
Inggrid membuka pintu rumah, ia keluar dengan segala kegelisahannya, sejak selesai makan tidak ada lagi ketenangan yang dirasakannya.
Inggrid begitu memikirkan Zahra, kenapa harus sampai seperti itu, padahal Zahra tidak mengabari apa pun, bukankah itu artinya Zahra baik-baik saja.
"Permisi."
Inggrid menoleh, ia mengernyit melihat kedatangan Vanessa.
"Jam berapa ini, apa kamu tidak memiliki kesibukan dipagi hari?" tanya Inggrid tanpa bisa tenang.
"Aku mau bertemu Bian."
"Masih berani kamu berkata seperti itu?"
Sepertinya Vanessa dan Bian memang cocok, mereka sama-sama tidak punya otak, otaknya sangat berfungsi dengan tidak baik.
Inggrid tak habis fikir dengan semua itu, Bian yang begitu abai pada istrinya, dan Vanessa yang tak tahu malu karena mengganggu suami wanita lain.
"Ibu, tolong biarkan saya bertemu dengan Bian."
"Meski kamu bersimpuh pun, saya tidak akan biarkan itu terjadi."
"Sebentar saja, biarkan saya melihat keadaannya."
"Dia baik-baik saja, apa kamu lupa kalau dia memiliki Istri yang begitu perduli padanya, jadi kamu tidak perlu merepotkan diri sendiri untuk memperdulikan Bian."
Vanessa diam, ingin sekali ia menerobos masuk tanpa perduli dengan wanita tua itu, tapi tidak, Vanessa harus sedikit bersikap baik.
Bukankah mereka sudah tahu dirinya, paling tidak, mungkin akan ada satu dari mereka yang mau membelanya nanti.
"Pulang kamu."
"Tidak, aku akan disini sampai aku bisa bertemu Bian."
"Cara bicara mu berubah-ubah, ketara sekali kamu sedang bersandiwara saat ini."
Vanessa kembali diam, wanita tua itu telah sadar dengan sandiwaranya, bukankah itu artinya Vanessa bisa menjadi dirinya sendiri.
"Bu, aku ...."
Kringg ....
Kalimat Vanessa terhenti karena dering ponsel Inggrid, tentu saja itu berhasil mengalihkan perhatian Inggrid dari Vanessa.
"Zahra," ucap pelan.
Inggrid seketika pergi seraya menjawab panggilannya, langkah pergi Inggrid cukup membuat Vanessa tersenyum senang.
Dengan tidak sopannya, ia memasuki rumah dan langsung menaiki tangga, pertama ia datang dulu, Zahra langsung mengantarkan dirinya ke kamar Bian.
Itu sangat langkah terbaik Zahra yang membuat Vanessa senang, sekarang ia akan dengan mudah menemui Bian.
-----
"Bawa saja dia."
"Baik, Pak."
Mereka membawa wanita itu memasuki mobil, tanpa berkata apa pun sang suami mengikutinya masuk.
Mobil rumah sakit jiwa itu datang tepat waktu, mereka telah bekerja dengan sangat sigap.
"Sudah kacau saja rumah ini, padahal masih pagi."
__ADS_1
Ia kembali memasuki rumah dan menghampiri Zahra, tidak ada daya lagi, wanita itu hanya mampu menangis dengan luka yang didapatkannya.
"Ayo kita ke Rumah Sakit, luka itu terlalu buruk untuk diobati di rumah."
"Tidak, aku akan menunggu orang rumah menjemput."
"Untuk apa, aku bisa mengantarkan mu pulang, ayo cepat darah mu masih saja keluar, kamu bisa kehabisan darah nanti."
Zahra menggeleng, ia menekan pergelangan tangannya dengan kuat, sakit sekali rasanya.
Tapi Zahra masih bersyukur karena ia masih bisa selamat, permintaannya untuk bisa kembali melihat Bian sepertinya masih bisa didapatkannya.
"Seharusnya kamu tidak perlu kesini."
"Siapa kamu?"
"Aku anak dari mereka, tapi aku hanya anak angkat, untuk apa kesini, langkah mu sangatlah salah."
Zahra menggeleng, mana Zahra tahu jika kejadiannya akan seperti itu, Zahra selalu berharap yang terbaik untuk semua hal.
Sejak awal, Zahra hanya melihat lelaki itu, tapi tidak dengan istrinya, Zahra tidak tahu jika keadaan istrinya seperti itu.
"Tidak perlu banyak bicara, ayo kita ke Rumah Sakit."
Lelaki itu menarik Zahra untuk bangkit, tapi sulit karena Zahra menahannya.
Dengan gemas ia menggendong Zahra dan membawanya keluar, tapi langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Inggrid.
"Ada apa ini?" tanya Inggrid.
