Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Apa Benar


__ADS_3

Dion membuka pintu rumahnya yang diketuk berkali-kali, Dion mengernyit saat melihat Sintia yang ternyata datang saat ini.


"Apa Bian disini?"


"Bian?"


"Ya iya, Bian."


"Gak ada, Bian gak ada disini."


"Jangan bohong kamu."


"Untuk apa aku bohong?"


Sintia menggeleng dan menerobos masuk ke rumah Dion, Sintia mencari Bian di dalam sana.


"Apa-apaan ini, jangan kurang ajar kamu di rumah aku."


Sintia tak peduli dengan itu, tujuannya saat ini adalah menemukan Bian, bukan untuk berbicara dengan Dion.


"Sintia," panggil Dion seraya menarik Sintia.


"Apa-apaan kamu, tidak sopan."


"Makanya, katakan dimana Bian?"


"Mana aku tahu, ini rumah aku bukan rumah Bian."


"Tapi Bian pasti disini, dia tidak ada di rumahnya."


Dion diam, berarti Bian dan Zahra masih pergi bersama, tapi kemana mereka, padahal Bian sudah membawa Zahra pergi sejak tadi.


"Diam kan, mana Bian, jangan kamu sembunyikan dia."


"Apaan sih, jangan menuduh seperti itu, kamu fikir kamu paling benar."


"Mana Bian, aku tidak meminta kamu untuk mendebat ku sekarang."


"Bian gak ada disini, dari tadi aku sudah bilang itu."


"Ya kemana dia?"


"Ya mana aku tahu, yang jelas dia pergi dengan calon istrinya."


Sintia mengernyit dan diam menatap Dion, jadi Dion sudah tahu tentang sosok wanita itu sekarang.


"Dari mana kamu tahu?"


Dion berpaling sesaat, sepertinya Dion telah salah bicara pada Sintia.


"Kamu kenal wanita itu?"


"Gak, aku gak kenal."


"Jangan bohong."


"Aku gak kenal, kenapa maksa terus?"


Sintia kembali diam, jelas terlihat jika Dion sedang berbohong saat ini, Dion pasti tahu tentang Ayra dan Bian.


"Apa, sudahlah sana pulang."


Dion sedikit mendorong Sintia agar pergi dari hadapannya.

__ADS_1


"Kamu tahu kan tentang wanita itu, siapa dia, jelaskan sama aku siapa dia, dan bagaimana bisa bertemu dengan Bian, kenapa bisa mendadak Bian ingin menikahinya?"


Dion kembali berpaling, apa yang harus dikatakannya, tidak mungkin jika Dion mengatakan semua tentang Zahra.


"Kamu gak kasihan sama aku, Dion."


Dion menoleh dan menatap Sintia yang kembali mendekat padanya.


"Kamu gak kasihan sama aku, aku sudah dipermalukan oleh wanita itu, keluarga aku sudah dipermalukan oleh mereka semua."


Dion menunduk sesaat, kenapa Sintia jadi mengeluh padanya, itu sama sekali bukan urusan Dion.


"Kamu tahu kalau aku begitu menyayangi Bian, apa tidak bisa kamu bantu aku untuk mendapatkan Bian?"


"Itu bukan urusan aku, Sin."


"Kamu bisa bicara seperti itu, karena kamu tidak memiliki keperdulian terhadap orang lain."


"Tapi itu memang urusan kamu sama Bian, bukan sama aku."


"Tapi kamu tahu kan siapa wanita itu?"


"Aku gak tahu."


"Bohong."


Dion mengusap wajahnya, kenapa Sintia malah mendebatnya sekarang, Dion tidak mungkin katakan apa pun tentang Zahra.


"Siapa dia, siapa wanita itu?"


Sintia meraih kedua tangan Dion, selama ini Dion memang kerap menjadi saksi pertengkaran Bian dan Sintia.


Seharunya Dion tahu seperti apa perasaan Sintia terhadap Bian, dan keinginan Sintia adalah Dion bisa membantunya kali ini.


"Tolong, Dion."


Dion mengakui itu, dan sepertinya Dion memang menyukai wanita itu, Dion menggeleng dan melepaskan genggaman Sintia.


Tidak boleh seperti itu, Dion tidak boleh membuat keadaan jadi semakin sulit, Dion harus mengakui jika itu hanya bentuk kagumnya saja pada Zahra.


