
"Jadi seperti ini dirimu yang sebenarnya?"
Langkah Dion terhenti karena suara Bian, Dion menoleh dan terdiam menerima tatapan kekesalan dari Bian.
"Jadi benar, wanita itu kekasih mu sebelum ini semua terjadi?"
"Dan kamu percaya dengan semua itu, siapa kita selama ini?"
"Tidak perlu mempersulit pembicaraan."
"Kalau memang seperti itu, biarkan aku pergi, dan kamu ikuti saja seperti apa pemikiran kamu."
Bian balik diam, itu artinya Dion membenarkan pertanyaannya, bagus sekali, jadi mereka memang membohongi Bian.
"Tidak perlu menatap ku seperti itu, tidak akan ada gunanya, kamu hanya akan semakin berfikir buruk tentang ku."
"Benarkah, lalu aku harus seperti apa melihat mu?"
Dion menggeleng, ia berlalu meninggalkan Bian begitu saja, percuma banyak bicara dengannya, tidak akan ada habisnya.
"Dion, pernikahan aku dan dia memang terpaksa, kami tidak memiliki perasaan satu sama lain, tapi ingat, keadaan ini tak lantas bisa membuat mu jadi pengkhianat."
Dion kembali menghentikan langkahnya, apa benar pengkhianat, mengertikah Bian tentang kata pengkhianat.
"Kamu tidak akan bisa kembali dengan Zahra, selama dia bersama ku."
Dion berbalik, ia tersenyum dengan tenangnya seraya menatap Bian.
"Jika kamu bertanya, aku ada hubungan atau tidak dengan Zahra sebelum hari ini, jawabannya adalah tidak, tapi jika kamu bertanya aku menyukai Zahra atau tidak, jawabannya adalah benar, silahkan saja kamu tahan dia, semakin kamu egois padanya, semakin mudah juga untuk aku mendapatkannya."
"Jangan kurang ajar kamu."
Dion kembali tersenyum, memang aneh lelaki itu, dia tidak menginginkan wanita itu, tapi dia juga tak rela melepaskan wanita itu, apa Bian telah menjadi seorang yang munafik sekarang.
"Cukup, Zahra akan menentukan semuanya, hidupnya adalah tanggung jawabnya, dan hasil akhirnya tetap ada pada dirinya."
Dion kembali melengkah, kali ini ia keluar dari rumah sakit tersebut, Dion sudah mengatakan kebenarannya, Bian tidak bisa lagi berkata tentang hal yang akan menuduhnya.
"Berengsek, kurang ajar sekali mulutnya itu, tidak tahu malu."
"Kamu benar."
Bian menoleh, ia mengernyit melihat kedatangan Sintia, untuk apa lagi wanita itu datang, dia sama saja tidak tahu malu.
"Sekarang, semua mulai jelas terbuka, sayangnya, semua sudah terlambat, kamu sudah menikahi wanita itu, dan kamu harus menerima jika ada perselingkuhan di belakang kamu antara mereka berdua."
"Diam kamu."
__ADS_1
"Ups ...."
Sintia menutup mulutnya sekilas, ia sedikit tertawa seraya mengusap pudak Bian.
"Kamu percayakan hati kamu pada wanita itu, tapi ternyata dia mempermainkan kamu, bagaimana rasanya, kamu sudah merasakan apa yang aku rasakan kemarin."
"Aku bilang diam."
"Baiklah, tidak masalah, aku akan diam, tapi kamu harus ingat, aku akan tetap kembali dan kembali lagi sampai aku bisa memisahkan kalian berdua."
Bian menggeleng, berisik sekali wanita itu, apa Bian harus menendangnya agar dia bisa segera menghilang dari hadapannya.
"Sudah selesai, silahkan pergi."
"Tidak, aku ingin menjenguk Istrimu yang sedang sakit, dimana dia, apa dia di ruangan itu?"
Bian melirik pintu sekilas, tidak ada urusannya Sintia masuk kesana, dia hanya akan membuat suasana semakin rusak saja.
"Kenapa, kamu takut aku mengganggunya, tapi kamu tidak takut kalau Dion yang mengganggunya, aneh sekali kamu ini."
"Sampai kapan kamu akan terus berbicara seperti itu, apa kamu tidak malu, kamu memang sama saja dengan Dion, tidak tahu malu."
