
Zahra menuruni tangga rumahnya dengan malas, penampilannya sudah rapi, ia terlihat cantik tapi raut wajahnya tetap saja murung.
"Zahra, kamu mau kemana?" tanya Inggrid.
"Aku harus ketemu Marvel."
"Buat apa?"
"Aku mau berikan semua padanya lagi, aku tidak mau meneruskan kegiatan di Kantor."
Inggrid mengernyit, ia seketika bangkit dari duduknya, keputusan macam apa lagi yang diambil Zahra.
Ada apa dengan wanita itu sebenarnya, kenapa Inggrid pun seperti akan diabaikannya juga.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Apa saja, aku bisa cari kerja di tempat lain, itu sepertinya akan lebih menyenangkan."
"Kamu masih merasa terbebani karena perintah Oma?"
Zahra menggeleng, ia duduk disusul Inggrid yang kembali duduk.
Semua memang hanya beban baginya, Zahra ingin bebas sekarang, menjadi dirinya sendiri yang masa bodoh dengan segala hal.
"Zahra, kamu jangan seperti ini, siapa yang akan membantu Oma kalau kamu seperti ini?"
"Marvel bisa lebih dipercaya, aku tidak mau dipaksa lagi untuk apa pun."
"Zahra, perihal Bian, Oma tidak masalah dengan keputusan yang kamu ambil, tapi kali ini, tolong jangan buang Oma juga."
Zahra diam, sejak awal Zahra sudah begitu menolak semuanya, tapi Inggrid yang keras untuk tetap memaksanya.
Zahra tidak mau lagi, Zahra akan mengikuti apa yang jadi keinginan dan pemikirannya saja, tidak ada lagi paksaan.
"Zahra."
"Oma, aku mohon."
Inggrid balik diam, sepertinya semakin dipaksa, Zahra akan semakin berontak.
Lebih baik Inggrid iyakan saja dulu untuk saat ini, mungkin memang fikiran wanita itu masih tidak bisa dikendalikan untuk saat ini.
Nur terlihat sibuk mengurusi halaman rumah, ia selalu senang saat harus menyiram tanaman di saja.
"Bibi."
Nur menoleh, ia mengernyit melihat Vanessa yang kembali hadir.
"Bian ada?"
"Tidak ada."
"Ayra ada?"
"Ada."
"Aku mau bertemu dia, kalau memang Bian tidak ada."
Nur mengangguk, ia lantas pamit untuk memanggilkan Zahra, meski sebenarnya ia malas menuruti permintaan wanita itu.
"Permisi Bu, Non Ayra, di depan ada Non Vanessa."
Keduanya saling lirik, Zahra sedikit tersenyum setelahnya, ada apa dengan wanita itu, kenapa masih saja berani mendatangi rumahnya.
"Suruh pergi dia, tidak ada yang mengundangnya."
__ADS_1
"Baik, Bu."
"Tidak perlu, biar aku saja yang temui dia."
"Zahra."
Zahra menggeleng, ia lantas bangkit dan berlalu meninggalkan mereka, sepertinya memang ada yang harus dibicarakannya.
Zahra keluar dan menemui Vanessa di sana, keduanya terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya Zahra tersenyum menyapanya.
"Ayra, aku ...."
"Kamu tidak akan lagi menemukan Bian disini, jadi jangan pernah datang lagi kesini untuk mencari Bian."
"Apa maksudnya, bukankah ini rumahnya?"
"Bian sudah memiliki rumah baru sekarang."
"Dimana alamatnya."
"Sel tahanan terdekat."
Vanessa mengernyit, datar sekali ia berbicara, apa wanita itu sedang bercanda dengannya, tapi kenapa seperti itu.
Vanessa menggeleng, tidak, jangan pernah anggap Vanessa bodoh, Bian pasti ada di dalam, dan Zahra hanya sedang berusaha menyembunyikannya saat ini.
"Bian," teriak Vanessa.
Zahra diam menatapnya tanpa ekspresi berarti, apa wanita di hadapannya itu tuli atau terlalu bodoh untuk bisa mengerti ucapannya tadi.
"Bian, aku disini, kamu harus keluar, Bian aku tunggu disini," teriaknya lagi.
"Sampai habis suara mu, lelaki itu tidak akan datang menemui mu, kalian akan bisa bertemu jika kamu yang mendatanginya."
"Diam kamu."
"Mana Bian?"
"Kenapa dengan telinga mu Vanessa, aku sudah memberi tahu kamu sejak tadi, dan sekarang kamu masih bertanya?"
"Omong kosong."
"Berbicara dengan mu memang omong kosong, jadi silahkan pergi, temui saja lelaki mu itu di sel, dia pasti kesepian dan sangat membutuhkan mu sekarang."
Zahra berlalu begitu saja, ia tak perduli meski Vanessa berulang kali memanggilnya, Zahra hanya semakin menghancurkan perasaannya jika terus membahas lelaki itu.
Zahra bisa merubah fikirannya jika harus terus mengingat lelaki itu, dan Zahra tidak mau itu terjadi untuk saat ini.
Kania rupanya sedang mengunjungi Bian di tempat barunya, wanita itu tak bisa berhenti menangis saat bersama Bian.
