
Bian menyusul memasuki kamar, Zahra sudah masuk kamar sejak satu jam lalu, Bian diajak berbicara oleh Inggrid seusai makan malam tadi, sehingga ia harus terlambat memasuki kamar.
"Zahra."
Bian melihat sekitar, tidak ada apa pun di sana, masuk ke kamar mana wanita itu, apa dia melakukan kesalahan.
"Zahra, kamu dimana?"
"Apa, berisik."
Bian menoleh, rupanya Zahra diam di balkon sana, wanita itu berjalan dan duduk di tempat tidur.
"Ada apa, kamu tidur disini?"
"Mau bagaimana lagi, memang harusnya seperti itu untuk sekarang."
Zahra mengangguk, tak ada yang ingin dikatakannya lagi, bukankah kalau seperti itu, maka harus seperti itu juga.
"Kamu kenapa?" tanya Bian seraya menghampiri.
Zahra bangkit saat Bian duduk, pokoknya hal sebelumnya tidak boleh terulang lagi.
"Kenapa sih, ayo duduk, gak akan apa-apa juga."
Bian menarik Zahra kembali duduk, mereka sedang sadar sekarang, tidak akan ada apa pun lagi.
"Kamu tidur saja disini, aku bisa di sofa."
"Gak perlu, kamu saja disini, aku kan bukan penghuni kamar ini."
"Oke, baiklah, tidak perlu bahas itu, gimana nanti saja bagusnya, kamu belum mau tidur kan?"
Zahra hanya menggeleng saja, Bian mengangguk, berarti mereka masih bisa berbincang.
"Besok, aku mulai kerja lagi, Oma sudah suruh aku kerjakan pekerjaan aku lagi."
"Ya sudah, bagus."
"Mulai besok, aku akan sibuk lagi, jadi mungkin kita bisa jauhan."
"Bagus."
"Kamu bisa lakukan apa pun, asalkan hati-hati saja."
"Aku tahu, lagian aku gak akan melakukan apa pun, tenang saja aku hanya akan di rumah temani Oma."
"Kamu gak jalan, mungkin kamu butuh hiburan sendiri?"
Zahra menggeleng, hiburan apa, Zahra malas melakukan apa pun juga.
__ADS_1
"Zahra, aku minta maaf ya, aku sudah mengulangnya lagi."
Zahra tak menjawab, berisik, Zahra tidak mau mendengar permintaan maaf lagi.
"Aku akan lebih hati-hati, aku akan berusaha jaga sikap."
"Kamu mending istirahat, bukannya besok harus kerja."
"Ya sudah, kamu juga istirahat."
"Aku belum ngantuk, kamu saja tidur duluan."
Zahra berlalu kembali ke balkon sana, Zahra berdiri dengan bersandar pada pagar, ia melihat ke bawah sana.
"Mama sama Papa sedang apa sekarang, apa kalian tahu kalau aku rindu?" ucap Zahra pelan.
Zahra melihat sekitar, tidak ada apa pun di sana selain dari pohon-pohon juga rumput saja.
Zahra takut dengan hidupnya sekarang, semua jadi serba ancaman, semua menakutkan.
"Aku mau bersama kalian, tidak bisakah malam ini saja temani aku."
Zahra menunduk, itu adalah pertanyaan paling mustahil bisa terwujud, Zahra hanya akan semakin membuat perasaannya kacau.
"Kamu kenapa, ini sudah malam, anginnya tidak baik buat kesehatan."
Zahra mengerjap, ia kembali menatap lurus ke depan sana, Bian justru menghampirinya padahal Zahra sudah menyuruhnya tidur.
"Tidak ada, aku sudah minta kamu tidur saja."
"Aku belum ngantuk, lagi pula kamu gak bisa terus disini, kalau kamu sakit pasti aku juga yang repot nanti."
Zahra menoleh, setakut itu Bian direpotkan olehnya, padahal itu belum tentu terjadi.
"Kamu kenapa sih, bicara jangan kayak gitu."
Zahra kembali berpaling, ia memainkan jemarinya asal.
"Aku gak apa-apa, aku cuma ingat saja dengan orang tua ku."
