Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Untuk Apa Lagi?


__ADS_3

"Kamu pulang," ucap Zahra.


Bian tersenyum, ia mencium kening Zahra sesaat.


"Kenapa kamu di bawah, kamu sudah sehat?"


"Aku sudah sehat."


Bian mengangguk, ia melihat sekitar, kenapa tidak terlihat Inggrid di sana.


"Kemana Oma?"


"Oma, tadi bilang mau pergi ke tempat Marvel sama Mama sama Papa juga."


"Ada acara apa?"


Zahra menggeleng, tidak ada pertanyaan lebih lanjut tentang itu, Zahra hanya mengiyakan saja saat mereka pamit.


"Kamu sudah makan?" tanya Bian.


"Ini baru mau."


"Ya sudah, ayo makan."


Keduanya berjalan bersamaan, Bian sengaja pulang untuk makan di rumah, sekalian memastikan kalau Zahra baik-baik saja.


Mereka mengisi piringnya masing-masing, makan bersama dengan tenang, selera makan Zahra telah kembali sekarang.


"Bian, aku mau keluar habis ini."


"Mau kemana, kamu baru juga sembuh."


"Aku mau belanja, maksudnya aku mau ke tempat Bu Isma dan pulangnya aku mau belanja."


"Isma?"


"Yang kemarin kesini."


Bian menghela nafas, untuk apa Zahra datang kesana, apa Zahra senang saat Frans memintanya untuk datang ke rumah.


"Boleh kan, hanya sebentar saja."


"Mau apa kamu kesana, apa penting banget sampai harus kesana?"


"Ya sudah kalau gak boleh juga gak apa-apa, aku bisa minta mereka yang datang kesini."


Bian mengernyit, dan Zahra akan membawa mereka ke kamar lagi, enak saja mana bisa Bian biarkan itu terjadi lagi.


Zahra meneguk minumannya, kali ini ia akan belanja dan akan benar-benar memasaknya, setelah kemarin gagal karena mendadak sakit dan makanannya dimasak Nur.


"Biar aku temani kamu ke rumah mereka."


"Kenapa seperti itu, kamu mau mengabaikan tanggung jawab di Kantor?"


"Aku tidak mau kamu berdekatan dengan lelaki itu."


Zahra tersenyum, ia mengangguk paham, apa harus Bian berfikir seperti itu, Bian masih tidak percaya jika Zahra tidak bisa menyukai lelaki lain.


"Kalau kamu kesana, aku gak ke Kantor."


"Aku kesana, kamu ke Kantor."


"Zahra."


"Frans gak ada di rumah, ini jadwal dia di Rumah Sakit makanya aku mau ke rumahnya, disana hanya ada Bu Isma saja."


"Bohong kamu."


Zahra sedikit berdecak, ia kembali melahap makanannya, terserah Bian saja mau percaya atau tidak.


Bian melihat ponselnya yang menyala, tapi ia enggan membukanya, biarkan saja Bian sedang ingin fokus makan.

__ADS_1


"Bibi, apa udangnya masih ada, aku mau lagi," teriak Zahra.


Bian menoleh, berisik sekali, ia melihat udang di piring memang sudah habis, apa Zahra sedang kelaparan saat ini.


"Bibi."


"Ini masih ada."


Nur datang dengan membawa udangnya, ia menyajikannya di meja.


Zahra tampak tersenyum, ia langsung mengambilnya setelah Nur selesai.


"Sudah habis, Non."


"Tidak apa, nanti aku beli lagi."


Nur mengangguk dan pamit pergi, Bian menggeleng, ia senang melihat Zahra yang makan dengan lahapnya.


Jelas jika Zahra memang sudah sembuh sekarang, dan itu kabar baik, Bian akan lebih tenang ada di kantor.


"Kamu mau belanja udang?" tanya Bian.


"Iya, aku mau belanja bareng sama Bu Isma, tapi kamu gak izinkan aku pergi, jadi aku mau tidur saja."


"Kamu jangan berbohong, pergi sama Bu Isma atau sama lelaki itu."


"Sama Bu Isma, ishh."


Bian mengangkat kedua alisnya, Zahra terlihat kesal sekarang, tapi itu terasa lucu bagi Bian.


"Sedang apa dia di Rumah Sakit."


"Ya dia memang Dokter, dan tempatnya di Rumah Sakit, sejak kapan Dokter tempatnya di Bank?"


Bian tertawa mendengar ocehan kekesalan Zahra, bisa sekali Zahra berkata seperti itu, dia kembali berisik.