Sedikit pun Kania tak pernah berfikir akan melihat putranya masuk sel tahanan, apa lagi semua adalah ulah istrinya sendiri.
"Tidak perlu seperti ini, aku tidak apa-apa."
"Kenapa bisa terjadi hal seperti ini, kenapa wanita itu ceroboh sekali."
Bian menggeleng, jujur Bian marah dengan Zahra, tapi sepertinya itu memang nasib yang harus diterimanya saat ini.
Bian tidak bisa apa-apa, dan lagi Zahra belum menemuinya sampai sekarang, atau mungkin wanita itu memang tidak akan pernah menemuinya lagi.
"Mama, pulanglah dan istirahat, jangan terus menerus menangis seperti ini."
"Kenapa tidak bisa sekali membebaskan mu dari sini, Papa kamu sudah berani bayar untuk kebebasan kamu."
__ADS_1
"Hanya Zahra yang bisa, jadi jangan lakukan apa pun karena semua hanya akan sia-sia."
"Wanita itu memang tidak tahu diri."
Bian diam, bisakah untuk Bian masih menyalahkan Zahra, bukankah sudah jelas jika Bian ada ditahanan sekarang karena kesalahannya sendiri.
Zahra pasti terpaksa, dan sekarang adalah waktunya Bian untuk bisa menerima apa yang terjadi pada dirinya.
"Mama akan temui wanita itu, Mama akan buat dia mencabut tuntutannya."
"Jangan lakukan, biarkan saja Zahra dengan fikirannya sendiri sekarang, aku sudah katakan kalau aku tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa bagaimana, tidak seharusnya kamu ada disini, harusnya masalah kalian itu bisa diselesaikan di rumah bukan seperti ini."
Bian mengangguk perlahan, itu bisa saja jika memang Bian baru sekali menyakiti Zahra, tapi kali ini memang berbeda.
Tidak ada apa pun yang bisa dilakukannya, Bian hanya harus terima dan menjalaninya, meski perasaannya begitu marah terhadap Zahra.
"Jadi benar, ada apa ini sebenarnya?"
Suara Vanessa menarik perhatian keduanya, Kania tampak bangkit dan menatap Vanessa dengan kesal.
"Berani kamu datang kesini?"
"Tante, aku hanya ...."
"Ini semua terjadi gara-gara kamu, anak saya sekarang disini, semua gara-gara kamu."
Vanessa mengangkat kedua alisnya, ia baru saja datang tapi kenapa sudah langsung disalahkan seperti itu.
Kania menggeleng, ia berjalan dan mendorong Vanessa agar pergi dari hadapannya.
"Mama," panggil Bian.
"Pergi kamu, jangan pernah berani mengganggu anak saya lagi, atau kamu akan tahu akibatnya."
"Akibat apa?"
Kania diam, tatapannya sangat buruk terhadap Vanessa, wanita itu masih saja berani menjawabnya.
Vanessa tersenyum acuh, ia berpaling sesaat menghindari tatapan Kania, jika semua telah kacau lalu untuk apa Vanessa berhenti.
"Pergi saya bilang."
"Kenapa harus mengusir ku seperti itu, Tante, seharusnya Tante mengerti jika Ayra bukan yang terbaik untuk anak Tante, bukankah sekarang terbukti, apa yang dilakukan menantu Tante itu."
"Diam kamu," ucap Bian.
"Dan kamu, aku sudah katakan padamu untuk meninggalkan dia sejak dulu, tapi kamu tidak memperdulikan itu, dan lihat hasilnya sekarang."
"Vanessa diam," ucap Kania.
"Kenapa harus aku yang diam, sebaiknya kalian yang diam dan dengarkan aku baik-baik saat ini."
Kania diam, menjengkelkan sekali wanita itu, Kania memang tidak suka dengan Zahra, tapi Kania lebih tidak suka dengan Vanessa.
Tidak seharusnya Bian menyukai wanita seperti itu, tidak tahu malu dan begitu tidak punya harga diri.
"Sebaiknya kamu tinggalkan dia, kamu ceraikan dia, dengan begitu dia akan membebaskan mu, kalian bukan Suami Istri lagi jadi Ayra tidak ada hak menghukum mu seperti ini."
Bian menyipitkan matanya, apa bisa seperti itu, bukankah sama saja, Bian akan bebas hanya kalau Zahra menarik tuntutannya, bukan dengan cara bercerai.
"Wanita ini memang bodoh, perkataannya sangat tidak masuk akal, pergi kamu sekarang."
"Santai dong Tante, aku tadi habis dari rumah Bian, aku bertemu dengan Istrinya itu, dan apa Tante tahu, dia begitu bangga karena sudah berhasil menghukum Bian saat ini, apa Tante mau jadi lelucon untuk hidupnya?"
__ADS_1
Kania diam, apa yang dilakukannya sampai harus datang lagi ke rumah, Vanessa sudah melewati batasannya.
Bian menunduk sesaat, tidak ada yang bisa difikirkannya saat ini, Bian tidak tahu harus seperti apa untuk bisa menyelamatkan dirinya sendiri.