
Pagi ini terasa sangat menyenangkan bagi Zahra, bisa menyuapi Bian makan, bisa bicara dengannya dalam tenang, bisa melihat dan membuat Bian tersenyum.
Tanda tanya dalam otaknya tak kunjung hilang, serius atau tidak Bian dengan sikapnya saat ini.
Tapi mau bagaimana pun, Zahra akan tetap menikmati setiap halnya bersama Bian, tidak seperti kemarin yang ia justru lari saat merasa tertekan.
"Sekali-sekali kenapa bukan kamu yang masak?"
"Aku khawatir kamu tidak akan suka."
"Kapan aku mencoba?"
Zahra mengangkat kedua pundaknya, kapan Zahra masak, meski wanita tapi Zahra tidak bisa memasak.
Sejak dulu segala sesuatu sudah siap untuk Zahra, tanpa harus repot menyiapkannya sendiri, dan sekarang hasilnya memang Zahra tidak bisa apa-apa.
"Kemana saja kamu kemarin, bagaimana keadaan mu, tangan mu?"
Bian menarik tangan Zahra, nyaris saja piring di tangan Zahra terjatuh karena tarikan itu.
Bian mengambil dan menyimpannya, ia meneliti setiap jemari Zahra, dan memang sudah kembali normal bahkan bekas luka pun tak terlihat.
"Oma yang obati, dia begitu mengurus ku kemarin."
"Benarkah?"
Bian melepaskan kembali tangan Zahra, membiarkan ia mengambil kembali piring dan menyuapinya.
Zahra tersenyum, sekecil itu saja Zahra sudah merasa di perhatikan, bisakah seperti itu untuk terus menerus.
"Kamu sendiri tidak makan?"
"Nanti saja, tadi aku sudah minum susu di rumah."
"Kamu kembali tinggal di rumah, bukankah Oma juga sudah kembali?"
"Tergantung kamu saja, aku akan kembali kalau kamu menginginkan aku kembali."
Bian diam, jadi benar jika perasaan Zahra telah berubah sekarang, Zahra tak lagi selalu ingin dekat dengan Bian.
Apa ini bukti ucapan Inggrid, Zahra akan pergi jika Inggrid tidak menahannya.
"Kenapa, ini makan."
"Kamu mau pergi, Oma sudah katakan semuanya sama aku, kamu ingin pergi dari ku."
Zahra mengernyit, kapan Zahra berkata seperti itu pada Inggrid, sekuat apa pun kemarahan Zahra, itu tak pernah membuat Zahra ingin pergi.
"Kamu sudah berubah sekarang, kamu tidak lagi bertahan untuk ku?"
"Diamlah, dan cepat habiskan makanan ini, kamu harus minum obat."
"Buang saja makanannya, aku hanya butuh bicara dengan mu."
__ADS_1
"Bian, aku ...."
"Kamu benar-benar akan pergi, kamu mau lepas dari hubungan kita?"
"Hubungan kita?"
Keduanya diam, Zahra memang malas berdebat, tapi sepertinya memang ada beberapa hal yang perlu dibicarakan.
Bian harus tahu jika Zahra akan tetap bertahan, selagi Bian tidak melepaskannya.
"Apa?" tanya Bian.
"Aku akan pergi, tentu saja aku akan pergi, tapi itu jika kamu yang menginginkannya."
"Apa maksud kamu?"
Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus, ia lantas menyimpan piring itu lagi, dan meraih tangan Bian.
Saat ini Bian telah sadar, tapi dia tidak menepis tangan Zahra, satu lagi kesenangan Zahra bertambah.
"Aku tahu, antara kita adalah kebohongan, pernikahan kita adalah kebohongan, tapi aku tidak pernah tahu jika pada akhirnya aku benar-benar menyukai mu."
"Tapi kamu mengatakan akan pergi pada Oma."
"Dan bukankah aku memang pergi, berapa lama kamu tidak melihat ku?"
"Tapi sekarang kamu kembali."
"Karena aku pergi memang untuk kembali."
Jika Zahra bisa merubah perasaannya, lalu kenapa Bian tidak bisa, Zahra terlalu asing baginya dan Bian tidak bisa menyukainya.
"Aku sudah katakan, aku tidak akan mengatur mu untuk hal apa pun, tapi tolong hargai aku, dengan kamu menghargai aku, itu sudah sangat menutupi sandiwara kita di depan mereka semua."
"Kamu tahu aku menyukai wanita lain."
"Silahkan saja, kamu juga tahu jika ada lelaki yang begitu menginginkan ku sekarang."
