Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Keluarkan Dia!


__ADS_3

Melihat Kemal dan Zahra di sana, Inggrid merasa sangat kacau, ia memejamkan matanya sesaat, berusaha mengontrol dirinya agar tetap baik-baik saja.


"Tingkah mu ini sangatlah bodoh, apa kamu tidak sadar?"


"Lepas, lepaskan tangan ku."


Kemal melepaskan dengan mendorongnya, itu cukup untuk membuat Zahra terjengkang.


Ia diam menunduk di sana, kembali fokus dengan tangisnya, Zahra tidak bisa terima semuanya.


"Sejak awal saya meminta mu untuk membebaskan anak saya, ini hasil dari keras kepala mu sendiri, kamu rasakan sekarang, kamu lihat dirimu, apa kabar dengan kewarasan mu?"


Zahra kembali menatap Kemal, seperti itu mulut orang tua, apa Bian mewarisi sikap dan sifat Kemal, sama-sama tidak bisa menghargai orang lain.


"Apa, mau apa kamu sekarang?"


"Berhenti berbicara, karena bukan hanya kau yang berbicara disini."


"Benarkah, dan saya harus mendengarkan bicara mu itu?"


Zahra tersenyum kecut, ia kembali bangkit dan merapikan dirinya, mengusap air matanya, bukankah Zahra terlihat lemah jika seperti itu.


Kemal mengangguk, ia melirik mereka sekilas, kenapa mereka hanya diam saja di sana, apa mereka mengharapkan Kemal benar-benar habis kesabaran.


"Aku tidak akan pernah membebaskan dia, sampai hukumannya selesai dia akan tetap disana."


Kemal mengangkat kedua alisnya, itu sangat buruk di telinga Kemal, berani sekali Zahra berkata seperti itu


"Dia akan tetap disana sampai hukum yang membebaskannya."


"Lancang sekali mulut mu itu."


"Aku seperti ini juga karena anak mu yang mengajari ku, seperti ini dia selalu berbicara padaku, tidak pernah ada benarnya."


"Tidak bisakah kalian diam?" tanya Inggrid.


Kania menoleh, ia bergeser mendekati Inggrid, wanita tua itu sepertinya mulai bermasalah dengan kontrol kesehatannya.


Inggrid memang baru saja pulang dari rumah sakit, dan kepulangannya itu tanpa kesehatan yang sempurna.


"Mami."


"Suruh mereka diam, atau Mami akan mati saat ini juga."

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah diam selama wanita ini tidak membebaskan Bian," ucap Kemal.


"Sayangnya aku akan tetap diam tanpa membebaskan lelaki itu."


"Zahra," panggil Kania.


Zahra menoleh ia melihat Kania yang berisyarat agar mengerti keadaan Inggrid, tapi Zahra tidak mau menurutinya sama sekali.


Zahra akan tetap menjadi seperti keinginannya, salah atau tidak salah Zahra selalu jadi yang disalahkan.


"Gak, aku gak perduli apa pun, aku gak mau perduli apa pun, kalian harus mengerti aku untuk saat ini."


"Enak sekali bicara mu itu."


"Karena aku merasa cukup dengan semua hal yang membuat ku tidak enak, apa kalian masih tidak mengerti sampai sekarang?"


"Diam kamu, dan segera ke kantor polisi untuk bebaskan Bian, cepat lakukan."


Kemal yang berniat kembali mendorong Zahra, harus merasa malu karena Zahra berhasil menghindarinya.


Zahra sedikit tersenyum, ia tak habis fikir dengan mereka semua, kenapa ada keluarga yang seegois mereka.


"Zahra, sudah cukup, apa kamu tidak tahu kalau sikap kamu itu salah," ucap Inggrid.


"Gak, aku gak merasa salah, aku sedang membela diri sendiri dari orang-orang egois seperti kalian semua, tidak ada yang salah dari diriku karena kesalahan ada pada kalian sendiri."


Sudah benar kebencian Kemal, tidak ada yang harus diubahnya sedikit pun, Zahra tetaplah orang asing yang menghancurkan keluarganya.


