Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bodoh Sekali


__ADS_3

Langit sudah berubah gelap, Bian Inggrid terlihat duduk di ruang tengah, mereka tengah menunggu kepulangan Zahra yang entah kemana.


Saat siang Bian tidak jadi pulang karena makanan yang sudah diantar Zahra, dan Bian tidak tahu jika ternyata Zahra tidak kembali ke rumah setelah dari kantor.


"Kenapa ponsenya tetap tidak bisa dihubungi, kemana sebenarnya wanita itu," ucap Bian.


"Bertanya sama siapa kamu ini?" tanya Inggrid.


Bian hanya menoleh sekilas tanpa menjawab, ia terus saja berkutat dengan ponselnya, mengulang terus menerus panggilannya terhadap Zahra.


Seharusnya Bian mengantarkan Zahra tadi, seharusnya Bian ingat jika Zahra tidak baik-baik saja, dan tidak seharusnya Zahra sendirian seperti tadi.


"Apa yang dia katakan tadi?" tanya Inggrid.


"Tidak ada, dia hanya bilang akan pulang, makanannya sudah diantar jadi dia harus kembali pulang."


"Dan kamu membiarkannya pergi begitu saja."


"Aku sudah katakan kalau sebaiknya tunggu aku selesai kerja, lagi pula dia datang satu jam sebelum istirahat Kantor, aku sudah minta dia untuk menunggu sebentar tapi dia tidak mau."


Inggrid menggeleng, kemana wanita itu pergi, tidak bisakah ia berhenti membuat Inggrid khawatir.


Tingkahnya semakin sulit dimengerti, tidak mungkin jika Inggrid harus membawanya ke rumah sakit kejiwaaan.


"Dion, apa dia kesana."


Inggrid menoleh, kenapa jadi Dion yang difikirkan Bian sekarang.


"Mungkin saja dia disana, Dion sempat ke Kantor tadi, dan mereka juga bertemu, mereka pulang dengan selisih waktu tipis, bisa saja kan Zahra disana."


"Untuk apa dia disana, tidak bisakah berfikir baik tentang Zahra sekali saja, dia bukan dirimu yang bisa-bisanya bermain perempuan."


Bian mengernyit, kenapa jadi seperti itu kalimatnya, bukan kesana arah fikir Bian terjadap Dion dan Zahra sekarang.


Tapi sudahlah, tidak ada waktu untuk berdebat, Bian semakin sibuk dengan ponselnya demi bisa menemukan Zahra.


"Seharusnya dia disana, setidaknya itu lebih baik dari pada menyebutnya menghilang."


Inggrid tak menjawab, tapi rasanya itu tidak mungkin, untuk apa Zahra berlama-lama diam di tempat Dion.


Wanita itu pasti bisa berfikir jika seperti itu adalah kesalahan, bagi Inggrid sosok Zahra itu lebih mampu berfikir dengan benar dibandingkan Bian sendiri.


"Dia tidak ada disana," ucap Bian.


"Sudah jelas tidak ada, Oma sudah katakan itu."


Bian menoleh sekilas, lalu kemana Zahra pergi, bukankah tidak ada tempat lain dari pada rumah tersebut.


Zahra seharusnya pulang kesana, bukan ke tempat lain yang bahkan belum tentu bisa untuk menerimanya.


"Aku harus pergi, mungkin saja dia ada di jalan."


"Bagus, pergilah, jangan kembali sebelum kamu temukan dia."


Bian mengangguk dan berlalu pergi, entah kemana ia harus pergi, tidak ada tujuan sama sekali.


Dion yang sempat diyakini sedang bersama Zahra, ternyata salah, Zahra tidak ada bersama mereka, lalu kemana wanita itu pergi.

__ADS_1


"Pak, kita pergi," ucap Bian.


"Pergi kemana, Den?"


"Kemana saja, kita harus temukan Ayra."


"Baik, Den."


Keduanya lantas memasuki mobil, Bian juga baru tahu saat pulang kantor jika Zahra pergi menggunakan taxi.


Apa gunanya memiliki sopir jika masih pergi dengan taxi, Zahra pasti sengaja melakukannya karena tidak ingin kembali lagi.


 


"Zahra hilang, maksudnya gimana?"


Dion menggeleng, ia tidak mendapat balasan apa-apa lagi dari Bian, jadi tidak ada yang bisa dikatakannya lagi.


"Jadi, Bian tidak akan kesini?"


