dan kamu benar-benar membutuhkannya sekarang."
"Dan kamu tidak lagi menyukai ku karena aku tidak kaya?"
Vanessa berpaling, sepertinya ia sudah salah bicara, seharusnya Bian tidak sampai berfikir seperti itu.
Bian tersenyum singkat, apa mungkin Vanessa juga sama seperti Zahra, ia hanya mengincar kekayaan Bian saja.
Terbukti sekarang, Zahra telah curang terhadapnya, ia merebut perusahaan yang seharusnya ada dalam kendalinya.
"Bian, aku tidak bermaksud apa-apa, aku cuma tidak mau kamu terus dibuat stres seperti ini, makanya aku masih mengingatkan kamu untuk berpisah saja sama dia."
"Benarkah hanya itu, lalu apa jawaban mu untuk pertanyaan ku setelah aku berpisah sama dia?"
"Kita bisa bahas itu nanti, aku tidak mau banyak bicara sebelum kamu membuktikan apa pun."
Bian mengangguk, ia bergelut dengan fikiran kusutnya itu, apa yang harus dilakukannya sekarang, jika ia berpisah dengan Zahra, apa mungkin Inggrid akan mengambil lagi hak kuasa itu dari Zahra.
__ADS_1