Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Telah Lupa


__ADS_3

"Apa kalian melihat Bu Zahra?" tanya Marvel.


"Tidak ada."


"Sepertinya Bu Zahra memang belum datang."


"Kemana dia, bagaimana bisa dia lupa dengan meeting pagi ini."


Marvel menggeleng, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Zahra, tapi sayang tidak ada jawaban apa pun dari wanita itu.


"Bagaimana ini, dia membuat jadwalnya sendiri kemarin."


"Kenapa tidak kamu saja mengerjakan itu?"


Mereka menoleh bersamaan, Inggrid datang saat pagi, tapi kenapa ia hanya sendirian saja.


"Zahra tidak bisa masuk, dia sedang di rumah sakit menjaga Pak Bian."


Mereka saling lirik, benar juga, bukankah kemarin begitu ribut dengan kecelakaan Bian, tapi kenapa harus Zahra, kenapa tidak orang tuanya saja.


"Bu, tapi pagi ini ada meeting, dan Bu Zahra sendiri yang membuat jadwalnya, bagaimana bisa beliau tidak datang."


"Ketidak hadirannya dengan alasan kuat, apa kamu tidak bisa menjelaskan itu?"


Marvel diam, mungkin saja Zahra terlalu sayang dengan kakaknya itu, tapi seharusnya wanita itu profesional juga dengan tugasnya.


"Ada apa, apa yang kamu fikirkan?" tanya Inggrid.


"Tidak, bagaimana keadaan Pak Bian sekarang?"


"Masih sama, keadaannya belum membaik, tolong doakan dia agar segera pulih."


Mereka mengangguk bersamaan, Marvel berpaling, jadi ia harus menghadiri meeting itu sendiri.


Baiklah, ia harus menghafal ulang semuanya, karena tidak akan ada yang membantunya bicara nanti.


"Bu, kalau begitu saya permisi, saya harus siapkan keperluan meeting."


"Baiklah, urus saja semuanya, kamu kan sudah terbiasa dengan itu."


"Baik Bu, permisi."


Inggrid mengangguk, Marvel pergi dari mereka semua, kenapa Zahra sampai tidak sempat mengabarinya.


Rasanya tidak sulit untuk sekedar mengirim pesan jika tidak bisa datang, dengan begitu Marvel akan siapkan semuanya sendiri.


"Kalian kembali kepekerjaan kalian saja, jangan fikirkan hal lain, fokus saja."


"Baik Bu."


Inggrid lantas pergi meninggalkan mereka, hari ini biarkan Inggrid yang kembali ke ruangan tersebut.


Berada di rumah sakit pun hanya membuatnya gelisah, ada Kania yang menemani Zahra di sana, sehingga Inggrid bisa sedikit lebih tenang.


 ----


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Kania.


"Masih sama saja, tidak ada perubahan bahkan meski hanya sedikit."


Kania melirik Zahra, dengan sayang ia merangkulnya dan membiarkan wanita itu memeluknya.

__ADS_1


"Semoga saja sebentar lagi, tetap berdoa jangan putus asa, kita berusaha bersama."


"Kenapa sampai seburuk ini?" tanya Kania.


"Berdoa untuk hasil akhirnya, semoga saja tidak ada hal buruk yang akan mengganggu kehidupannya setelah kejadian ini."


"Apa maksudnya?" tanya Zahra.


"Saya tidak bisa mengatakan apa pun sekarang, kita tunggu saja sampai pasien kembali sadar, dan saya akan pastikan ulang semuanya."


Zahra mendelik, apa bisa dokter seperti itu, bahkan tidak ada penjelasan sama sekali tentang pasiennya.


"Lepas, lepaskan saya, mana orangnya berani sekali dia melakukan semua ini."


Jauh di sana terdengar suara seorang yang tengah marah, ia begitu menggebu dengan semua perkataannya.


Tiga orang yang sedang berbincang itu tampak menoleh bersamaan, ada satu orang lelaki dan dua orang polisi di sana.


"Mana dia, dimana dia?"


"Ada apa ini?" tanya dokter.


Mereka berhenti saat mendengar pertanyaan itu, Zahra tampak berjalan dan duduk, untuk apa ada keributan seperti itu.


"Tolong jangan ribut, ini Rumah Sakit."


"Mana Bian, dimana lelaki itu, bukankah dia ada disini?"


Kania mengernyit, Zahra yang telah duduk pun kembali bangkit, pertanyaan lelaki itu cukup membuat mereka bingung.


"Mana dia, dimana dia, katakan."


"Saya harus temukan dia."


"Ada apa dengan Bian?" tanya Kania.


Lelaki itu menoleh, tatapannya bertemu, untuk apa wanita itu bertanya, apa dia akan menghalanginya juga.


