Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sudah Pasti


__ADS_3

"Terimakasih, Pak," ucap Marvel.


Mereka berjabat tangan untuk mengakhiri pertemuan kali ini, beberapa kata terlontar sampai akhirnya mereka berpisah.


"Bagaimana?"


Marvel menoleh, ia tersenyum seraya berpaling, apanya yang bagaimana, bukankah semua sudah jelas jika keuntungan ada dipihak mereka.


"Aku akan segera menghubungi Bu Inggrid."


"Sepertinya itu sudah seharusnya."


Marvel mengangguk, ia kembali duduk dan berkutat dengan ponselnya, berulang kali mencoba tapi tak mendapat jawaban apa pun.


Marvel tidak mengerti kenapa mereka terkesan abai dengan perusahaan, dan sampai sekarang Zahra juga belum kembali ke kantor.


"Kenapa?"


"Tidak ada jawaban, mungkin nanti beliau akan menghubungi balik."


"Baiklah."


"Ya sudah, kembali kepekerjaan saja."


Mereka turut berpisah meninggalkan ruangan meeting, benar-benar membahagiakan karena kembali mendapatkan kerjasama baru.


Marvel senang sekali karena ia berhasil menggaet perusahaan besar dalam bisnisnya kali ini, sayang sekali karena acara tahunannya harus ditunda, sehingga Marvel jadi terlambat mendapatkan bonus besarnya.


"Bagaimana ini, senang sekali rasanya, nasib baik memang Zahra tidak masuk, jadi aku lagi yang akan dapat pujian."


Marvel menggeleng, lelaki itu memang selalu seperti itu, ia selalu mengharapkan pujian atas pekerjaannya.


"Tapi kemana mereka, tidak ada satu pun yang bertanya tentang perusahaan beberapa hari ini."


Marvel berdecak, kenapa ia harus memikirkan itu, sekarang yang terpenting ia bisa fokus bekerja untuk bisa mendapatkan nilai lebih bagus lagi.


"Siapa tahu saja diberi kepercayaan untuk cabang baru."


Marvel sedikit tertawa karena ucapannya sendiri, bagaimana bisa ia berfikir sejauh itu, tapi sepertinya bukan hal yang berlebihan karena mengingat Marvel sudah berjuang banyak untuk perusahaan.


 -----


"Permisi,"


"Ya, silahkan masuk."


Kemal mengangguk saat karyawannya terlihat diambang pintu sana.


"Ada apa?"


"Maaf Pak, saya mau berikan surat resign saya."


Kemal mengernyit, apa lagi ini, bagaimana bisa banyak karyawannya yang meminta berhenti bekerja.


"Ini, Pak."

__ADS_1


"Apa maksud mu, kenapa kamu seperti ini, apa karena perusahaan sedang dibawah, sehingga kamu memilih pergi?"


"Tidak Pak, tapi keluarga saya meminta agar saya pulang, saya harus meneruskan usaha kecil keluar saya disana"


Kemal berpaling, itu pasti hanya alasan saja, bukankah mereka mengajukan pengunduran diri, tidak ada satu pun yang mengaku takut rugi.


"Fikirkan lagi, ini bisa dibicarakan baik-baik."


"Tidak Pak, saya sudah tidak bisa lagi membuat keluarga saya kerepotan disana."


"Ya terserahlah, simpan saja dan kembali pergi."


"Permisi, Pak."


Setelah menyimpan berkasnya, ia lantas keluar dari ruangan, semakin buruk saja perusahaan itu.


Kemal sudah pusing memikirkan semuanya, setelah penghasilan menurun karena semua investor yang mundur, sekarang harus ditambah dengan karyawannya yang mulai mengundurkan diri.


"Bagus sekali mereka, disaat senang mereka begitu setia, tapi saat susah seperti ini, mereka malah sibuk berlomba mengundurkan diri."


Kemal tersenyum singkat, memang rusak sudah kehidupannya, keluarga dan perusahaan sudah kacau semuanya.


Perjuangan Kemal selama ini akan berakhir sia-sia, dan bagaimana caranya untuk Kemal bisa menerim semua itu.


"Wanita itu memang bawa sial, kenapa bisa Bian membawa kesialan dalam rumahnya sendiri."


Kemal mengusap wajahnya, semakin tidak mungkin saja untuk Kemal mau menerima Zahra, semakin hari wanita itu semakin menjengkelkan saja.


"Papa."


"Kamu ngapain kesini, kamu harusnya temui Bian."


"Hanya mampir sebentar, tadi Mama sempat beli buah, jadi Mama bawa kesini sebagian."