"Siapa, dia pacar kamu kan, kenapa kamu biarkan dia sama Bian?"


"Apaan sih, gak usah kemana-mana, kamu jangan sok tahu."


Sintia menggeleng, kalau Dion tidak bisa jelaskan apa pun juga, maka benar semua yang dikatakan Sintia.


"Kamu akan menyesal telah biarkan dia sama Bian."


Tak ada jawaban, Dion tidak akan menyesal, karena Zahra memang bukan miliknya, lagi pula memang Bian yang pertama kali bertemu dengan wanita itu.


"Kamu pasti menyesal, Dion."


"Aku gak akan menyesal, aku gak ada apa-apa sama wanita itu, jadi apa yang harus aku sesali."


Sintia kembali menggeleng dan berlalu begitu saja, mungkin mereka memang sedang kompak membohongi Sintia sekarang.


Biarkan saja, Sintia akan pastikan jika Dion akan menyesal telah mengizinkan Bian bersama wanita itu.


----


"Sudahlah, ayo pulang," ucap Kenia.


Keadaan di rumah Inggrid semakin tidak benar karena perdebatan Bian dan Kemal, mereka berdua keras dengan pemikirannya masing-masing, dan Zahra memang jadi yang di salahkan di sana.

__ADS_1


"Ayo, Pah."


"Mamih, Mamih harus fikirkan ulang untuk menikahkan mereka."


Inggrid tak menjawab, sejak tadi kalimat Kemal terus saja seperti itu, dan sejak tadi juga Inggrid tidak melihat ada yang salah dari sosok Ayra.


Apa yang membuat Kemal begitu tidak menyukai wanita itu, memangnya seperti apa Sintia yang dimaksudnya sejak tadi.


"Mamih dengar aku?"


"Sudahlah, sudah cukup, biar Mamih fikirkan sendiri semuanya, kalian lebih baik pulang."


Kemal melirik Bian dengan segenap amarahnya, Bian telah sangat membantahnya kali ini dan Kemal tidak bisa menerimanya.


"Sudah Pah, ayo pulang."


Kania melirik Kemal pergi dari sana, biarkan saja Bian yang akan meneruskan perbincangan mereka.


Inggrid menggeleng dan memijat keningnya, kenapa pertemuan mereka jadi seperti itu, padahal Inggrid sangat menunggu kedatangan Bian dan calon istrinya.


"Oma, Bian minta maaf."


"Tidak masalah, sudahlah, Oma mau ke kamar dulu."


"Kalau gitu, Bian juga pulang saja."


"Kalian kembali besok, Oma mau bicara sama kalian."


"Baik, Oma."


Bian bangkit dan mengajak Zahra untuk segera pergi, mereka salam pada Inggrid di sana dan berlalu meninggalkannya.


"Kamu kenapa sih, harus mendebat Papah kamu seperti itu?"


"Kamu kan dengar sendiri tadi apa yang Papah bilang."


"Ya tapi biarkan saja, gak perlu didebat, jadi kacau kan."


"Kenapa memangnya?"


"Ya jadinya sulit, gimana kalau kita justru gak jadi menikah?"


"Ih ...."


Bian menatap Zahra dengan senyuman penuh di bibirnya, Zahra mengernyit mendapatkan tatapan itu.


"Kamu sedih kalau gak jadi nikah sama aku, ingin sekali nikah sama aku?"


Zahra berpaling, kenapa Bian jadi seperti itu, menyebalkan sekali.


"Sini lihat aku."


Bian menangkup pipi Zahra dan menghadapkannya lagi.


"Mau banget nikah sama aku, kamu sudah suka kan sama aku?"


Zahra mengangkat kedua alisnya, dan menepis tangan Bian.


"Jangan besar kepala," ucap Zahra seraya berlalu lebih dulu.


Bian terdengar tertawa melihat Zahra yang seketika salah tingkah, apa semudah itu wanita untuk bisa menyukainya.


"Apa yang sudah aku lakukan, kenapa bisa mudah sekali Zahra menyukai ku, itu jangan terjadi."

__ADS_1


Bian tersenyum dan menggeleng, Bian lantas menyusul Zahra memasuki mobil.


Bian kembali tertawa saat Zahra menghindari tatapannya, baiklah, Bian yakin jika Zahra memang benar menyukainya.


__ADS_2