Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Buktikan Saja


__ADS_3

Zahra dengan terburu-buru menuruni tangga, ia terlambat bangun pagi ini, padahal ia sudah mengatakan akan menemani Inggrid ke Kantor.


"Oma, aku minta maaf, aku tidak ...."


"Diamlah, cepat duduk dan sarapan, Oma harus pergi sekarang."


Inggrid bangkit, Zahra diam, tentu saja ia merasa bersalah karena tidak bisa diingkari jika Inggrid pasti kesal saat ini.


"Mana Bian?"


"Aku disini."


Keduanya menoleh, Inggrid mengangguk, itu cukup baik baginya.


"Oma, aku akan pergi bareng Oma."


"Tidak perlu, kamu urus saja Suami kamu, dia harus ke Kantor segera."


Zahra mengernyit, ia melirik Bian sesaat, apa mereka tidak salah mendengar dari ucapan Inggrid.


"Ke Kantor, tapi ...."


"Marvel sudah ada tempat sendiri, dia tidak bisa mengurus Perusahaan lagi sekarang."


"Marvel mengundurkan diri?"


"Tidak, Oma sudah berikan dia tempat lain, dia tidak lagi ada di Kantor kemarin."


Zahra mengangkat kedua alisnya, ia tidak mengerti dengan itu, sudah terlalu lama tidak ikut campur urusan kantor.


Inggrid melirik Bian dan Zahra bergantian, itu tidaklah meyakinkannya, keputusannya tidak meyakinkannya.


"Oma, aku akan bantu Oma lagi."


"Tidak perlu, kamu di rumah saja, perhatikan diri kamu sendiri, Oma mau kamu benar-benar kembali sehat."


Zahra mengangguk pelan, memangnya kenapa dengan Zahra, kenapa mereka mengatakan kalau Zahra harus kembali sehat.


Bahkan saat ini pun Zahra merasa sehat, tapi kalimatnya tetap saja seperti itu, kenapa akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang membuat Zahra bingung.


"Batas toleransi keterlambatan adalah 10 menit, jadi manfaatkan dengan baik."


Inggrid berlalu begitu saja, Zahra dan Bian menatap kepergiannya dengan fikiran yang mungkin sama.


"Oma," panggil Zahra.


"Kenapa Oma?" tanya Bian.


"Aku tidak tahu, mungkin Oma marah karena aku terlambat bangun, aku sudah janji akan temani Oma ke Kantor pagi ini."


Bian mengangguk pelan, benarkah seperti itu, apa bisa Inggrid marah pada Zahra, rasanya itu sangat tidak mungkin.


Pasti ada hal lain yang Inggrid masih simpan saat ini, apa itu kesalahan Bian lagi, tapi Bian tidak merasa melakukan apa pun juga.


"Bian, apa Oma tidak salah meminta mu ke Kantor?"


"Apa yang harus aku katakan?"

__ADS_1


Keduanya terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Zahra tersenyum, ekspresinya berubah seketika itu, ia tampak bahagia.


"Kenapa?" tanya Bian


"Apa kamu tidak mengerti, jika mungkin Oma sudah kembalikan kepercayaannya padamu?"


Bian mengernyit, itu memang keinginannya, tapi apa benar seperti itu, kenapa bisa secepat itu Inggrid berubah fikiran.


Zahra melihat sekitar, merasa tak ada mata yang melihat mereka, Zahra memeluk Bian begitu saja.


"Ada apa ini?" tanya Bian.


"Kamu sering bilang akan berubah, jadi kali ini kamu harus buktikan perubahan kamu."


"Perubahan apa, apa aku masih menyakiti mu?"


Zahra menggeleng dan melepaskan pelukannya, ia ingat perkataan Inggrid jika hanya 10 menit keterlambatan yang boleh dilakukan.


Zahra menarik Bian kembali ke atas, kembali memasuki kamar, Zahra gerak cepat menyiapkan pakaian kantor untuk Bian.


 -----


"Kita harus bisa," ucap Marvel.


Lelaki itu terlihat lebih serius kali ini, tampilannya juga benar-benar berubah dari biasanya.


Ia terlihat sangat bahagia dan lebih bersemangat, bagaimana tidak, Marvel telah mendapatkan apa yang diinginkannya.


Ia diberikan tempat baru untuk dibesarkannya, hasil kerja kerasnya tidak sia-sia, ia menggantikan Bian tanpa ada pengalaman apa-apa.