"Sepertinya begitu, kalau Istrinya hilang bagaimana mungkin dia kesini."


"Sekarang dia kemana, kenapa kita tidak bantu saja cari Zahra."


Dion menyipitkan matanya, sepertinya itu lebih baik, mereka bisa ke setiap bagian arah untuk bisa menemukan Zahra.


Dengan begitu mungkin Zahra bisa cepat ditemukan, tidak perlu membuat panik terlalu lama karena ketidak hadirannya di rumah.


"Bagaimana, kenapa hanya diam saja."


"Masih ingat kan wajah Zahra?"


Dion mengangguk, mereka lantas meninggalkan rumah Dion.


Jika tidak ada Bian mereka mau apa, lagi pula Bian memang membutuhkan bantuannya, jadi tidak ada salahnya mereka membantu.


"Kamu harusnya tahu kemana dia biasa pergi kalau keluar rumah."


Dion menoleh sekilas, kemana dia pergi, Dion tidak pernah tahu.


"Ada saja masalah rumah tangga mereka."


Tak ada jawaban, Dion memilih fokus dengan fikirannya sendiri, dimana Zahra saat ini Dion harus menemukannya.


Pertemuannya dengan Zahra di kantor terlalu singkat, tapi sesingkat itu Dion bisa melihat jika Zahra tidak baik-baik saja.


"Seharusnya tadi aku tidak buru-buru pergi."


"Bagaimana maksudnya?"


"Tadi aku sempat ke kantor Bian, disana aku bertemu juga dengan Zahra, tapi tidak lama aku pamit karena aku fikir mereka ingin berdua saja."


"Benarkah, bukan karena kau cemburu melihat mereka bersama."


Dion mengernyit, berani sekali mengucapkan kalimat seperti itu, dari mana dia bisa berfikir seperti itu.


Lelaki di sampintnya justru tertawa, bukankah semua sudah mengetahuinya sekarang, Dion yang menyukai Zahra sudah bukan hal asing lagi.

__ADS_1


"Akui saja, tidak masalah kita berhak menyukai siapa pun."


"Diamlah, apa ini waktunya untuk membahas itu?"


"Sambil menyelam minum air, apa salahnya?"


Dion berdecak seraya menggeleng, malas sekali menjawabnya, itu tidak penting untuk saat ini.


 


"Semua sudah dikeliling, tapi tetap saja tidak ada, Den."


"Sebentar, Pak."


Bian mencoba berfikir lebih keras lagi, Zahra harus berhasil ditemukannya, harus sampai kemana pun Bian mencari, ia akan mencarinya.


"Mungkin saja ke rumah saudaranya, Den."


"Zahra tidak punya siapa-siapa."


"Atau mungkin di rumah temannya?"


Bian tak menjawab, bukankah sekarang cukup dekat dengan Sintia, mungkin saja benar wanita itu sedang bersama sekarang.


"Kita ke rumah Sintia, dua putaran lagi belok kanan."


"Baik, Den."


Bian kembali diam, kalau sampai tidak ada di rumah Sintia, kemana lagi Bian harus pergi.


Jika ke rumah Vanessa rasanya sangat tidak mungkin, Zahra tidak tahu dimana rumah Vanessa.


"Ssss pusing sekali," ucapnya pelan.


Seharusnya memang Bian mengantarnya pulang tadi, bukan membiarkannya pergi begitu saja.


Kenapa Bian masih tidak bisa mengerti dengan arah fikir Zahra, ia masih sangat bodoh untuk bisa mengerti istrinya.


"Yang mana rumahnya?"


Bian melihat sekitar, cepat juga laju mobilnya,mereka sudah sampai lagi sekarang.


"Berhenti, yang ini rumahnya."


Mobil berhenti, Bian masih bertahan di sana, ia memperhatikan rumah Sintia.


Terlihat sepi, tidak ada mobil di sana, apa tidak orang juga di dalamnya.


"Bagaimana, Den?"


"Tunggu sebentar."


Bian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sintia, seharusnya wanita itu belum tidur sekarang.


Bian kembali melihat rumah itu, sama sekali sepi, mobil Sintia pun tidak ada di sana.


"Ahh, kemana lagi."

__ADS_1


Bian lantas keluar dan memasuki halaman rumah, ia menekan bel rumahnya ketika sampai pintu.


Jika gerbang dibiarkan tidak terkunci, seharusnya memang ada orang di dalam sana.


__ADS_2