"Pergi, lebih baik kalian pergi karena kalian tidak akan mendapatkan apa pun, kebebasan anak kalian hanya akan ada di tangan hukum itu sendiri."


"Kamu sekacau ini Zahra, kami tahu kamu masih sangat perduli dengan Bian, berhenti untuk berpura-pura," ucap Kania.


"Itu urusan ku, kalian tidak perlu ikut campur, lagi pula kebaikan kalian padaku hanya karena kemauan kalian yang harus terpenuhi, sampai kapan aku harus menuruti kalian semua, menjadikan ku budak untuk kekuasaan yang selalu kalian dambakan, setelah kalian mendapatkannya maka aku yang akan terbuang, kalian fikir kalian sepintar itu?"


Plaakkk ....


Zahra seketika memejamkan matanya, ia menyentuh pipinya, tamparan Kemal cukup membuat telinganya berdengung.


"Kemal," jerit Inggrid yang seketika ambruk dengan menekan dadanya.


"Mami/Ibu," ucap Kania dan Nur bersamaan.


Kemal mendorong Zahra begitu saja, kini ia berhasil membuat Zahra tersungkur di lantai sana.

__ADS_1


Kemalangan memang selalu terjadi pada Zahra, luka yang baru saja sembuh, kini harus diganti dengan luka yang baru.


Zahra terjatuh mengenai pecahan kaca di sana, hingga membuat setengah tangan kirinya terluka, Kemal segera menghampiri Inggrid dan menggendongnya.


"Usir dia dari sini, keluarkan dia dari tempat yang selama ini melindunginya, saya akan kembali dan jangan sampai dia masih disini."


Nur hanya diam saja, Kemal dan Kania berlalu dengan membawa Inggrid, wanita tua itu tak lagi sadarkan diri sekarang.


Dengan cepat Nur menghampiri Zahra, ia menangis begitu saja melihat Zahra yang menangis, darahnya cukup banyak mengotori lantai.


Nur tak habis fikir, kenapa nasib nyonya rumahnya begitu buruk, ia menarik Zahra dan memeluknya erat.


"Yang sabar, Non."


Tak ada jawaban, Zahra merasa semakin tak ingin hidup, harapan yang berusaha dihilangkannya tak lantas membuat hidupnya bahagia.


Zahra tetap saja tertekan, bahkan meski karena keputusannya sendiri.


"Ayo bangun, biar Bibi obati lukanya, ayo bangun."


Nur menarik Zahra untuk bangun, membawanya duduk di sofa sana, Nur mengusap punggung Zahra sekilas sampai akhirnya ia berlalu untuk mengambil apa yang dibutuhkan.


 -----


Dion dan Bian sama-sama terdiam, saat ini Dion sedang mengunjungi Bian, lelaki itu begitu murung dalam pandangan Dion.


Dion sudah tahu tentang putusan hukuman Bian, itu memang buruk, tapi Dion merasa jika itu sudah seharusnya.


"Apa Zahra sudah mendatangi mu?"


Bian hanya menggeleng, bukankah itu sudah menjadi ketidak mungkinan yang pasti.


"Dia pasti tidak baik-baik saja sekarang, dan seburuk apa pun kamu disini, tak akan sebanding dengan apa yang Zahra rasakan."


Bian menatap Dion, apa lelaki itu menganggap Bian sedang bersandiwara saat ini.


"Zahra memang melakukan semuanya, dia melakukan apa yang dia fikir bisa membuat dirinya bahagia, tapi aku rasa dia tidak berhasil sama sekali."


"Apa maksud mu?"


"Zahra pasti terluka karena keadaan mu saat ini, meski semua atas perbuatannya, tapi Zahra tidak bisa menerimanya, harusnya kamu tahu itu kalau perasaan sayang Zahra terhadap mu tidak akan pernah hilang."


"Tapi dia membuat ku seperti ini."

__ADS_1


Dion mengangguk, itu benar, tapi seharusnya Bian bisa berfikir ke semua arah, alasan dan akibat dari perlakuan Zahra saat ini.


Tapi sepertinya Bian memang tidak mengerti itu, ya memang seharusnya Dion paham jika Bian memang tidak pernah bisa mengerti Zahra.


__ADS_2