"Ada apa?" ulang Kania.


"Dia telah menghilangkan nyawa anak saya, dimana dia sekarang, apa dia ada hubungannya dengan anda?"


Kania mengernyit, tanpa mengatakan apa pun, Kania menggeleng, semoga saja itu bukan Bian putranya.


Zahra kembali berdiri di samping Kania, tidak mungkin seperti itu, bukankah Bian sedang tidak sadarkan di dalam sana.


"Bian siapa yang Bapak maksud, anak Ibu ini juga Bian, dia Suami saya, dan sekarang dia sedang tidak sadarkan diri di ruangan itu, dia kecelakaan kemarin."


"Jadi kalian keluarganya, bagus sekali kita bertemu sekarang."


"Tapi kami tidak mengerti dengan amarah Bapak."


"Benarkah, apa kalian tidak tahu jika mobil lelaki itu telah menabrak mobil anak saya, dan apa kalian tidak tahu jika anak saya meninggal karena tabrakan itu, atau kalian sedang berpura-pura saat ini?"


Kania nyaris saja ambruk jika Zahra tidak segera menahannya, apa benar seperti itu, kepanikan mereka dengan kondisi Bian, telah membuat mereka melupakan hal lainnya.


Bahkan untuk mencari tahu kronologi kecelakaan pun mereka tidak sempat terfikirkan, jadi ada korban lain dari kecelakaan Bian.


"Dia di dalam sana, biar ku lenyapkan juga nyawanya itu."


"Jangan berani-berani."

__ADS_1


Zahra dengan cepat menarik lelaki itu yang hendak memasuki ruangan, siapa dia sampai berani berkata seperti itu.


Menyakiti orang yang jelas tidak berdaya adalah kesalahan yang paling salah, tidak mungkin jika lelaki di hadapannya itu gila.


"Jangan karena dia Suami mu, kamu membelanya, dia bersalah."


"Bapak lebih bersalah kalau menyakiti dia sekarang, Bapak akan puas dengan menghilangkan nyawanya?"


"Karena sudah seharusnya nyawa dibayar nyawa."


"Benarkah seperti itu, pemikiran macam apa itu?"


"Banyak omong, minggir kau ini."


Zahra limbung saat tubuhnya itu di dorong tanpa begitu saja, dengan cepat polisi di sampingnya membangunkan Zahra.


Sedangkan satu polisi lagi menahan lelaki itu, bukankah itu sudah keterlaluan, dan tidak mungkin mereka membiarkannya saja.


"Tolong bawa dia pergi, dan kembali setelah lebih baik lagi," ucap dokter.


"Baik, kami mohon maaf atas keributan ini."


Dua polisi itu pun menarik lelaki tersebut, meski dengan susah payah karena ia terus saja berontak.


Makian demi makian terus saja dilontarkan selagi ia melihat Zahra dan Kania di sana, tapi itu tak lantas membuat mereka marah.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kania.


"Tidak, Mama sendiri bagaimana?"


"Baik-baik saja."


"Maaf Bu, kalau begitu saja permisi."


"Terimakasih, Dokter."


Dokter itu pergi meninggalkan keduanya, ia masih harus memeriksa pasien lainnya di ruangan yang lain.


"Mama mau masuk?"


"Tidak, Mama mau duduk saja."


"Baiklah, biarkan aku masuk sebentar saja."


Kania mengangguk, Zahra membantunya untuk duduk, setelahnya ia lantas memasuki ruangan Bian.


Lelaki itu masih saja diam, ia benar-benar seperti mayat saat ini, tak ada pergerakan apa pun juga.


Zahra sedikit tersenyum, senyuman pilu karena keadaan buruk itu, sampai kapan Bian akan seperti itu.


"Apa kamu tidak merindukan ku, untuk apa kamu menanyakan ku kalau kamu seperti ini."


Zahra menarik kursi kecil itu dan mendudukinya, ia meraih tangan Bian, menciumnya beberapa saat.


Jika Bian sadar, Zahra yakin lelaki itu akan menepis tangannya, dan sepertinya Zahra menginginkan sikap itu sekarang.


"Bangunlah, ayo kita bertengkar lagi, bukankah itu yang membuat ku semakin tidak bisa melupakan kamu, jangan mematung seperti ini, ini sama sekali bukan kamu."


Zahra menelan ludahnya, disaat mata dan wajahnya mulai panas, Zahra tetap berusaha tersenyum.


Bisakah jika tidak perlu ada tangisan saat ini, bahkan saat nanti Bian sadar kembali, Zahra ingin tetap damai tanpa tangisan duka.

__ADS_1


__ADS_2