"Mereka pasti sudah bahagia disana, kamu jangan memberatkan mereka."
"Tidak, aku hanya berfikir, mungkin apa yang dikatakan Mama kamu itu benar adanya."
"Apa yang dikatakan Mama?"
"Aku memang bisa mendapatkan rumah ini lagi, tapi aku gak akan bisa mendapatkan kebahagiaan yang pernah aku dapat disini."
"Kenapa seperti itu?"
__ADS_1
"Ya karena memang tidak ada lagi mereka sekarang, aku bahagia karena memiliki mereka, bukan sepenuhnya karena memiliki rumah ini."
Bian diam, mungkin itu benar, tapi tidak akan ada gunanya juga Zahra terus memikirkan itu, hidupnya harus terus berjalan.
"Andai saja waktu itu aku ada bersama mereka, mungkin aku bisa memiliki kenangan terakhir sebelum mereka pergi, tapi aku justru asyik liburan, asyik dengan dunia ku sendiri sampai aku gak sadar kalau itu adalah waktu terakhir mereka."
"Kamu, kita semua gak akan tahu kapan waktu terakhir kita, jadi jangan bicara seperti itu."
Zahra diam, ia itu memang benar, tapi sepertinya Bian tidak mengerti dengan apa yang dirasakan Zahra.
"Zahra, sebaiknya kamu masuk dan tidur."
"Kamu saja duluan."
"Sampai kapan kamu disini, ini sudah tengah malam?"
Zahra menghembuskan nafasnya berat, ia berbalik menghadap Bian dan terdiam menatapnya.
"Kenapa?"
"Aku gak tahu akan seperti apa hidup aku setelah malam ini, aku tidak tahu kapan orang tua kamu datang dan memaki aku, aku tidak tahu jika saja Sintia masih akan meluapkan emosinya sama aku, tapi lepas dari itu, apa kamu bisa menjaga aku dari mereka semua?"
Bian berapaling sesaat, kenapa harus seperti itu pertanyaannya.
"Zahra, aku tidak mau bersikap baik padamu, aku tidak mau merubah perasaan kamu terhadap aku, kamu harus ingat kalau pernikahan kita hanya diatas kertas."
"Jadi kamu tidak akan perduli mau apa pun yang terjadi sama aku, bahkan meski itu ulah orang tua kamu sendiri?"
Bian diam, Zahra sedikit tersenyum dan kembali berpaling, seharusnya Zahra memang tidak perlu pertanyakan itu.
Keduanya sama-sama terdiam, bergelut dengan pemikirannya sendiri, paling tidak untuk saat ini Zahra bisa tenang karena ada Inggrid bersamanya.
"Baiklah, aku tidak akan mengharapkan apa pun dari kamu, lupakan saja semuanya, kita jalani semuanya masing-masing."
Zahra memasuki kamar, ia mengambil bantal dan selimut di kasur sana, biar saja Zahra yang akan tidur di sofa malam ini.
"Kamu tidur saja di kasur."
"Tidak perlu memperlakukan aku dengan baik, atau aku bisa benar-benar menyukai mu."
Zahra berbaring dan menutupi tubuhnya, Bian hanya diam melihat itu, apa yang harus difikirkannya, lagi pula Zahra sudah tahu pernikahan seperti apa yang mereka jalani.
"Zahra, aku minta maaf kalau sudah membuat mu merasa terjebak dalam keadaan ini, tapi kita sudah sepakat dengan semuanya."
Zahra tak menjawab, posisinya yang membelakangi Bian, membuatnya tak perlu memperdulikan lelaki itu, biarkan saja dia akan menganggap Zahra tidur.
"Kalau aku tahu, aku akan halangi mereka, tapi kalau aku tidak tahu, aku tidak bisa lakukan apa-apa."
Zahra tersenyum, terserah saja, Zahra tidak mau membahasnya lagi, karena yang harus dilakukannya hanya bersiap untuk menerima apa pun yang akan terjadi hari esok.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa bertahan untuk satu tahu ke depan, aku akan bebaskan kamu setelah itu."
Zahra memejam matanya, semoga saja memang bisa, semoga Zahra bisa bertahan dengan semuanya, termasuk bertahan untuk tidak menyukai Bian.