
"Cari dia, Pak."
"Kamu sedang berusaha Pak, mohon bersabar."
Bian mengacak rambutnya prustasi, saat ini ia sedang ada di kantor polisi, melakukan pengaduan tentang hilangnya Zahra.
Tapi tetap saja tak ada hasil, sampai sekarang Zahra masih belum kembali, kemana perginya wanita itu.
"Bapak sudah mencari ke teman-temannya?"
"Tidak ada, dia tidak ada teman selain teman ku, dan mereka tidak ada yang tahu."
Polisi mengangguk, lalu harus bagaimana lagi bukankah mereka juga sedang berusaha mencarinya.
Bian membuka ponselnya, tidak ada kabar apa pun, hanya pesan dari Inggrid saja yang mengganggunya.
"Kami akan memberi kabar apa pun tentang perkembangannya, tapi untuk saat ini memang belum ada perkembangan."
Bian mengangguk, ia lantas pamit dan pergi meninggalkan kantor polisi.
Kemana Bian harus melangkah sekarang, dimana sebenarnya keberadaan wanita itu, bisa sekali menghilang sampai sejauh itu.
"Bian."
Bian menoleh, sedang apa lelaki itu di kantor polisi.
"Ada urusan apa disini?" tanya Bian.
"Aku sedang laporan kehilangan sim, sim ku hilang entah dimana," ucap Marvel.
Bian mengangguk, baiklah itu bisa sekali dimengerti.
Marvel melihat sekitar, sepertinya ia harus segera kembali ke kantor.
"Bagaimana perkembangan Kantor mu?" tanya Bian.
"Syukurnya baik sekali, aku dan mereka semua sudah mendapatkan partner yang baik."
"Baguslah, kau memang hebat."
"Lalu bagaimana Perusahaan mu, bukankah sekarang sudah kembali padamu?"
Bian diam, entahlah bagaimana nasibnya perusahaan itu sekarang karena Bian tidak lagi mengurusnya.
Siapa yang menggantikannya pun Bian tidak tahu, sedikit pun Bian tidak berniat untuk mencari tahu tentang itu.
"Oh iya, bagaimana keadaan Zahra?"
"Dia hilang entah kemana, sekalian saja kalau kamu melihatnya tolong kabari aku atau keluaga ku."
"Hilang, bagaimana bisa?"
"Dia pergi dari rumah, memang ada sedikit masalah tapi aku tak mengerti kenapa dia sampai seperti itu."
Marvel diam, kasihan sekali mereka sampai seperti itu, tapi ya sudahlah kabarnya sudah didengar sekarang.
Bian tersenyum seraya menggeleng, berada di sana hanya membuang waktunya, Zahra pasti masih berjalan dan bahkan semakin jauh.
"Marvel, aku pamit duluan, aku harus kembali mencari Zahra."
"Oke, nanti aku kabari kalau aku melihatnya."
"Siap, terimakasih banyak."
Bian lantas pergi lebih dulu, ia harus mencari Zahra kemana pun asalkan ketemu.
Marvel menggeleng, kasihan sekali wanita itu, selalu saja ada masalah dengan rumah tangganya.
Inggrid menyimpan gelasnya, sejak tadi ia malas makan sehingga hanya minuman yang masuk ke perutnya.
__ADS_1
Kania menyiapkan makanannya, biarkan saja meski tidak dimakan tapi paling tidak makanan sudah siap.
"Mana Ayra, kenapa dia belum datang kesini sampai sekarang, anak mu mengurungnya?"
Pergerakan Kania seketika terhenti, sejak awal di rumah sakit memang Inggrid selalu bertanya keberadaan Zahra.
Ditambah sampi saat ini Kania belum mengatakan soal kepergian Zahra dari rumah, entah akan seperti apa Inggrid jika tahu Zahra menghilang.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Inggrid.
"Aku belum ke rumah, aku tidak tahu mereka bagaimana sekarang."
"Apa Bian juga tidak mau datang kesini?"
"Tunggu saja, mungkin mereka sedang sibuk dengan urusannya, pasti mereka akan kesini juga nanti."
Inggrid meraih ponselnya, Bian tak membalas pesannya satu pun juga, kemana lelaki itu bisa sekali mengabaikannya.
-----
"Kue kue, Bu kue, Pak kue," teriak Zahra penuh semangat.
Di sampingnya, Zahra diikuti seorang anak perempuan cantik, ia menggangengnya dengan erat.
"Kuenya kue," teriak Zahra lagi.
"Kakak, Ibu itu mau," ucapnya seraya menunjuk.
Zahra menoleh, dengan segera mereka menghampirinya.
Zahra menurunkan kotak kuenya dan membukanya, ia membiarkan pembelinya memilih dan mengambil sendiri kuenya.
"Jadi berapa ini?"
"Tiga puluh dua ribu, Bu," ucap Zahra.
"Oh ini."
"Terimakasih banyak Bu, permisi."
