Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jujur


__ADS_3

"Masuk, kenapa masih diam saja."


Zahra mengangguk seraya memasuki mobil, Bian melirik Dion dan Kania di sana, sekarang Bian hanya ingin bebas dari perdebatan mereka.


Bian turut masuk dan melajukan mobilnya, sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang ada diantara keduanya.


"Kamu masih mau disini?" tanya Kania.


"Untuk urusan apa?" tanya balik Dion.


"Semuanya, dirimu dan Ayra, Bian, Sintia, dan tadi Vanessa yang kamu sebutkan."


Dion diam, ia mengusap pipinya perlahan, jujur saja perlakuan Zahra sangat membuatnya kecewa.


Tapi itu tak lantas membuat Dion berniat berhenti, Zahra masih akan membutuhkan dirinya esok lusa.


"Bagaimana?" tanya Kania.


"Oke."


"Disini kita bicara?"


Dion mengangkat kedua bahunya sekilas, terserah saja, dimana pun mereka, Dion akan menceritakan semuanya.


Biarkan saja meski Zahra akan kembali menamparnya, atau pun melakukan hal kasar lainnya, yang jelas Dion akan berusaha dengan caranya sendiri untuk memisahkan Zahra dari bebannya.


Keduanya kembali ke kursi dimana Zahra dan Dion duduk tadi, untunglah Kania pergi dengan menggunakan taxi, sehingga tidak perlu khawatir jika ada yang melihat mobilnya di jalan.


"Sepertinya kamu mengerti apa yang akan jadi pertanyaan saya," ucap Kania.


"Banyak hal, tapi aku tidak akan menjelaskan jika tidak ada pertanyaan."


"Baiklah, apa yang kamu lakukan dengan wanita itu disini?"


"Tidak ada, kita hanya sedang jalan-jalan saja, tidak ada yang lainnya."


"Kamu menyukainya?"


Dion mengangguk tanpa ragu, ia balik menatap Kania yang juga sedang menatapnya.


Kania tidak menyukai Zahra, sudah seharusnya Kania tidak keberatan dengan kejujuran Dion.


"Wanita itu tahu?"


"Tahu, bahkan Bian pun tahu."


"Kamu berniat merebut wanita itu?"


"Biar jadi urusan ku."


Kania mengangguk, ia berpaling, tidak boleh ada yang terlewat dari pembicaraan saat ini, Kania pasti mendapatkan keuntungan dari pembicaraan mereka.


"Lalu siapa Vanessa?"


"Tunggu dulu, kenapa Tante tadi menyebutkan nama Sintia?"


"Ya tentu saja, karena Bian tadi menemui Sintia."


"Bagaimana maksudnya?"


Kania tersenyum, ia merubah posisinya sesantai mungkin, jika Dion mampu jujur padanya, untuk apa Kania harus membohonginya.

__ADS_1


"Bian menemui Sintia, pertemuan kita tadi karena Bian pulang dari rumah Sintia."


"Untuk apa dia kesana?"


"Saya tidak tahu, tapi sepertinya Bian mulai sadar jika Sintia adalah penyesalan atas kesalahannya dulu."


Dion turut berpaling, benarkah seperti itu, apa sebenarnya yang diinginkan lelaki itu, setelah mempermainkan Sintia, ia berpindah pada Zahra, dan setelah Zahra, ia berulah dengan Vanessa.


"Cukup, fikirkan itu nanti, jelaskan siapa Vanessa?"


"Aku tidak tahu."


"Omong kosong, kamu yang memulai tadi, kamu menyebut nama itu sebagai selingkuhan anak saya."


"Jadi Tante percaya?"


"Kamu sedang bermain-main?"


Dion menggeleng, ia menoleh sekilas dan tersenyum, Vanessa dan Sintia bisa membuat langkahnya menjadi semakin mudah.


Setelah mereka, Kania bisa jadi jalan akhir untuk Dion membebaskan Zahra, Dion masih ingat dengan ajakan kerjasama yang ditawarkan Sintia padanya.


"Dion."


"Vanessa adalah sepupu Sintia, Bian benar jika dia adalah rekan bisnis di Kantor."


"Sepupu Sintia?"


"Bian bertemu di ruang meeting dengan wanita itu, dan Bian seketika itu menyukainya, mereka jalan bareng dan ternyata Vanessa benar-benar menginginkan Bian."


Kania diam, ia berusaha mencerna kalimat Dion dengan hati-hati, Kania tidak mau salah fikir tentang semua itu.


"Jadi tolong, jangan lagi menuduh Zahra yang berselingkuh, karena awal keadaan ini adalah Bian sendiri."


"Hanya aku yang menyukai dan menginginkan Zahra, sedangkan dia tidak pernah merasakan hal yang sama tentang ku."


"Benarkah?"


"Itu sejak awal, aku sudah katakan kebenarannya pada dia, dan dia sudah akui jika sekarang dia mulai mengharapkan Bian."


"Mengharapkan?"


Dion mengangguk, Kania merasa semakin harus serius menanggapi Dion saat ini.


