
Zahra benar-benar bersama dengan Dion hari ini, rupanya lelaki itu sedang ambil cuti sehingga bisa bebas keluyuran.
"Ada lagi?" tanya Dion.
"Gak ada, tapi sepertinya aku mau cari jaket satu."
"Jaket?"
Zahra mengangguk pasti, sepertinya Zahra memang membutuhkan itu.
"Jaket buat kamu?"
"Ya iyalah, jaket tebal yang menghangatkan."
"Hanya satu yang menghangatkan."
"Apa?"
"Pelukan Suami kamu," ucap Dion seraya tersenyum.
Zahra diam, sepertinya Zahra tak ingin membalas senyuman itu, tak ingin juga menjawab ucapannya.
"Kira-kira dimana ya yang ada?"
Dion mengangguk, ia lantas melihat sekitar, dan menunjuk tempat jaket-jaket itu dijual.
"Kamu mau warna apa?" tanya Dion.
"Yang bagus apa ya, bagus semua ini."
"Ya sudah beli semuanya saja, Bian pasti mengisi rekeningnya tidak sedikit."
"Mana bisa seperti itu, nanti aku bisa kena marah."
"Baiklah, satu saja, yang ini gimana?"
Dion mengambil satu jaket tebal warna cokelat, Zahra diam memperhatikannya, memang bagus.
"Gimana, kamu suka gak warnanya?"
"Suka, santai."
"Ya sudah yang ini, atau yang biru juga bagus tuh."
Zahra melihatnya, ya memang semua bagus, dan Zahra menginginkan semuanya.
"Jadi yang mana?"
"Ini saja cokelat."
Dion mengangguk dan memberikannya, Zahra lantas membayarnya agar mereka bisa cepat pergi.
"Terimakasih."
"Sama-sama."
Zahra melirik Dion, keduanya lantas berlalu meninggalkan tempat tersebut.
"Mau makan dimana?" tanya Zahra.
"Kamu maunya dimana?"
"Gak tahu, kamu yang ajak aku makan, ya kamulah yang tentukan tempat."
"Yakin, mau ikut aku saja?"
Zahra diam, kenapa seperti itu pertanyaannya, apa mungkin Dion berniat jahat padanya.
"Tidak tidak, aku hanya bercanda saja, jangan khawatir, kita akan makan di tempat yang nyaman."
Zahra mengerucutkan bibirnya sekilas, menyebalkan sekali, Dion sudah membuatnya salah sangka.
__ADS_1
"Ayo masuk."
Keduanya memasuki mobil, Zahra akan ikut saja kemana Dion akan membawanya, lagi pula Zahra sudah mengatakan jika ia harus pulang sebelum Bian pulang.
"Kamu suka daerah ini?"
Zahra melihat sekitar, itu adalah daerah tenang, dan memang cocok untuk bersantai.
"Mau disini?"
"Boleh, silahkan saja."
"Oke."
Dion segera menghentikan laju mobilnya, Zahra tersenyum, Dion memilih tempat makan lesehan.
"Ayo keluar."
"Iya."
Keduanya keluar bersamaan, Zahra merasakan hembusan angin yang terasa lebih dingin, mungkin karena merek masuk dataran tinggi sehingga lebih sejuk lagi.
"Disini saja ya."
"Gak masalah."
Dion sengaja memilih tempat yang memang sedikit kosong, mereka duduk di paling dalam, agar bisa benar-benar menenangkan diri.
"Mau pesan apa?"
"Emmm, aku mau nasi saja kali ya, soalnya belum makan juga tadi di rumah."
"Loh, kenapa?"
"Iya, Bian kan berangkat pagi-pagi, katanya ada pertemuan penting, dan Oma juga seperti itu, dia pulang ke rumahnya tadi pagi."
Dion mengangguk, baiklah ia paham, tanpa lama Dion memesan makanan sesuai dengan keinginan mereka berdua.
"Terimakasih," ucap Zahra.
Seperginya pelayan itu, keduanya saling lirik dan sama-sama tersenyum.
"Jadi, sejauh mana perkembangan rumah tangga kamu sama Bian?"
"Perkembangan?"
"Ya, mungkin saja lelaki itu berubah fikiran, dan mau menyukai kamu, menerima kamu sebagai Istrinya."
"Mana mungkin, kita tidak saling kenal meski tidur di ranjang yang sama."
"Kalian tidur satu kamar?"
Zahra mengangguk, biarkan saja Zahra ceritakan yang sebenarnya, lagi pula tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Bian.
"Dia tetap mengabaikan mu?"