Bian menelan ludahnya, ia kembali diam, itulah Dion, teman baiknya sendiri yang ternyata menginginkan istrinya.
Jujur saja Bian tidak terima dengan hal itu, meski Bian mengaku tidak bisa menerima Zahra, tapi Bian juga tak rela melepasnya untuk Dion.
"Kamu harus ingat jika akan selalu ada pengganti untuk setiap yang hilang, entah itu barang atau apa pun, termasuk juga hati."
"Kamu akan menerimanya?"
"Tentu saja, aku tidak akan menolak orang yang dengan terus terang mengaku perduli, mengaku menginginkan, apa bisa untuk aku sia-siakan itu?"
Bian mengangguk, tentu saja tidak, sama hal dengan Bian yang tidak bisa sia-siakan rasa tertariknya pada Vanessa.
Tapi bisakah jangan Dion, perasaan Bian teramat tidak rela jika Zahra dengan lelaki itu, mungkin saja jika dengan yang lain Bian akan lebih membebaskannya.
"Sekarang kita semua sudah tahu Vanessa, tanpa harus dijelaskan mereka pasti mengerti, jadi tolong lebih berhati-hati ketika kamu sama dia."
__ADS_1
"Apa kamu ini bodoh, kamu tetap akan biarkan aku dengan wanita lain?"
"Selama kamu tidak memiliki perasaan untuk ku, silahkan saja, perjuangan ku adalah urusan ku."
Tetap saja seperti itu kalimat Zahra, apa dia lupa jika Bian bisa melakukan apa saja meski ia tidak terima.
Zahra mungkin akan tetap terluka dengan kebersamaan mereka, sebaik apa pun sikap Bian, itu tidak akan bisa menutupi ketidak sukaannya terhadap Zahra.
"Bisa kamu perlakukan aku sebagai Istri mu, terlepas dari ketidak sukaan mu terhadap ku, paling tidak jangan pernah kasar lagi."
"Aku tidak bisa."
Zahra mengangguk, jawaban pasti, dan sudah seharusnya Zahra suka dengan itu, Bian sudah terbuka dan jujur sehingga penerimaan pun harus yang terbaik.
"Aku akan tetap jadi yang aku mau, terlepas dari kamu Istri ku atau bukan."
"Ya, silahkan saja, aku tidak masalah."
Zahra tersenyum, bicaranya begitu tenang, dan itu membuat Bian berfikir sendiri, tentang mungkin keterlaluannya sikap Bian selama ini.
Zahra melakukan pernikahan dengan terpaksa, menerima sentuhan Bian dengan terpaksa, tapi Zahra tidak membenci, ia justru menjadi cinta.
"Bian, aku boleh minta satu hal?"
"Apa?"
"Peluk aku disetiap kamu mau tidur, dan juga setiap kamu bangun tidur."
Bian sedikit tertawa mendengarnya, itu sangat membuatnya malas, bagaimana bisa Zahra meminta hal seperti itu.
Untuk membiarkannya tidur di kasur yang sama pun, Bian merasa keberatan, apa lagi harus memeluknya.
"Aku tahu kalau aku tidak diperbolehkan untuk menuntut mu dalam hal apa pun, tapi kali ini hanya untuk satu permintaan saja."
"Apa tidak ada yang lain lagi, itu terlalu buruk bagi ku?"
Zahra tersenyum singkat, apa semenjijikan itu Zahra untuk Bian, tidak bisakah sedikit saja Bian menyaring kalimatnya ketika berbicara dengan Zahra.
Memang bodoh Zahra, tidak ada satu hal pun yang manis dari Bian, tapi kenapa Zahra justru menyayanginya sekarang.
"Kalau kamu tidak mau lakukan itu, biarkan aku yang melakukan itu terhadap kamu."
"Banyak tingkah sekali kamu ini, apa Oma yang menyuruh mu meminta hal konyol seperti ini?"
"Tidak, sedikit pun tidak ada suruhan dari orang lain, ini kemauan ku sendiri, biarkan aku berjuang untuk perasaan ku."
"Tapi tidak seperti itu."
"Hanya satu dari dua permintaan itu, apa aku harus memohon."
"Yaaa, terserahlah."
"Aku bisa dapatkan yang mana?"
__ADS_1
Bian diam, ia menatap Zahra tanpa celah, kedua permintaan itu membuatnya muak, dan tidak ada satu pun yang mau Bian penuhi.
Zahra tersenyum seraya mengangguk pelan, bahkan hanya permintaan seperti itu pun, begitu sulit untuk Bian iyakan.