Zahra mendelik, ia meneguk minumnya dan kembali menikmati udangnya.


"Suka-suka aku saja."


Bian tersenyum seraya mengangguk, baiklah terserah Zahra saja kalau seperti itu.


"Mau jam berapa kamu pulang, biar aku jemput nanti."


"Aku gak kemana-mana, ngapain dijemput."


"Katanya mau ke tempat Bu Isma."


"Bukannya gak boleh, gak usah dibahas."


Bian kembali tersenyum, sensitif sekali wanita itu.


Zahra mencuci tangannya dan meneguk minumnya, ia lantas menikmati buah yang ada.


"Kamu boleh pergi, tapi nanti pulangnya aku jemput."


Zahra tak merespon, ia asyik dengan makanannya saat ini.


"Gak apa-apa pergi saja, kalau memang lelaki itu tidak ada di rumahnya."


"Gak usah kalau gak percaya."


"Iya aku percaya, pergilah."


Zahra mengangkat kedua alisnya, cepat sekali berubahnya fikiran Bian, apa lelaki itu terpaksa menuruti keinginannya.


Bian tersenyum seraya mengangguk, ia meneguk minumannya, perutnya sudah terasa kenyang sekarang.


"Kalau mau pulang kasih kabar, nanti aku jemput, jangan sampai dia yang mengantar mu pulang."


"Siap Bos."

__ADS_1


"Sayang, Bos Bos Bos apaan."


"Ih, Sayang juga apaan."


Bian menggeleng, ia meraih ponselnya dan berkutat di sana, Zahra tampak tersenyum senang karena akan bertemu dan bersama dengan Isma hari ini.


 


"Damar, tunggu dulu," ucap Claudia.


Damar menoleh, ia berpaling malas melihat Claudia.


"Ada apa lagi, aku sudah mengerti dengan pekerjaan ku sekarang, kamu bisa kembali pada pekerjaan mu sendiri."


"Jangan galak-galak, kenapa sih?"


"Kamu yang buat aku kesal, kenapa sih ngikuti terus?"


Claudia tersenyum, ia mengangguk berulang kali melihat wajah kesal Damar.


Damar berdecak, ia bergegas pergi tapi Claudia menahannya.


"Apa lagi sih, aduuh ahh."


"Bawa aku bertemu dengan Kekasih mu."


Damar mengernyit, kalimat macam apa itu, untuk apa Damar melakukan itu, lagi pula Sintia bukan kekasihnya.


"Kenapa, biarkan saja aku juga mau kenal sama dia."


"Urusannya apa sama kamu, aneh-aneh saja permitaan."


"Ya sudah kasih aku alamat rumahnya, aku mau datang sendiri kesana."


Damar mengusap wajahnya, benar-benar menyebalkan Claudia ini, sebenarnya apa tujuannya mengganggu Damar.


"Mana alamatnya, kamu bohong kan, wanita itu pasti bukan Kekasih kamu."


"Heh, diam."


"Nyolot mulu."


"Balik kerja sana, gangguin orang mulu."


Damar berlalu begitu saja, Claudia tersenyum, ia merasa kesenangan tersendiri saat melihat Damar kesal seperti itu.


Ia berniat mengejar Damar, tapi lebih dulu datang Marvel, Claudia harus mengikuti lelaki itu sekarang.


"Kamu menyukainya?" tanya Marvel.


"Dia sebenarnya siapa, Pak?"


"Dia Damar, sale executive, bukankah kamu yang membantunya tadi?"


"Maksudnya, dia asal mana, rumahnya dimana, ya asal usulnya saja dimana?"


Marvel menoleh sesaat, pertanyaan itu apa harus dilontarkan.


Ada urusan apa Claudia dengan asal usul Damar, apa mereka saling mengenal sebelumnya.


"Dimana, Pak?"


"Jelaskan dulu apa tujuannya."


"Dia seperti Gio adik ku."


Marvel seketika menghentikan langkahnya, jadi mereka saudara yang terpisah.


"Aku melihat tanda hitam di tengkuknya, itu tanda hitam yang dimiliki adik ku."


"Percaya diri sekali kamu, aku sama teman dekat ku juga memiliki tanda serupa, tapi kami bukan saudara."

__ADS_1


Claudia menghembuskan nafansya sekaligus, kenapa membandingkan dirinya seperti itu, terserah saja yang jelas Claudia harus cari tahu siapa Damar sebenarnya.


__ADS_2