Sintia tersenyum seraya mengangguk, tak masalah semua perkataan Bian saat ini, Sintia akan menerimanya.
"Pergi sekarang, atau aku harus panggil security untuk mengusir mu dari sini?"
"Oh tidak, itu sangat tidak perlu, tenang saja aku akan segera pergi, tapi aku pergi untuk kembali, dan aku akan selalu mengatakan ini sampai kalian berpisah."
"Kenapa semua jadi menjengkelkan seperti ini."
Bian mengacak rambutnya asal, ingin sekali Bian memukul mereka berdua, jika saja pukulan itu bisa membuat mereka diam dan tak mengusiknya lagi.
"Apa wanita itu sudah selesai makan sekarang."
Bian berbalik dan kembali memasuki ruangan Zahra, makannya memang telah selesai, wanita itu tampak kembali berbaring.
"Zahra," panggil Bian seraya mendekat.
Zahra menoleh tanpa berniat untuk menjawabnya, Bian duduk di sisinya, ia tersenyum meski ternyata tak mendapatkan balasan untuk senyumannya itu.
"Kamu pesan apa tadi, kenapa tidak bilang sama aku kalau kamu mau itu?"
"Tidak perlu repot-repot."
"Kamu merepotkan orang lain Zahra, kenapa tidak minta bantuan suami kamu saja?"
"Suami, apa kamu benar Suami ku?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Apa menurut mu?"
"Zahra, sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi, harus berapa kali aku minta maaf, aku katakan sama kamu, lakukan saja apa yang memang bisa membuat mu memaafkan aku."
"Tinggalkan aku, aku tidak mau pernikahan ini."
"Mana bisa seperti itu."
"Kalau begitu, tidak perlu banyak bicara padaku, kita hanya akan bicara jika ada keluarga kamu saja."
Bian diam, mungkin itu lebih baik, terserah saja yang penting Zahra tetap ada bersamanya.
"Aku mau pulang."
"Kamu belum boleh pulang, tunggu sampai sehat."
"Aku mau kerja setelah ini."
Bian berdecak, permintaan macam apa itu, mana bisa Zahra bekerja, apa kata Inggrid nanti kalau Zahra sampai bekerja.
"Zahra, kamu jangan meminta hal-hal yang mustahil untuk aku iyakan."
"Lalu aku harus minta apa, apa hak ku disini sebagai Istri kamu?"
"Ya apa saja, kamu minta jalan-jalan, makan enak, liburan kemana, belanja-belaja, kan banyak."
"Hal itu bisa aku lakukan tanpa harus menikah sama kamu."
Keduanya diam, Zahra kembali memejamkan matanya, sabar, Bian harus sabar menghadapi bocah itu, Bian yang memaksakan pernikahan itu, jadi Bian harus sabar agar bisa mempertahankan Zahra.
Ditengah perdebatan Bian dan Zahra, rupanya Dion dan Sintia juga tak kalah kesalnya, Sintia lagi dan lagi mendatangi Dion untuk membantunya memisahkan Bian dan Zahra.
"Aku tidak mengerti dengan jalan fikir kamu, kamu menyukainya, tapi kamu membiarkannya dengan lelaki lain."
"Dan aku lebih tak mengerti dengan pemikiran kamu, sudah jelas Bian menolak mu, masih saja kamu seperti ini."
"Karena aku mau kebahagiaan aku."
"Dengan cara merusak kebahagiaan orang lain?"
Sintia diam, mungkin saat ini Dion tidak bisa satu pemikiran dengannya, tapi Sintia tidak akan menyerah, ia akan terus mengganggu Dion hingga setuju dengan semua rencananya.
"Pergi, aku gak mau lagi bertemu dengan mu."
__ADS_1
"Kenapa, kamu takut, jujur saja Dion, kamu takut kan tidak bisa lagi mengalah untuk Bian, dan pada akhirnya kamu akan sama seperti ku, merusak kebahagiaan orang lain demi kebahagiaan mu sendiri."
Dion menggeleng, tapi Sintia justru tersenyum melihatnya, semakin sering Sintia membuatnya kesal, Dion pasti akan mengalah juga, karena sekarang jelas jika Dion memang menyukai Zahra.