Ia melihat darah dipakaian Zahra, juga luka di tangannya, terakhir ia menatap mereka bergantian.
"Kenapa seperti ini, kamu menyakitinya, berani sekali kamu."
"Tidak perlu mengajari saya."
Inggrid berbalik dan membuka pintu mobilnya, Zahra lantas di dudukan di depan sana.
"Aku akan mengikuti kalian di belakang."
Inggrid tak perduli, ia bergegas masuk dan melajukan mobilnya, pantas saja perasaan Inggrid sangat kacau tadi, karena ternyata Zahra terluka.
Inggrid berulang kali melirik Zahra, tangisnya tak kunjung berhenti, ingin sekali Inggrid bertanya tapi itu sangat tidak tepat.
"Sabar sebentar, ada Rumah Sakit yang dekat disini, kamu bisa langsung diobati."
Tak ada jawaban, Zahra hanya setia dengan tangisnya saja, rasa sakitnya sudah cukup menyita tenaga.
Beberapa waktu terlewati, mereka telah sampai di rumah sakit, Zahra memang langsung mendapatkan pertolongan medis.
"Apa kita bisa bicara?"
Inggrid menoleh, siapa lelaki itu, kenapa bisa bersama Zahra, dan sepertinya mereka memang harus bicara.
"Silahkan duduk," ucap Inggrid.
"Terimakasih, sebelumnya, aku Damar."
"Saya Inggrid, Nenek dari Ayra."
"Namanya Ayra?"
Inggrid mengangguk, lelaki itu juga turut mengangguk, ia sedih dengan apa yang terjadi pada wanita itu.
__ADS_1
"Untuk apa dia datang ke rumah?"
"Tunggu dulu, siapa kamu, kenapa bisa bersama Ayra?"
"Aku anak dari Pak Yosep, tapi aku hanya anak angkat."
"Yosep?"
"Iya, Yosep pemilik rumah yang Ayra datangi tadi."
Inggrid mengangguk, jadi lelaki yang begitu menjengkelkan itu bernama Yosep, baguslah Inggrid jadi tahu sekarang.
Inggrid lantas bertanya tentang kejadian yang menimpa Zahra, sampai wanita itu terluka parah.
Tanpa ragu, Damar juga menceritakan semuanya, meski hanya sedikit saja karena memang ia datang terlambat tadi.
"Semua gara-gara kecelakaan itu?"
"Memang benar, Bagas adalah anak kandung mereka satu-satunya sehingga kepergiannya begitu berat dirasakan."
"Lalu bagaimana wanita itu sekarang?"
"Tentu saja sudah dibawa ke Rumah Sakit.Jiwa, dengan begitu ia tidak akan bisa menyakiti siapa pun lagi."
"Iya, itu keputusan yang paling benar, kalau seperti itu ceritanya, saya berhutang budi padamu, terimakasih banyak sudah mau membantu Cucu saya."
Damar tersenyum seraya mengangguk, lagi pula sudah seperti itu keharusannya karena Damar memang orang waras.
Perbincangan mereka harus terhenti saat Zahra keluar bersama dengan dokter, mereka bangkit bersamaan.
"Bagaimana, kamu baik-baik saja, apa ada luka lainnya?" tanya Damar.
"Tidak ada, hanya luka di tangan saja, tapi itu cukup dalam dan besar, saya sudah menjahitnya tadi, jadi tolong hati-hati."
Keduanya mengangguk bersamaan, Inggrid melihat pakaian Zahra yang banyak darah, kalau ia pulang dengan keadaan seperti itu mungkin saja Bian akan tersentuh.
Inggrid mengangguk, itu benar, sebaiknya mereka segera pulang saja, agar Zahra juga bisa istirahat.
"Kita bisa pulang sekarang?" tanya Inggrid.
"Silahkan saja, saya sudah berikan resep obatnya tadi, itu bisa membantu menghilangkan rasa sakit nantinya."
"Baiklah, terimakasih banyak."
Dokter itu mengangguk, dan berlalu meninggalkan mereka.
Inggrid melirik Damar, lelaki itu terlihat begitu memperhatikan Zahra, mungkin saja ia menyesal karena terlambat datang sehingga Zahra lebih dulu terluka.
"Damar, kami harus pamit, kamu mau mampir ke rumah?" tanya Inggrid.
"Apa?"
"Zahra harus istirahat, jadi kami akan pulang, mungkin saja kamu mau mampir, saya ada jika sekedar minuman di rumah."
Damar tersenyum, ia kembali melirik Zahra, mungkin saja Damar memang bisa ke rumah mereka, agar nantinya Damar bisa dengan mudah mengetahui perkembangan pengobatan Zahra.
"Bagaimana?"
"Kalau memang boleh, aku mau mampir sebentar saja."
"Tentu saja boleh, mari kita pergi."
Damar mengangguk, mereka lantas pergi meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1