"Kan memang seperti itu perjanjian sejak awal, kita tidur bareng juga karena ada Oma, sekarang Oma pulang dan ya .... kamu fikir sendirilah."
Dion tersenyum dan mengangguk, bukankah itu lebih bagus, dengan berpisah mereka tidak akan pernah saling suka.
"Tapi, kamu suka sama dia?"
"Memangnya berguna perasaan itu?"
"Ya mana tahu, mungkin saja kalau kamu suka, kamu akan berusaha membuatnya suka juga sama kamu."
Zahra menggeleng, tidak bisa seperti itu, Zahra hanya akan kecewa jika mengakui perasaannya terhadap Bian.
"Kamu pasti menyukainya kan, kamu menginginkan dia jadi Suami kamu seutuhnya?"
"Enggak, mana mungkin seperti itu, aku menikah sama dia hanya untuk rumah, jadi tidak akan ada perasaan itu."
__ADS_1
"Oh, baiklah."
Zahra mengangguk, ia lantas memilih sibuk dengan ponselnya, Zahra tak sadar jika selama ia menunduk, Dion terus saja memperhatikannya.
"Dion, kamu tidak ...."
Zahra diam tak melanjutkan kalimatnya, kini ia sadar dengan tatapan Dion.
"Perkataan ku dulu, masih berlaku sampai sekarang, Ra."
Zahra mengernyit, perkataan apa, bukankah dulu Dion berkata banyak padanya.
"Kalau dia tidak bisa membuat kamu bahagia, kamu bisa cari aku."
Zahra berpaling, bahkan Zahra sudah lupa dengan kalimat itu, tapi Dion masih saja mengingatnya.
"Aku gak main-main, kalau nanti kalian berpisah, aku akan gantikan dia buat kamu."
"Bicara apa sih, aneh banget kayak gitu omongannya."
"Tidak masalah, tapi aku harap kamu selalu mengingat itu, mungkin suatu hari ini kamu akan membutuhkan aku, atau bahkan sangat membutuhkan aku."
Zahra hanya tersenyum saja meresponnya, apa yang harus dikatakannya, Zahra tidak berniat berbicara seserius itu.
"Silahkan pesanannya."
Keduanya menoleh, mereka membantu menggeserkan pesanan yang disimpan di meja.
"Selamat menikmati."
"Terimakasih banyak," ucap Dion.
Keduanya segera menikmati hidangan, dan akhirnya Zahra bisa makan enak dan ada teman juga.
"Kalau ada yang kurang, kamu bilang saja, gak usah takut, makanan ini aku yang bayar, jadi kamu tidak akan memakai terlalu banyak uang Bian."
"Oke, tenang saja, aku selalu semangat kalau makan enak."
Dion mengangguk, sering kali Dion menatap Zahra disela suapan makannya, memang lahap dan Dion senang melihatnya.
"Enak juga makanan disini, kamu tahu dari mana tempat ini?"
"Dari mana, aku sama yang lain termasuk Bian, kalau makan pasti kesini, makanya tahu juga."
"Oh, langganan."
"Ya, begitulah, tapi tidak membosankan kan makanannya?"
"Sepertinya iya, soalnya memang enak."
Dion mengangguk, baguslah, berarti lain waktu mereka bisa kembali lagi, tentunya dengan keadaan lebih baik.
Selesai makan, Dion pamit ke toilet, Zahra membiarkannya saja, dari pada nanti rusuh di jalan.
"Apa Oma sudah sampai, kenapa tidak mengabari ku."
Zahra bergeser, bersandar pada tembok di belakangnya, Zahra melihat luar sana, nyaman sekali duduk di sana, Zahra bisa bersantai.
Tak berselang lama, Dion kembali, ia melihat Zahra yang melamun di sana, tanpa ragu Dion melompat duduk di hadapan Zahra.
"Ssss ih, bikin kaget saja."
Dion tersenyum, ia diam menatap Zahra, mungkin saja ada beban yang ingin diceritakannya saat ini.
"Apa, ngapain lihat aku kayak gitu?"
Zahra mengangkat tangannya untuk menghalangi wajahnya, Dion berdecak dan meraih tangan tersebut, menggenggamnya tanpa ragu, dan kembali menatap Zahra.
"Apa sih, jangan seperti ini."
"Biar saja, kamu tidak pernah tahu kalau selama ini, aku sudah sangat merindukan kamu."
__ADS_1
Zahra diam, senyumannya yang semula ada, perlahan memudar, kenapa Dion selalu memberikan kalimat yang membuat Zahra tertegun.