Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Itu Salah


__ADS_3

Sesuai dengan keinginan Bian kemarin malam, pagi ini mereka benar-benar pergi menemui dokter.


Keduanya sedang menunggu giliran periksa, karena ternyata meski sudah datang pagi hari, mereka tetap saja didahului orang lain.


"Berapa lama lagi ini?" tanya Bian.


"Sabar, kalau sudah selesai mereka pasti keluar."


"Lama sekali, kita sudah pegal duduk disini."


Zahra tersenyum, ia mengangguk saja seraya melihat sekitar.


Tempat itu ramai, begitu banyak wanita yang tengah hamil besar berlalu lalang di sana, mereka terlihat bahagia ditemani suaminya.


"Apa aku bisa seperti mereka, bagaimana kalau aku tidak bisa membuat mu tersenyum seperti lelaki itu semua?"


Bian melirik mereka, apa yang harus dikatakannya, tentu saja Bian ingin seperti itu.


Zahra menoleh, ia menatap Bian sesaat, jujur perasaannya mulai kacau sekarang, bagaimana kalau ketakutannya menjadi kenyataan.


"Sudahlah, jangan dulu fikirkan apa-apa, kita masih disini belum pemeriksaan."


"Tapi kalau aku tidak bisa kasih kamu anak, kamu akan buang aku?"


Bian tersenyum sekilas, ia merangkul Zahra tanpa menjawabnya, tidak ada yang bisa dikatakannya.


Biar nanti saja mereka bicara setelah pemeriksaannya terjadi dan selesai, Bian juga tidak tahu kalau saja justru dirinya yang tidak baik-baik saja.


"Aku mau kamu tetap seperti ini, meski tidak untuk selamanya, paling tidak lebih lama dari sekarang."


"Aku akan terus berusaha."


"Aku mau kamu baik dalam setiap hal, dan setiap keadaan, jangan lagi membenci ku."


"Berisik sekali kamu ini."


Bian membungkam Zahra dan menariknya untuk memeluknya, saat bersamaan tiba giliran mereka memasuki ruangan.


Dengan perasaan yang tak karuan, mereka masuk, Zahra merasa tubuhnya seketika panas dingin, apa Zahra salah karena sudah menyetujui untuk pemeriksaan hari ini.


"Silahkan duduk."


"Terimakasih."


Bian menarik kursi dan meminta Zahra untuk duduk juga, keduanya lantas duduk dan menjelaskan tujuan kedatangannya.


Tentu saja dokter itu mengerti, ia menjelaskan beberapa hal tentang proses kehamilan, dan saat kehamilan itu sendiri.


Bian dan Zahra mendengarkannya dengan baik, rupanya banyak hal yang bisa menyulitkan kehamilan, terutama stres dan bukankah Zahra sampai depresi beberapa waktu kemarin, bahkan sampai saat ini.


"Jadi, apa kalian berdua baik-baik saja?"


"Aku yang tidak baik-baik saja, mungkin memang aku tidak bisa punya anak."


"Zahra," panggil Bian.


Dokter itu tersenyum, ia banyak menemui wanita dengan kalimat seperti itu.


Wanita yang begitu tidak percaya diri jika ia bisa hamil, hanya karena fisiknya yang tidak baik, mereka merasa mustahil untuk bisa hamil.

__ADS_1


"Kami kesini untuk memastikan semuanya, apa bisa bersamaan?" tanya Bian.


"Bisa saja, kenapa tidak."


"Tapi aku sedang datang bulan," sela Zahra.


"Tidak masalah, itu sama sekali tidak berpengaruh, kita bisa tetap pemeriksaan kalau memang Bapak dan Ibu mau sekarang."


Keduanya saling lirik, apa bisa Zahra pergi saja, Zahra terlalu takut dengan hasilnya


Bian mengangguk, ia menggenggam tangan Zahra sesaat, bukankah mereka bersama, seharusnya Zahra tidak khawatir.


"Bagaimana?" tanya Dokter.


"Iya, kita siap," ucap Bian.


Zahra menunduk, ia sama sekali tidak bisa berfikir positif sekarang, semua terasa sangat mengancamnya.


Mereka melakukan berbagai pemeriksaannya, kegiatan yang cukup memakan waktu, hingga membuat mereka harus tahan berlama-lama dan kekhawatiran.


Zahra dan Bian tidak begitu memikirkan tentang memiliki anak, tapi mungkin benar apa yang dikatakan Kania jika mereka harus mulai memikirkan itu, bukankah Bian tidak mau Zahra pergi karena perjanjian mereka sudah tidak ada lagi.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Bian.


"Kepala ku sedikit pusing."


