Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Selesai Saja


__ADS_3

Saat malam tiba, Bian dan mereka semua telah kembali ke rumah sakit, tetap ada Isma dan Frans juga.


Zahra merasa keberatan dengan kedatangan Vanessa dan keluarganya itu, ketenangannya seketika hilang karena melihat mereka.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Vanessa.


Zahra diam, seharusnya Vanessa tidak perlu mempertanyakan itu, semua sudah jelas terlihat.


"Zahra, aku mau minta maaf untuk semuanya, aku menyesal, aku janji akan bantu kamu sampai kamu sehat lagi."


Zahra mengernyit, kalimat macam apa itu, Zahra merasa jika itu hanya omong kosong saja.


"Zahra ...."


"Aku bisa mengurus diriku sendiri, jadi tidak perlu merepotkan mu," sela Zahra.


Kania sedikit tersenyum mendengarnya, bagus sekali Kania suka dengan jawaban Zahra.


Kalau memang Zahra butuh tenaga bantu untuk merawatnya, Kania bisa bayarkan suster untuk lebih jelasnya.


"Bian, kenapa Oma harus kesini lagi, seharusnya Oma istirahat saja di rumah."


"Tidak, Oma harus pastikan kalau kamu baik-baik saja disini," ucap Inggrid.


Zahra tersenyum seraya mengangguk, baiklah terserah Inggrid saja, semoga mereka semua tetap baik-baik saja.


"Zahra, saya kesini untuk meminta maaf terhadap mu, saya sudah bicara dengan Bu Isma sebelum kesini," ucap Risa.


Zahra melirik Isma di sana, wanita itu mengangguk seraya tersenyum.


"Aku tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf semua baik-baik saja."


"Biarkan kami membalas semuanya, kami tidak habis fikir dengan semua kelakuan Vanessa."


"Tidak perlu diperpanjang lagi, semua sudah berakhir, aku tidak mau terus menerus mengingatnya."


Risa mengangguk paham, tapi niatnya untuk membantu semoga saja tidak mendapat penolakan.


Rian menghembuskan nafasnya sekaligus, ia masih geram dengan tingkah Vanessa, seharusnya mereka biarkan saja saat Vanessa dibawa polisi tadi.


"Zahra, aku tidak tahu kamu mau terima atau tidak, tapi aku benar-benar menyesal, biarkan aku membantu mu selama penyembuhan," ucap Vanessa.


"Aku sudah katakan kalau aku bisa sendiri, kalau pun aku tidak bisa, aku masih punya mereka semua sehingga tidak perlu melibatkan kamu atau pun keluarga kamu."


Vanessa diam, sekilas kedua tangannya mengepal, Zahra hanya memancing emosinya saja.

__ADS_1


Tidak tahu terimakasih, mau dibantu malah seperti itu, padahal jelas ia hanya bisa berbaring di brankar itu.


"Zahra, aku kembali," ucap Sintia yang seketika terdiam.


Mereka keheranan dengan keberadaan Sintia juga Damar, sejak kapan mereka datang, tidak ada kabar apa pun tentang mereka.


"Masuklah, kenapa kalian diam disana," ucap Zahra.


Sintia dan Damar masuk bersamaan, mereka salam pada semuanya, sampai di hadapan Vanessa, Sintia diam dengan tatapan jengkelnya.


"Berani kamu datang kesini, apa tidak punya malu sama sekali?" tanya Sintia.


Kedua orang tua Vanessa seketika menatap Sintia, kalimatnya tentu saja menyinggung perasaan mereka juga.


"Bian masih berbaik hati padamu, atau memang dia tidak punya nyali untuk membenci mu?"


"Jaga bicara mu," ucap Vanessa.


Damar segera menarik Sintia menjauh dari Vanessa, ada apa dengan Sintia, tidak bisakah menahan diri selagi ada mereka semua.


Sintia menepis Damar, tatapannya masih saja bertahan pada Vanessa semua, entah lupa atau sengaja tidak menganggap ada akan keberadaan oran tua Vanessa.


"Sintia, sudahlah," ucap Zahra.


Sintia berpaling, ia melirik Zahra di sana, kesal sekali hatinya melihat Vanessa sekarang.


"Tadi siang, Om," ucap Damar.


Kemal mengangguk, tidak ada pertanyaan berikutnya, biarkan saja itu sudah cukup menjelaskan.