"Iya, silahkan."
"Ayo, Dara."
Zahra mengangkat kotak kuenya, kembali menggandeng anak kecil itu dan berlalu pergi.
"Kakak bukankah kuenya sudah habis?"
"Ya, kita hebat hari ini, sekarang kita pulang."
"Yeee aku hebat."
Zahra tersenyum, sekilas ia mengusap kepala anak tersebut.
Zahra memang menetap di rumah pemilik warung yang kala itu membawanya, Zahra merasa nyaman berada ditengah mereka.
"Kakak, aku haus."
"Oh haus, baiklah kita mampir ke warung dulu buat beli minum."
Keduanya berhenti di warung pinggir jalan itu, Zahra segera membeli minuman dan membukanya untuk Dara.
"Duduk dulu, biar gak tersendak nanti minumnya."
Zahra menyimpan kotak kuenya dan mendudukan Dara di kursi, anak itu masih 4 tahun tapi dia sudah terbiasa ikut berkeliling menjual kue bersama Ibunya.
Dara adalah alasan Zahra merasa nyaman, anak itu langsung senang dengan Zahra bahkan saat mereka pertama bertemu.
"Masih haus?"
"Gak lagi."
__ADS_1
"Mau makan?"
"Aku mau tidur."
Zahra mengangguk, beruntung sekali kue habis pas waktunya Dara tidur.
Zahra menggendongnya, tak lupa membawa kotak kuenya, mereka segera kembali ke rumah untuk istirahat.
"Kalian sudah pulang," ucap Rina.
"Kuenya sudah habis, Bu."
"Wah hebat, makin laris ya."
Zahra tersenyum, Rina meraih kotak kuenya, dan membiarkan Zahra memasuki rumah.
Rina menyusul dan melihat Zahra yang sedang menidurkan Dara, kehadiran Zahra memang mampu mengurangi bebannya.
Bantuan Zahra begitu berarti, meski jadinya harus menambah porsi masakan, tapi terbayar dengan tenaga Zahra sendiri.
"Bu, ini uangnya hasil tadi, maaf tadi aku membawa Dara lebih jauh dari biasanya."
"Oh ya, sampai kemana kalian jualan?"
Rina menghitung uang hasil jualannya hari ini, hasilnya dirasa lebih besar dari keharusan sesuai kue yang dibawa.
"Tadi aku bawa Dara ke Komplek depan sana, mereka senang Bu ada yang jualan kue, katanya biasanya gak pernah ada."
"Tapi ini uangnya?"
"Iya, mereka minta agar setiap hari aku kesana, makanya mereka kasih bonus untuk tanda perkenalan."
Rina tersenyum, bukankah itu keberuntungan, dan Zahra pembawa keberuntungan itu, Rina akan sangat senang jika Zahra terus ada bersamanya.
"Terimakasih, Zahra."
"Ibu, emmm sore ini aku boleh bantu masak lagi?"
"Tentu saja, kenapa tidak boleh?"
Keduanya tersenyum, sewaktu di rumahnya sendiri Zahra selalu gagal untuk niatnya belajar memasak.
Tapi bersama Rina, meski baru tiga hari saja Zahra sudah bisa membuat sayur sop, ya memang rasanya tidak begitu spesial.
"Bapak belum pulang?" tanya Zahra.
"Belum, mungkin belum dapat uang."
Zahra mengangguk, sebenarnya Zahra merasa tidak enak berada di sana, keadaan keluarga Rina yang berkekurangan pasti merasa tertambah bebannya dengan keberadaan Zahra.
"Ibu, aku akan cari tempat tinggal ku sendiri, mungkin besok atau lusa."
"Untuk apa seperti itu, kamu tidak nyaman ada disini, apa Dara membuat mu pusing?"
"Tidak, tidak sama sekali, Dara anak baik dia tidak membuat ku pusing."
"Lalu kenapa, rumah ini memang sempit Zahra, Ibu minta maaf."
Zahra tersenyum seraya menggeleng, rumah besar yang sempat ditempatinya pun tidak memberinya kenyamanan.
Jadi rumah sempit itu sama sekali bukan masalah untuk Zahra, hanya saja pemikirannya yang mungkin mengharuskan Zahra untuk pergi.
"Kamu mau pulang ke keluarga kamu?"
"Tidak, aku akan cari rumah dekat sini saja, biar bisa tetap bermain dengan Dara."
"Kenapa tidak disini saja, lagi pula Bapak pulang hanya sesekali saja, dia lebih sering tidur di warung."
"Aku takut membuat Ibu repot, aku selalu minta masakan ini dan itu."
Rina sedikit tertawa mendengarnya, setiap orang memang memiliki keinginan sendiri, rasanya wajar saja kalau Zahra meminta apa yang diinginkannya.
__ADS_1
Zahra tersenyum seraya mengangguk, itu benar adanya, dan Rina selalu menurutinya, rasanya sudah seharusnya Zahra merasa malu.