"Tenanglah, kamu terlalu berlebihan saat ini."


"Aku tidak tahu."


Keduanya lantas duduk, pemeriksaan itu satu demi satu dilakukan, dan telah selesai, Bian benar-benar melupakan kantor demi pemeriksaan itu.


"Bian, aku tidak mau kamu berubah."


"Hey, kenapa kamu terus mengatakan itu."


"Aku hanya mau kamu seperti ini."


"Diamlah, berhenti berfikir buruk tentang ku."


Percakapan itu harus terhenti karena kedatangan dokter, keduanya diam ssat dokter membuka lembar kertas yang dibawanya.


Ini kegiatan yang paling menyebelkan, Bian dan Zahra harus merasakan ketakutan yang dirasa begitu panjang.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Zahra.


Bian menoleh sekilas dan kembali pada dokternya, dokter itu tersenyum dan mengangguk.


"Semua baik-baik saja?" tanya Zahra.


"Kesehatan Ibu sepertinya sedang kurang baik, seperti yang tadi saya katakan jika stres juga sangat jadi pemicu sulit hamil."


"Jadi benar aku tidak bisa hamil?"


"Tidak, itu salah, Ibu bisa hamil tingkat kesuburannya bagus, hanya saja itu tadi, kesehatan Ibu yang harus lebih dijaga."


Zahra diam, bukankah itu kabar baik, Zahra bisa hamil sesuai dengan keinginannya.


Zahra melirik Bian, lelaki itu tersenyum seraya mengangguk, tentu saja ia senang mendengarnya.

__ADS_1


"Tapi sayang sekali."


Keduanya kembali melirik dokter, keduanya mendadak tegang karena kalimat tersebut.


"Hasil pemeriksaan ini menunjukan, jika masalahnya ada pada Pak Bian."


"Kenapa dengan saya?" tanya Bian.


"Disini tertulis jika tingkat kesuburan Pak Bian tidaklah baik, kemungkinan untuk Pak Bian memiliki anak sangat kecil dan cukup sulit."


Zahra mengernyit, ia sontak menatap Bian, lelaki itu menggeleng seraya tersenyum, jelas saja itu adalah senyuman ketidak percayaan.


Dokter menunjukan kertasnya ke hadapan Bian, tapi sayang Bian tidak mengerti semua dari tulisan itu.


"Hasilnya menunjukan jika hanya 20% saja kemungkinan untuk Pak Bian bisa memiliki keturunan."


"Bohong, ini pasti salah, tidak mungkin seperti ini hasilnya," ucap Bian menjauhkan kertasnya.


Zahra meraih tangan Bian, tapi Bian menepisnya begitu saja.


"Ini salah, kamu percaya sama pemeriksaan ini, dia berbohong."


"Tenang dulu," ucap Zahra.


Usahanya untuk meraih tangan Bian kembali gagal, lelaki itu kembali menepisnya begitu saja.


"Mohon maaf Pak, saya hanya mengatakan apa yang tertulis disini."


"Tapi ini bohong, kertasnya pasti tertukar dengan orang lain, ceroboh sekali kalian."


"Bian."


"Gak, ini gak mungkin, itu salah hasil pemeriksaan itu salah," ucap Bian seraya bangkit.


Dua orang itu turut bangkit, dokter tidak tahu tahu harus mengatakan apa jika memang seperti itu kenyataannya.


Bukankah Bian yang melakukan pemeriksaan itu, sudah seharusnya Bian percaya dengan hasilnya.


"Gak, Rumah Sakit ini tidaklah bagus, Dokternya pun tidak bagus, kita cari Rumah Sakit lain."


"Bian, kamu ...."


"Kita pergi sekarang, tidak perlu mendengar apa pun lagi dari Dokter ini."


Bian berlalu begitu saja, ia tak perduli dengan panggilan Zahra yang berulang kali.


Bagaimana bisa seperti itu, bahkan Zahra tidak sempat sedikit pun berfikir tentang hal tersebut.


"Dokter, tolong maafkan Suami ku."


"Tidak masalah, saya mengerti, tapi saya hanya menyampaikan kebenarannya."


"Aku akan buat dia mengerti nanti, sekali lagi tolong maafkan dia."


"Tidak masalah, ini hasilnya dan semua sudah selesai, jangan berkecil hati, Ibu dan Bapak bisa melanjutkan pemeriksaan untuk bisa program hamil, kesempatan akan selalu ada untuk semuanya."


Zahra mengangguk, ia mengambil kedua amplopnya dan memasukannya ke dalam tas.


Zahra lantas pamit dengan hormatnya, ia berlalu meninggalkan ruangan, dan segera mencari keberadaan Bian.

__ADS_1


__ADS_2