Kalimat Dion sepertinya akan sangat menguntungkan bagi Kania, tapi entah untuk apa akhirnya.


"Harapan apa yang kamu maksud?"


"Harapan terhadap Bian, Zahra menginginkan Bian sekarang, dan itu perasaan dia yang sebenarnya."


"Sejak awal mereka saling mengharapkan."


"Tidak."


"Tidak?"


Dion menghela nafasnya, berusaha menjaga ketenangannya agar bisa tetap hati-hati ketika berbicara.


"Tidak, apa?"


"Mereka memang saling mengharapkan sejak awal, tapi harapan yang berbeda, harapan Bian untuk perusahaan dan harapan Zahra, untuk rumahnya yang kalian rampas."

__ADS_1


Kania diam, bukankah itu sesuai dengan apa yang menjadi pemikirannya selama ini, mereka memang hanya sedang bersandiwara untuk tujuan masing-masing.


"Tapi sekarang sudah berubah, kebersamaan yang Zahra rasa, semua yang terjadi diantara keduanya selama ini, telah membuat Zahra benar-benar menginginkan Bian, terlepas dari harapannya terhadap rumah itu."


"Tapi Bian tetap tidak menginginkannya?"


"Begitulah memang."


Kania mengangguk, berarti benar juga pemikirannya, Bian memang menyesal karena telah menikahi wanita itu, dan dia berniat untuk kembali pada Sintia.


Dion melirik Kania, senyuman tipis di bibir Kania bisa Dion lihat dengan jelas, apa maksud senyuman itu, apa Kania senang karena Zahra memiliki perasaan terhadap Bian.


"Lalu, bagaimana dengan kamu, kamu tahu kalau wanita itu telah berubah rasa terhadap anak saya."


"Tidak masalah, biarkan saja, tapi aku tidak akan melepaskannya begitu saja sebelum aku bisa melihat sendiri, Bian bisa membuat Zahra bahagia."


"Apa itu bisa?"


Dion menggeleng seraya berpaling, entahlah, semoga saja bisa agar Zahra bisa mendapatkan bahagia sesuai impiannya.


Tapi disisi egoisnya, Dion memang tidak ingin itu terjadi, Dion hanya ingin Zahra dan Bian berpisah saja tanpa ada urusan apa pun lagi.


"Saya sudah meminta mereka untuk memberikan saya cucu, jika mereka tidak bisa dengan itu, saya akan memisahkan mereka secara paksa."


Dion kembali menatap Kania, ingatannya kembali membawa Dion pada saat dimana Zahra datang ke rumahnya dalam keadaan menangis.


Disana Dion jadi tahu jika Bian telah menyentuhnya dengan paksa, jadi semua itu ulah Kania, wanita itu telah memaksa mereka untuk memberikan cucu.


"Ada apa, kenapa seperti itu?" tanya Kania.


"Mungkin sebentar lagi mereka akan punya anak, dan Tante akan segera punya cucu."


"Dari mana kamu tahu?"


"Zahra tidak terima atas perlakuan Bian, dia datang padaku dengan menangis, dan dia mengatakan semuanya, Bian sudah merenggut paksa kehormatannya."


Kali ini kalimat yang didengar Kania sangatlah terasa buruk, jika Bian tidak menginginkan Zahra, lalu kenapa Bian melakukannya.


Kania mengetuk-ngetukan jemarinya pada pahanya, bisakah Kania berfikir jika Bian juga mulai menginginkan wanita itu sekarang, hanya saja dia tidak mau untuk mengakuinya.


"Bian memang keterlaluan, dia memaksa untuk menikahi Zahra dengan alasan dia sudah menodai Zahra kala itu, bukankah seperti itu?"


Kania mengangguk, itu memang benar, dan karena hal itu juga Kania terpaksa merestui pernikahan mereka berdua.


"Tapi semua itu bohong, karena kejadian itu terjadi baru-baru ini, Bian baru menyentuh Zahra setelah Tante meminta cucu."


"Zahra sampai menceritakan semua itu sama kamu?"


"Aku tahu, sedikit banyak Zahra memang membutuhkan aku, Bian tidak bisa sedikit pun mengerti dirinya, sehingga Zahra akan butuh pelarian untuk sandarannya."


"Dan kamu rela itu?"


"Tentu saja, sejak awal aku sudah katakan, kalau memang Bian tetap tidak bisa menerima atau sekedar menghargainya, aku yang akan melakukan itu padanya."


Kania menahan nafasnya, ia bergerak mengganti posisi duduknya, apa Dion itu lelaki baik atau mungkin lelaki bodoh.


"Tante masih ingin memisahkan mereka?"


"Saya tidak pernah suka dengan wanita itu, semua diawali dengan kebohongan, sampai kapan pun saya tidak akan menerimanya."


"Kalau begitu bantu aku untuk memisahkan mereka saja."

__ADS_1


Kania mengernyit, kalimat macam apa itu, berani sekali Dion berkata seperti itu padanya.


__ADS_2