Vanessa melirik Bian yang seketika itu juga berpaling, Vanessa sedikit mengangguk, biar saja kali ini Bian seperti itu.


"Zahra, kamu sudah makan?" tanya Isma.


Zahra menoleh dan mengangguk, Kania menunduk sesaat, ia sampai lupa bertanya soal itu pada Zahra.


"Aku sudah makan bareng Sintia dan Damar tadi, aku fikir kalian tidak akan kembali malam ini, jadi aku makan duluan."


"Tidak masalah, itu sudah seharusnya, berhenti memikirkan orang lain dan fokus pada dirimu sendiri," ucap Inggrid.


Zahra hanya mengangguk saja menanggapi ucapan Inggrid, jika diperpanjang lagi pasti akan ada keributan nantinya.


"Zahra," panggil Vanessa.


"Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat, perjalanan kalian jauh dari rumah pasti lelah."

__ADS_1


Vanessa mendelik, ia menghela nafasnya panjang, benar-benar menyebalkan wanita itu.


"Kami kesini dengan niat baik, kalau memang diperlukan tanggung jawab, katakan saja kami harus apa?" tanya Rian.


Zahra menoleh, ia diam menatap lelak itu beberapa saat, apa yang harus jadi tuntutan Zahra, bukankah kejadian itu awal mulanya dari Bian sendiri.


Kalau saja Bian tidak bermain dengan Vanessa, tentu tidak akan terjadi hal buruk seperti itu.


"Kamu mau kami melakukan apa?"


"Tidak ada, aku tidak bisa menyalahkan kalian dalam masalah ini, biar saja ini jadi urusan aku dan Bian sendiri."


Bian seketika menatap Zahra, entah apa maksudnya, tapi mau apa pun itu Bian akan menghadapinya juga.


"Vanessa memiliki alasan sendiri atas perbuatannya, tapi aku tidak mau tahu itu, aku hanya mau semua selesai dan tidak perlu dibahas lagi."


"Kalian harusnya malu dengan wanita itu, terutama kalian berdua," ucap Inggrid pada Bian dan Vanessa.


Tak ada yang bersuara, sekali pun itu orang tua Vanessa, mereka sama-sama diam.


"Kalian masih tidak sadar wanita seperti apa yang kalian jahati selama ini, tidak bisakah berfikir dengan lebih benar lagi sebelum bersikap?"


Bian melirik Vanessa, sudah berulang kali Bian mengatakan jika mereka sudah selesai, tapi Vanessa tetap saja keras kepala.


Kania berbalik, ia mengusap pundak Inggrid lembut, jangan sampai wanita tua itu emosi dan kesehatannya terganggu.


"Setelah ini, apa yang akan kalian lakukan lagi, kalian akan tetap berusaha untuk menyakitinya?"


Zahra menunduk, matanya mendadak panas mendengar kalimat Inggrid.


Zahra memang merasa lelah dengan semuanya, entah kapan kehidupannya akan normal seperti kebanyakan orang yang kerap dilihatnya.


"Ada apa?" tanya Sintia pelan.


Zahra menoleh, ia menggeleng seraya tersenyum, tapi genangan air matanya tak bisa menutupi apa pun.


Sintia tersenyum seraya mengusap lengan Zahra, tidak ada gunanya Zahra menangisi keadaan saat ini, ia akan hanya terlihat lemah di hadapan dua manusia itu.


"Aku memang bersalah, aku akui ini memang berawal dari kesalahan ku, aku minta maaf pada kalian semua," ucap Bian.


"Lontaran maaf tidak akan berarti apa-apa jika kamu tidak bisa berubah," sahut Inggrid.


"Disini, di hadapan kalian semua, untuk kesekian kalinya aku mengatakan pada Vanessa kalau kita sudah tidak ada urusan apa pun lagi, jadi berhenti mengganggu Zahra."


Vanessa merapatkan bibirnya, itu sangat mempermalukan dirinya, bagaimana bisa Vanessa menerimanya begitu saja.

__ADS_1


"Aku minta maaf pada Om dan Tante, aku sama sekali tidak berniat untuk mempermainkan Vanessa, tapi aku tidak tahu kalau keadaannya akan sampai seperti ini."


Rian dan Risa saling lirik, mereka mulai pusing dengan semuanya, mungkin sebaiknya memang mereka segera pergi saja.


__ADS_2