Kemal mengangguk saja, terserah, Kemal tidak mau banyak bicara saat ini.


Kania menatap suaminya, kekesalan begitu jelas terlihat di wajahnya, ada apa lagi, apa lelaki itu masih saja memikirkan emosinya terhadap Zahra.


"Kenapa kamu masih disini, buahnya sudah sampai kan?"


"Papa kenapa, ada masalah apa lagi, kenapa seperti itu?"


"Diamlah, jangan banyak bertanya."


Kania mengangguk, ia melihat sekitar, semua tampak baik-baik saja, lalu kenapa Kemal seperti itu.


Kania melihat map di depan Kemal, ia meraihnya dan membaca isinya, Kania kembali mengangguk, pasti karena surat itu Kemal terlihat kesal.


"Hilang semua," ucap Kemal.


Kania menyimpannya kembali, tentu saja ia tahu tentang itu, dan sebelumnya Kemal sudah katakan tentang karyawan yang mengundurkan diri.


"Harus bagaimana lagi, bukankah kita hanya harus menerimanya saja?"


"Benarkah seperti itu, dan sekarang kamu sudah siap untuk hidup susah?"

__ADS_1


"Mama cuma mau Bian bebas, tidak ada yang bisa Mama fikirkan selain kebebasan Bian, maaf tapi perusahaan memang tidak begitu Mama perdulikan."


Kemal mengernyit, apa telinganya tidak salah mendengar, kenapa bisa Kania berkata seperti itu.


Ini pasti kesalahan, mungkin saja Kania memang sedang kacau, sehingga ia tidak bisa berfikir dengan baik tentang ucapannya sendiri.


"Mama akan temui Zahra, Mama tidak perduli meski harus memohon padanya, yang jelas Mama mau Bian bebas."


"Mana bisa itu terjadi, Papa sudah katakan kalau wanita itu tidak perduli lagi, dia hanya akan semakin besar kepala jika kamu sampai memohon."


"Tidak, Zahra bukan orang seperti itu, cukup kebencian Papa terhadapnya, sekarang hidup kita sedang susah jadi jangan membuat orang lain ikut susah."


"Hey, apa maksud ucapan mu itu?"


Kemal bangkit dari duduknya, Kania tampak merapatkan bibirnya, sepertinya memang kedatangannya di waktu yang salah.


Dan lagi, pembahasannya juga salah, tapi biarlah karena apa yang Kania katakan adalah yang sebenarnya.


"Tidak bisakah kamu pergi saja sekarang?"


"Tentu saja bisa, permisi."


Kania berlalu meninggalkan ruangan, keadaan akan semakin buruk jika Kania terus ada di sana.


Brakk ....


Kemal memukul mejanya kasar, ia membanting semua surat pengunduran diri itu, memang sangat menjengkelkan mereka semua.


"Kania juga sudah berbalik arah, bagus sekali wanita itu akan membela menantunya mulai sekarang."


Kemal tersenyum singkat, tidak masalah meski Kemal harus berdiri sendiri, selagi ia bisa ia akan tetap berusaha.


Bahkan meski sekarang semua sangat menekannya, tapi Kemal masih enggan memohon pada Inggrid atau pun Zahra.


Kringg .....


Kania merogoh tasnya dan mengambil ponselnya, ada panggilan dari Inggrid.


"Iya Mami, sebentar lagi aku sampai sana."


Kania memasuki taxi dan segera pergi menuju rumah sakit, sudah sejak tadi Inggrid menunggunya karena ingin ikut menemui Bian.


"Iya, sebantar lagi, aku barusan dari Kantor dulu, dan sekarang sudah jalan lagi."


Sesaat terdiam, sambungan terputus, Inggrid menutupnya dengan tidak sabar.


Kania menghembuskan nafasnya pasrah, akan seperti apa setelah ini Kania tidak bisa menerkanya.


Bagaimana juga keadaan Zahra sekarang, Kania belum bertemu lagi dengan wanita itu.


"Semoga saja dia sudah membaik, dengan begitu aku bisa bicara banyak dengannya."


Kania mengangguk penuh harap, ia tidak bisa terus menerus diam membiarkan Bian kesepian di sel tahanan.


Mereka harus kembali berkumpul agar bisa kembali berbahagia, jadi Kania akan lakukan apa pun untuk bisa membebaskan Bian.

__ADS_1


Bahkan meski harus merendahkan harga dirinya sendiri, Kania yakin Zahra tidak akan sejahat itu padanya.


__ADS_2