"Pak, apa kita akan bekerja seperti ini seterusnya?"


Mereka saling lirik, kenapa Inggrid hanya memberikan sedikit orang untuk tempat barunya.


Bukankah itu akan menyulitkan mereka dalam bekerja, jelas saja mereka akan lelah mengurusnya dengan tenaga terbatas.


"Ada apa, kalian keberatan, kalau memang keberatan silahkan saja kembali ke tempat kemarin, dan bicara sendiri pada Bu Inggrid."


Tak ada yang menjawab, jelas saja mereka tidak berani untuk itu.


Mereka yang ditunjuk Inggrid untuk ikut dengan Marvel terbilang orang baru semuanya, Marvel benar-benar memulai semuanya dari Nol.


"Kita akan sama-sama, jangan khawatir, kita pasti bisa, bukankah pekerjaan ini sama dengan yang sebelumnya."


"Benar, Pak."


"Kalau begitu tidak perlu khawatir untuk apa pun juga, kita harus semangat dan yakin maka kita akan sukses."


Mereka kembali saling lirik, semoga saja memang mereka bisa, itu akan sangat menguntungkan mereka jika sampai berhasil.


"Ayo, tunggu apa lagi, ini sudah waktunya untuk bekerja, jangan buang waktu karena sekarang satu menit harus hasil terbaik."


"Baik, Pak."


Marvel tersenyum, mereka lantas bubar untuk memulai aktivitasnya.


Marvel menghembuskan nafasnya puas, kali ini Marvel akan buktikan jika Inggrid tidak pernah salah percaya padanya.

__ADS_1


 -----


"Pergilah, nanti aku antarkan makanan untuk mu."


Bian tersenyum, ia mencubit hidung Zahra sekilas.


"Tidak perlu, aku bisa pulang saat makan siang, lagi pula belum jelas aku kesana untuk apa."


Zahra mengangguk, ya baiklah, tunggu sampai semuanya jelas saja nanti.


"Ya sudah, aku pergi."


"Oke, hati-hati."


"Kamu hati-hati di rumah, jangan aneh-aneh."


Zahra diam, ia merasa asing dengan kalimat Bian, sejak kapan Bian memperhatikannya seperti itu.


Bian tersenyum, ia mengusap kepala Zahra sekilas dan berlalu meninggalkannya.


"Kabari kalau ada apa-apa," ucap Bian menutup pintu.


Zahra menunduk, ia lantas duduk di kasur sana, tidak ada lagi ekspresi bahagia di wajahnya.


Semua berubah dalam hitungan detik saja, apa ada yang menyadari jika Zahra sedang berpura-pura saat ini.


"Itu memang seharusnya, Bian harus mendapatkan mimpinya mau bagaimana pun caranya."


Zahra tersenyum singkat, menelan ludahnya sulit, Zahra merasa masih ada diposisi salah, tidak seharusnya ia di sana.


Ia menoleh, menatap dirinya di cermin sana, lucu sekali, sampai saat ini Zahra tidak bisa memutuskan apa pun untuk dirinya sendiri.


"Non Ayra," panggil Nur.


Zahra melirik pintu, untuk apa Nur datang, Zahra malas bertemu orang sekarang.


"Non, mau sarapan sekarang?"


"Tidak, aku mau tidur."


"Sarapan dulu Non, hari ini juga jadwal kontrol Non Ayra."


Zahra memejamkan matanya, ada apa dengan Zahra, kenapa masih harus berurusan dengan dokter.


Apa mereka benar-benar tidak bisa melihat jika Zahra baik-baik saja, atau mereka keberatan jika ia di rumah seperti saat ini.


"Bibi, bawakan makanannya ya Non?"


"Aku gak mau apa itu tidak jelas?"


Tidak ada jawaban, cara bicara Zahra mendadak tinggi, tentu saja Nur tidak mau kalau sampai keadaannya buruk lagi.


Zahra bangkit, ia mendekati cermin itu, diam menatap dirinya di sana, apa yang salah dari Zahra sekarang.


"Non, kalau perlu apa-apa, panggil Bibi."


Tak ada jawaban, Zahra fokus mengamati dirinya sendiri, semua selalu terasa menjengkelkan bagi Zahra.

__ADS_1


Tidak pernah ada lagi kebaikan yang dirasakannya sekarang, semua terasa asing, dan Zahra tidak menyukainya sama sekali.


__ADS_2